
Setelah Tuan Bliss meninggalkan kediaman Eisten, Franky lantas bergegas masuk ke ruang kerjanya. Di sana, ia duduk merenung dengan memangku kedua kakinya sambil memutar-mutar sebuah pena ditangannya.
Terdengar seseorang yang mengetuk pintu diluar sana. Belum sempat Franky menjawab, pintu itu lebih dulu terbuka. Franky yang di kabut beban pikiran menjadi emosi. Ia ingin marah pada orang itu, namun begitu mengetahui orang itu adalah ibunya membuat emosi Franky meredam.
"Ada apa, ma?" tanya Franky dengan datar.
"Cih, ada apa dengan wajahmu?" Nyonya Eisten malah balik bertanya dengan sinis-nya. Ia tidak begitu suka dengan tatapan datar anak laki-lakinya itu.
Franky mendesah pelan. Ia ingin mengindari ibunya, namun wanita itu mampu membuat nyalinya menciut.
Kini Nyonya Eisten sudah duduk, tepat di depan Franky. "Mama mau bicara tentang Lusi" ucapnya.
"Ma, please, jangan sekarang" ucap Franky dengan memelas. Ia hendak berdiri dan melangkah pergi, namun Nyonya Eisten kembali menyahutinya dengan tegas.
"Mama sedang bicara, Franky!" ucap Nyonya Eisten dengan suara meninggi. Sontak Franky mematung di tempatnya.
Melihat Franky tak kunjung duduk kembali, wanita itu lantas ikut berdiri agar bisa menghalangi jalan anaknya itu. "Duduk sekarang" titahnya sambil menunjuk ke arah kursi yang diduduki Franky tadi.
"Ma!" Franky memelas, tidak berani marah pada ibunya sendiri.
"Mama mau bicara sebentar" ucap Nyonya Eisten lagi. Melihat tatapan garang wanita itu membuat Franky menurut. Ia terpaksa duduk dengan malas.
Setelah keduanya kembali duduk, Franky pura-pura sibuk dengan ponselnya. Biarlah ibunya bicara, tapi Franky tidak peduli.
"Mama ingin kamu segera menikah" ucapan Nyonya Eisten yang begitu menambah beban Franky. Pria itu masih bisa mendengar jelas, walau ia berusaha sibuk dengan ponselnya. Ia kembali mendesah dengan kasar kala permintaan ibunya itu lagi. "Franky, kamu dengar atau tidak?" tanya Nyonya Eisten sambil merebut paksa ponsel anak laki-lakinya itu.
"Ma, jangan paksa Franky" lagi-lagi, hanya itu yang mampu ia katakan.
"Pokoknya mama tidak mau tahu. Kamu berani melakukan, maka kamu harus berani bertanggungjawab. Lagian tidak apa-apa kalau anak itu bukan anak kamu. Yang penting kamu bisa menikah" ucap Nyonya Eisten dengan tak acuh. Kali ini ucapannya tidak bisa ditoleransi oleh Franky. Wanita itu benar-benar tidak mengerti dengan perasaan anak laki-lakinya itu.
"Ma, kali ini mama sudah keterlaluan. Franky tidak mau menuruti permintaan konyol mama yang satu ini. Pokoknya jangan paksa Franky, ma!" ucap Franky dengan nada membentak. Sungguh, ini bukan yang pertama kalinya. Emosinya mendadak tak terkontrol, hingga berani berkata lancang seperti itu.
"Franky?" Nyonya Eisten ikut membentak anaknya, dan spontan menampar kepalanya.
Franky tentu terkejut. Tamparan ibunya begitu keras, hingga pendengarannya terdengar bising.
"Terserah kamu saja. Mama sudah muak bicara denganmu. Jadi pria tidak berani bertanggungjawab, tidak tahu malu itu namanya" ucap Nyonya Eisten sambil menunjuk wajah Franky. "Tapi ingat, Franky. Jika dalam satu bulan ini kamu tidak menikah dengan Lusi, mama akan menarik semua seluruh kekayaan Eisten dari kamu. Dan satu lagi, jangan harap mama anggap kamu sebagai bagian dari keluarga Eisten" sambungnya dengan tegas sambil memegang bagian dada kirinya.
