
Malam itu rumah besar keluarga Eisten berdatangan banyak tamu. Satu persatu dari mereka naik ke panggung untuk memberi ucapan selamat pada pengantin. Sungguh, Frans dan Onya sudah kelelahan menjabat tangan mereka.
Dibawah panggung, beberapa tamu undangan mulai tarik-menarik untuk berdansa bersama. Irama lagu dan gerakan mereka berdansa begitu cepat, tentu Frans dan Onya tidak bisa menyesuaikan. Mereka enggan untuk bergabung.
Hingga keajaiban memihak pada keduanya. Lagu 'Can't help falling in love' yang melantun begitu lambat membuat satu persatu tamu undangan mulai menyesuaikan gerakan dansa sesuai dengan irama lagu.
"Mau berdansa?" bisik Frans. Dengan senang hati Onya mengangguk setuju. Dia begitu malas berlama-lama diatas panggung. Lebih baik ia menggerakkan tubuhnya yang hampir pegal itu.
Frans dan Onya menuruni panggung tanpa permisi pada Lusi yang tidak didampingi oleh Franky. Entah kemana pria itu. Sedari tadi Lusi hanya bisa menonton iri pada Frans dan Onya. Sungguh, Franky benar-benar keterlaluan.
Lusi duduk diantara ketiga kursi kosong. Dia masih mampu tersenyum. Tangannya mengusap lembut perutnya yang membuncit. Hingga tiba-tiba tatapannya tak sengaja melihat seorang gadis.
Liana, ya itu Liana. Sontak Lusi menuruni panggung, mendekati gadis itu.
"Liana" panggil Lusi membuat gadis itu menoleh ke arahnya.
"Eh, kak- kak Lusi. Ada apa, kak?" tanya Liana sambil tersenyum canggung.
"Dimana Mona?" tanya Lusi.
"Oh, tadi itu sama aku. Tapi tidak tahu kemana lagi" jawab Liana ragu-ragu. "Oh iya, maaf kak Lusi. Liana lupa ucapkan selamat untuk pernikahan kakak" sambungnya sebelum Lusi kembali bicara.
"Oh iya, terimakasih" ucap Lusi. "Kalau begitu aku permisi dulu" sambung Lusi, dan berlalu begitu saja.
Liana yang ditinggal mulai mengarahkan pandangannya kemana-mana. Hingga seseorang yang dicari-cari terlihat didepan matanya. Bukannya senang menemukan orang itu, ia malah cemberut. Kenapa tidak? Pasalnya orang yang ia cari tak lain adalah Frans. Padahal pria itu sedang berdansa bersama sang istri.
Kedua tangan Frans melingkar mesra pada pinggang Onya. Dan kedua tangan gadis itu melingkar dileher pria itu. Keduanya saling bertatapan, berdansa ringan sambil bercerita. Posisi Onya yang berhadapan dengan panggung tiba-tiba meminta Frans berhenti berdansa saat melihat tamu undangan naik ke sana.
"Frans, ada tamu. Ayo kita kembali ke panggung" ucap Onya sambil melepas kedua tangannya dari leher Frans. Namun pria itu menggeleng tak setuju. Ia kembali melingkarkan kedua tangan Onya di lehernya.
"Ada Lusi" jawab Frans.
"Tidak ada Lusi di sana. Ayo!" ucap Onya sekali lagi. Ia kembali melepas diri dari pelukan Frans dan bergegas naik ke atas panggung, menemui tamu di sana.
Onya mengernyit melihat tamu undangan yang menghampiri mereka diatas panggung. Diantara tamu undangan itu ada Mena dan Olin. Sisanya adalah teman-teman kuliah Onya dan Frans. Seketika Onya berhenti, dibelakangnya ada Frans pun ikut berhenti.
"Frans sialan" umpat Onya, lirih, hanya bisa didengar olehnya dan Frans. Gigi-giginya merapat kesal, namun detik dimana tamu undangan itu melihat kearahnya dan Frans, Onya sontak memaksa tersenyum.
"Halo kak Mena, halo kak Olin" sapa Onya.
"Halo Onya" balas Mona dan Olin serempak.
"Dimana Lusi?" tanya Olin kemudian.
