A POSSESSIVE BESTIE

A POSSESSIVE BESTIE
KABAR MENGEJUTKAN



Ancaman Nyonya Eisten membuat Franky semakin frustasi. Hingga ia tidak bisa berpikir dengan jernih. Tanpa tahu dengan akibatnya, Franky akhirnya memutuskan untuk menikahi Lusi. Seperti yang ia janjikan pada Lusi semalam, ia akan datang mengunjungi wanita itu di rumah sakit. Tapi ia belum mengatakan niatnya datang ke sana pada wanita itu.


Di rumah sakit, Nyonya Bliss sedang membantu anak perempuannya untuk makan siang. Bersamaan dengan tibanya Franky di sana. Pria itu mengetuk pintu terlebih dahulu, dan menunggu mereka yang didalam untuk mempersilahkannya masuk. Tidak membutuhkan waktu yang lama, pintu kamar inap Lusi langsung terbuka. Ternyata Nyonya Bliss yang membukanya.


"Selama siang" sapa Franky sambil tersenyum canggung.


"Iya, selama pagi. Ayo masuk, Franky" ucap Nyonya Bliss.


Franky mengangguk pelan, dan masuk kedalam ruangan itu. Dan ia pun duduk di sofa. Sementara Nyonya Bliss kembali menghampiri Lusi, dan menuangkan beberapa jenis makanan untuk anak perempuannya itu. Setelah menyiapkan semuanya, ia membiarkan Lusi makan sendiri. Dan ia pun menghampiri Franky di sofa.


"Maaf kalau menganggu waktu makan siangnya, Nyonya Bliss" ucap Franky dengan datar. Ia masih betah memanggil wanita itu dengan sebutan 'Nyonya'. Sungguh sangat formal. Hanya saja, pria itu tidak tahu cara memanggil wanita itu dengan informal.


"Tidak, tidak mengganggu. Oh iya, jangan panggil saya Nyonya, panggil saja Tante. Sebutan Nyonya terlalu formal untuk saya" ucap Nyonya Bliss sambil bergurau. Entahlah, situasi seperti ini ia masih sempat bergurau. Mengingat Franky tidak mau bertanggungjawab pada kondisi anaknya, seharusnya dia tidak sebaik itu dengan Franky, bukan?


Franky terkekeh sambil tersenyum canggung. Hening sejenak kala Franky mengarahkan pandangannya ke arah Lusi berada. Sayangnya wanita itu terlalu sibuk dengan makanannya. Ia bahkan tidak berniat untuk melirik Franky sama sekali. Sementara Franky, pria itu malah menatap nanar ke arah Lusi. Entah apa yang ia pikirkan. Sungguh, dadanya terasa membara ketika mengambil keputusan secepat ini.


"Jadi, bagaimana nak Franky?" tanya Nyonya Bliss memecah keheningan diantara mereka.


Pertanyaan Nyonya Bliss mengundang perhatian Lusi. Wanita itu mendongak ke arah Franky dan ibunya berada, hingga tak sengaja tatapannya bertepatan dengan tatapan Franky. Mungkin hanya satu detik saja mereka berkontak mata, karena keduanya sama-sama mengakhirinya.


"Em, saya datang ke sini untuk membicarakan sesuatu hal yang penting" ucap Franky. Sejenak ia menjeda ucapannya untuk mengambil udara yang sedalam-dalamnya. "Saya sudah memutuskan untuk bertanggungjawab. Saya akan menikah dengan Lusi" sambungnya dengan tenang. Tidak setenang emosinya yang tengah dipendam.


Sementara Nyonya Bliss dan Lusi serempak kaget. Ada perasaan senang yang menghampiri Nyonya Bliss. Entah apa yang dirasakan oleh Lusi. Wanita itu hanya bisa menatap kosong ke arah depan, yang jelas berlawanan dari keberadaan Franky dan ibunya. Tanpa sadar, ia mengelus perutnya dengan lembut.


"Kabar baik kalau begitu" ucap Nyonya Bliss, ia menyambut keputusan Franky dengan senang. "Tapi apa Tuan dan Nyonya Eisten sudah mengetahui keputusan kamu?" tanyanya kemudian.


Franky tersenyum kecut, dan menggeleng kepalanya. "Mungkin dengan mama sudah. Tapi belum dengan papa" ucap Franky.


Mendengar hal itu membuat Nyonya Bliss sedikit lega. Wanita itu tidak meragukan Nyonya Eisten, karena ia yakin kalau wanita itu juga menginginkan keputusan yang sama. Sementara Tuan Eisten? Entahlah, yang penting Franky sudah punya niat untuk bertanggungjawab.


