A POSSESSIVE BESTIE

A POSSESSIVE BESTIE
PERTANDINGAN



Kini Liana dan Onya sudah sampai didepan rumah Nick. Rumah pria itu tak kalah besar dan mewah, lebih menarik perhatian kedua gadis itu karena letaknya didekat pantai.


Rumah itu sangat ramai. Dari gerbang masuk sampai di tepi pantai dipenuhi banyak orang. Musiknya pun cukup keras membuat Liana dan Onya harus berteriak saat bicara. Beruntungnya mereka, rumah itu tidak dijaga ketat jadi mereka leluasa masuk kedalam sana.


"Kau yakin mau masuk?" tanya Liana dengan ragu.


"Tentu saja, ayo!" ucap Onya seraya menarik gadis itu untuk masuk mengikutinya.


Ini kesekian kali Onya masuk pesta. Berbeda dengan Liana yang baru pertama kali, ia sangat terkejut melihat beberapa wanita di pinggir pantai yang berpesta hanya dengan menggunakan bikini dan mereka berpasangan dengan para pria yang hanya mengenakan celana pendek tanpa atasan.


Ini bukan pesta mesum yang seperti kalian kira. Memang ada beberapa pasangan yang saling berciuman panas, namun untuk berhubungan badan pasti ditempat yang sepi dan nyaman.


Liana dan Onya berjalan beriringan menyusuri setiap tempat. "Sebenarnya untuk apa kita ke sini?" tanya Liana.


Onya tiba-tiba berhenti saat mendengar pertanyaan gadis itu. "Iya ya, kenapa juga aku datang ke sini?" Onya balik bertanya pada dirinya sendiri.


"Sebaiknya kita minum dulu" ucap Liana bergantian menarik Onya menuju sebuah meja yang tersedia banyak minuman. "Wah, warna warni. Aku suka ini, warna dan baunya mirip seperti yang aku minum di Amerika" sambung Liana dengan kegirangan memegang minuman berwarna coklat. Ia menghirupnya sesekali dan akhirnya minum juga.


"Hei, apa yang kau minum?" tanya Onya sambil menarik minuman itu dari tangan Liana. Sayangnya ia terlambat, gadis itu sudah menghabiskannya. "Jangan asal minum. Minuman di sini banyak yang tidak benar. Bisa saja mereka sudah mencampurinya dengan obat perangsang" sambung Onya.


"Tapi aku sudah meminumnya" seru Liana.


"Tidak apa-apa. Semoga minumannya murni tanpa bahan asing itu" ucap Onya.


Onya mulai mengarahkan pandangannya keliling. Tiba-tiba kelopak matanya membulat, melihat seorang pria yang dicari-cari sekaligus dihindari-nya.


"Frans..." lirih Onya tanpa sadar Liana mendengar. Gadis itu mengikuti arah tatapan Onya dan benar saja, yang dilihat Onya memanglah Frans.


Frans duduk bersama kedua temannya, Nick dan Wilson. Terlihat Nick sedang memangku seorang wanita cantik dan seksi, sementara Wilson masih melihat sekitarnya, sepertinya ia baru mau mencari mangsa. Tapi didekat mereka, Frans sendirian. Pria itu dihampiri beberapa teman wanita yang cantik dan tak kalah seksi, namun sepertinya pria itu tak berminat sedikitpun.


"Ayolah, Frans, kenapa kau tidak mengajak istrimu?" tanya Nick.


"Kau seperti tidak tahu saja, Nick. Frans itu takut istrinya berpaling saat bertemu banyak cowok tampan di sekitar sini" Wilson menjawab sambil terkekeh. Ia kembali mengarahkan pandangannya dan dilihatnya seorang wanita cantik sedang meliriknya. "Sepertinya ada mangsa. Aku duluan" sambung Wilson bergegas bangun dari duduknya.


Frans mengeluarkan nafas beratnya, ia geleng-geleng kepala melihat temannya itu. Sementara Nick yang terlihat berbisik pada wanita di pangkuannya itu tiba-tiba ditinggal pergi. Mungkin saja ia mengusir wanita itu.


"Frans, bagaimana dengan tawaranku? Setelah wisuda, pesta selanjutnya harus dirayakan di rumah-mu. Bagaimana?" tanya Nick.


"Tidak bisa, orangtuaku tidak akan mengizinkan" ucap Frans yang sudah kesekian kalinya ia menolak.


"Okay, bagaimana kalau pestanya kita pindah ke rumah Wilson lagi, tapi sebagai gantinya kau harus membawa istrimu. Bagaimana?" tawar Nick.


"Untuk apa?" tanya Frans menatap tajam pria itu. Ia sangat tidak suka teman-teman prianya membicarakan sang istri. Apalagi ingin bertemu dengan istrinya, ia sangat tidak suka.


"Hei, santai Frans. Setidaknya kita bisa lebih dekat dengan istrimu" ucap Nick.


"Aku akan mengajaknya jika kalian sudah menikah juga" ucap Frans dengan asal.


Sementara Frans dan Nick sedang berbincang, Onya dan Liana yang memperhatikan mereka dari jauh tiba-tiba dikejutkan dengan keberadaan dua orang wanita yang menghampiri mereka.


