
Tangan kurang ajar Frans menyibak kimono Onya dengan mudah memperlihatkan dada dan perut mulusnya. Ciumannya perlahan turun ke perut Onya membuat gadis itu merinding karena sentuhannya. Frans pikir, caranya ini dapat membangkitkan rangsang gadis itu. Namun saat ciumannya hampir menyentuh bagian bawah Onya, gadis itu langsung menendang perutnya dengan kekuatan penuh.
Frans merasakan sakit yang amat hebat. Ia langsung melepas Onya dan terbaring lemah diatas tempat tidur. Ia bahkan tidak mampu mengeluarkan suara sedikitpun.
Dengan cepat Onya bergeser dari bawah Frans. Gadis itu berdiri dari atas tempat tidur karena takut kembali diserang. Namun melihat Frans tak berkutik diatas tempat tidur membuatnya sedikit lega.
"Sakit? Makanya kalau orang tidak mau, jangan dipaksa" ejek Onya sambil berkacak pinggang melihat Frans yang terungkap. "Ingat ya Frans, aku hanya mengizinkan kamu menyentuh aku sampai aku hamil. Tapi tidak sekarang kamu menyentuh aku, karena aku tidak mau hamil sebelum lulus kuliah. Dan ingat, aku menikah denganmu bukan untuk melayani kamu ditempat tidur. Aku menikahi kamu hanya untuk memenuhi perjanjian keluarga, yaitu melahirkan keturunan untuk keluarga-ku. Setelah itu kita akan cerai" sambung Onya.
Frans tak kunjung bergerak membuat Onya sedikit khawatir. Ia meraih handuk Frans yang berserakan di lantai, kemudian menutupi tubuh polos pria itu. Untungnya Frans tidur tengkurap, jadi Onya hanya bisa melihat bokong seksinya yang indah.
"Oh iya, kalau kamu tidak tahan lagi, aku izinin kamu untuk bermain dengan wanita lain"
Mendengar kalimat terakhir Onya itu, kedua mata Frans langsung terbuka menyala. Ia berdiri dari atas tempat tidur sambil memperbaiki handuknya.
"Kau bilang apa barusan?" tanya Frans sambil menatapnya tajam. Matanya terlihat memerah, entah karena sedang menahan rasa sakit atau karena marah.
"Aku bilang, kau bisa tidur dengan wanita lain diluar sana" ulang Onya, begitu berani menantang pria didepannya ini.
"Benarkah? Wah istri yang sangat pengertian. Baik kalau begitu, sebaiknya aku mencari gadis perawan di sana. Daripada kamu yang sudah tak bersegel tapi masih sok jual mahal" sarkas Frans sambil tertawa meremehkan.
"Apa? Aku sudah tak bersegel dan sok jual mahal? Maaf ya, aku masih bersegel dan harus jual mahal. Daripada pria yang sudah pernah meniduri wanita lain dan murahan seperti-mu" balas Onya menggembuh-gembuh.
Frans tidak peduli dengan ucapan gadis itu. Ia masuk kedalam kloset untuk mengenakan pakaian di sana. Setelah itu ia berjalan keluar kamar dan membanting pintu dengan sangat keras.
Onya tersentak mendengar suara banting pintu itu. "Cih, apa dia tidak bisa menutupnya dengan pelan?" Onya bermonolog.
Detik berikutnya, Onya terkekeh kala mengingat respon Frans barusan atas ucapannya. Ia mulai berpikir negatif tentang pria itu. Apa benar ia akan pergi bermalam dengan wanita lain diluar sana? Onya tidak habis pikir jika pria itu benar-benar melakukan apa yang ia katakan.
"Begini saja sudah tidak tahan. Lemah mental namanya!" ucap Onya.
Sementara Frans yang baru saja menuruni tangga langsung berpapasan dengan Lusi. Suasana hati pria itu tidak baik jadi ia mengabaikan wanita itu. Frans terus melangkah sampai namanya dipanggil oleh wanita itu.
"Frans, kau mau kemana?" Frans berhenti sejenak. Ia hendak kembali melangkah, namun suara itu kembali menyahutinya. "Apa aku boleh ikut?" tanya Lusi kemudian.
"Kembalilah ke kamarmu, Lusi. Jangan buat orang-orang salah paham padaku" ucap Frans dengan datar dan kembali melangkah keluar rumah besar yang masih meriahkan acara pernikahan dua pasangan pengantin itu.
