A POSSESSIVE BESTIE

A POSSESSIVE BESTIE
BERTENGKAR



"Tentu saja aku tidak menyukaimu" tutur Onya dengan tampang seriusnya. Setelah berkata demikian, tanpa mendengar tanggapan wanita didepannya itu, ia langsung bergegas masuk kedalam rumah.


Kini Onya sedang duduk bersandar diatas tempat tidur sambil mengutak-atik laptop nya. Gadis itu kemudian mendongak ke arah pintu, nampak Frans yang baru masuk dengan tampang yang terlihat tajam menatap Onya, namun gadis itu malah acuh tak acuh melihatnya. Ia hanya menatap pria itu sekilas, dan dengan malas kembali fokus pada layar laptop nya.


"Apa yang kau katakan pada kak Franky, Onya?" tanya Frans yang kini berdiri tegak di samping tempat tidur.


Onya kembali mendongak "Bilang apa?" tanya gadis itu dengan asal.


Frans yang sedikit meradang karena emosi langsung menutup laptop gadis itu, sontak mendapatkan tatapan melotot dari Onya. "Apa kau gila? Aku baru saja merevisi skripsi dan belum menyimpannya. Apa kau..." bentak Onya dengan geram. "...bodoh!" umpat Onya kemudian.


"Itu masalah gampang, aku bisa membantumu nanti. Tapi bagaimana dengan-mu? Apa kau bisa bertanggung jawab atas ucapan-mu pada kak Franky?" dengan ganas Frans berteriak.


"Memangnya apa yang aku katakan sampai kau marah seperti ini, hah?" tanya Onya tak takut membalas teriakan pria itu.


Frans terkekeh sembari memalingkan wajahnya ke samping. "Apa aku harus mengulanginya? Mulutmu tidak bisa diajak berkompromi ya, Onya. Berani-beraninya kamu memberitahu kak Franky tentang hubunganku dengan Lusi, bahkan dia sangat marah padaku tadi saat mengetahui kalau Lusi pernah menggodaku disaat ia sudah berstatus calon istri dari kak Franky. Kau pikir ucapan-mu itu tidak dapat mengganggu-ku? Dan asal kamu tahu, karena ucapan-mu itu juga, kau berhasil membuat kakakku menjadi pria yang tidak bertanggungjawab. Dia pasti tidak akan mengakui anak kak Lusi sampai tes DNA nanti..." ucap Frans panjang lebar, namun belum selesai ia menyelesaikan ucapannya, dengan cepat Onya memotongnya.


"Tidak, aku tidak bilang seperti itu pada kak Franky. Aku memang keceplosan dengan mengatakan kalau kak Lusi pernah menggoda-mu, tapi aku tidak memberitahunya tentang hubungan kalian" bantah Onya dengan heran menatap pria itu.


"Lalu darimana dia tahu hubungan-ku dengan Lusi? Dari Lusi, begitu?" sesal Frans sambil mengacak rambutnya dengan kasar.


"Kenapa kau malah pusing seperti itu? Bukannya ini tujuanmu? Ingin membalas wanita itu?" Onya balik bertanya.


"Tidak dengan cara seperti itu, Onya. Dan... ahhh sudahlah, jangan kita bahas ini lagi. Aku sudah melupakannya dan tidak ingin membalas apapun padanya lagi" ucap Frans sembari mendesah kasar. "Dan ya, lupakan tujuan awal aku menikahi-mu. Aku sudah tidak ingin balas dendam pada Lusi, karena itu benar-benar tidak masuk akal dan tidak pantas. Dia sekarang kakak ipar-ku dan sedang mengandung ponakan-ku" sambung Frans langsung melangkah masuk kedalam kamar mandi.


Sementara Onya mematung ditempat yang sama sembari berusaha mencerna ucapan Frans barusan. Dia baru menyadari kalau tujuan Frans menikahinya memang tidaklah masuk akal. Gadis itu memijit dahinya yang terasa pusing. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha menghilangkan beban pikiran diluar tugasnya saat ini.


Beberapa menit lamanya di kamar mandi, Frans keluar dengan hanya menggunakan handuk yang membelit pinggangnya. Sudah menjadi kebiasaan, jadi jangan dibahas lagi.


