
Hari menjelang malam. Kira-kira pukul enam malam, Tuan Eisten meminta keluarga kecilnya segera berkumpul. Mungkin hanya Franky dan istrinya saja, karena Frans tidak bisa dihubungi.
Kini Tuan dan Nyonya Eisten, juga Franky sudah berkumpul diruang tamu. Awalnya, Franky bertanya pada ayahnya.
"Ada apa, pa?"
Namun Tuan Eisten tak kunjung menjawab. Ia hanya memberi isyarat dengan tangannya agar Franky tetap diam.
"Kita sudah berkumpul di sini, pa. Apa kita harus menunggu Frans juga?" giliran Nyonya Eisten yang berbicara.
Tuan Eisten menggeleng kepalanya. "Jauh lebih baik jika Frans tidak ikut bergabung" jawab Tuan Eisten.
"Lalu, apa yang kita tunggu?" tanya Nyonya Eisten lagi.
"Ada tamu yang akan datang berkunjung" jawab Tuan Eisten seadanya.
Beberapa menit telah berlalu. Namun yang ditunggu tak kunjung datang. Franky yang merasa bosan, lantas bergegas menuju dapur. Sementara Nyonya Eisten masih setia ditempat duduknya.
"Siapa yang kita tunggu, pa? Sudah belasan menit kita tunggu, dan mereka belum juga datang. Mereka sangat tidak menghargai waktu kita" gerutu Nyonya Eisten dengan kesal.
Tuan Eisten pun merasa demikian. Tamu yang ingin bertemu di mansion mereka belum juga datang. Akhirnya Tuan Eisten membuat panggilan telepon pada mereka. Ketika panggilan telponnya tersambung, Tuan Eisten terlihat berbincang serius. Sayangnya, jaraknya dengan Nyonya Eisten cukup jauh, jadi wanita itu tidak bisa mendengar jelas perbincangan mereka.
Setelah panggilan teleponnya berakhir, Tuan Eisten kembali duduk di samping istrinya.
"Bagaimana, pa?" tanya Nyonya Eisten.
"Sebentar lagi mereka akan sampai" jawabnya.
Dan benar saja, kira-kira lima lima menit mereka menunggu, satpam yang berjaga di post lantas mengabari Tuan Eisten. Atas izin dari kelurga Eisten, barulah mereka bisa masuk.
Dua pasangan yang seusia Tuan dan Nyonya Eisten dipersilahkan masuk oleh seorang pelayan. Pelayan itulah yang membimbing mereka sampai di ruang tamu, tempat dimana Tuan dan Nyonya Eisten berada.
"Selama malam, Tuan dan Nyonya Eisten. Maaf jika malam-malam begini, saya dan istri saya menganggu kesibukan anda berdua" ucap seorang pria.
"Tidak apa-apa, Tuan Bliss" ucap Tuan Eisten.
Kini, Tuan dan Nyonya Bliss sudah duduk berhadapan dengan Tuan dan Nyonya Eisten.
"Jadi, ada masalah apa hingga anda ingin bertemu dengan keluarga saya, Tuan Bliss?" tanya Tuan Eisten.
"Sebaiknya kita bicarakan hal ini dengan kehadiran Franky, Tuan Eisten" ucap Tuan Bliss sambil tersenyum tipis.
Kening Tuan Eisten terlihat berkerut. Ia tidak tahu, alasan kedatangan rekan bisnisnya itu. Jika bukan masalah perusahaan, apa gerangan yang membuat Tuan dan Nyonya Bliss ingin bertemu?
Sesaat kemudian, Tuan Eisten mengangguk setuju. Ia meminta istrinya untuk segera memanggil Franky.
Baru saja, Nyonya Eisten berdiri, Franky sudah datang menghampiri mereka. Karena posisi Tuan dan Nyonya Bliss memunggunginya, jadi ia belum tahu dengan keberadaan mereka. Franky berjalan menghampiri kedua orangtuanya, dan duduk di kursi yang bersebelahan dengan kedua pasangan itu.
Dan betapa terkejutnya Franky, saat ia melihat pasangan itu. Ia terbelalak, dan hampir berdiri kembali. Untungnya, ia bisa mengontrol keterkejutannya.
"Mungkin kita bisa segera mulai" ucap Tuan Eisten.
