
Pagi-pagi sekali Frans bangun lebih dulu Onya. Selesai bersih-bersih, ia bergegas ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi untuknya dan Onya. Barulah ia membangunkan gadis itu.
"Onya, bangun. Bukannya hari ini kau ingin bertemu Alka?" bisik Frans.
Mendengar nama Alka, kedua mata Onya seketika terbuka sempurna. "Jam berapa?" tanyanya sambil meregangkan kedua tangannya.
"Jam enam" jawab Frans.
"Masih pagi" rengek Onya, kembali memejamkan kedua matanya.
"Kalau sampai Alka sudah berangkat, jangan salahkan aku" seru Frans, melangkah keluar.
Dengan malas Onya bangun dari tidurnya. Ia meraih ponselnya, berniat menghubungi Alka untuk mengatakan niatnya menemui pria itu di bandara, sekaligus bertanya jam berapa pria itu berangkat. Sayangnya pria itu tidak mengangkat panggilannya.
Kini Onya dan Frans berada di ruang makan. Frans yang hampir menyelesaikan sarapannya mendesah saat melihat sarapan Onya yang belum tersentuh. Gadis itu masih fokus menatap ponselnya.
"Cepat habiskan sarapan-mu, Onya" ucap Frans.
"hm..." Onya memelas. Ia meletakkan ponselnya dan mulai menyantap sarapannya.
"Ada apa?" tanya Frans sambil mengernyit heran.
"Aku udah telpon Alka, tapi dia tidak angkat. Pesanku juga tidak dibalas. Pasti dia masih marah" lirih Onya sambil mengerucutkan bibirnya, cemberut. "Apa kau tahu dia berangkat jam berapa?" tanya Onya kemudian.
"Jam delapan, pagi ini" jawab Frans.
"Tahu darimana kamu?" tanya Onya dengan tatapan menyelidik.
"Jangan banyak tanya. Selesaikan sarapan-mu" ucap Frans. Onya menatap sinis mendengarnya. "Mau pergi atau tidak? Aku sudah berbesar hati untuk mempertemukan kalian berdua" lanjut Frans.
"Iya" jawab Onya dengan memelas.
Selesai sarapan, Onya kembali ke kamar untuk bersih-bersih diri. Selesai itu, dengan handuk yang hanya membelit dada hingga atas lututnya, ia masuk ke closet untuk bersiap-siap. Namun langkahnya terhenti melihat Frans yang sedang membongkar isi lemarinya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Onya.
"Kau pakai pakaian yang ada di sofa itu" ucap Frans sambil menunjuk ke arah sofa. "Aku sedang mencari jaket untukmu" sambungnya.
Tanpa protes, gadis itu berjalan ke arah sofa yang ditunjukkan oleh Frans. Ia mengambil pakaian itu, dan mengenakannya di kamar mandi.
Saat Onya keluar, ia tidak mendapati Frans di kamar maupun closet pria itu. Gadis itu kemudian keluar dari kamar itu, barulah ia melihat Frans yang sudah siap didepan pintu keluar.
"Ayo" ucap Frans.
Saat Onya mendekat, pria itu langsung memasang jaket padanya. "Diluar dingin" ucap Frans.
Onya menganggukkan kepalanya sambil mengayunkan bibirnya. Terlihat menggemaskan membuat Frans tersenyum sembari geleng-geleng kepala. Pria itu mengacak rambut Onya dengan gemas, namun ditepis oleh gadis itu.
"Jangan mulai lagi deh" ucap Onya dengan memelas.
...*...
Di bandara, kini Onya dan Frans sedang menunggu Alka di dalam mobil.
"Apa kau yakin Alka akan lewat sini, Frans?" tanya Onya terus memperhatikan pintu masuk. Sedari tadi ia menopang dagunya pada pintu mobil.
"hm" jawab Frans, acuh tak acuh.
Tanpa sepengetahuan Onya, ternyata semalam itu Frans sudah menghubungi Alka. Jadi pasti ia tidak akan salah.
Tanpa Onya dan Frans sadari, pria yang ditunggu telah tiba. Alka hendak masuk ke gedung besar itu dengan satu kopernya, namun ia berhenti tidak jauh dari pintu masuk kala mengingat janjinya dengan Frans. Pria itu meraih ponselnya di saku celana untuk menghubungi Frans sambil mengarahkan pandangannya kemana-mana.
