A POSSESSIVE BESTIE

A POSSESSIVE BESTIE
PESTA DI PUNCAK



"Yo, aku udah siap" ucap Onya.


Frans hanya menatapnya sekilas, tanpa berniat turun dari kasur empuk itu. Nyatanya ia sedang duduk sambil fokus pada ponsel pintarnya.


"Pakai jeket" ucap Frans dengan datar.


"Tidak usah" balas Onya sembari berjalan keluar kamar.


Frans yang melihatnya hanya bisa geleng-geleng kepala. Pria itu bergegas dari atas kasur menuju kloset. Ia mencari jeket untuk Onya, namun susah ditemukan. Pria itu kembali menutup lemari itu dan hendak berbalik kebelakang, tepat ia melihat sebuah selimut kecil diatas lemari, ia lantas mengambilnya dan segera menyusul Onya.


Onya yang sudah menunggu didalam mobil menggerutu kesal. Frans belum kunjung keluar dari rumah besarnya itu.


Tidak menunggu lama, Frans pun masuk kedalam mobil sembari melempar selimut kecil itu ke atas pangkuan Onya.


"Perjalanan kita jauh. Dan pestanya dirayakan diatas puncak, jadi pasti dingin di sana" jelas Frans.


Frans tidak bohong. Sudah satu jam mereka menempuh perjalanan, namun belum sampai-sampai ditempat tujuan.


"Inikan pesta buat rayain kelulusannya kita, kenapa harus jauh dari kampus sih?" Gerutu Onya.


Frans tidak menjawab, pria itu menyadari ponselnya berdering lantas mengangkatnya.


"Aku sudah naik tanjakan, kalian dimana?" Tanya Frans via telpon.


"..." Entah apa yang dijawab orang diseberang sana membuat Frans melirik ke arah Onya.


"Tidak bisa, aku bersama istriku..." Mendengar panggilan Frans padanya membuat Onya menjulurkan lidahnya, seakan ingin muntah. "Di sini sangat dingin, tidak mungkin aku dan istriku menunggu kalian ditengah perjalanan" suara Frans mulai terdengar tidak bersahabat. Dan itu ucapan terakhirnya, ia langsung memutuskan panggilan telponnya.


"Temanmu suruh kita tunggu mereka, gitu?" Tanya Onya.


"Hm" jawab Frans seadanya.


Onya kembali memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil. Mobil yang ditumpanginya itu sudah berada didataran paling tinggi. Suasana terasa tentram saat jalan yang mereka lalui begitu sepi ditambah pemandangan dari jauh, dimana lampu-lampu Kota menghiasi suasana malam itu.


"Aku pengen pipis" ucap Onya dengan tiba-tiba.


"Benarkah?" Tanya Frans dengan curiga.


"Tentu saja, memangnya kau ingin aku pipis di sini?" Tanya Onya dengan kesal.


"Baiklah!" Frans lantas menepikan mobilnya.


Frans ikut turun dari mobil dan mengikuti kemana Onya pergi. Tidak lupa satu selimut yang ia bawa, pria itu mengambilnya dan berusaha menutupi tubuh mungil wanitanya itu dengan selimut.


"Tidak usah, aku tidak dingin" ucap Onya sambil melempar kembali benda itu pada Frans. Pria itu pun tidak memaksa, karena memang suasana tidak terasa dingin seperti biasanya.


"Kenapa kau ikut terus?" Onya berhenti dilahan kosong, tidak terhalangi tumbuh-tumbuhan kecil. Hanya ada beberapa pohon yang ada di atas mereka.


"Bilang saja kau bohong" ucap Frans.


"Tidak, aku tidak bohong" ucap Onya kembali berjalan mencari tempat aman. Satu tumbuhan yang terlihat meninggi, segera dimasuki Onya diikuti oleh Frans. Saat wanita itu duduk dan hendak membuka celananya barulah pria itu memalingkan wajahnya.


"Air sama tisu?" Tanya Onya sambil merentakan satu tangannya ke atas.


"Tidak bawa" jawab Frans.


"Ambil, ada di mobil tadi" perintah Onya. "Ngejanggal kalau tidak dibersihkan" sambungnya.


"Nanti saja di tempat pesta" ucap Frans membuat Onya kesal setengah mati. Dengan terpaksa wanita itu mengangkat celananya dan berjalan mendahului Frans.


