
Hari pertunangan antara Frans dan Onya mengundang beberapa teman dan kerabat dari keluarga Winata maupun Eisten.
Jika hari ini adalah hari bahagia oleh sekeluarga, namun tidak bagi Onya. Gadis itu terus menangis karena kekasihnya. Dia yang tegar dan berprinsip untuk tidak serius dalam suatu hubungan malah menjadi cengeng.
Namun ada sesuatu yang membuatnya semakin sedih dan kecewa adalah sebuah foto yang dikirim oleh nomor tak dikenal. Sebuah foto yang menjadi bukti bahwa Alka menjauhinya bukan karena pertunangannya dengan Frans, namun karena pria itu telah berpaling ke wanita lain.
Rasanya sangat sakit, karena Alka adalah cinta pertamanya. Satu-satunya pria yang memahami dirinya malah menghianati cintanya yang tulus dan suci.
Suara ketukan pintu membuat Onya tersadar. Cepat-cepat gadis itu membersihkan wajahnya yang bergelimang air mata, barulah dia membukakan pintu itu untuk orang diluar sana.
"Sudah siap?" tanya ibunya.
"Sebentar, ma" jawab Onya sambil menundukkan kepalanya. Belum sempat Onya menutup kembali pintunya, sang ibu sudah bergegas masuk kedalam kamarnya.
"Sini, ada yang ingin mama bicarakan" ucap Nyonya Winata yang kini sudah duduk diatas kasur anaknya itu.
Dengan perasaan dan tatapan yang kosong, Onya datang menghampiri ibunya, kemudian duduk di samping wanita itu.
"Kamu masih anak-anak, kalau kamu sudah jadi orangtua, kamu pasti akan mengerti kenapa mama mengambil keputusan ini" ucap ibunya dengan selembut mungkin.
Sebenarnya Onya enggan untuk mendengarkan ibunya. Karena dia masih marah, bahkan kecewa dengan keputusan ibunya yang menjodohkan dirinya dengan Frans, pria yang sudah dianggap sebagai kakak sekaligus sahabat Onya sendiri.
Onya yang mendengar tak kuasa menahan tangisnya. Dia membiarkan air matanya meleleh begitu saja tanpa suara tangisan.
"Asal kamu tahu, mama dan papa dijodohkan oleh orangtua kami. Awalnya, kami tidak saling mencintai, tapi seiring berjalannya waktu, kami saling mencintai" ungkap Nyonya Wiranta membuat Onya menatapnya heran.
Dalam hati, Onya tidak percaya dengan omongan ibunya. Karena menurutnya, itu sangatlah mustahil. Apalagi kedua orangtuanya tidak pernah menceritakan tentang perjalanan cinta mereka padanya.
"Kamu pasti akan lebih kaget lagi kalau tahu mama ini pernah menikah sebelum menikah papamu" ucapan Nyonya Wiranta kali ini membuat Onya terkejut. "Awalnya mama seperti kamu, suka membantah ucapan orangtua. Mama sudah dijodohkan dengan papa kamu, tapi mama malah menikah dengan orang lain" ucap Nyonya Wiranta yang sudah berlinang air mata. Itu membuat Onya tak tega menatapnya.
"Suami pertama mama malah menghianati mama, karena dia hanya menginginkan harta keluarga mama. Karena itulah mama memilih bercerai darinya. Dan lebih beruntungnya lagi, papa kamu belum menikah. Karena itulah, kami masih berjodoh sampai sekarang" ungkap Nyonya Wiranta panjang lebar, hingga membuat Onya terpaku pada tempatnya.
Onya kembali mengingat hubungannya dengan Alka. Pilihannya sendiri malah mengkhianatinya.
"Tapi masih banyak pasangan yang bahagia karena pilihan mereka sendiri, ma" ucap Onya mencari pembelaan. Walaupun dia merasa gagal, bukan berarti dia menyerah untuk mencari pilihan sendiri. Pasalnya, dia merasa enggan untuk berjodoh dengan Frans. Walaupun pria itu tampan, namun yang menjadi alasan utama Onya tidak menyukainya karena pria itu sudah banyak tidur dengan perempuan diluar sana.
