
Tidak seperti biasanya. Saat Frans pulang dari kantor ia melihat istrinya berjalan ke kamar mandi dengan gaya yang tidak normal.
Wanita itu terlihat tertatih-tatih sambil memegang area sensitifnya. Frans lantas ikut masuk ke kamar mandi.
"Kamu kenapa, sayang?" Tanya Frans sambil memegang kedua pundak wanita itu seraya membantunya berjalan.
"Tidak apa-apa. Ini hanya peri biasa" ucap Onya.
"Kita ke rumah sakit hari ini" ucap Frans.
"Aku kan..."
"Tidak ada bantahan" ucap Frans dengan nada tegas, memotong ucapan wanita itu barusan.
"Aku lelah. Malas ke rumah sakit" ucap Onya seraya mengeluh. Mungkin karena rasa sakitnya juga yang membuatnya semakin keras kepala.
"Memangnya kamu mau melahirkan di mana kalau gak mau ke rumah sakit, hm?" Frans berucap selembut mungkin.
"Tapi aku lelah" ucap Onya dengan memelas.
"Tidak jalan kaki. Kita pakai mobil. Tidak ada bantahan" ucap Frans lagi.
Di kamar mandi Frans membantu istrinya untuk buang air. Setelah itu, ia memaksa wanita itu untuk mandi bersama.
Selesai mandi, Onya yang kekeh untuk tidak ke rumah sakit langsung berbaring diatas ranjang. Ia pura-pura tidur agar tidak dipaksa ke rumah sakit.
Namun Frans tahu wanita itu hanya pura-pura. Ditelitinya kedua mata yang masih berkedip-kedip itu. Tanda kalau wanita itu belum tidur.
Frans keluar kamar terlebih dahulu untuk memberi tahu kedua orangtuanya. Sekaligus menyiapkan mobil untuk ke rumah sakit.
Selepas itu ia kembali ke kamar untuk membangunkan putri tidur.
Frans tersenyum melihat mata wanita itu masih berkedip-kedip seperti orang gelisah. Ia kemudian duduk di sisi ranjang. Tangannya tergerak mengusap lembut rambut wanita itu dan menunduk untuk mengecup dahinya dengan penuh kasih sayang.
Rasanya tidak sabaran. Frans tidak menyangka ia akan segera menjadi seorang ayah dari wanita yang amat ia cintai. Sungguh sangat membahagiakan.
"Sayang, ayo bangun" bisik Frans tanpa hentinya mengelus lembut rambut wanita itu.
"Mama dan papa sudah tunggu dibawah. Jangan buat mereka menunggu. Meraka akan marah kalau kamu tunda-tunda ke dokter terus" ucap Frans berusaha memberi pengertian pada wanita keras kepala itu.
"Aku lelah" rengek Onya. Walau tetap memejamkan kedua matanya, tapi air matanya bisa lepas dengan mudahnya.
"Ini perih, sakit" ucap Onya lagi sambil terisak kecil.
"Iya, karena sakit kita harus ke dokter" ucap Frans.
Tidak ada sahutan lagi dari wanita itu. Sungguh wanita yang keras kepala. Ia tidak mampu melawan rasa lelah dan sakitnya untuk ke rumah sakit.
Tidak mau membuang-buang waktu, Frans langsung menggendong tubuh wanita itu ala bridal.
Onya terpekik kaget. Tubuhnya seperti melayang ke udara membuat wanita itu sontak melebarkan kedua matanya dan protes.
"Ini sakit. Pelan-pelan angkatnya" ucap Onya sambil sesegukan. Padahal Frans mengangkatnya dengan pelan dan sangat hati-hati barusan.
"Maaf, sayang" ucap Frans mulai melangkah keluar kamar itu.
Berangkat ke rumah sakit, Frans mengendarai mobil dengan di samping tempat duduknya ditempati oleh sang ayah. Dan dibelakang mereka, Nyonya Eisten membiarkan Onya tidur diatas pahanya.
"Frans, sebetulnya kapan Onya akan melahirkan? Kalian sudah konsultasi sama dokter sebelum kembali ke sini, belum?" Tanya Nyonya Eisten.
"Sudah ma, katanya dua atau tiga minggu lagi" ucap Frans.
"Nah, itu masih prediksi. Apalagi dokter di sana itu masih minim peralatan canggih. Sudah bilang harus check dari kemarin-kemarin, kalian malah keras kepala" ucap Nyonya Eisten. Bagaimana tidak kesal, sebagai orang yang berpengalaman tentu ia tahu resiko melahirkan.
"Jangan sekarang, ma. Kan sekarang kita mau ke rumah sakit" ucap Tuan Eisten.
...*...
Sesampainya di rumah sakit, Onya langsung diminta untuk dirawat inap. Wanita itu ditempatkan di ruangan VVIP. Di ruangan itu ada satu tempat tidur untuk pasien, dan satu lagi untuk orang yang mungkin ikut menginap dan menjaga pasien.