Bukannya mengikuti jalan yang tadi mereka lalui, ia malah melanjutkan langkah kakinya dan berhenti diperbatasan antara dataran tinggi dan rendah. Dari bawa mereka ada Kota besar yang dihiasi lampu berwarna-warni.


"Hm, baru dibangun dua bulan lalu" ucap Frans.


"Setelah ini kita harus ke sana" ucap Onya.


Tidak begitu lama mereka bertahan ditempat itu. Pasalnya saat mereka sedang asyik-asyiknya menikmati suasana, tiba-tiba terdengar klakson beberapa mobil di jalan. Frans dan Onya sontak tersadar dan segere kembali kedalam mobil.


Di jalan raya, Onya ternganga kagum melihat banyak mobil dan motor berderet dijalanan. Nyatanya itu teman-temannya Frans.


Hei Frans, kau semakin liar!


Jangan pacaran dihutan, woi!


Teman-temannya berteriak sambil tertawa.


Frans dan Onya didalam mobil, memimpin jalan menuju tempat pesta. Dibelakang mereka terdengar sangat ribut. Bunyi klakson dan teriakan teman-temannya Frans membuat suasana yang tadinya tentram berubah bising.


"Di pesta jangan jauh-jauh dari aku. Pesta kali ini beda dari pesta kemarin" ucap Frans ketika mobilnya memasuki gerbang sebuah rumah dengan halaman rumah yang sangat besar.


Frans dan Onya turun bersamaan. Saat Onya hendak melangkah masuk kedalam rumah besar itu, tiba-tiba pinggangnya ditarik oleh Frans. Pria itu melingkarkan satu tangannya di pinggang Onya, terlihat begitu posesif.


Dari arah belakang mereka, seseorang menepuk bahunya Frans. "Hei bro, tidak sangka istrimu ikut juga" ucap seseorang, yaitu Nick.


"Ayo ikut denganku, kita lewat jalan pintas" ucap Nick sambil melangkah lebih dulu dan disusul oleh satu pasangan suami dan istri itu.


Ternyata Nick membawa mereka ke halaman belakang. Mereka disambut oleh pemilik rumah, Wilson. Di belakang rumah itu pesta dirayakan. Suasana mulai semakin ramaih, karena tamu-tamu sudah berdatangan banyak. Lebih banyak dari pesta-pesta yang diikuti Onya secara diam-diam.


"Wah, kau hebat Frans. Aku salut kamu mau membawa istrimu hari ini" sambut Wilson dengan tangan penuh. Satu tangan merangkul seorang wanita seksi, dan satu tangannya lagi memegang segelas minuman.


"Ayo kita duduk sambil bincang-bincang" ajak Wilson menuju tempat duduk santai. Lima langkah dari tempat duduk itu, ada kolam renang dan arah depan terlihat pemandangan Kota.


"Bagaimana menurut kalian? Apa lokasi rumah ini bagus?" Tanya Wilson. "Oh ya, apa kau berminat membelinya Frans?" Sambung Wilson kepada Frans.


"Nanti baru dibicarakan" jawab Frans.


"Aku ke toilet dulu" Onya berbisik didekat telinga pria itu.


Tanpa mendengar jawaban Frans, wanita itu langsung berdiri sembari bertanya pada Wilson "Toiletnya dimana ya?".


"Mau ke toilet? Biarkan pacarku yang mengantar-mu" ucap Wilson sambil mengecup pipi wanita disebelahnya itu.


"Tidak usah" suara Frans membuat Nick dan Wilson terkekeh geli. Frans lebih posesif dari yang mereka bayangkan.


Frans pun menarik Onya mengikutinya. Wanita itu memelas, pasrah dengan tingkah laku Frans yang begitu ketat menjaganya.


"Katanya udah bebas" ucap Onya dengan suara mengejek.


"Masuklah, aku akan menunggumu di sini" ucap Frans ketika tiba didepan pintu toilet perempuan.


Wanita itu lantas masuk kedalam sana. Hanya beberapa menit, ia pun keluar. Onya hendak melangkah lebih dulu, namun Frans malah menarik pinggangnya untuk jalan beriringan.


"Cih, kau semakin posesif saja!" gerutu Onya mencoba menyeimbangi langkah kaki pria di sampingnya itu.


"Bukan posesif, aku..." Frans ingin membantah, namun Onya dengan cepat memotong ucapannya itu.


"Ya kau memang biasa seperti ini pada mantan-mantan pacarmu"


"Membosankan!"