A POSSESSIVE BESTIE

A POSSESSIVE BESTIE
KEKURANGAN ONYA



Disebuah kamar, Frans duduk diatas tempat tidur sambil memangku anak perempuannya. Mereka sibuk melihat hasil album foto yang baru dibuat.


Foto Frans, Onya dan anak perempuan mereka. Dari Liona kecil sampai foto kemarin yang sempat diabadikan saat hari ulang tahun Liona.


Gadis itu terus berceloteh sambil menunjuk satu persatu foto di album itu. Sesekali Frans mencubit pipi mungil itu dengan gemas.


Tidak lama kemudian seorang wanita keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk. Onya berjalan menuju meja rias tanpa mempedulikan tatapan Frans yang mendambakannya.


Wanita itu mampu mengalihkan fokus Frans saat ini. Perlahan Frans menurunkan Liona dari pangkuannya dan membiarkan anak perempuannya itu bermain sendiri dengan album foto mereka.


Kini Frans menghampiri Onya yang sibuk menggunakan krim malamnya. Pria itu berjongkok sambil memeluknya dari belakang.


"Mama cantik sekali" ucap Frans. Tanpa sadar ucapannya itu mengundang perhatian sang anak.


Liona memiringkan wajahnya sambil mengerucutkan bibirnya. "Kalau Liona cantik gak?" Tanyanya dengan polos.


Frans mengecup pipi Onya sekilas. Setelah itu ia melepas pelukannya dan berbalik menatap anaknya itu.


"Tentu saja anak papa cantik" ucap Frans sambil menghampiri anaknya lagi. Pria itu duduk di samping Liona dan mencium pipi anaknya dengan gemas.


"Siapa yang lebih cantik? Mama atau Liona?" Tanya Liona lagi.


Frans tersenyum menahan tawa. Sepertinya anak perempuannya itu cemburu pada ibunya sendiri.


"Anak papa yang paling cantik" ucap Frans.


Liona mengangguk semangat. Melihat ibunya hendak menuju kloset, buru-buru Liona naik ke pangkuan ayahnya.


Gadis kecil itu sering merekam aktivitas kedua orangtuanya. Biasanya setelah sang ibu selesai mandi, ayahnya akan mengabaikannya dan mengusul ibunya itu ke kloset.


Tapi tenang. Frans dan Onya tahu batasan didepan anak perempuan mereka itu. Mereka tidak pernah bermesraan lebih didepan Liona, mungkin sekedar ciuman pipi dan saling berpelukan yang mereka tunjukan didepan anak itu.


Setelah mengenakan pakaiannya, Onya ikut berbaring ditempat tidur bersama suami dan anaknya.


"Io belum mengantuk?" Tanya Onya.


Liona menggeleng kepalanya sambil memperhatikan album fotonya.


"Sudah jam sembilan, loh" ucap Onya lagi.


"Io mau tidur bareng papa" ucap gadis kecil itu sambil berbaring dan memeluk pahanya Frans.


"Io mau bobo, pa" ucap Liona lagi.


Frans menatap Onya yang juga sedang menatapnya dengan memelas.


Selama Liona melepas susu dari Onya, Liona lebih sering dirawat neneknya. Satu lagi kekurangan Onya, ia tidak tahu cara menidurkan anaknya sendiri.


Liona biasanya ditidurkan oleh neneknya dan Frans. Frans yang kini sudah menjadi pemimpin perusahaan Wiranta juga sering sibuk. Jika nanti ia keluar Kota, Liona akan dijaga Nyonya Eisten.


Lalu bagaimana dengan keseharian Onya? Wanita itu turut merawat anaknya. Sesekali ia akan menyuapi anaknya makan, membantunya mandi dan belajar.


Onya lebih sering keluar rumah untuk melihat perkembangan bisnis sang ibu. Semenjak sembuh pasca-melahirkan, wanita itu sudah lebih bebas dari sebelumnya. Frans sudah menaruh kepercayaan padanya. Walau kadang-kadang sifat posesif pria itu masih kentara.


Biasanya saat mereka menghadiri acara, Frans tidak pernah membiarkan istrinya jauh lima meter darinya.


Begitulah kehidupan mereka saat ini.


...*...


Onya terus memperhatikan Frans yang memejamkan matanya sambil menepuk-nepuk Liona agar anak itu bisa cepat tidur.


