
Hari dimana Onya akan berangkat ke kampus. Mengingat Frans tidak memiliki jadwal kelas yang sama di hari itu, Onya memutuskan untuk menghubunginya. Karena biasanya pria itu akan mengantar jemput dirinya, namun sampai detik ini pria itu tak menunjukkan batang hidungnya.
Sementara disisi lain, Frans sedang terbaring tidur diatas kasurnya. Suara dering ponsel membuat mimpi indahnya terganggu. Dengan keadaan mata yang tertutup, pria itu mengangkat panggilan telepon itu.
"Frans, kau dimana?" suara nyaring disebrang sana membuat daun telinga Frans terasa panas.
"Hei, kau mengganggu sekali" gerutunya. "Ada apa?" tanyanya dengan nada suara yang parau.
"Apa kau lupa kalau aku sedang ada kelas hari ini, hah?" pertanyaan Onya membuat Frans tersadar, tapi dengan ekspresi mengernyit dia menatap layar ponselnya.
"Memangnya mama izinin kamu kuliah lagi?" tanya Frans.
"Tentu saja, kata-katanya yang lalu itu sudah berlalu. Jadi ayo, setengah jam lagi aku ada kelas" jawab Onya terdengar ketus.
Frans yang sebenarnya masih ingin berlama-lama di kasur empuknya harus pasrah menuruti kemauan Onya. Jangan tanyakan lagi alasan Frans bertindak layaknya supir atau budaknya Onya, karena dibalik patuhnya dia, ada tujuan tertentu yang harus dia wujudkan.
Setelah bersiap-siap, Frans bergegas masuk kedalam mobilnya untuk menjemput Onya. Sesampainya di rumah Onya, gadis itu sudah menunggunya didepan halaman rumah. Lalu dia masuk kedalam mobil dengan mengekspresikan wajah juteknya membuat sudut bibir Frans sedikit terangkat menatapnya.
"Apa?" tanya Onya dengan galak, namun yang ditanya hanya menggeleng-geleng kepalanya.
Dalam perjalanan menuju kampus, Onya terlihat sedang memikirkan sesuatu. Sesekali dia melirik Frans dengan ekspresi yang sulit diartikan. Mungkin dia sedang bimbang untuk memulai obrolan dengan Frans. Namun semuanya lekas terjawab ketika Frans ikut meliriknya sambil berkata "Seperti orang gelisah saja".
Onya tidak membalas ucapan Frans itu, namun mengalihkannya ke topik yang ingin dibahas oleh gadis itu. "Frans, apa benar kau berantem dengan Alka?" tanyanya membuat sebelah alis pria itu terangkat keatas.
"Apa dia memberi tahukannya padamu?" bukannya menjawab, dia malah balik bertanya.
"Aku sedang bertanya, dan kenapa kamu balik nanya sih? Jawab dulu, iya atau tidak" ucap Onya terdengar kesal. Apalagi wajahnya saat ini yang ikut mengekpresikan kekesalannya pada pria itu.
"Iya" Frans menjawabnya dengan singkat.
"Kenapa? Ih, aku saja ngga pernah ganggu hubungan kamu sama Lusi. Kenapa kamu malah seenak jidatnya membuat hubungan kami memburuk?" tandas Onya membuat Frans memutar bola matanya dengan malas.
"Apa lagi yang dia bilang?" tanya Frans yang tidak merasa bersalah sama sekali.
"Gara-gara kamu, dia mengakhiri hubungan kami" ucap Onya sembari meninju lengan pria itu.
"Apa dia tidak memberitahu-mu tentang perselingkuhannya?" tanya Frans dengan mode tenang membuat lawan bicara semakin kesal.
"Mulut loh tidak bisa dipercaya" Onya tidak mau mendengar apapun alasan Frans. Dia merasa kalau pria itu hanya akan memberi jawaban yang penuh dengan kebohongan.
Sepeninggalan Onya, Frans mengumpat kesal. Pasalnya, dia lupa untuk menunjukan bukti tentang Alka yang mendua dari Onya. Sudah tersimpan dalam ponselnya yang mungkin bisa membuat Onya mempercayainya. Frans tahu kalau dia memiliki banyak waktu untuk menunjukkannya pada Onya. Namun karena tidak suka menanti, Frans menjadi tidak sabar untuk segera meyakinkan Onya.