Hari bahagia yang seharusnya dirasakan dua pasangan pengantin itu nyatanya tidak sesuai harapan. Onya seorang diri dikamar berusaha tidur, namun ia terus memikirkan Frans diluar sana. Bukannya ia mau menarik ucapannya tadi. Ia benar-benar mengizinkan pria itu bebas, terpenting pria itu tidak menyentuhnya tanpa izin. Tapi entahlah, ia malah berharap pria itu tidak mengotori pernikahan mereka.
Pengantin perempuan satunya lagi kini menyendiri di sebuah kamar yang didekorasi begitu indah. Lusi, ya dia adalah Lusi. Wanita itu tersenyum miris melihat bunga-bunga yang bertebaran diatas tempat tidur. Hanya dia seorang diri di sana. Tidak, dia tidak sendiri. Ada kehidupan lain yang sedang bersembunyi diperutnya. Namun, kemana pengantin prianya? Entah kemana pria itu pergi.
Sesampainya mereka di bar, Frans mulai minum banyak. Ia benar-benar frustasi saat mengingat ucapan Onya. Begitu teganya gadis itu berkata kejam padanya. Frans tahu dia bukan pria baik, tapi setidaknya dia berusaha menjadi pria baik dalam pernikahan mereka.
"Frans, apa ada masalah?" tanya Nick. Namun pria itu tak menjawabnya. Ia terus minum tanpa peduli dengan orang-orang disekitarnya.
Nick mendesah tertahan. "Hei, jangan sampai kau mabuk" ucap Nick. Tidak biasanya Frans minum banyak.
"Aku akan menjadi pria hebat saat mabuk untuk pertama kalinya" ucap Frans.
"Frans, aku ingin banyak bertanya padamu. Jadi jangan mabuk dulu. Jawab pertanyaan-ku dulu baru aku biarkan kau mabuk" ucap Nick, merampas gelas minuman Frans. "Gadis yang tadi di acara pernikahan-mu. Yang mengobrol lama dengan istrimu. Siapa dia?" tanya Nick.
Frans mengernyit bingung. Matanya terlihat sayu, mungkin ia mulai pusing. "Siapa? Kepalaku sedikit pusing" ucap Frans menjatuhkan kepalanya diatas meja.
"Cih, baru dua botol sudah mabuk" ucap Nick mengejek.
"Aku tidak mabuk. Hanya pusing" lirih Frans.
...*...
Kedua mata Frans terbuka perlahan. Silau matahari menembus jendela kamar dari arah sampingnya membuat pria itu sedikit meringis. Ia merasakan pusing.
"Cih, kau sudah bangun?" seorang gadis berdiri di samping tempat tidur. Kedua tangannya melipat di dadanya.
"Siapa yang mengantarku pulang?" tanya Frans.
"Temanmu, Nick" jawab Onya. kemudian gadis itu melempar beberapa kertas ke arahnya. "Itu, aku sudah tulis syarat di kontrak pernikahan kita. Tinggal syarat-mu saja. Sisanya aku percayakan padamu, Frans" sambung Onya.
Frans meraih lembaran kertas itu. Ia mengernyit saat membaca ayat pertama yang ditulis Onya. "Membiarkan-ku bebas dan memberi-mu kebebasan?" lirih Frans sambil terkekeh.
"Aku harap kamu tidak protes dengan syarat yang aku ajukan, Frans" ucap Onya. "Oh iya, hari ini aku harus ke kampus" sambung gadis itu.
"Untuk apa ke sana?" tanya Frans dengan heran. Pasalnya, mereka seangkatan. Dan bulan ini mereka sudah bebas berkuliah untuk mengurus skripsi nantinya.
"Apalagi kalau bukan mengurus skripsi. Kamu sih enak, skripsi-mu sudah selesai. Nah aku?"
Frans mengangguk paham. Ia masih berbaring malas diatas tempat tidur sambil memperhatikan Onya masuk ke kamar mandi. Ia mendesah pelan saat mengingat ucapan Onya semalam. Frans tahu dia akan membutuhkan banyak usaha untuk meluluhkan gadis keras kepala itu.
Dilihatnya lembaran kertas ditangannya. Ia malas membacanya jadi ia meletakan kertas itu di meja yang ada di samping tempat tidurnya. Apapun yang ditulis Onya, tulisan itu tidak akan bisa terjadi tanpa kehendak Frans. Ya karena begitu bodohnya Onya mempercayakan dirinya untuk mengurus kontrak pernikahan mereka ini.