A POSSESSIVE BESTIE

A POSSESSIVE BESTIE
MASA LALU FRANKY



Sebagai orang yang berpengalaman, Franky bisa tahu tanda-tanda seorang wanita yang masih perawan. Dari pertama kali bertemu dengan Lusi, dia bisa menebak, kalau wanita itu sudah tidak lagi sempurna. Dan buktinya semakin kuat ketika Franky memasukinya secara langsung.


Selesai dengan kegiatan panas mereka, Franky masih betah diatas Lusi. Keadaan polos tidak membuat mereka malu, karena mereka sudah terbiasa melihat hal-hal seperti itu.


Mata Franky tidak bisa berkedip karena kekagumannya pada tubuh wanita itu. Tangannya terus menelusuri setiap inci tubuh Lusi.


"Kau tergoda, Franky?" tanya Lusi dengan nada sensualnya.


"Bagaimana kau bisa memiliki yang sangat besar seperti ini?" tanya Franky dengan nada seraknya.


"Seperti kebanyakan orang..." Lusi sengaja menggantungkan ucapannya. "Tidak perlu dibahas" sambungnya.


Hening sesaat. Namun tiba-tiba Lusi tersentak dan langsung mendorong tubuh Franky dari atasnya. Dengan terburu-buru Lusi kembali mengenakan pakaiannya.


"Ada apa?" tanya Franky sembari mengernyit keningnya.


"Pakai pakaianmu, kak" ucap Lusi dalam keadaan memasang bajunya.


Setelah tubuh mereka kembali tertutup dengan pakaian, barulah Lusi bicara tentang kekhawatirannya saat ini.


"Kita kembali, kak" ucapnya terlihat panik.


"Ada apa memangnya?" tanya Franky yang tetap pada mode tenang.


"Kita lupa... lupa pakai pengaman" ucapan Lusi membuat Franky tersadar dari kecerobohannya. Pria itu mengutuk dirinya karena lupa menggunakan pengaman ketika berhubungan badan.


"Sebaiknya kita cari apotek terdekat, aku akan mencegahnya dengan minum pil KB" ucap Lusi.


Tidak berbasa-basi lagi, Franky mengendara mobilnya untuk kembali ke Kota. Mereka menelusuri setiap jalan untuk mencari apotek yang masih dibuka, sayangnya nasib tidak berpihak pada keduanya.


"Mungkin besok saja" ucap Lusi dengan lirih, sepertinya dia agak ragu untuk mengatakannya.


Di satu sisi, Lusi takut hamil diluar nikah, namun disisi lain, wanita itu merasa tenang mengingat hubungannya dengan Franky memiliki kepastian untuk dilanjutkan kedalam kejenjang yang lebih serius.


Franky membawa Lusi kembali ke rumah wanita itu, barulah dia kembali ke rumahnya. Dalam perjalanan pulang, pria itu terus mengumpat sembari mengusap wajahnya dengan kasar. Dia takut jika kecerobohannya akan menghasilkan buah yang dapat mengikat hubungan mereka dalam pernikahan. Apapun alasannya, termasuk keinginannya untuk segera memiliki anak tapi rasanya dia belum siap untuk menikah.


Sejauh ini Franky merasa aman untuk berhubungan dengan Lusi. Bahkan dia sangat tertarik dengan bentuk tubuh Lusi. Namun ketika berhubungan dengan Lusi tadi membuatnya teringat dengan wanita di masa lalunya. Bayangannya masih terganggu, apalagi wanita dimasa lalunya adalah wanita perawan yang pernah dia sentuh.


Sesampainya di rumah, Franky langsung membaringkan tubuhnya diatas kasur. Hanya dengan melihat langit-langit kamarnya membuat pria itu terganggu. Dia kembali mengingat kejadian tidak menyenangkan antara dia dengan wanita masa lalunya di tempat itu.


Flashback On


Di sebuah apartemen yang terlihat sederhana, seorang wanita cantik sedang mengisi beberapa barang pentingnya kedalam koper. Wajahnya terlihat sembab karena menangis semalaman.


Setelah selesai beres-beres, barulah dia bergegas keluar apartemen. Namun baru saja dia keluar kamarnya, dari luar apartemennya terdengar seseorang sedang memencet password kunci pintunya. Wanita itu menjadi panik hingga tidak bisa menyembunyikan dirinya. Dia terpaksa membuang kopernya keatas tempat tidur, kemudian memberanikan diri untuk menemui orang itu.


"Mona!" suara seorang pria terdengar menggema didalam apartemennya. "Mona!" pria itu terus berteriak memanggilnya.


"Iya, sebentar" Mona menguatkan dirinya untuk bertemu pria itu. Namun ketika akan keluar dari kamarnya, pria itu sudah masuk kedalam sana.


