
Keesokan harinya Frans terbangun dari tidurnya. Namun pria itu seakan enggan menuruni kasur empuknya itu.
Frans menatap langit-langit kamarnya. Entah mengapa masalahnya dengan sang istri semalam tak membebaninya lagi.
Frans tersenyum. Ia menoleh ke sampingnya. Dilihatnya sang istri masih tertidur pulas. Pandangannya kemudian beralih ke perut wanita itu. Ternyata kehidupan didalam sana yang mampu mengurangi beban pikirannya.
Pagi itu Frans terlihat bersemangat dari yang lain. Seisi rumah bahkan terheran-heran melihatnya di dapur. Pria itu melarang semua pelayan di rumah membantunya memasak. Dan parahnya ia hanya memasak dua porsi.
Tuan dan Nyonya Eisten geleng-geleng kepala memperhatikan anak lelaki mereka itu. Ia membawa dua porsi makanan itu ke kamarnya.
Di kamar, pria itu membangunkan istrinya.
"Sayang, makan pagi" seru Frans. Sungguh, wanita pemalas itu tak terganggu sedikitpun dengan suara Frans.
"Papa bawa makanan buat mama dan anak pemalas" seru Frans lagi di samping Onya.
Wanita itu menggeliat tanpa membuka kedua matanya. Sungguh pria yang aneh. Bisa-bisanya ia mengagumi sih muka pemalas.
Baru saja Frans meletakan sarapan pagi mereka di meja. Tiba-tiba ia dikagetkan dengan deringan ponselnya. Pertanda ada panggilan telepon dari seseorang.
Frans langsung teringat janjinya dengan sang mertua. Buru-buru pria itu mengangkat panggilan telpon itu.
Sebenarnya Onya sudah terbangun sedari tadi. Namun wanita itu merasa malas untuk membuka matanya.
Saat mengetahui sang ayah menelpon Frans, kedua mata wanita itu sontak terbuka. Samar-samar ia mendengar percakapan Frans dengan sang ayah.
"Iya, pa. Nanti Frans akan ke sana setelah Frans dan Onya selesai sarapan" ucap Frans.
Frans berbalik saat panggilan telpon itu berakhir. Niatnya ingin membangunkan Onya kembali. Namun pria itu bernafas lega melihat wanita itu sudah duduk diatas tempat tidur sambil melahap sarapan paginya.
Frans menghampirinya seraya tersenyum senang.
"Makan yang banyak. Setelah ini aku akan ke kantor menemui papa. Kalau kamu butuh sesuatu, langsung bilang ke mama atau siapapun di rumah ini" ucap Frans.
Onya menghentikan aktivitas makannya sejenak. "Apa mama tahu soal kehamilanku?" tanya Onya dengan spontan. Walau sebenarnya dia masih enggan bicara dengan pria didepannya itu.
Frans menggeleng pelan kepalanya. Sesaat kemudian ia mengernyit saat melihat Onya seperti sedang bernafas lega.
"Aku berencana memberitahu mereka malam ini" ucap Frans.
Hening...
Hening...
Hening...
Onya kembali melanjutkan makannya. Wanita itu makan dengan lahap. Melihatnya saja sudah membuat Frans kenyang.
Selesai sarapan, Frans membiarkan Onya kembali beristirahat. Ia pun turun membawa piring kotor ke dapur.
Kembali ke kamar, Frans bergegas ke kamar mandi untuk bersih-bersih diri. Selesai itu ia menuju kloset dan mengenakan pakaian kantornya di sana. Ya hari ini ia akan ke kantor ayah mertuanya.
Rasanya ia ingin membatalkan janjinya dengan Tuan Wiranta. Namun Frans tidak ingin menunda pekerjaannya. Baginya, lebih cepat lebih baik.
Setelah mengenakan kemeja, celana panjang dan sepatu, pria itu kemudian memasang dasinya sambil memandang wajah tenang sang istri di sisi tempat tidur.
"Aku pergi dulu" ucap Frans sambil mencium lembut dahi wanita itu.
Bunyi mesin mobil menyadarkan Onya dari tidurnya. Buru-buru wanita itu menuju balkon kamar. Dari lantai atas ia melihat mobil yang dikendarai suaminya keluar gerbang rumah.
Terlihat jelas sebuah senyuman mengembang dibagian sudut bibir wanita itu. Buru-buru ia menyiapkan satu koper dan ransel kecilnya.
Setelah bersiap-siap, Onya langsung menuruni tangga. Wanita itu hendak melangkah keluar pintu rumah. Namun ia dikagetkan dengan suara Nyonya Eisten.
"Onya, mau kemana, sayang?" tanya wanita itu sambil menghampirinya.