"Baiklah. Tapi apa kamu sudah punya rencana, kapan kalian akan menikah?" tanta Nyonya Bliss lagi.


"Hari ini juga bisa" jawab Franky begitu saja, tapi tetap terlihat tenang.


...*...


Kabar pernikahan Franky dan Lusi telah didengar oleh Tuan dan Nyonya Eisten. Bukan Franky yang memberitahu, karena ia enggan untuk mengatakan hal itu pada kedua orangtuanya. Apalagi ibunya yang egois, sungguh ia melakukan ini hanya karena kesal pada wanita itu.


Nyatanya, kabar itu disampaikan oleh Tuan Bliss. Setelah Franky pergi untuk mengurus berkas-berkasnya nantinya, disaat itulah Nyonya Bliss mengabari kabar gembira itu pada suaminya. Suaminya pun ikut bersiap-siap, sekaligus mengabari kedua orangtua Franky.


Bukan hanya Tuan dan Nyonya Eisten saja yang mengetahui kabar baik itu. Mereka juga ikut mengabari Tuan dan Nyonya Wiranta, karena keluarga Wiranta dianggap wajib mengetahui kabar bahagia itu.


Onya tentu tahu kode Frans itu. Gadis itu lantas menjawab telpon itu. "Halo?" ucapnya.


"Onya, kalian dimana?" Nyonya Eisten tentunya. Ia mengenal suara gadis itu, makanya tanpa ditanya pun ia langsung menyebut nama 'Onya'.


"Dalam perjalanan ke apartemennya Franky, ma" ucap Onya.


"Bilang Frans kalau Franky mau menikah sekarang. Kalau kalian mau datang, ke rumah sakit saja. Biar mama kenalin kalian berdua ke keluarga calon istrinya Franky" ucap Nyonya Eisten.


Sementara Onya yang mendengar langsung membulatkan kedua matanya. Mulutnya ikut terbuka, dan satu tangannya bergerak memukul-mukul lengan Frans.


"Onya, kamu dengar tidak?" tanya Nyonya Eisten, karena gadis itu tak kunjung menjawab ucapannya barusan.


"Ah, iya ma. Nanti Onya kabarin Frans. Kita akan ke sana" sontak ia menutup mulutnya dengan satu tangan yang tadi ia gunakan untuk memukul-mukul Frans. Onya keceplosan dengan mengatakan kalau mereka akan ke rumah sakit. Sungguh, ia benar-benar keceplosan. Seharusnya ia bertanya dulu pada Frans.


"Baiklah, mama tunggu" ucap Nyonya Eisten.


Setelah penggilan telpon itu berakhir, Onya sontak berteriak memanggil nama Frans. "Frans!" Onya terlihat histeris. Ia kembali memukul-mukul lengan Frans yang sedang menyetir.


"Apa?" tanya Frans dengan datar.


"Hari ini kak Franky menikah" ucap Onya begitu saja. Frans yang mendengar ikut terkejut. Ia sontak membanting setir ke samping jalan, dan berhenti sejenak di sana.


Untungnya Onya sadar jika hal itu akan terjadi. Dan lebih beruntung karena dia menggunakan sabuk pengaman. Jadi dia tidak kenapa-kenapa.


"Sama siapa?" tanya Frans refleks.


"Tidak tahu. Tadi mamamu hilang begitu. Kita harus ke rumah sakit katanya" ucap Onya.


Hening sejenak. Keduanya begitu syok mendengar kabar tersebut. Jadi keduanya duduk merenung sambil menduga-duga, dengan siapa Franky menikah? Siapa lagi kalau bukan Lusi?


"Pasti dengan Lusi" gumam Onya sambil menatap kasihan pada sahabat laki-lakinya itu. Bukan tatapan kasihan yang hakiki, karena ia hanya bermaksud mengejek. "Kasihan. Yang sabar ya, Frans. Mungkin kalian belum berjodoh" sambungnya sambil mengusap-usap lengan pria itu.


Sementara Frans yang masih syok tidak menghiraukan gurauan Onya barusan. Ia masih berkabut dengan pertanyaan-pertanyaan dalam benaknya. Bagaimana bisa kakaknya itu mengambil keputusan secara mendadak begini? Kenapa dengan Lusi? Oh ayolah, dia berpikir hanya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tidak masuk akal itu, hingga lupa kalau Lusi sedang hamil anaknya Franky.


Lalu bagaimana dengan Mona? Sungguh, Frans tidak habis pikir dengan kakak laki-lakinya itu.


"Kita sama-sama dikecewakan, Frans. Eh, tidak. Mungkin ini karma untukmu. Karena kamu, aku dan Alka berpisah. Makanya kamu kena karma. Nah, ini baru impas" ucap Onya sambil tertawa kecil.