A POSSESSIVE BESTIE

A POSSESSIVE BESTIE
KOMA



Onya terkejut melihat bekas darah di celananya saat di toilet. Ia berusaha tenang. Duduk untuk menuntaskan hajatnya. Namun beberapa lama duduk ia merasa perutnya semakin tidak enak bukan karena ingin buang air.


Keringat dingin membanjiri wajahnya. Wanita itu berusaha berdiri agar bisa keluar minta tolong. Namun rasanya tidak sanggup.


"Mama! Ma!" Panggil Onya didalam sana.


"Frans!" Panggil Onya lagi.


Untung wanita itu tidak mengunci pintu kamar mandi. Dengan mudah dibukakan oleh Frans.


"Aku berdarah" ucap Onya sambil bersandar lemah didinding.


Frans terkejut setengah mati.


"Ma, panggil dokter. Onya pendarahan" ucap Frans setengah berteriak pada Nyonya Eisten dan Nyonya Wiranta diluar kamar mandi.


Frans pun menghampiri Onya. Ia mengusap keringat wanita itu dan mencium dahinya.


"Kita ke tempat tidur dulu" ucap Frans. Perlahan Onya sudah berada di gendongannya. Pria itu membawanya ke tempat tidur dan membaringkannya di sana.


Tidak menunggu lama Nyonya Eisten datang bersama seorang dokter. Dan dokter itu segera memeriksa kondisi Onya.


"Saya sarankan agar kita memajukan jadwal operasi ibu" ucap dokter.


Demi keselamatan Onya, baik Nyonya Eisten maupun Nyonya Wiranta yang ada saat itu akhirnya setuju dengan saran dokter.


"Apa sebelumnya ibu pernah mengalami pendarahan?" Tanya dokter kemudian.


Frans yang melihat istrinya memejamkan matanya menahan sakit pun angkat bicara.


"Tidak, dok" jawab Frans tiba-tiba tangannya diremas oleh Onya.


"Sebenarnya sudah beberapa kali..." Onya menelan ludanya dengan sudah paya. Bahkan bicara saja membuatnya seperti kesulitan bernafas.


"...celanaku berdarah. Sedikit dan tidak sakit, jadi aku pikir itu normal" sambungnya dengan sudah paya.


Frans ikut meringis melihat istrinya yang terlihat menahan sakit yang begitu luar biasa.


"Frans, kamu bantu papamu supaya urusan operasi istrimu bisa dilakukan" titah Nyonya Eisten.


Rasanya tidak mau meninggalkan sang istri. Namun akan lebih baik ia bergerak, setidaknya dapat membantu istrinya cepat terlepas dari rasa sakit itu.


Hingga hari menjelang sore, selama itu Onya dilarang untuk makan dan minum. Ia dijadwalkan untuk operasi sesar malam harinya.


Dari pagi itu hingga menjelang malam, Onya tidak berani membuka kedua matanya sedikitpun. Hingga ia merasakan tempat tidurnya terdorong keluar kamar inapnya.


Ia mendengar ucapan semangat dari keluarganya. Baik ibunya maupun ibu mertuanya.


Sempat ia mendengar suara yang diyakininya adalah milik sang ibu. Ia menangis tanpa membuka kedua matanya karena masih merasakan sakit yang begitu hebat.


"Jangan menangis, nanti tambah sakit" titah Nyonya Wiranta dengan suara selembut mungkin.


"Maafin Onya, ma" ucap Onya dengan suara tercekat. "Ini sakit" sambungnya dengan bibir bergetar hebat.


Tiba-tiba perutnya kembali merasakan sakit, kali ini melebihi sebelumnya. Seakan ada benda berat yang menghantam tulang-tulangnya membuat wanita itu semakin lemas tak berdaya. Ia sontak membuka kedua matanya saat rasa sakit yang lebih parah datang menghajarnya.


"F-Frans? Ma-na?" Tanya Onya sambil menghela nafasnya, ia berusaha mengatur nafasnya dengan susah paya.


"Sayang, aku disini" ucap Frans yang sebenarnya masih berada di sampingnya.


"Aku janji gak kabur lagi. Ini sakit, tahu!" Ucap Onya sambil meremas lengan Frans. Lengan pria itu ikut merasakan sakit, tapi ia sadar rasa sakitnya tidak melebihi yang dirasakan sang istri.


Frans tersenyum sambil meringis pelan. "Iya, aku janji" ucapan Frans yang terdengar dan tersimpan rapat-rapat pada memori Onya.