Onya diam seribu bahasa. Ia gugup setengah mati, takut ketahuan akan melarikan diri.
"Mau ke a-apartemen, ma. Tadi aku sudah bilang ke Frans juga" ucap Onya dengan gagap.
"Tapi Frans bilang ke mama dan papa kalau kalian akan tinggal sampai besok di sini. Kata Frans, dia mau kumpul keluarga malam ini" jelas Nyonya Eisten tanpa curiga sama sekali.
"Ah..." Onya mengumpat dalam hati. Sejenak ia terbengong membuat Nyonya Eisten mulai curiga padanya. "Aku mau ambil pakaian ganti aja sih, ma. Nanti balik lagi" sambung Onya beralasan.
"Mau pergi sama siapa?" tanya Nyonya Eisten.
"Ada taxi, ma. Onya udah pesan tadi" ucapnya.
"Nanti supir kita aja yang antar. Tidak pakai tidak ya" ucap Nyonya Eisten tanpa ingin dibantah. Wanita itu sudah menaruh curiga pada menantunya itu.
Bukan soal koper dan ranselnya. Karena kedua benda itu memang dibawa Onya dan Frans sepulang mereka dari bulan madu yang sempat tertunda.
Namun Nyonya Eisten curiga karena jawaban Onya yang terkesan berasalan. Dia yakin ada terjadi sesuatu. Apalagi wanita itu sudah mengetahui persoalan kontrak nikah Frans dan Onya dari suaminya, tentu saja rasa curiga itu semakin menjadi.
Alhasil Nyonya Eisten mengizinkan Onya keluar rumah dengan diantar oleh supirnya. Setidaknya ia bisa mengawasi menantunya itu.
...*...
Didalam mobil, Onya berusaha tenang. Ia sama sekali tidak menaruh rasa curiga pada supir itu. Akhirnya ia memberanikan diri untuk memberitahu tujuannya pada supir itu.
"Pak, kita putar balik. Antar saya ke bandara" titah Onya.
"Eh, baik Nyonya" ucap supir itu.
Melihat Nyonya mudanya sedang melamun, buru-buru supir itu mengirim pesan pada majikannya dengan satu tangan yang tidak lepas dari setir mobil.
Sudah setengah menit perjalanan menuju bandara. Sebenarnya kalau supir itu menambah gas mungkin mereka sudah tiba dari tadi.
Onya mendengus kesal karena mobil itu berjalan lambat.
"Pak, bisa dipercepat? Dari tadi mobilnya lambat sekali" ucap Onya dengan datar.
"Eh, baik Nyonya" ucap supir itu.
Tepat didepan pintu bandara, mobil yang ditumpangi oleh Onya dihadang oleh sebuah mobil. Supir itu langsung mengerem dengan tiba-tiba, sontak Onya yang tidak menggunakan sabuk pengaman terbentur pintu mobil.
"Bapak ini bagaimana sih? Saya sedang ha-" Onya ingin memprotes. Namun ucapannya terhenti karena terkejut melihat sebuah mobil yang menghadang mereka.
"Bapak sekongkol ya sama Frans?" geram Onya, menyadari dirinya dijebak oleh supir itu.
"Maaf, Nyonya" ucap supir itu.
Onya sudah tidak tahu mau berbuat apa. Percuma, karena ia sudah tertangkap basa melarikan diri.
Melihat seorang pria berkacamata hitam keluar dari mobil didepan mereka membuat Onya sedikit takut. Takut saat melihat pria itu membuka kacamata hitamnya. Terlihat garis wajah yang menakutkan dari pria itu.
Kali ini Frans pasti akan memberinya hukuman. Sudah pasti!
Frans membuka pintu mobil dan masuk duduk di samping Onya. Ia menutup pintu mobil itu dengan kasar dan menatap wanita di sampingnya itu dengan tajam.
"Kenapa kau ke sini?" tanya Onya dengan galak, berusaha menutupi rasa takutnya. Namun sayang pria itu menyadari ketakutannya.
Pria itu hanya terkekeh jahat. Matanya yang menyala menahan marah membuatnya terlihat sangat mengerikan. Onya bahkan tak berani menoleh lagi padanya.
"Pak, bawa saya kedalam" titah Onya tanpa peduli dengan resikonya.
"Pak, bawa kita ke lokasi yang saya kirim tadi" ucap Frans dengan datar.
"Kalau gitu aku bisa jalan sendiri" ucap Onya hendak membuka pintu mobilnya. Namun tubuhnya tertarik kebelakang dan dipeluk erat oleh Frans.
"Kunci mobilnya dan jalan!" titah Frans.
"Frans, lepas sialan!" ucap Onya berusaha memberontak dalam pelukan pria itu.