A POSSESSIVE BESTIE

A POSSESSIVE BESTIE
PASANGAN TERTUKAR



Beberapa menit lamanya Onya menunggu hingga sebuah mobil yang dikenalnya berhenti didepan gerbang kampus. Kaca mobil itu perlahan turun, tampak seorang pria yang sedari tadi ditunggu-tunggu.


"Ayo Onya" Onya mengangguk dan segera masuk kedalam mobil Franky. Ya, orang yang memanggilnya barusan adalah kakak iparnya.


Dalam perjalanan, Onya terus memperhatikan wajah jutek kakak iparnya. "Apa ada masalah?" tanya Onya memecah keheningan, karena sedari tadi pria itu mendiamkannya.


Franky menoleh sekilas sembari menampilkan senyuman tipisnya, lebih tepatnya senyuman palsu, kemudian ia menggeleng menjawab pertanyaan Onya.


"Kakak kemana saja dimalam resepsi pernikahan? Kau tahu, kemarin malam aku bertemu dengan Liana. Dia datang di acara pernikahan. Mungkin kau bisa bertanya keberadaan kak Mona padanya" terang Onya yang tak tahu jika pria di sampingnya itu lebih dulu tahu darinya.


"hm" Franky menjawab seadanya.


"Atau jangan-jangan kakak semalam tidak ada karena kak Mona?" tebak Onya blak-blakan. Ia menuduh pria itu sambil mengarahkan jari telunjuknya di samping kepala pria itu.


"Kalau iya, kenapa?" balas Franky membuat Onya membulatkan mulutnya.


"Benar kak?" bukannya menjawab, Onya balik bertanya. "Tidak masalah, tapi... kan kakak sudah menikah dengan Lusi" sambung Onya dengan bimbang.


Mendengar nama yang disebutkan Onya membuat Franky mendengus kesal. Alhasil, ia tak lagi membalas ucapan Onya.


"Tapi ya gimana. Aku juga lebih suka kakak dengan kak Mona, bukan dengan Lusi. Lalu bagaimana dengan kakak? Apa kakak lebih suka Lusi atau masih suka sama kak Mona?" tanya Onya dengan penasaran. Dia bukanlah tipe gadis yang kepo urusan orang tapi entah kenapa dia jadi seperti ini.


Franky tak menjawab. Ia hanya diam, fokus menyetir.


"Okay, dengan diamnya kakak, aku yakin kalau kakak sudah menyukai Lusi sekarang" Onya terdengar memancing Franky.


"Kakak hanya tidak yakin dengan anak yang dia kandung. Dan kakak tidak suka padanya" terang Franky.


"Lalu kenapa kakak menikahi kak Lusi?" tanya Onya.


"Kau cerewet sekali. Kenapa banyak bertanya seperti ini, hm?" Franky balik bertanya dengan gemas.


"Aku hanya bertanya. Kalau kakak tidak suka dengan wanita itu, kenapa kakak malah menikah dengannya? Dia itu bukan wanita baik-baik. Waktu berstatus calon istri kakak, dia masih berani menggoda Frans" ucap Onya dengan spontan, tanpa sadar memberitahu tanpa sadar.


"Apa?" tanya Franky sontak membuat Onya tersadar dengan ucapannya barusan. Kedua telapak tangan gadis itu langsung menempel pada bibirnya. "Lusi menggoda Frans? Dimana? Kapan?" tanya Franky bertubi-tubi. Ia pun memberhentikan mobilnya di tepi jalan, saking terkejut dan penasaran.


"Eh, itu kak. Nanti kakak tanya saja sama Frans" ucap Onya dengan gugup.


...*...


Di rumah sakit Lusi akan segera melakukan pemeriksaan. Frans membantu wanita itu sampai didepan pintu ruang pemeriksaan, pria itu berhenti dan berniat membiarkan wanita itu masuk sendiri.


"Kau tidak masuk?" tanya Lusi sambil memegang ganggang pintunya agar tidak tertutup.


Frans hanya menggelengkan kepalanya, tak berniat bersuara ataupun masuk mengikuti wanita itu.


Frans tidak mau masuk karena dia tahu, pasti dokter akan menganggapnya suami wanita itu. Dan sangat menggelikan jika orang-orang di sekitar mereka, termasuk dokter yang akan memeriksa Lusi tahu kalau yang mengantar wanita itu adalah adik iparnya sendiri. Sungguh memalukan!


