
Hari itu, Frans hendak menjemput Onya. Dia tidak ingin Tuan dan Nyonya Wiranta berpikir buruk tentangnya. Namun tak sengaja mobil yang ia kendarai berpapasan dengan mobil yang mengantar kedua mertuanya itu. Kalau saja mobilnya berada di depan mobil mertuanya, mungkin ia sudah bisa melewati gerbang rumah besar Wiranta itu. Namun saat mertuanya menyadari kehadirannya, mereka lantas menghentikan mobilnya.
"Frans, mau ke rumah?" tanya Nyonya Wiranta.
Frans bingung menjawab. Ia tidak menyangka kalau kedua mertuanya itu sudah kembali dan tahu kalau Onya menginap di rumah besar Wiranta. "Iya, ma. Aku mau menjemput Onya karena hari ini kita akan mendaftar wisuda" ucapnya beralasan.
"Frans, kau pulang saja. Papa minta kamu yang mengurus pendaftaran kalian, karena hari ini mama dan papa yang akan menemani Onya" ucap Tuan Wiranta.
Mau tak mau Frans akhirnya berputar balik menuju kampus seorang diri. Di sana ia mengurus pendaftaran wisudanya dan Onya. Setelah itu ia lantas mengikuti teman-temannya yang sedang nongkrong di bar.
Di bar, Frans tidak banyak bicara. Kedua temannya, Nick dan Wilson yang sesekali menanyakan keadaannya pun tak dihiraukan. Nick dan Wilson lantas menghampiri beberapa wanita di sana, meninggalkan Frans seorang diri yang melamun dengan pikirannya.
Nyatanya Frans masih memikirkan kejadian pagi itu. Ia baru menyadari kalau Onya masih perawan saat berhubungan dengannya. Saat berhubungan, Frans memang sadar kalau milik Onya benar-benar sempit. Tapi ia belum sadar waktu itu kalau Onya memang masih perawan.
Seingat Frans, Onya pernah bilang padanya kalau ia sudah tidak perawan lagi. Frans tidak mempermasalahkan hal itu. Tapi saat tahu Onya berbohong, Frans benar-benar mengutuk dirinya sendiri karena pernah berkata kasar pada wanita itu.
Menjelang malam, Frans merasa ada yang aneh dengan dirinya. Ia merindukan Onya. Pria itu segera mengendarai mobilnya. Niatnya kembali ke apartemen, namun dalam perjalanan ia langsung berputar arah, ke kediaman Wiranta.
Di rumah besar Wiranta, malam itu Tuan dan Nyonya Wiranta sedang makan malam bersama anak perempuan mereka, Onya. Tidak ada satu pun yang berani bicara. Nyonya Wiranta yang terkenal galak dan egois pun tak bisa melawan suaminya sekarang. Nyonya Wiranta bahkan tak mampu membela menantunya saat mendengar permasalahan Onya dan Frans dari mulut suaminya tadi.
Saat ketiganya selesai makan, Onya hendak kembali ke kamarnya. Namun seorang pelayan tiba-tiba datang menghampiri mereka dan menyampaikan kedatangan seorang tamu.
"Permisi, Tuan, Nyonya, ada Tuan Frans di ruang tamu ingin bertemu Nyonya mudah" ucap pelayan itu.
Nyonya Wiranta dan Onya langsung menegang. Onya melihat ayahnya yang terlihat tak bersahabat. Rahang pria itu mengeras, pertanda suasana hatinya masih belum membaik.
"Papa yang akan bicara dengannya" ucap Tuan Wiranta sambil berdiri dari tempat duduknya.
Onya dan ibunya ikut menyusul Tuan Wiranta di ruang tamu. Tampak Frans sedang duduk sambil memainkan ponselnya. Ia kembali memasukan ponsel itu saku celana saat melihat kedatangan kedua mertua dan istrinya.
"Selamat malam, ma, selamat malam, pa!" ucap Frans dengan tenang. Dia menyadari perubahan ayah mertuanya, namun segera ia tepis tak mau berburuk sangka.
Suasana di ruang tamu begitu canggung. Apalagi Tuan Wiranta belum berniat bicara. Ia hanya menatap tajam pada Frans, hingga mengharuskan Frans lebih dulu bicara.
