A POSSESSIVE BESTIE

A POSSESSIVE BESTIE
BONUS 8



Disebuah museum, banyak orang berkumpul dan berlalu lalang.


Banyak lukisan cantik dan unik dipajang di sana. Ada juga beberapa pelukis yang duduk melukis, menunjukkan bakat mereka bagi tamu undangan yang mereka yakini kaya raya itu.


"Hari ini keluarga anak bungsu dari keluarga Eisten akan berkunjung, loh" ucap seorang pelukis pada teman di sampingnya.


"Iya, aku sudah tahu itu" jawab seseorang di sampingnya, yang tak lain adalah Liana. Karena koneksi dengan Onya, dia akhirnya punya peluang kerja di sana.


"Siapa ya namanya? Franky atau Frans?"


"Franky, anak sulung. Frans yang anak bungsu. Katanya dia dan istrinya akan berkunjung. Dan kau tahu, siapa istrinya?" Ucap Liana sambil tersenyum penuh arti. Walaupun sudah berteman dekat dengan Onya, namun entah kenapa Liana merasa sedikit sombong karena itu.


"Tidak. Memangnya siapa?"


"Anaknya Nyonya Wiranta, namanya Onya" ucap Liana.


Siapa yang tidak mengenal Nyonya Wiranta? Wanita karir yang begitu jaya dari bisnis museum.


"Wow, hebat ya! Jadi apa anak mereka nanti?"


Temannya Liana itu belum tahu jika orang yang dibicarakan sudah memiliki anak. Walaupun keluarga Eisten dan Wiranta begitu terkenal akan kekayaan dan kesuksesan mereka didunia bisnis, namun privasi mereka tetap terjaga.


Dan diluar sana, orang yang dibicarakan akhirnya sampai juga.


Frans dan Onya memasuki gedung museum itu sambil bergandengan tangan. Keduanya disambut hangat oleh beberapa tamu di sana.


"Frans dan Onya?" Seorang wanita datang menyapa sambil tersenyum ramah. Di sampingnya juga ada temannya yang menemani.


"Iya" ucap Frans dan Onya bersamaan.


"Saya Fian, dan ini teman saya Vani" ucap wanita bernama Fian itu.


Frans hanya mengangguk kepalanya sekilas. Sementara Onya hanya tersenyum tipis menanggapinya.


"Di sana lukisannya cantik-cantik. Mau pergi bersama?" Tanya Fian dengan ramah.


"Tidak, terimakasih" ucap Onya sambil tersenyum lebar dengan matanya menyipit.


"Ah, baiklah" ucap Fian dengan kecewa. Nyatanya pasangan suami-istri itu sulit untuk didekati.


Sementara Onya yang masih digandeng Frans langsung melepas tangan pria itu darinya. Onya hendak berbalik untuk mencari Liana yang tadi sempat janjian dengannya, namun Frans menahan tangannya.


"Mau kemana? Tunggu aku" ucap Frans.


Onya mendesah tertahan. Kecil sangat kecil, supaya tidak terdengar orang disekitar mereka.


"Aku mau cari Liana dulu" ucap Onya kembali melepas tangan pria itu dan kembali berjalan disusul Frans dari belakang.


Melihat punggung belakang seorang gadis, Onya langsung tahu kalau gadis itu adalah Liana. Dia lantas mendekati gadis itu.


"Hai Lia" ucap Onya membuat dua gadis yang membelakanginya menoleh kebelakang.


"Hei Onya" balas Liana.


Gadis yang didamping Liana tidak tahu wanita yang mengganggu mereka adalah Onya. Namun dia terkejut mendengar Liana menyebut nama itu.


Semakin terkejut gadis disebelah Liana itu saat melihat Frans dibelakang Onya. Pria tampan yang begitu menarik perhatian kaum hawa itu seakan menghipnotis nya.


"Kau terlambat. Baru saja satu lukisanku berhasil dibeli" ucap Liana dengan bangga.


Onya terkekeh mendengarnya.


"Ya terserah, tapi ingat, kau terikat kontrak denganku" ucap Onya dengan enteng.


"Kalian sedang melukis apa?" Tanya Onya kemudian.


Melihat satu bangku kosong disampingnya Liana, Onya lantas mendudukinya. Ternyata bukan kebetulan, mereka sudah janjian untuk melukis bersama di sana.


Frans berdehem kecil. Namun sayang, Onya tidak menghiraukannya sama sekali.