"Karena orangtua mereka memberi kebebasan untuk memilih. Tapi mama tidak, sayang. Restu dari orang tua itu sangat penting" tekan ibunya membuat kening Onya berkerut.
"Apa sebelum menikah, papa sudah banyak tidur dengan perempuan lain?" pertanyaan Onya membuat Nyonya Wiranta tersentak kaget.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu, Onya?" tanya Nyonya Wiranta setengah membentak, hingga membuat Onya takut untuk bicara lagi. Dia memalingkan tatapannya dari pandangan sang ibu. Karena dia takut, lima jari ibunya mendarat di pipi mulusnya itu.
Nyonya Wiranta membawa Onya untuk menatapnya. "Memangnya kamu mau dapat yang perjaka, Onya?" tanya sang ibu membuat Onya tersipu malu. Pasalnya, pembicaraan mereka sudah melampaui batas.
"Onya?" tanya Nyonya Wiranta lagi, dan akhirnya Onya menganggukkan kepalanya. Itu membuat Nyonya Wiranta tertawa terbahak-bahak.
"Mau cari sampai ujung dunia pun sangat susah, Onya. Mungkin ada, tapi yang bagaimana dulu, sayang? Pasti tidak sederajat dengan kita, dan yang pasti wajahnya sangat jauh dari tipikal kamu" tutur ibunya sambil tertawa kecil.
"Memangnya ada yang masalah jika aku berhubungan dengan orang yang tidak sederajat dengan kita, ma?" tanya Onya yang tidak terima dengan ucapan ibunya itu.
"Mama sudah bilang tadi, ketakutan kita adalah masalah harta. Semua orang kaya akan melindungi harta mereka dari orang yang tidak sederajat. Bisa saja mereka menikahi-mu karena harta, bukan karena cinta" ucap Nyonya Wiranta yang mulai malas berdebat dengan anaknya. "Sudahlah, sebaiknya kamu bersiap-siap, karena pertunangan kalian akan segera dimulai" ucap Nyonya Wiranta pada akhirnya keluar dari tempat itu.
...*...
Usai bersiap-siap, Onya bersama kedua orangtuanya bergegas menuju rumah keluarga Eisten.
Di sana sudah ada beberapa tamu undangan yang berdatangan. Sementara Onya harus masuk melalui pintu khusus agar tidak bertepatan dengan tamu undangan. Dia harus berdandan kembali yang dibantu oleh orang kepercayaan Eisten.
Dengan menggunakan gaun yang cantik dan sederhana, dan polesan make up yang tipis membuatnya terlihat cantik natural.
Setelah perias yang bertugas membantunya keluar, Onya terpaku didepan cermin. Gadis itu memandang dirinya, hingga terkejut melihat seseorang yang sudah berada dibelakangnya.
"Frans, ngapain ke sini?" tanya Onya dengan ketus.
"Mau lihat calon tunangan yang..." jawab Frans tertahan ketika Onya menyelanya.
"Tunangan sesaat. Ingatkan?" ucap Onya dan pada akhirnya Frans mengalah dengan menganggukkan kepalanya.
"Aku punya tawaran denganmu" ucap Frans sambil membalik tubuh Onya untuk berhadapan dengannya.
"Apa?" lagi-lagi Onya bertanya dengan ketus.
"Setelah aku memasangkan cincin ke jarimu, nanti aku akan mencium-mu" ucapan Frans membuat Onya terkekeh, kemudian menatapnya dengan tajam. "Ada Lusi di sini. Dia diajak sama kakak, masa loh gak bisa bantu?" bujuk Frans membuat Onya berpikir sejenak.
Melihat bibir Onya membuat Frans sedikit tergoda. Dia mengecup sekilas bibir Onya, hingga membuat gadis itu lekas berdiri dari duduknya. "Gila loh, Frans" ucap Onya sambil mengusap bibirnya dengan kasar hingga menghilangkan lipstik pada bibirnya.
"Itu hanya aba-aba, gimana?" tanya Frans tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Tidak" tolak Onya dengan membentak, kemudian bergegas keluar meninggalkan Frans ditempat itu. Onya baru sadar kalau kamar yang tadi dia tempati itu miliknya Frans. Karena Frans sudah tinggal di apartemen membuat Onya tidak pernah lagi masuk kedalam sana.