"Saya datang ke sini untuk membicarakan hubungan anak saya, Lusi, dengan anak Tuan dan Nyonya Eisten, yaitu Franky" ucap Tuan Bliss sambil mengarahkan tangannya pada Franky. Hal itu membuat Tuan Eisten mengerutkan keningnya. Yang jelas berbeda dengan Nyonya Eisten, ia tersenyum sewaktu ingat dengan wanita yang bernama Lusi.
Inilah ketakutan Franky. Diluar dugaannya, ternyata Lusi sudah memberitahu kedua orangtua wanita itu. Walau Franky merasa kesal, sekaligus gugup, karena baginya ini begitu tiba-tiba untuk dibahas, tapi dia tidak berniat untuk memotong ucapan Tuan Bliss. Akan sia-sia jika dia menghalau, bahkan mengindari pembicaraan ini, karena ia tahu, ibunya sudah dilanda rasa penasaran. Terlihat jelas, ketika ia melihat raut wajah Nyonya Eisten yang begitu serius dan terfokus pada Tuan Bliss.
"Saya tidak tahu, apakah Franky sudah menceritakan hal ini pada Tuan dan Nyonya Eisten atau belum? Akan lebih baik, jika saya membicarakan masalah ini sekarang" sambung Tuan Bliss. Sejenak ia menjeda ucapannya. Ia menghembuskan nafasnya dengan berat, kemudian menatap ke arah Franky. "Anak saya sedang mengandung anak Franky" ucapnya kemudian.
Sontak, kedua orang tua Franky terkejut. "Franky belum membicarakan hal ini pada kami" ucap Nyonya Eisten. Entah apa yang ia rasakan. Antara senang atau terkejut. Itu sangat sulit dijelaskan. "Franky, apa itu benar?" Nyonya Eisten lantas menoleh ke arah Franky berada, dan bertanya langsung.
Franky yang sedari tadi diam hanya untuk menghormati Tuan Bliss, kemudian berbicara. "Saya menghormati kedatangan anda, Tuan dan Nyonya Bliss. Dan sangat menghormati pembicaraan anda tadi. Jadi, izinkan saya untuk membela diri..." ucap Franky, ia sengaja menjeda ucapannya tersebut. "Saya mengaku pernah berhubungan dengan Lusi. Namun bukan berarti saya harus menerima begitu saja, kalau anak yang dikandung oleh Lusi adalah hasil dari perbuatan saya. Dan saya punya alasan untuk meragukan hal itu. Tapi saya rasa, tidak seharusnya saya mengatakan hal itu pada kalian. Mungkin bisa, jika Tuan dan Nyonya Bliss tidak keberatan" sambungnya panjang lebar.
Sebagai seorang pria, Tuan Bliss bisa memahami alasan yang dimaksud oleh Franky. Ia mengangguk setuju, namun bukan berarti dia akan menyerah. Lusi adalah anak kandungnya, dan dia yakin jika Lusi tidak akan berbohong padanya. Hanya dengan solusi yang bisa membuat Franky yakin, agar anak yang dikandung Lusi bisa dilahirkan dengan kehadiran seorang ayah.
"Saya sudah membicarakan hal ini dengan Lusi. Jika anda ragu, maka ada solusinya, yaitu tes DNA" ucap Tuan Bliss.
Sementara Tuan dan Nyonya Eisten hanya bisa menonton pembicaraan itu. Mereka pun tidak tahu harus merespon apa. Jika Tuan Eisten merasa sedikit malu, sekaligus marah atas ulah anaknya, namun tidak dengan istrinya. Nyonya Eisten malah bahagia, walau keterkejutannya masih bisa diragukan. Impian untuk memiliki seorang cucu akhirnya terkabul. Walau cara yang dilakukan anaknya memanglah salah, tapi Nyonya Eisten merasa hal itu dapat mempermudah impiannya.
"Maaf, Tuan Bliss. Saya sebagai ibu dari Franky merasa bersalah. Mungkin perbuatannya tidak bisa dimaafkan. Dan mungkin pertanggungjawabannya bisa menyelesaikan masalah ini" ucap Nyonya Eisten sambil tersenyum lebar. Ia tidak memikirkan resiko lainnya. Bahkan tidak sadar jika anak yang dikandung oleh wanita bernama Lusi itu belum tentu adalah anaknya Franky.