*


Semua anggota keluarga menunggu diluar ruang operasi. Pengecualian pada Franky yang mungkin saat ini berada di rumah.


Uek... Uek... Uek...


Siapapun diluar ruangan itu tidak bisa mendengar suara tangis bayi barusan. Karena ruang operasi itu kedap suara.


Beberapa lamanya menunggu. Seorang perawat keluar dari ruang operasi dengan buru-buru.


Perawat itu hendak mempercepat langkah kakinya entah kemana, namun Frans lebih cepat menahannya.


"Sus, bagaimana operasinya?" Tanya Frans.


Tuan dan Nyonya Eisten bersama pasangan satunya ikut menghampiri perawat itu.


"Bayinya selamat. Soal kondisinya lebih lanjut akan diketahui setelah tes APGAR, pak" ucap perawat itu setenang mungkin. Walau siapapun disitu dapat melihatnya sedang bernafas tak beraturan.


"Lalu istri saya?" Tanya Frans lagi. Entah apa yang membuat perasaannya tak enak. Ia merasa kalau istrinya sedang tidak baik-baik saja.


Dan ternyata, dugaannya memanglah benar. Baik perawat itu maupun dokter-dokter yang menangani operasi Onya pun membenarkan dugaannya.


Onya mengalami pendarahan hebat sesuai dugaan para dokter sebelumnya. Untungnya mereka telah menyiapkan perlengkapan medis selama proses operasi.


Dengan cepat para dokter berhasil mengantisipasi pendarahan yang dialami Onya. Sayangnya wanita itu dinyatakan masih dalam keadaan kritis.


Frans tidak bisa tenang. Ia bahkan lupa jika saat ini ia telah menjadi seorang ayah. Pria itu masih setia duduk pada kursi yang ada di samping tempat istrinya berbaring.


Ia menatap sendu sang istri yang dipasang berbagai macam alat. Semua orang pasti tahu dan sadar kalau jaminan hidup istrinya sangatlah sulit. Namun Frans berusaha membuang jauh-jauh pikiran negatif itu. Walau sebenarnya ia sangat ketakutan apabila itu benar-benar terjadi.


Jangan tanyakan keadaan Nyonya Wiranta. Wanita itu bahkan jatuh pingsan dan sedang dirawat disebelah kamar inap Onya.


Frans yang tadinya hanya sendiri menemani sang istri. Tiba-tiba ia dihampiri sang ibu bersama dua orang perawat dan seorang dokter.


"Frans, gendong anakmu" ucap Nyonya Eisten.


Frans mengikuti arah pandang sang ibu. Dilihatnya sosok mungil yang berada dalam gendongan seorang perawat.


"Permisi, pak. Kancing kemejanya boleh dibuka sedikit supaya kulit bayinya bisa bersentuhan dengan kulit bapak" ucap perawat itu.


Frans tidak banyak bicara. Ia segera membuka dua kancing bajunya dan membiarkan perawat itu membantunya menggendong sang buah hati.


"Anakmu perempuan, Frans. Wajahnya mirip seperti mama" ucap Nyonya Eisten. Bukan untuk becanda. Wanita itu sadar kondisi saat ini. Ia pun ikut sedih melihat kondisi anak mantunya.


Dan ucapan Nyonya Eisten barusan memang benar. Wajah cucu perempuannya itu sangat mirip dengannya.


Awalnya Frans tidak begitu peduli. Yang ia pedulikan saat ini adalah istrinya. Namun mengetahui jenis kelamin bayinya membuat pria itu sedikit menyunggingkan senyuman tipisnya. Hanya sesaat, wajahnya kembali murung.


"Frans? Sudah makan?" Tanya Nyonya Eisten.


Frans hanya menggeleng kepalanya. Bagaimana bisa ia makan kalau istrinya saja masih belum sadar dan belum makan dari pagi?


"Bagaimana dengan istriku? Kapan dia bisa sadar?" Tanya Frans pada dokter.


"Kami tidak bisa kasih kepastiannya, pak. Semuanya bergantung pada ibu" jawab dokter itu.


"Seharusnya ibu sudah sadar dari sejam lalu. Efek obat bius tidak selama ini. Kemungkinan karena pendarahan tadi mempengaruhi kadar oksigen di otak, jadi ibu belum sadar sampai saat ini. Hanya keajaiban, kita hanya bisa bersera pada Tuhan" jelas dokter itu lagi.