A POSSESSIVE BESTIE

A POSSESSIVE BESTIE
KEMBALI



Dua bulan lebih telah berlalu. Kini usia kandungan Onya sudah memasuki masa tua. Seharusnya ia bisa mengecek kehamilannya dan mengetahui jenis kelamin anaknya.


Beberapa kali Frans membawa Onya ke dokter kandungan. Bisa saja mereka menanyakan jenis kelamin anak mereka. Namun Onya meminta dokter untuk tidak memberi tahu mereka.


Alasannya, "Aku ingin tahu jenis kelaminnya pasca-melahirkan nanti, dok"


Frans penasaran. Tapi Onya pun memberi tahu dokter untuk tidak memberitahu Frans, cukup dokter saja yang tahu.


Kebiasaan mereka sehari-hari yaitu jalan-jalan ke pantai atau ke syawalan. Dari swalayan, mereka membeli bahan-bahan untuk dimasak di vila.


Beberapa kali Frans mengajak Onya untuk memasak. "Iya", jawaban yang setiap kali Frans dengar dari mulut Onya. Artinya wanita itu setuju untuk diajari memasak.


Namun sampai di rumah, wanita itu justru memangku kakinya diatas meja sambil menonton tv. Sementara di dapur, Frans sibuk memasak.


Sungguh pria yang malang. Ia berharap anaknya nanti tidak jadi pemalas seperti sang istri.


Bohong kalau Frans mengatakan jika ia tidak merasa lelah mengurusi sang istri. Setiap pagi ia harus merapihkan tempat tidur mereka, memasak dan mencuci piring.


Jangan tanyakan penjaga atau pelayan. Jawabannya tidak ada. Keluarga Eisten hanya sesekali menyewa orang untuk menjaga dan membersihkan vila itu. Penjaga dan pelayan hanya akan ditugasi saat keluarga Eisten hendak liburan ke sana.


Namun rasa lelah Frans terobati setiap malamnya. Siapa gerangan yang mampu mengobati rasa lelahnya?


Setiap kali mereka akan tidur, Frans selalu menempel pada perut buncit Onya saat wanita itu berbaring.


Perut buncit Onya selalu ditendang setiap malam. Sungguh menggemaskan dimata Frans saat perut itu terlihat menonjolkan sebuah kaki kecil. Namun begitu, ia sangat khawatir pada Onya. Takut wanita itu merasakan sakit.


"Kamu gak rasa sakit kalau dia tendang?" Tanya Frans seraya meringis, seolah-olah merasakan apa yang dirasakan wanita itu.


"Gak, hanya geli sih" jawab Onya.


Frans beranjak sedikit ke atas. Karena tadi kepalanya berada di perut Onya, kini kepalanya sudah sejajar dengan kepala wanita itu.


Frans mengusap rambut wanita itu dan mengecup dahinya dengan penuh kasih sayang.


Ia menempelkan dahi mereka sembari berucap penuh harap. "Tetap seperti ini".


Frans menikmati hembusan nafas wanita itu dan menghirup wanginya seperti oksigen.


"Ada apa?" Tanya Onya sambil menarik wajahnya.


Frans mengeluarkan nafas beratnya sebelum mengatakan hal penting pada wanita itu.


"Besok kita balik ke rumah. Mama dan papa yang minta" ucap Frans.


"Bagus" ucap Onya. Mulutnya bisa berbohong, namun tidak dengan pikiran dan hatinya. Terlihat jelas saat ia berucap sambil menatap kosong langit-langit kamar itu.


Namun tiba-tiba wanita itu tersadar dari lamunannya saat mengingat hal lain. Ia menoleh ke arah Frans yang menatapnya dengan tampang serius.


"Bagaimana dengan mama dan papaku? Mereka belum tahu masalah kita, kan?" Tanya Onya.


"Sebenarnya mereka sudah meminta kita untuk pulang dari bulan-bulan lalu. Mereka ingin kita kumpul dan bahas masalah kita. Tapi aku menolak, dan untungnya mama kamu paham sama aku jadi dia izinin kita tinggal sementara waktu di sini" ucap Frans.


"Aku takut" ucap Onya dengan guratan wajah cemasnya. "Nanti mama dan papa aku marah" sambungnya.


"Marah, tapi sudah tidak. Gak mungkin mereka marah-marah sama ibu hamil. Justru merasa senang saat tahu kamu hamil, terutama mama kamu" ucap Frans sambil tersenyum. Ia tidak mau wanitanya itu merasa tertekan.


...*...


Setelah membangunkan wanita pemalas itu. Koreksi, saat wanita hamil itu sudah bangun, Frans memintanya untuk segera sarapan. Dan penuh sabar pria itu merapihkan tempat tidur mereka.