"Onya, apa kabar?" tanya seorang wanita, tak lain adalah Mena. Di sebelah wanita itu ada Olin.


Onya tersentak melihat keberadaan dua wanita kupu-kupu itu.


"Hai kak Mena, aku ba-ik, b-bagaimana dengan kalian berdua?" tanya Onya dengan gagap.


"Baik juga" jawab dua kupu-kupu itu serentak.


Melihat kedua gadis itu saling melempar tatapan dengan Onya yang geleng-geleng kepala membuat Olin kembali bersuara. "Permainannya gampang dan seru juga. Di ruangan santai itu ada VS dan kita akan bertanding di sana. Siapa yang kalah harus minum minuman yang sudah disediakan para pemenang" ucap Olin seraya menunjuk ke arah ruangan itu berada.


"Sepertinya kita tidak tertarik, kak" tolak Onya.


Berbeda dengan Onya, Liana justru tergoda. Gadis itu terlihat polos, hanya dengan melihat banyaknya orang yang sedang bertanding ramai di ruang itu dan beberapa minuman yang dikiranya minuman kesukaannya membuat gadis itu tak banyak berpikir dan langsung mengiyakan ajakan dua kupu-kupu itu.


"Aku ikut, kak" seru Liana membuat dua kupu-kupu itu tertawa kecil menyadari kepolosan gadis itu.


"Sama-sama polos" gumam Olin, hanya didengar oleh Mena. "Kalau gitu, ayo kita ke sana" Olin hendak menarik Liana ke tempat itu, namun Onya menghalangi mereka.


"Jangan kemana-mana, Liana. Jangan sampai Frans melihat kita di sini" ucap Onya.


"Oh gitu, kenapa kamu tidak menghampiri Frans saja di sana? Apa perlu aku memanggilnya untukmu?" ucap Olin. Onya sangat sadar jika ucapan wanita itu bermaksud mengancamnya.


"Tenang, Onya. Frans tidak pernah tertarik dengan permainan kami ini. Kau akan aman di sana" ucap Mena.


"Sebaiknya kau ikut bermain bersama kita, Onya. Kamu tinggal pilih saja, mau menemani suami-mu di sana..." ucap Olin sambil menunjuk ke arah Frans. "... atau bermain bersama kami tanpa sepengetahuannya" sambungnya.


Dengan terpaksa Onya mengikuti ajakan dua kupu-kupu itu. Ia dan Liana yang baru saja memasuki ruang permainan itu langsung disambut meriah oleh beberapa orang.


Onya dan Liana yang baru bergabung harus bertanding dengan dua orang pria yang baru saja memenangkan pertandingan. Mereka sudah memegang remote game masing-masing dan hanya menunggu permainan di mulai.


Dan pertandingan pun dimulai!


"Terlalu sulit" gerutu Onya dengan kesal.


Lawan Onya terlihat santai. Ia bermain sambil sesekali melirik Onya. "Apa perlu bantuan?" tanya pria itu, namun Onya mengacuhkannya.


"Batas lima kali bermain, artinya kalau salah satu dari kalian sudah kalah tiga kali, permainan dianggap berakhir. Dan yang kalah harus minum" ucap Olin tiba-tiba.


Kini Onya sudah kalah dua kali. "Sekali lagi, sayang. Aku akan menang dan kau harus minum semua yang aku kasih" ucap pria di samping Onya itu.


Sementara Liana yang sudah kalah lebih dulu, mau tidak mau harus minum minuman yang disediakan lawannya. Gadis itu terlihat tenang menyambut dua gelas minuman yang dibawa. Melihat warna minuman itu begitu cantik membuat Liana ingin langsung mencobanya.


"owek... pait" ucap Liana hampir memuntahkan minuman itu.


Semua orang di ruangan itu tertawa menyaksikannya. "Harus minum sampai habis, sayang" ucap Olin yang tiba-tiba menghampirinya.


"Tidak ada minuman lain?" tanya Liana.


"Tidak, sayang. Ini permintaan lawan-mu" ucap Olin.


"Kalah!" teriak mereka semua di ruangan itu saat pria di samping Onya kembali memenangkan pertandingannya.


"Sesuai syarat permainan, aku ingin gadis itu minum minuman itu... lima gelas" ucap pria itu sambil menunjuk beberapa gelas dengan isi minuman berwarna biru.


"Apa?" pekik Onya dengan lirih. Ia tahu minuman itu rasanya sangat tidak enak, karena ia pernah mencobanya.


"Minum! minum! minum...!" semua orang yang ada di ruangan itu memberi semangat gadis itu.


"Apa kalian bisa dipercaya? Maksudku, minuman itu tidak dicampur obat-obat terlarang, kan?" tanya Onya.


Semua orang langsung tertawa terbahak-bahak. "Tidak, Onya. Tanyakan saja pada beberapa wanita di sana, mereka tadi kalah bertanding dan baru menghabiskan beberapa gelas minuman itu" ucap Olin memperlihatkan beberapa wanita yang sedang asik berpesta.