"Tidak tahu. Tadi dia ada di sini sebelum aku dan Frans turun untuk berdansa" ucap Onya membuat Mena dan Olin saling melirik satu sama lain.
"Oh iya, selamat ya atas pernikahan kalian" ucap Mena sambil menjabat tangan Onya dan Frans bergantian. Begitu juga dengan Olin. "Kalau begitu, kita kebawah dulu" ucap Olin berpamitan, kemudian ia bergegas menarik Mena untuk turun dari sana.
"Apa pengaman-mu bocor, Frans? Pacaran dengan wanita lain tapi menghamili yang lain" ucap Wiliam sambil terkekeh.
Mendengar ucapan Wiliam, Onya sontak menatapnya tajam. Inilah ketakutan Onya, ia tidak mau mengundang teman-teman sekampus mereka karena takut dianggap hamil. Memang benar bukan, kalau menikah disaat masih menempuh pendidikan, alasannya bisa jadi karena keduluan hamil?
"Jaga mulutmu" ucap Onya sambil mengeram tak suka.
"Tenanglah sayang, kita pandai menjaga rahasia" ucap Wiliam sambil mengedip sebelah matanya. Tanpa mau mendengar pembelaan Onya, pria itu langsung bergegas turun.
"Selamat, bro" ucap teman Frans satunya lagi.
"Thanks bro" balas Frans.
"Dan Onya, selamat untuk kalian" ucap pria itu, berniat memeluk Onya namun ditahan oleh Frans. "Santai, bro. Sepertinya Onya tidak keberatan untuk kupeluk. Benarkan Onya?" tanya pria itu.
"Hahaha, terimakasih Nick" ucap Onya sambil tertawa kecil, walau terkesan memaksa. Ia mengabaikan pertanyaan Nick karena tak suka digoda seperti itu.
"Kalian sama-sama cocok. Semoga malam pertama kalian berjalan lancar. Oh iya Onya, aku sarankan agar kau menjaga pria ini baik-baik. Jangan sampai dia menaiki ranjang yang salah, bisa saja dia bertukar tempat dengan kakak laki-lakinya" ucap Nick membuat Frans menatapnya tajam.
"Ayolah, Nick" ucap Frans dengan memelas. Jika saja mereka berada di tempat yang sepi, mungkin Nick saat ini tidak akan selamat.
Nick hendak turun dari panggung. Namun tidak sengaja ia bertabrakan dengan seorang gadis karena pria itu baru saja membalikan tubuhnya. Dahi keduanya bertabrakan membuat gadis itu oleng hampir jatuh kebelakang, namun dengan sigap ditangkap oleh Nick.
"Maaf, kau tidak apa-apa?" tanya Nick.
Secepat kilat gadis itu mendorongnya. Ia masih mengelus dahinya yang terasa sakit, terasa benjol karena tubrukan tadi.
"Tidak apa-apa" jawab gadis itu dengan ketus membuat Nick sedikit terpana.
Gadis itu menaiki panggung dengan wajah cemberutnya. Ia terlalu memaksakan wajah imutnya untuk mengambil perhatian seorang pria.
"Liana!" Onya terkejut saat melihat wajah gadis yang ditabrak Nick.
"Hai Onya, hai kak Frans" sapa Liana dengan bibir yang dipaksa mengerucut. Bukannya menggemaskan, gadis itu malah terlihat jelek dimata Frans. Frans benar-benar muak melihatnya!
"Kau ada di sini?" tanya Onya, terkejut tak percaya. Mulutnya bahkan terbuka besar. Sementara Liana yang ditanya hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kak Mona?" tanya Onya kemudian.
"Katanya ada urusan jadi tidak sempat untuk menemui kalian. Tapi tadi kita berdua ikut upacara pernikahan kalian kok" ucap Liana.
"Bagaimana bisa? Kak Franky mengundang kalian berdua?" tanya Onya.
"Eh, tidak tahu" jawab Liana.
Ah, sudahlah. Apapun itu, Onya tidak peduli. Yang dia inginkan hanyalah Liana. Onya sangat menyukai gadis itu karena gadis itu menyukai Frans. Tidak peduli dengan keberadaan Frans, Onya langsung menarik Liana kebawah panggung untuk bercerita bersama.