Pasien siapapun pasti nyaman tinggal di sana. Namun tidak dengan Onya, ia terlihat gelisah semenjak di periksa.
Onya beserta kedua mertuanya menunggu di kamar inapnya.
Beberapa lama menunggu, akhirnya Frans kembali bersama seorang dokter di belakangnya.
"Selamat siang pak, bu" sapa dokter itu dengan ramah.
"Selama siang" jawab Tuan Wiranta seorang.
"Jadi gimana, dok? Gimana kondisi anak saya?" Tanya Nyonya Eisten tanpa basa-basi.
Dokter mengangguk jelas memahami pertanyaan Nyonya Eisten.
"Setelah di periksa tadi, kami melihat ada masalah serius di rahim ibunya" ucap dokter dengan mimik wajah yang tiba-tiba berubah serius.
"Bisa dikatakan bapak dan ibu sekalian terlambat membawa ibunya ke rumah sakit untuk ditangani. Ada luka robek pada rahim ibunya, kami takutkan ini dapat menyebabkan pendarahan saat melahirkan nanti" jelas dokter membuat seisi ruangan itu panik.
"Jadi apa yang perlu kita lakukan? Apapun itu lakukan yang terbaik untuk anak saya, dok" ucap Nyonya Eisten.
"Saya hanya mau meminta keputusan dari bapak dan ibu untuk segera mengurus operasi kelahirannya. Kita tidak bisa menunda, takutnya semakin besar janin atau masalah lainnya bisa memperbesar luka di rahim. Itu sangat berbahaya" ucap dokter lagi.
"Frans, hubungi mama dan papa mertuamu" titah Tuan Eisten.
Mereka tidak bisa mengambil keputusan begitu saja. Lebih baik dibicarakan secara kekeluargaan terlebih dahulu.
Dan malam itu, suasana ruangan semakin menyenangkan. Karena Tuan dan Nyonya Wiranta ikut hadir di sana. Onya yang membutuhkan sang ibu akhirnya bisa tidur tenang saat di usap seperti anak kecil.
"Jadi kapan melahirkannya?" Tanya Nyonya Wiranta.
"Kata dokter maksimal lusa sebaiknya sudah di operasi" jawab Nyonya Eisten.
"Tidak bisa normal ya?" Tanya Nyonya Wiranta dengan asal. Walau dia sendiri tidak punya pengalaman melahirkan normal.
Bedanya dengan Nyonya Eisten. Dua anak, kemungkinan pernah melahirkan normal. Terbukti saat dia menjelaskan soal kelahiran normal membutuhkan hal-hal yang sebenarnya tidak dilakukan oleh Onya semenjak hamil.
"Sepertinya sulit untuk melahirkan normal. Pertama, karena Onya gak pernah banyak jalan dan olahraga di masa hamil tuanya. Kedua, ya karena kata dokter ada luka robek di rahimnya jadi itu sangat berbahaya kalau melahirkan normal. Kalau operasi kan setidaknya dokter bisa menutup luka itu lagi" jelas Nyonya Eisten.
Sempat-sempatnya mereka mengobrol. Mereka lupa kalau suara mereka dapat mengganggu seseorang yang sedang tidur nyenyak.
Onya menggeliat. Ia kembali membuka matanya dan menatap sang ibu yang berada di samping tempat tidur.
"Ma, sakit" ucap Onya mengeluh. Sempat merasa tidurnya nyenyak. Namun suara mereka di ruangan itu nyatanya mengganggu tidurnya.
Apalagi merasakan sakit membuat ia tidak nyaman dan sulit tidur. Sungguh itu pasti terlihat sangat berat bagi semua ibu hamil.
"Iya, sayang. Biasanya seperti itu, setelah melahirkan nanti semuanya nanti kembali normal" ucap Nyonya Wiranta.
"Minum, ma" ucap Onya.
Mendengar ucapan Onya, buru-buru Frans berdiri dari sofa untuk membantu istrinya duduk di tempat tidur.
Segelas air putih diambil Nyonya Wiranta. Wanita itu membantu anaknya minum dengan penuh perhatian.
Sementara di samping Onya, seberang dari Nyonya Wiranta berada, Frans berdiri sambil mengelus puncak kepala sang istri.
"Masih sakit" ucap Onya setengah merengek. Mau menangis tapi nanti akan semakin sakit. Jadi dia berusaha tahan.
"Ma?" Ucap Onya.
"Iya, sayang"
"Maafin Onya" ucap Onya dengan berderai air mata.
Maaf guys, aku bukan anak kesehatan dan gak punya pengalaman melahirkan jadi asal nulis. Jadi jangan dihujat ya kalau penjelasan dokter ataupun Nyonya Eisten gak sesuai π