Selesai sarapan, Frans dan Onya kemudian bersih-bersih diri dan bersiap untuk dijemput oleh supir dari keluarga Eisten.


Mereka tiba di kediaman Eisten pada sore hari. Saat mobil yang mereka naikin memasuki gerbang rumah besar itu, terlihat sebuah mobil yang tak asing dipandang Onya.


Wanita itu berbalik menatap Frans seraya menggenggam tangannya.


"Tidak apa, tenang" ucap Frans.


Frans lebih dulu turun dari mobilnya, disusul Onya yang dibantu oleh pria itu mengingat perutnya yang besar membuatnya kesusahan untuk berdiri.


Keduanya masuk kedalam rumah. Onya menunduk saat matanya menangkap kedua orangtuanya juga Tuan dan Nyonya Eisten sudah menanti mereka di ruang tamu.


Nyonya Wiranta dan Nyonya Eisten menghampiri mereka dan ikut menuntun Onya duduk di sofa. Onya semakin gugup saat duduk ditengah, diantara ibu kandung dan ibu mertuanya.


Wajah biasnya menatap Frans penuh harap. Seolah-olah hanya pria itu yang ia butuhkan.


"Aku duduk dekat Frans aja, ma, ma" ucap Onya sambil menatap kedua wanita disampingnya itu dengan penuh keberanian.


Ia segera berdiri membuat kedua wanita di sampingnya ikut berdiri. Begitu juga dengan Frans, pria itu langsung datang menghampiri istrinya.


"Oh, gak mau jauh-jauh dari Frans, jeng" ucap Nyonya Eisten pada besannya.


"Ada perubahan, Frans?" Tanya Nyonya Wiranta sambil tersenyum tipis, berharap yang mereka saksikan benar adanya.


Frans mengangguk seraya membenar ucapan mereka. Walau sebenarnya masih ada keraguan.


Nyonya Eisten dan Nyonya Wiranta duduk saat Frans dan Onya sudah kembali duduk berdampingan.


"Perempuan atau laki-laki?" Tanya Nyonya Wiranta sambil menghampiri anak perempuannya itu dan duduk di sampingnya.


Bukannya menjawab, Onya justru menatap suaminya. Entahlah, wanita itu merasa sulit beradaptasi saat menyadari kesalahannya yang kemarin-kemarin.


"Itu yang jadi pertanyaan aku juga, ma. Cuma setiap kali kita ke dokter, Onya gak mau tahu jenis kelaminnya. Dia lebih suka kejutan pasca-melahirkan nanti" jawab Frans.


"Kalau laki-laki nanti marganya ikut Wiranta ya, Frans?" Ucap Nyonya Wiranta.


Tuan dan Nyonya Eisten tidak keberatan. Yang terpenting anak itu memiliki darah Eisten dan tercatat di silsilah mereka.


"Iya, ma" jawab Frans.


"Kalau perempuan gimana?" Tanya Tuan Wiranta.


"Em... Yang penting anak pertama itu masuknya marga kita aja. Mau dia laki-laki atau perempuan. Yang penting satu saja, mama harapnya ada keturunan Wiranta yang bisa jadi penerus mama dan papa" jawab Nyonya Wiranta.


Bagi Frans, marga anaknya nanti tidak akan jadi masalah. Yang terpenting anak-anaknya bukan untuk diadopsi. Dia dan istrinya yang akan merawat anak-anak mereka.


"Soal itu nanti saja" ucap Nyonya Eisten. "Gimana hubungan kalian, Frans? Soal kontrak nikah dan perceraian, mama harap kalian sudah tidak memikirkannya lagi. Mama tidak mau kalian mempermainkan pernikahan, ya!" Sambungnya.


"Onya?" Bukan Nyonya Eisten yang memanggil, namun ibu kandung wanita itu. "Sebenarnya mama dan papa sangat marah saat tahu kamu berniat menceraikan Frans dan ingin kabur ke luar negeri. Sekarang kamu akan menjadi ibu, jadi mama harap kamu tidak melakukan hal bodoh seperti itu lagi. Apapun yang mau kamu lakukan kedepannya, pikir matang-matang dulu. Tahu konsekuensinya" sambungnya dengan tenang.


Jujur Nyonya Wiranta sedang menahan gelora emosinya saat berucap demikian. Namun mengingat anaknya sedang hamil tua, dia berusaha bersikap setenang mungkin.


"Yang kamu lakukan itu dapat membahayakan hubungan keluarga Eisten dan Wiranta. Dan ingat, sekarang kamu akan punya anak, jadi apapun yang kamu lakukan, apalagi sampai menceraikan Frans, artinya kamu sedang mempertaruhkan kebahagiaan anak kamu" tutur Nyonya Wiranta lagi.