"Franky, ada apa?" wanita itu bertanya dengan tenang, seakan tidak terjadi apa-apa padanya.


Mona menggelengkan kepalanya, dan menjawab "Tidak, memangnya kenapa?".


"Apa mama mengganggu-mu lagi? Kenapa ada koper di sana?" tanpa mendengar jawaban dari wanita itu, Franky langsung membongkar isi kopernya. Dan betapa terkejutnya mengetahui wanita itu akan pergi meninggalkannya.


"Tidak, Franky. Aku... aku hanya ingin jalan-jalan" ucapnya dengan gugup membuat Franky terkekeh. Pria itu nampak marah, hingga membuatnya melempar koper itu kearah dinding.


Mona terkejut dan ketakutan. Dia ingin melarikan diri, namun Franky lebih dulu menahannya. "Ikut aku ke rumah" ucap Franky sembari menarik wanita itu untuk mengikutinya.


Mona menolak, dia mencoba melepaskan pegangan Franky darinya. Namun pria itu malah memperkuat pegangannya hingga membuat Mona meringis kesakitan. "Sakit, Franky" ucapan Mona tidak didengarkan oleh Franky. Emosinya membutakan mata, dan membuat telinganya seakan tuli.


Franky membawa Mona kedalam rumahnya. Wanita itu terlihat canggung untuk masuk kedalam sana. Bukan karena takut untuk bertemu dengan kedua orangtuanya Franky, hanya saja, Mona tidak suka keributan. Dia tidak ingin melihat kekasihnya ribut dengan orangtuanya sendiri.


"Ma... Pa..." Franky memanggil kedua orangtuanya.


"Franky, jangan seperti ini" ucap Mona.


Seorang pelayan datang menghampiri mereka dan berkata "Maaf, Tuan. Nyonya dan Tuan besar sedang keluar rumah".


"Kemana?" tanya Franky pada pelayan itu.


"Tidak tahu, Tuan" jawabnya.


Franky kembali menarik Mona untuk naik kelantai atas. Dia membawa wanita itu kedalam kamarnya, dan menuntunnya untuk duduk diatas tempat tidur.


"Katakan, apa yang mama lakukan padamu?" tanya Franky. Pria itu sudah terlihat lebih tenang dari yang tadi.


"Tidak ada, Franky. Mamamu tidak terlibat dalam masalah ini" jelas Mona, namun tidak membuat Franky percaya dengan omongannya.


"Katakan sejujurnya padaku, dan jangan takut, karena ada aku disini bersamamu..... Setelah mama dan papa datang, kita akan membicarakan hubungan kita kejenjang yang lebih serius" Franky terus mendesak Mona untuk bicara jujur padanya.


Mona menggelengkan kepalanya ketika mendengar ucapan Franky. "Mamamu memang pernah menyuruhku untuk mengakhiri hubungan kita. Tapi bukan itu alasannya aku ingin pergi" ucap Mona tertahan. Sementara Franky hanya bisa mendesah mendengarnya. Dia merasa percuma untuk membuat wanita itu bicara jujur padanya.


"Kita harus mengakhiri hubungan kita, Franky. Aku harus keluar negeri untuk menyelesaikan beberapa masalah di sana" ucap Mona membuat Franky menatapnya tajam. "Lepaskan aku, aku ingin pergi sekarang. Takutnya aku akan ketinggalan pesawat" sambungnya tanpa tahu akibat dari ucapannya itu.


Mona berniat untuk berdiri, namun Franky langsung menarik tangannya hingga membuat tubuh wanita itu terbanting keatas ranjang.


Kini tubuh Mona sudah tertindih oleh badan kekar milik Franky. "Untuk apa kau ke sana, Lusi?" tanya Franky sembari menatap tajam wajah Mona.


"Ini masalah keluargaku, Franky. Aku mohon, lepaskan aku" wanita itu menahan dada bidangnya Franky untuk menjauhinya. Namun pria itu malah menahan kedua tangannya di samping kepalanya.


"Kau punya keluarga, Mona?" Franky bertanya sembari terkekeh. Karena setahunya, Mona tidak memiliki keluarga dan hidup sebatang kara.


Mona tidak menjawab, dia terus memohon agar dilepaskan. Namun Franky tidak mendengarnya. Pria itu takut jika kekasihnya itu pergi meninggalkannya. Ketakutan diiringi dengan emosi karena kekasihnya malah menolak ketika dia ingin menciumnya.


"Sepertinya aku harus mengikatmu dahulu baru kamu patuh padaku" melihat perbedaan yang aneh dari Franky membuat Mona ketakutan. Dia berusaha untuk meloloskan diri, namun kekuatannya tidak sebanding dengan pria itu.


Dan saat itulah menjadi hari berkabung bagi Mona. Kekasihnya malah merebut sesuatu yang berharga dalam hidupnya.


Flashback Off