Niatnya Frans ingin kembali ke apartemen. Namum dalam perjalanan pulang, kedua matanya tidak sengaja melihat seorang wanita yang tidak begitu asing. Dia langsung mengerem mobilnya secara mendadak, kemudian membiarkannya terparkir ditepi jalan.
Frans menuruni mobilnya untuk mencari wanita itu. Matanya membulat ketika tahu wanita yang dia lihat sesuai dengan dugaanya. Kak Mona? Batinnya. Dia berlari kecil untuk menghampiri wanita itu, namun sebuah bus lebih dulu berhenti dan dinaiki olehnya.
Frans ingin berteriak memanggil nama wanita itu. Namun menyadari sekitarannya membuat pria itu mengurung niatnya.
Setelah bus yang dinaiki wanita itu pergi, Frans bergegas masuk kedalam mobilnya. Dia tidak berniat untuk mengikuti bus tersebut, melainkan memilih untuk kembali ke apartemennya. Biarlah dia kehilangan jejak wanita itu, yang terpenting dia tahu kalau wanita itu benar-benar telah kembali. Dalam perjalanan pulang, Frans langsung menghubungi Franky. Dia ingin memberitahu kabar menggemparkan itu pada kakak laki-lakinya itu. Sayangnya karena sibuk dengan urusan kantornya membuat Franky malah menolak panggilan tersebut.
Sesampainya di apartemen, Frans kembali membaringkan tubuhnya. Entah apa yang dia lakukan berikutnya, hingga waktu menjelang sore mengharuskan pria itu untuk kembali menjemput Onya.
Sementara Onya yang baru selesai kelas langsung bergegas menuju gerbang kampus. Namun melihat keberadaan Mena dan Olin di sana membuatnya antusias untuk menghampiri mereka.
"Hai kak Mena, hai kak Olin" sapa Onya membuat kedua wanita itu menoleh kearahnya.
"Hai Onya" balas keduanya secara bersamaan. "Lagi nunggu Frans?" tanya Mena, dan dijawab oleh Onya dengan anggukan kepalanya.
"By the way, bagaimana kabarmu dengan Alka?" Mena kembali bertanya, dan pertanyaannya kali ini membuat Onya tersenyum kecut. Onya menggeleng kepalanya dengan lemah, tanpa menjawab pertanyaan wanita itu dengan kata-kata.
"Sebenarnya kami sudah tahu hubungan-mu dengan Frans..." ucapan Mena tertahan. "Itu membuat kami benar-benar kecewa. Kau tahu bukan, kalau di sini yang menjadi korban adalah Lusi dan Alka?" sambung Mena dengan tenang. Walaupun dia ikut merasakan apa yang dirasakan oleh sahabat dan sepupunya itu, namun dia sadar untuk tidak menyerang Onya.
"Maaf..." Onya benar-benar tidak enak dengan situasi yang diciptakan oleh Mena. Dia ingin segera berlalu, namun tidak bisa dilakukannya.
"Seharusnya kamu tidak mengatakannya padaku. Lagian ini masalahmu dengan Lusi juga Alka, jadi rasanya tidak pantas jika kau mengatakan itu padaku. Dan kamu tidak perlu cemas, karena aku tidak memusuhi-mu karena ini" tutur Mena kembali mencairkan suasana canggung tersebut.
Tidak lama kemudian, mobil Alka berhenti didepan Onya. Entah apa yang dia rasakan, antara senang karena pria itu datang sebagai penyelamat, namun dilain sisi, rasanya dia ingin marah pada pria itu karena telah membuat hubungan mereka menjadi kacau balau.
"Onya, kita duluan ya" ucap Mena berpamitan. Dia langsung menarik Olin untuk meninggalkan tempat itu.
Sementara Frans hanya berdiam diri didalam mobilnya. Pria itu membuka sedikit kaca spionnya untuk meminta Onya segera masuk kedalam mobil.
"Ayo" ucap Frans.
Ketika Onya sudah masuk kedalam mobil, namun Frans belum juga menyalakan mobilnya. "Ada apa, Frans?" tanya Onya dengan jutek.
"Lihatlah di galeri. Di situ ada foto-foto pacar kebanggaan mu dengan selingkuhannya" tutur Frans sembari melempar ponselnya kearah Onya.