"Tapi Franky hanya perlu waktu. Apa mama tidak bisa menunggu sampai anak yang dikandung Lusi lahir? Aku hanya tidak mau kecewa dan mengecewakan kalian nantinya" ucap Franky dengan lirih. Ia begitu malu untuk menatap wajah ibunya, karena wajahnya mungkin sudah basah. Bahkan tangannya terpaksa bergerak untuk menyeka hidungnya memerah dan basah.
Sayangnya Nyonya Eisten sudah lama bersabar. Ia tidak mau lagi memberi Franky waktu. Sudah banyak waktu yang terbuang untuk hanya bersabar. Sekarang, Nyonya Eisten tidak mau lagi mentolerir anaknya lagi. Ia harus segera menikah, seperti keinginan Nyonya Eisten.
Nyonya Eisten hanya takut, jika nantinya anak yang dikandung oleh Lusi terbukti bukan anak Franky, nanti pria itu tidak menikah. Dan Nyonya Eisten yakin kalau Franky akan mencari banyak alasan agar tidak segera menikah. Makanya, kesempatan ini digunakan oleh Nyonya Eisten, agar impiannya terwujud. Ia begitu tidak sabar untuk menikahkan anaknya, juga keinginan untuk memiliki cucu.
"Tidak ada tawar-menawar, Franky. Pokoknya kamu harus menikahi Lusi dalam bulan ini" ucap Nyonya Eisten, dan langsung berdiri dari tempat duduknya. Ia berniat keluar dari ruangan itu, namun suara Franky malah menghentikan langkahnya.
"Padahal aku baru saja menemukan Mona" ucap Franky sambil tertawa sumbang. Mendengar hal itu membuat Nyonya Eisten tentu terkejut. Ia lantas berbalik, dan menatap anaknya dengan tak percaya.
"Kalian bertemu?" tanya Nyonya Eisten.
Melihat Franky menggelengkan kepalanya membuat wanita itu mengernyit heran. Lalu apa yang dia katakan barusan?
"Aku sedang mencarinya, ma" ucap Franky, dengan penuh harap agar ibunya bisa berubah pikiran. Nyatanya ia salah, Nyonya Eisten malah kekeh dengan ucapannya barusan.
"Kelamaan, Franky. Lagian bagaimana kalau anak Lusi itu terbukti anak kandungmu? Apa kamu akan meninggalkan Lusi hanya ingin bersama dengan wanita itu?" ucap Nyonya Eisten dengan sinis.
"Mama masih tidak suka dengan Mona" gumam Franky kembali menunduk. Ia berharap, ucapannya barusan dapat membuka pintu perasaan ibunya. Andaikan ibunya kembali merasa bersalah, mungkin ia akan berubah pikiran. Tapi lagi-lagi, Franky salah. Nyonya Eisten malah tidak terpengaruh dengan ucapannya barusan.
"Mama tahu mama banyak salah sama dia. Tapi dia yang meninggalkan kamu, bukan karena mama yang suruh. Jadi dia yang salah" ucap Nyonya Eisten. Sempat-sempatnya ia membalas ucapan anaknya. Setelah berkata seperti itu, wanita itu lantas bergegas keluar dari ruangan itu.
Sepeninggalan Nyonya Eisten, Franky malah menjadi gusar. Ia tidak berhasil membujuk ibunya. Itu membuatnya frustasi. Franky mengusap rambutnya dengan kasar. Ia bahkan sempat tertawa diiringi tangisan kecil.
Sungguh, Franky benar-benar kacau balau. Ia dilanda beban pikiran, hingga membuatnya tak sempat berpikir jernih. "Ini yang mama mau, bukan? Jangan salahkan aku kalau semuanya akan berantakan nantinya" gumamnya sambil mengusap wajahnya beberapa kali. Ia tidak banyak berpikir, ia lantas meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
Di tempat lain, seorang wanita baru saja menyantap makanannya. Ia hendak berbaring, namun mendengar ponselnya berdering membuatnya kembali duduk tegak. Ia meraih ponselnya, dan mengernyit melihat nama yang tertera di ponselnya. Ia lantas menjawab panggilan tersebut.
"Halo, ada apa?" tanya Lusi dengan datar.
"Kamu masih menginap di rumah sakit, kan? Mungkin besok aku akan datang menjenguk kamu, dan ingin membicarakan sesuatu" ucap Franky. Ya, siapa lagi kalau bukan pria itu? Ia hanya ingin memastikan kalau wanita itu masih berada di rumah sakit, dengan begitu ia tidak akan kerepotan untuk bertemu dengan wanita itu.
"Iya" jawab Lusi, seadanya.