
NOTE: Seperti biasa, bab 47 yang berisi pengumuman sudah di isi sama jalan cerita. Mampir di sana dulu, baru lanjut ke sini.
Siang itu, baik keluarga Eisten, Wiranta, dan Bliss membicarakan pernikahan anak-anak mereka. Mereka mulai membagi-bagikan tugas masing-masing. Selesai itu, mereka pun duduk berbincang dengan santai.
Sementara Lusi yang semenjak menikah dengan Franky, kini telah menetap di rumah besar itu. Ia yang merasa bosan, lantas berpamitan menuju halaman belakang.
Frans yang berada di sana ikut merasa bosan. Ia terus memperhatikan Lusi yang melangkah ke halaman belakang, setelah itu, ia pun berpamitan dan menyusul Lusi.
Di halaman belakang, Lusi duduk di sebuah kursi santai didekat kolam renang. Wanita itu bersandar sambil memejamkan kedua matanya. Dengan pakaian daster yang pendek memperlihatkan lekuk tubuhnya. Namun entah kenapa, Frans malah biasa saja melihatnya.
Frans mendekat ke arah Lusi sambil memainkan beberapa kacang yang ia bawa dari ruang tamu tadi. Satu persatu kacang itu dimasukan kedalam mulutnya, dan beberapanya lagi ia melemparnya kedalam kolam.
"Apa kabarmu, Lusi?" tanya Frans membuat kedua mata wanita itu kembali terbuka. Tanpa mengubah posisinya, wanita itu bisa melihat Frans di atasnya.
"Seperti yang kau lihat" jawabnya dengan tenang. Wanita itu mengembuskan nafasnya dengan berat, dan kembali memejamkan kedua matanya.
"Tidak disangka, kau sekarang sudah menjadi kakak ipar-ku. Padahal baru kemarin kita berhubungan" ucap Frans sambil terkekeh. Pria itu ikut duduk di sebuah kursi santai, tepat di samping kiri Lusi.
"Stop, Frans. Jangan bicarakan yang lalu-lalu" ucap Lusi. Wanita itu sontak membuka kedua matanya, dan menatap pria itu dengan tajam.
Frans menganggukkan kepalanya. Ia tahu jika wanita itu sedang tidak baik-baik saja, makanya ia mencoba untuk bergurau. Tapi sepertinya gurauannya tidak mau didengar oleh wanita itu.
"Apa kakakku memperlakukan kamu dengan baik?" tanya Frans sambil menatap wanita itu dengan sangat serius.
"Memangnya sejak kapan kau peduli padaku?" Lusi balik bertanya dengan memasang tampang sinis-nya.
Frans hanya terkekeh. "Sebaiknya kau mengurangi keangkuhan-mu, Lusi. Kakakku tidak suka dengan wanita angkuh seperti kamu" ucap Frans. "Dan satu lagi..." ucapnya lagi sambil menarik satu tangan wanita itu untuk diberinya sebiji kacang. "Kakakku tidak sepertiku yang suka wanita agresif seperti dirimu. Mungkin dia tertarik di awal, tapi seterusnya dia tidak tertarik dengan wanita yang agresif, karena baginya wanita agresif itu wanita nakal dan tidak pantas untuk dijadikan pendamping hidupnya" sambungnya sambil mengedipkan sebelah matanya pada wanita itu.
Lusi tertawa sumbang kala mendengar ucapan, sekaligus godaannya Frans. "Apa Onya seagresif diriku, Frans?" tanya Lusi sambil menampilkan senyuman menggodanya. Ia sengaja menggigit bibir bawahnya sambil menarik satu alisnya ke atas.
"Melebihi-mu" jawab Frans sambil menarik-narik kedua alisnya ke atas.
"Sepertinya sekarang kau sulit tergoda, ya?" tanya Lusi sambil mendekati Frans. Dengan lancang wanita itu meletakan tangannya di dada bidang Frans, dan mulai mengusapnya dengan lembut. Untungnya dengan cepat pria itu menepis tangannya.
"Jaga kelakukan-mu, Lusi. Kau sekarang kakak ipar-ku, dan betapa menggelikannya aku pernah memujimu sebagai wanita baik-baik di hadapan kakakku" ucap Frans dengan kesal, ia pun berdiri dari hadapan Lusi, dan meninggalkan wanita itu di tempatnya. Frans hanya merasa tidak pantas diperlakukan seperti itu oleh kakak iparnya sendiri. Dia benar-benar muak.
