A POSSESSIVE BESTIE

A POSSESSIVE BESTIE
TERTANGKAP



Malam harinya, Franky kembali ke mansion. Ia menghabiskan banyak waktu di bar, dan baru kembali. Ketika ia memasuki rumah besar itu, ia melihat ibu dan ayahnya sedang berbincang dengan seorang pria. Siapa lagi kalau bukan Tuan Bliss?


"Franky?" suara Nyonya Eisten memanggil.


Franky berhenti sejenak. "Ayo ke sini, ada yang harus kita bicarakan" ucap Nyonya Eisten.


"Franky harus ke ruang kerja, ma. Ada beberapa masalah yang harus Franky urus" dusta-nya. Pria itu ingin menjauh dari mereka. Ia yakin, mereka akan membahas sesuatu yang sangat ia tidak sukai. Pernikahan misalnya.


Ketika Franky ingin kembali melangkah, suara ibunya kembali terdengar. Namun kali ini, suaranya terdengar tegas, hingga Franky pun tidak bisa membantah.


"Mama bilang ke sini, ya ke sini. Kau hanya mencari alasan dengan mengatakan ini dan itu. Ternyata kau ingin mencari masalah lain dengan keluarga Bliss" ucap Nyonya Eisten sambil menatap sinis anaknya itu.


Franky tertegun mendengar ucapan ibunya. Apa maksudnya berkata seperti itu? Namun melihat isyarat dari ayahnya yang meminta ia agar ikut bergabung, Franky pun menurut.


Setelah Franky duduk di kursi yang bersebrangan dengan kedua orangtuanya, juga Tuan Bliss, barulah ia sadar kalau mereka terlihat serius.


"Papa ingin bertanya padamu, Franky. Dan papa ingin kamu bicara jujur. Apa yang kau lakukan dengan orang-orang suruhan papa? Papa yakin, masalah yang pernah kamu sampaikan itu tidak berhubungan dengan masalah perusahaan" ucap Tuan Eisten, tanpa jeda.


"Apa hal ini yang ingin papa bahas sekarang?" tanya Franky. Pikirnya, yang akan dibicarakan oleh mereka tidak menyangkut dengan apa yang dikatakan ayahnya.


"Mungkin tidak, tapi mungkin iya" ucap Tuan Eisten.


"Ini bukan masalah perusahaan. Tapi masalah pribadi. Jadi sebaiknya tidak dibicarakan di sini" ucap Franky.


Hening sejenak. Entah apa yang ingin mereka bahas, Franky pun penasaran. Walau ia mulai menduga-duga, kalau ibunya berencana menjodohkan ia dengan Lusi. Namun lebih baik ia mendengar langsung, dengan harapan dugaannya salah.


Nyonya Eisten lantas mempersilahkan Tuan Bliss untuk meminum minumannya. "Tuan Bliss, silahkan diminum dulu. Setelah itu, kita akan bicarakan masalah ini dengan baik-baik" ucap Nyonya Eisten, semakin membuat Franky bertanya-tanya.


"Tidak apa-apa, Nyonya Eisten. Saya juga tidak bisa berlama-lama di sini. Mungkin sebaiknya kita mulai saja" ucap Tuan Bliss, menolak dengan sopan.


"Jadi apa yang membuat anda datang ke sini, Tuan?" tanya Franky pada Tuan Bliss. Keningnya terlibat berkerut, tanda bahwa ia ikut serius dengan perbicangan mereka.


"Begini, kemarin orang-orang kepercayaan saya menangkap seorang detektif. Detektif itu melakukan sabotase di tempat kami. Saya tidak bisa menjelaskan secara detil di sini. Tapi masalahnya, detektif itu mengaku sebagai orang suruhan dari keluarga Eisten. Jadi saya mau bertanya, apa memang benar berita itu?" tanya Tuan Bliss.


Franky lantas menggeleng kepalanya dengan ragu-ragu. Setahunya, belum ada laporan yang masuk mengenai penangkapan salah satu anak buahnya. "Tidak, Tuan Bliss. Mungkin orang itu hanya berdusta agar memperburuk hubungan kerjasama kita" ucap Franky, mengingat kedua keluarga merupakan sesama mitra perusahaan. Pikirnya, yang dibicarakan oleh Tuan Bliss mengangkut masalah perusahaan.


"Ya, sebaiknya begitu" ucap Franky sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. "Permisi sebentar" sambungnya. Ia spontan berdiri sambil meraih ponsel disaku celananya. Akan lebih baik jika Franky segera mengecek orang-orang kepercayaan ayahnya yang sedang ia tugaskan itu.