Namun ia sangat bersyukur. Kekurangannya bisa dilengkapi oleh kelebihan sang suami. Padahal Frans pasti lebih sibuk dan lebih capek darinya. Namun sepertinya pria itu tidak pernah lelah untuk melengkapi kekurangannya.


Sibuk memandang wajah tampan itu. Ya, walau usianya terus bertambah namun wajah pria itu malah semakin tampan dan seksi dimatanya.


Tiba-tiba Frans membuka matanya. Alhasil kedua insan berbeda jenis kelamin itu saling bertatapan.


Pria itu sedikit mengangkat tubuhnya dan mengecek apakah anaknya sudah tidur atau belum. Mengetahui anaknya sudah tidur, Frans mengisyaratkan sang istri untuk menunggunya karena ia akan membawa Liona ke kamar gadis itu.


"Tunggu aku. Jangan tidur dulu. Aku bawa dia ke kamarnya dulu" ucap Frans tanpa mengeluarkan suara sedikitpun dari mulutnya.


Pria itu menggendong anaknya keluar kamar mereka.


Beberapa menit Onya menunggu. Ia hampir hilang kesadarannya. Untung Frans lekas datang.


Pria itu mengunci pintu kamar mereka dan menghampiri istrinya diatas tempat tidur.


"Kamu sudah mengantuk?" Tanya Frans.


Onya menggeleng kepalanya. Sebenarnya tadi ia sudah sangat mengantuk dan hampir tertidur. Namun saat Frans datang entah kenapa rasa kantuknya mendadak hilang.


Frans menempel pada wanita itu dan mencium bibirnya. "Kalau gitu temani aku begadang malam ini" ucapnya sambil memulai aksinya.


Dan seperti yang kalian tahu, mereka kembali melakukannya tanpa pengaman. Karena semenjak Liona lahir, Frans dan Onya selalu menggunakan pengaman karena wanita itu belum siap hamil lagi.


Onya benar-benar lelah. Ia pun tertidur dan membiarkan Frans bergumul dengan tubuhnya.


Selesai dengan aktivitasnya Frans ikut berbaring. Kepalanya berada didekat perutnya Onya. Ia mengelus perut rata itu dan menciumnya penuh kasih sayang.


Ia berharap akan ada Liona baru didalam sana.


Beberapa saat kemudian Frans berdiri dari tempat tidur. Ia menyelimuti sang istri dengan selimut tebal, barulah ia sibuk bergadang dengan laptopnya.


Keesokan paginya Frans dan Onya masih berbaring sambil berpelukan. Padahal jam didinding menunjukan angka 8 pagi.


Tiba-tiba suara rubah kecil diluar sana terdengar memanggil mereka.


"Papa! Papa! Pa, buka pintunya" seru gadis kecil itu sambil menggendor pintunya.


"Io mau masuk, pa! Papa!" Panggilnya lagi tapi tak kunjung direspon.


Suara itu tak terdengar beberapa menit. Namun tidak lama kemudian suara itu kembali terdengar.


"Mama! Ma, buka pintunya!" Panggil Liona.


Sejenak gadis kecil itu terlihat sedang berpikir. Ia masuk ke kamarnya mengambil satu benda dan kembali menghampiri kamar orangtunya.


Ia memegang mainannya dan mengetuk pintu menggunakan benda itu. Karena mungkin ketukan pintu menggunakan tangannya tidak menghasilkan suara yang cukup kuat.


Onya yang terganggu langsung membangunkan Frans. Wanita itu menggoyangkan lengan suaminya sampai ia terbangun.


"Ada yang mengetuk pintu. Coba dilihat" ucap Onya, kemudian ia membalikkan tubuhnya dan tidur kembali.


Frans menggunakan celana panjangnya baru ia membuka pintu kamar itu. Ia terkejut melihat anak gadisnya didepan pintu. Sontak ia menoleh ke arah Onya yang sedang tidur. Saat ini tubuh istrinya sedang tidak mengenakan satu helai benang pun.


"Kenapa papa tinggalin Io tidur sendiri?" Ucap Liona sambil merengek membuat Frans kembali menoleh ke arahnya.


"Kenapa papa tidak bangunkan Io?" Tanya Liona lagi.


Buru-buru Frans mengajak anak perempuannya itu ke lantai bawah. Dia mencari keberadaan ibunya agar Liona tidak mengganggu waktu paginya bersama sang istri.