Sementara Frans yang masih diam di mobil tiba-tiba mendapatkan panggilan telepon. Belum sempat ia angkat, tiba-tiba suara Onya menghentikan niatnya.
"Alka" ucap Onya spontan.
Buru-buru Onya keluar dari mobil. Sudut mata gadis itu mulai berair kala menyadari tujuan pertemuan mereka ini. Ia tidak tahu, kemana pria itu akan pergi? Apa mereka bisa bertemu lagi? Onya benar-benar sadar, ini adalah perpisahannya dengan Alka.
"Alka!" teriak Onya, memanggil.
Pemilik nama menoleh ke arahnya sambil menebarkan senyuman lebarnya.
Di belakang Onya, Alka melihat Frans. Niatnya ingin merentangkan kedua tangannya agar bisa memeluk Onya, diurungkan. Namun sepertinya Onya memihak padanya. Gadis itu mulai berlari ke arahnya dan langsung masuk kedalam pelukannya.
Melihat Alka dan Onya saling berpelukan membuat Frans sakit hati. Pria itu menundukkan kepalanya. Ia menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya dengan kasar. Ia sangat bersabar walau harus menahan rasa sakit kali ini.
Frans mulai melangkahkan kakinya, mendekati kedua insan yang sedang berpelukan. Samar-samar ia mendengar tangisan Onya.
"Cih, dasar cengeng" ucap Frans. Ia hanya berusaha menepis rasa cemburunya.
Perlahan Alka melepas pelukannya dari Onya. "Kau mau kemana, Alka?" tanya Onya sesegukkan.
Namun sepertinya Alka berusaha menghindari pertanyaan Onya dengan mengalihkan pembicaraan mereka. "Hei, apa ini Onya yang kukenal sebelumnya?" tanya Alka sambil terkekeh. Walau baginya juga berat untuk berpisah dengan gadis itu.
Onya yang merasa sedikit malu langsung memukul pelan lengan pria itu. "Ini pertama kalinya aku menangisi seorang pria. Seharusnya kau beruntung" ucap Onya dengan ketus, disambut tawa oleh Frans dan Alka. Ya, Frans hanya memaksakan dirinya untuk tertawa.
"Apa kau tidak pernah menangisi sahabatmu ini?" tanya Alka sambil melirik Frans. Ia sengaja menyindir Frans.
"Sebentar lagi kalian akan menikah. Aku akan mendoakan kebahagiaan kalian berdoa. Dan untukmu Frans, aku harap kau bisa membahagiakannya. Jangan pernah menyakitinya. Kau pria yang beruntung mendapatkannya" ucap Alka.
"Kau terdengar seperti penceramah" celetuk Frans.
Alka hanya terkekeh. "Mungkin bisa dibilang begitu. Oh iya, kalau boleh beri saran, jangan terlalu memaksakan kehendak-mu padanya. Setidaknya beri dia kebebasan" ucap Alka membuat Frans semakin jengkel.
Sepertinya Onya belum mau melepaskan pria itu. Ia masih menjepit baju Alka dengan kedua jaringan.
"Onya, kapan kau melepas bajuku? Aku akan ketinggalan pesawat jika kau masih menahan-ku di sini" ucap Alka sontak Onya melepas baju pria itu.
"Pergilah. Aku tidak akan pernah merindukanmu" ucap Onya.
"Ya, lebih baik begitu" ucap Alka sambil tersenyum tipis. "Aku pergi, selamat tinggal" sambungnya dan bergegas meninggalkan Onya dan Frans di pintu masuk.
Onya menghembuskan nafasnya berat untuk menghilangkan kesedihannya. Ia berjalan mendahului Frans, dan masuk kedalam mobil.
Dalam perjalanan pulang, Onya terlihat murung. Frans lantas menggenggam tangannya membuat Onya tersadar dari lamunannya.
"Bagaimana kalau seharian ini kita jalan-jalan? Sudah lama aku tidak menemani-mu melukis" ucap Frans.
Onya menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Ide yang bagus" ucap Onya kembali bersemangat. "Seharian ini kamu harus menemaniku jalan-jalan. Dan nanti malam kita ke tempat biasa, ke pantai. Aku akan melukis di sana, sekaligus memperkenalkan IO padamu" sambungnya dengan semangat empat lima.
Selamat hari kemerdekaan teman-teman.
❤️🤍