Pikiran Franky melayang-layang. Ia mulai menduga-duga, antara mengakui bahwa detektif yang dimaksud Tuan Bliss adalah orang suruhannya atau tidak. Padahal Franky hanya menugaskan mereka untuk mencari tahu keberadaan Mona. Mungkinkah orang yang menculik Mona adalah keluarga Bliss? Franky langsung tersadar. Nama belakang Mona adalah Bliss. Namun wanita itu tidak mengakui Bliss sebagai nama keluarga, tapi hanya nama belakang biasa. Namun sejurus kemudian, Franky menggeleng keras kepalanya. Dia pikir itu mustahil. Tidak mungkin Tuan Bliss menculik Mona, dan tidak mungkin mereka memiliki hubungan. Mona tidak punya keluarga, dan tidak punya musuh seperti keluarga Bliss. Ia kembali berpikir, mungkin saja orang suruhannya yang ditangkap itu berniat membobol cctv atau tindakan lainnya untuk menemukan Mona. Namun orang-orang suruhan Tuan Bliss menganggapnya melakukan sabotase.


Akan lebih baik, kalau Franky segera menghubungi orang kepercayaannya. Setelah panggilan itu terhubung, ia langsung bertanya "Bagaimana penyeledikan kalian? Apa ada masalah?".


"Maaf, Tuan. Masih belum ada titik terang, apalagi salah satu anak buah kami belum melapor. Pikir kami, ia menghilang" ucap seorang pria di sebrang sana.


Franky tidak terkejut lagi. Yang ia pikirkan pastilah benar. Detektif yang dimaksud oleh Tuan Bliss memanglah orang suruhannya.


"Kenapa dia bisa menghilang? Apa yang dia lakukan terakhir kali?" tanya Franky.


"Jadi begini, Tuan. Kami kehilangan jejak mobil yang membawa Nona Mona itu di perbatasan Kota dan Desa. Karena itu, kami menugaskan beberapa orang untuk melakukan penyelidikan dan pencarian di sekitar area itu. Dan salah satu teman kami yang hilang ini curiga dengan sebuah gudang, makanya kami menugaskan dia di sana. Tapi sampai saat ini, kami kehilangan jejaknya, Tuan" ucap orang itu panjang lebar.


"Kalian benar-benar tidak becus. Kenapa kamu tidak melapor pada saya?" ucap Franky, mendadak geram.


"Maaf, Tuan. Lain kali kami akan melapor" ucapnya.


"Batalkan pencariannya. Mungkin aku yang akan mengurus detektif sialan itu" ucap Franky.


"Jadi pencarian Nona Mona tidak usah dilanjutkan, Tuan?" tanya orang itu lagi, memastikan jika itu benar keputusan Tuannya.


"Ya, batalkan saja" ucap Franky.


Pembicaraan mereka pun berakhir. Franky mengusap wajahnya dengan kasar. Ia benar-benar bimbang. Ia pikir, orang-orang kepercayaan ayahnya itu tidak bisa diandalkan. Terbukti melalui ucapan Tuan Bliss. Ternyata saat ditangkap pun, mereka berani menyebut keluarga Eisten sebagai dalangnya. Itu akan memperburuk nama keluarganya.


Ini menjadi dilema Franky. Dilain sisi, ia ingin segera menemukan Mona. Ia takut wanita kesayangannya itu dalam bahaya. Tapi pencariannya juga bisa membahayakan keluarganya. Franky harus memilih, antara keluarganya atau wanitanya.


Franky lantas kembali ke ruang tamu. Ia begitu gusar, tidak tahu cara menjelaskan masalah tersebut pada Tuan Bliss. Ia tidak mau pria itu berpikir buruk tentangnya. Mungkin lebih baik kalau dia menyangkal detektif itu sebagai orang suruhannya. Tapi ia akan tetap memikirkan cara lain untuk membebaskan detektif itu, agar dirinya juga selamat dari masalah yang menimpa Tuan Bliss. Ia harus bertemu dengan detektif itu.


"Maaf, Tuan Bliss. Saya baru bicara dengan orang-orang kepercayaan papa. Tapi sepertinya detektif yang anda maksud itu tidak berhubungan dengan kami. Mungkin sebaiknya anda mempertemukannya dengan saya nanti" ucap Franky, direspon dengan anggukan kepala oleh Tuan Bliss.