Setelah mengenakan pakaian santai di kloset, pria itu datang menghampiri Onya di atas tempat tidur. Pria itu ikut duduk dan bersandar diatas tempat tidur, di samping Onya, sambil memainkan ponselnya.


"Kau bilang kau mau membantuku, Frans" ucap Onya dengan tiba-tiba.


Frans sontak menoleh ke arah Onya. Ia menarik salah satu alisnya ke atas sambil menampilkan tatapan datarnya.


"Kamu. Bilang. Kamu. Mau. Membantuku" ucap Onya sambil menekan setiap kata-katanya.


Kini laptop gadis itu sudah berpindah pada pangkuan Frans. Entah apa yang pria itu lakukan dengan laptopnya. Onya yang penasaran langsung saja melirik sambil bertanya. "Apa yang kau lakukan? Apa kau sudah paham dengan latar belakang masalah yang aku punya?" tanya Onya dengan sinis.


Tik! Frans menekan satu tombol di keyboard laptop gadis itu sembari berkata "Selesai!"


"Apanya yang selesai?" tanya Onya sambil merebut laptopnya itu.


"Aku sudah mengembalikan file yang katamu tadi sudah di ketik tapi belum di simpan. Jadi tinggal dilanjutkan saja" ucap Frans sambil mengedipkan sebelah matanya membuat Onya mengeram kesal. Padahal ia hanya membohongi pria itu tadi, nyatanya Frans lebih pintar dari dugaannya.


Hei, Frans itu juara kelas berturut-turut selama kamu dengannya menempuh pendidikan bersama-sama, Onya! Dari SD sampai SMA kalian satu kelas, masa kau meragukan kepintarannya? Mungkin karena empat tahun terpisah di dunia perkuliahan jadi kau banyak lupa tentang kemampuannya.


"Dasar! Katanya mau membantu" cibir Onya.


"hm, aku tidur duluan" ucap Frans sambil membuka baju kaosnya dan menarik selimut tebal menutupi tubuhnya. Ia pun tidur sambil memeluk perut Onya dan menenggelamkan wajahnya pada pinggul gadis itu.


"Frans, tidur yang benar" ucap Onya.


"hm, besok kita akan pindah ke apartemen" ucap Frans, mengabaikan ucapan Onya barusan. "Di sini terlalu jauh dengan lokasi kampus, jadi ada baiknya kita tinggal di sana dulu. Nanti kalau kita sudah lulus, baru aku akan memikirkan untuk beli rumah baru untuk kita berdua" sambungnya berusaha mencegah Onya berucap.


Onya terkekeh mendengar kalimat terakhir yang dituturkan pria itu. "Tidak usah. Untuk apa kau membeli rumah baru? Toh setelah aku punya anak nanti kita akan berpi... ahhh..." kata terakhir gadis itu terpotong saat bokongnya digigit Frans.


"Frans sialan" umpat Onya sambil menepuk keras lengan pria itu.


"Kerjakan tugasmu. Setelah itu tidurlah" titah Frans kembali memejamkan kedua matanya dan semakin mempererat pelukannya pada perut Onya.


Onya pasrah dipeluk Frans. Gadis itu memasang headset pada telinganya dan mulai mendengar lagu. Dua tiga lagu berganti sampai dirasanya pelukan Frans mulai melonggar. Pelan-pelan Onya melepas pelukan pria itu darinya, kemudian ia kembali fokus pada layar laptopnya.


Onya mengerjakan tugasnya sampai pukul satu pagi. Pertahanan gadis itu mulai melemah, kepalanya sesekali terjatuh sampai ia benar-benar tertidur dengan keadaan duduk.


Frans yang merasa terganggu karena cahaya lampu yang tak kunjung dimatikan, lantas tersadar dari tidurnya. Hal pertama yang dia lihat adalah cahaya lampu, saat menoleh ke samping atasnya ia melihat Onya yang tertidur dengan posisi duduk. Frans lantas bangun dan memindahkan laptop itu ke atas meja, kemudian pria itu membenarkan posisi tidur Onya.


Frans ikut tidur sambil menatap wajah cantik gadis itu. Antara sadar dan tidak, ia tersenyum menatap bibir mungil gadis itu dan langsung menciumnya.