"Jangan-jangan, anak yang ada di kandungannya bukan keponakanku" gumam Frans yang ingin sekali ia teriaki di depan Lusi. Namun sayang, ia baru saja menyadarinya. Ia mulai meragukan anak yang dikandung oleh Lusi.
...*...
Setelah berpamitan pada para orangtua di ruang tamu, Frans lantas kembali mengendarai mobilnya. Karena sebentar lagi Onya akan selesai kuliah, jadi ia harus segera menjemput gadis itu.
Sesampainya ia di kampus, Frans langsung memarkirkan mobilnya. Setelah itu, ia langsung menghubungi Onya. Namun gadis itu tak kunjung mengangkat panggilannya, jadi pria itu memilih untuk turun dari mobilnya dan masuk kedalam kampus itu. Niatnya ia ingin berkunjung ke sebuah caffe, tempat biasanya ia nongkrong. Namun belum sempat ia masuk kedalam sana, pria itu melihat keberadaan Onya dengan dua orang wanita. Siapa lagi kalau bukan Olin dan Mena?
"Eh, hai Frans!" jawab Olin dan Mena serempak.
Tanpa permisi, ia langsung duduk di samping Onya. "Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Frans sambil menyelidik ketiga perempuan itu.
"Tidak ada, ayo kita balik" ucap Onya sambil menarik tangan pria itu.
Setelah berpamitan, Onya dan Frans berjalan menuju parkiran. Saat mobil yang Frans kendarai keluar dari parkiran, pria itu mulai membuka obrolan.
"Tadi aku ke rumah besar" ucap Frans seadanya, dan di sambut dengan anggukan kepala oleh Onya.
"Kita ke rumahku, Frans. Soalnya mama yang suruh agar aku ke sana, katanya ada yang ingin dia sampaikan" ucap Onya, mengalihkan pembicaraan Frans. Dan ucapannya ini membuat Frans sedikit cemas. Ia begitu tidak yakin, jika Nyonya Wiranta dapat meluluhkan gadis di sampingnya ini.
Di tengah perjalanan, Frans memberhentikan mobilnya di tepi jalan. Onya lantas mengernyit bingung, dan bertanya "Ada apa?".
"Ada yang ingin aku sampaikan, karena aku tahu apa yang ingin di samping mamamu" ucap Frans, dengan ragu ia mulai bicara. "Tadi aku ke rumah besar, dan ada masalah yang ingin aku sampaikan ke kamu. Waktu ke sana, ternyata keluarga kita sedang melakukan pertemuan untuk membicarakan pernikahan Franky dan Lusi. Ternyata bukan hanya pernikahan mereka saja yang akan digelar, tapi kita berdua juga" ucap Frans membuat Onya terkejut setengah mati.
"Apa? Maksudnya bagaimana? Pernikahan kita berdua maksudmu?" tanya Onya.
"Dengarkan aku dulu" potong Frans, agar gadis itu tidak asal bertanya. "Mereka ingin pernikahan kita barengan dengan pernikahan Franky dan Lusi" sambung Frans membuat Onya memasang tatapan sinis-nya.
"Gila kali ya! Terus kamu terima begitu saja?" tanya Onya dengan berdecak kesal.
"Tentu saja tidak" bantah Frans. "Pertama aku tidak terima, tapi ada alasan yang membuat aku terima, Onya" ucap Frans dengan memelas.
"Jangan gila kamu, Frans. Kamu udah janji ke aku kalau kamu akan membatalkan pernikahan ini" ucap Onya.
"Iya, tapi..." ucap Frans yang menyadari kalau pembicaraan mereka benar-benar berantakan. Sepertinya jalan pembicaraan mereka tidak dapat meluluhkan Onya.
"Pokoknya aku tidak mau tahu, kamu harus batalin" ucap Onya memotong ucapan Frans.
"Aku sudah coba, tapi kamu tahukan mama kamu bagaimana?" tanya Frans mencoba merayu kembali.
"Tahu, tapi kalau kamu batalin pasti mama gak bisa bantah" ucap Onya membuat Frans kehabisan kata-katanya.
"Aku sudah coba, tapi..." ucapan Frans kembali di potong oleh Onya.
"Aku gak percaya kalau kamu sudah coba. Ayo ke rumah sekarang, dan kamu bicara ke mama kalau kamu ingin batalin" tantang Onya membuat Frans kembali kehabisan kata-katanya.
"Tapi mama aku juga sama keras kepalanya. Kamu tahukan mamaku seperti apa?" ucap Frans mencari alasan. Dan sepertinya ucapan Frans kali ini membuat Onya terdiam.