"Dokternya teman aku, jadi tidak usah takut. Dia juga hadir di malam acara pernikahan, jadi dia tahu kalau kamu itu adik ipar-ku sekarang" ucap Lusi lagi. Sepertinya ia bisa membaca pikiran Frans. Bagaimana tidak, mereka pernah berhubungan sangat lama dan tentu Lusi begitu mengenal pria itu.


"Kau masuklah sendiri. Nanti mama yang akan jadi urusanku" ucap Frans, kekeh tidak mau ikut masuk.


Dengan terpaksa Lusi masuk sendiri. Didalam ruangan itu, ada seorang dokter pria yang menyambutnya dengan senyuman lebar.


Lusi dibimbing oleh pria itu menuju ranjang pasien. Bajunya sedikit digeser ke atas menampakan kulit perutnya yang putih dan mulus, dan celananya sedikit digeser kebawah menampakan bulu-bulu halus.


Tidak ada rasa malu dan canggung. Tidak heran karena pemeriksaan USG memang seperti itu.


Disaat layar laptop sudah menampilkan gambar Hitam-Putih sosok kecil didalam sana, tiba-tiba Lusi dan dokter pria itu dikejutkan oleh Frans yang menerobos masuk tanpa permisi.


"Maaf" ucap Frans. Ditangan pria itu ia memegang ponsel dan di arahkannya benda itu ke layar laptop.


"Lebih dekat lagi, Frans" samar-samar Lusi mendengar suara perempuan dari handphonenya Frans. Siapa lagi kalau bukan Nyonya Eisten? Ya, wanita itu yang memaksa Frans untuk masuk kedalam sana.


"Suami-mu?" tanya dokter pria itu pada Lusi.


"Adik ipar-ku" jawab Lusi dengan malas. "Baru kemarin malam kau bertemu dengan mereka malah bertanya lagi padaku" sambung wanita itu dengan kesal.


Walau Frans sedang fokus video call dengan sang ibu dan juga gambar USG didepannya itu, tapi ia masih mendengar jelas percakapan kedua insan itu. Pria itu juga sadar kedekatan mereka. Tidak sadar pria itu menaruh curiga pada mereka. Namun dia tidak begitu ambil pusing.


Selesai memeriksa kandungannya, Frans dan Lusi bergegas kembali ke rumah utama. Kepulangan mereka bertepatan dengan kepulangan Franky dan Onya. Mobil yang dikendarai Franky lebih dulu masuk gerbang, disusul mobil yang dikendarai oleh Frans.


Onya dan Franky yang lebih dulu keluar dari dalam mobil langsung menghampiri Lusi dan Frans.


"Onya" panggil Frans tiba-tiba ingat untuk menjemput gadis itu. Tapi mau bagaimana lagi, gadis itu sudah ada di depannya.


"Cih!" cuek Onya. Entah kenapa gadis itu balik menatap sinis ke arah Lusi. "Untung ada kak Franky. Kau kemana saja? Gak bisa move on kaya orang bego" umpat Onya secara terang-terangan. Dia hanya tidak habis pikir dengan sahabatnya itu. Eits, bisa dikoreksi, lebih tepatnya sang suami.


"Tadi mama yang minta aku antar Lusi ke rumah sakit. Dan kau juga kak... Kalau sudah punya istri itu diperhatikan. Jangan buang tanggungjawab padaku" ucap Frans beralih pada sang kakak.


"Aku tunggu kau di ruang kerjaku, Frans" ucap Franky dengan datar. Wajahnya menatap tajam sang adik dengan istrinya secara bergantian. Kemudian ia berlalu mendahului mereka bertiga yang masih diam ditempat yang sama.


Setelah Franky masuk kedalam rumah besar itu, Frans lantas menyusulnya. Kini tinggallah Onya dan Lusi.


Onya ingin mengikuti kedua pria itu juga, namun Lusi menahannya. "Onya, aku ingin bicara denganmu" ucap Lusi.


"Kenapa?" tanya Onya sambil mengernyit tak suka.


"Apa bisa kau menatapku biasa saja? Kau terlihat tidak menyukaiku" ucap Lusi.