"Frans ke sini ingin menjemput Onya. Sebelumnya Frans minta maaf, karena kami sedikit punya masalah makanya Onya memutuskan tinggal di sini satu malam" ucap Frans sambil tersenyum canggung. Tak biasanya ibu mertua diam begini, pikirnya.
"Pa!" Nyonya Wiranta yang hendak bicara mendadak bungkam saat Tuan Wiranta menatapnya.
"Kalau kalian punya masalah, setidaknya kamu sebagai pemimpin keluarga mampu bicara baik-baik dengan anak saya. Memang mama nya sering mendidiknya dengan cara yang keras, tapi bukan berarti anda bisa mengikuti jejak istri saya. Mereka sama-sama perempuan, jika istri saya memukulnya, itu wajar. Tapi kalau laki-laki sudah berani bertindak kasar pada perempuan apalagi kamu terhadap anak saya, saya rasa itu tindakan kurang ajar" ucap Tuan Wiranta dengan mata yang mulai memerah.
Mulut Frans sedikit terbuka, ia bingung dengan ucapan yang barusan ia dengar. Ia ingin menyela ucapan ayah mertuanya itu, namun mendengar kalimat terakhir pria itu membuat ia sadar jika pria itu sedang marah besar padanya. Ia pun tak berani membela diri.
Frans beralih menatap Onya sembari menanyakan maksud ucapan tadi melalui isyarat wajahnya.
"P-papa marah karena kamu bertindak kasar padaku hanya karena aku mengikuti-mu ke pesta" ucap Onya dengan perasaan bersalah. Ia tidak berpikir sejauh ini, kalau-kalau ayahnya akan seserius ini. Onya pun tak mampu mengakui kebohongannya, karena ia sudah terlanjur berbohong.
"Jujur saya kecewa sama kamu, Frans. Karena itu, saya tidak mau mendengar alasan apapun lagi dari kamu maupun istri saya. Saya setuju kalau Onya akan melanjutkan S2 di luar negeri" ucap Tuan Wiranta kemudian.
"Pa, jangan asal ambil keputusan dong! Mama tidak setuju kalau Onya lanjut kuliah di luar negeri" bantah Nyonya Eisten.
"Kalau kamu tidak mau, segera urus perceraian mereka" ucap Tuan Wiranta sambil menatap istrinya, kemudian ia langsung beranjak dari tempat duduknya menuju ke kamar.
"Aku rasa aku tidak melakukan kesalahan apapun" lirih Frans sambil menatap intens ke arah Onya.
Nyonya Wiranta pun menyusul suaminya. Kini tinggal Onya dan Frans yang ada di ruang tamu.
Awalnya Onya merasa bersalah pada Frans. Tapi melihat tatapan Frans barusan padanya membuat rasa bersalah menjadi ingin menantang kembali pria itu. "Dari dulu kamu tidak memberikan aku kebebasan. Dan karena papa mengizinkan aku lanjut S2 di luar negeri, kali ini aku tidak akan menyia-nyiakannya. Kamu pun tak bisa menghalangi aku" ucap Onya.
"Dan bagaimana kalau kamu hamil" ucap Frans dengan tampang seriusnya. Ia begitu berharap Onya dapat mengubah keputusannya itu.
"Tenang saja, itu tidak akan terjadi. Lagian kita hanya melakukannya satu kali" ucap Onya sembari berdiri dari posisi duduknya. Ia hendak meninggalkan Frans di sana, namun suara pria itu menghentikannya.
"Jadi sebenarnya apa masalah-mu, hah? Karena aku tidak memberikan kamu kebebasan? Atau karena kejadian pagi itu?" tanya Frans setengah berteriak. Untungnya Tuan dan Nyonya Wiranta kini berada di kamar mereka yang kedap suara. Mungkin saja mereka akan mendengar keributan diluar sana.
"Dua-duanya!" jawab Onya dengan santai ia membalikan tubuhnya. "Percuma dong kita buat kontrak nikah tapi kamu lalai" sambungnya.
"Perbuat sesuka-mu. Aku juga tidak akan tinggal diam kalau kamu masih berniat melanjutkan kuliah di luar negeri" ucap Frans dengan geram. Setelah berucap demikian, tanpa berniat mendengar balasan Onya, ia bergegas keluar rumah besar itu.