"Sangat membosankan" ucap Frans dalam hati.


Untung terlihat tetap cool tanpa pasangan, Frans mendekati sebuah lukisan yang ada di sana sambil memasukan kedua tangannya dalam saku celana.


Sambil melukis, Liana dan Onya sempat berbincang pelan. Mereka seperti sedang berbisik, karena ada teman Liana di samping mereka juga.


Awalnya Liana mendengar deheman dibelakangnya. Dia tahu itu Frans, namun akan lebih baik dia berdiam diri ditempat.


"Onya, lebih baik kamu temani kak Frans" ucap Liana.


"Kenapa?" Onya yang tiba-tiba ingat kalau dia datang bersama suaminya langsung menoleh kebelakang untuk mencari pria itu.


"Tidak apa-apa, dia sendirian di sana" ucap Onya sambil menunjuk Frans berada. Tanpa rasa bersalah wanita itu lanjut melukis.


"Bagaimana?" Tanya Liana kemudian.


"Apanya?"


"Lisa"


"Bagus. Awalnya aku meragukan dia, eh ternyata berpengalaman ya" ucap Onya.


"Ya, tapi kamu hati-hati saja. Dia gampang menggoda dan tergoda. Kau jangan tertipu dengan tampang polosnya itu, dia biasanya pakai kepolosannya buat memikat laki-laki" ucap Liana dengan greget.


Beberapa rekan bisnis Frans ternyata ada di sana juga. Mereka menghampiri Frans dan mengajaknya mengobrol.


Para pria itu datang bersama istri mereka. Namun bernasib sama, sama-sama diacuhkan. Walaupun tidak tertarik dengan lukisan, namun terpaksa hadir bersama para istri mereka karena undangan ke sana.


Tanpa sadar, selang beberapa menit mengobrol, Frans mendapat panggilan telpon.


Urusan dadakan dari kantor ingin menjumpainya. Frans lantas berpamitan pada rekan bisnisnya itu dan hendak menghampiri ketempat dimana istrinya berada.


Onya sudah tidak ada di sana. Liana dan beberapa pelukis lainnya juga sudah tidak ada di sana.


Frans mencari Onya sampai diruangan khusus melukis. Ternyata wanita itu sedang melukis di sana.


"Sayang" panggil Frans dengan mesra.


"Kita harus kembali ke rumah sekarang. Aku ada urusan di kantor" ucap Frans.


"Tapi aku masih ingin melukis" ucap Onya dengan acuh tak acuh.


"Atau kamu pulang duluan saja, Frans. Nanti aku naik taxi, atau nanti kamu suruh supir datang jemput" ucap Onya kemudian.


Frans menghela nafasnya. Kalau melihat respon Onya begitu, Frans malah ragu mengajaknya lagi. Apalagi ada beberapa pelukis bersama mereka diruangan itu. Akan sangat tidak mengenakan kalau dia memancing wanita itu untuk ribut dengannya.


Frans harus buru-buru. Dia tidak mungkin ke kantor dengan pakaian seperti sekarang. Dia akan menghabiskan banyak waktu untuk kembali ke rumah yang ada di puncak, dan kembali menempu beberapa jam lamanya untuk ke kantornya yang ada di kota.


Mau tidak mau, kali ini Frans membebaskan istrinya.


"Baiklah" jawab Frans.


Pria itu keluar dari gedung itu menuju parkiran dan kembali ke rumah yang ada di puncak.


Dalam perjalanan Frans sedikit pusing.


"Akan lebih baik aku mempercepat renovasi rumah di Kota. Sangat melelahkan pulang balik dari kota ke puncak" ucapnya lirih. Satu tangannya menyetir mobil, dan satunya lagi memijit dahinya yang terasa berat.


Masih di museum, Liana hanya geleng-geleng kepala melihat Onya yang susah diberi pengertian.


Berulang kali ia memperingatkan tentang Lisa, namun wanita itu selalu menanggapinya dengan candaan.


"Aku serius, loh. Aku jadi kamu, udah aku posesif banget sama Frans. Ga akan aku biarin dia berduaan sama sih Lisa"


Ya pastinya Frans kembali ke rumah, dia akan bertemu dengan Lisa. Dan Liana yakin, Lisa pasti punya banyak kesempatan untuk dekat dengan Frans.


"Kan Frans mau ke kantor. Palingan ganti pakaian, terus cus ke kantor. Ga bakal lama-lama sama Lisa" dengan percaya diri Onya berkata seperti itu.