A POSSESSIVE BESTIE

A POSSESSIVE BESTIE
BENAR-BENAR MARAH



"Ayo kita berpesta...!" teriak Onya sambil berlari ke sembarang arah, kemudian menaiki meja Bilyard. Kini gadis itu menjadi tontonan banyak orang karena ia bergoyang-goyang diatas mereka.


Ternyata Onya sudah mabuk. Ia menghabiskan lebih dari lima gelas minuman. Awalnya ia tidak tahan meminum minuman pahit itu, namun tiga gelas berturut-turut membuat ia candu. Akhirnya ia meminum melebihi permintaan lawannya.


Sementara Liana yang berusaha menahannya dari tadi akhirnya menyerah. Ia menepuk jidatnya kala Onya menaiki meja Bilyard dan bergoyang mengikuti irama musik.


Lagunya tiba-tiba berhenti membuat Onya ikut berhenti bergoyang. "Ada apa dengan lagunya?" tanya Onya setengah berteriak.


"Panas...!" desah Onya dengan panjang. Ia mengibas-ibas tangannya didepan wajahnya. Saking panasnya membuat gadis itu lupa diri. Ia tidak sadar jika ia berada ditempat ramai. Gadis itu mulai membuka satu persatu bajunya hingga menyisakan CD dan bra.


Semua orang di sana menjadi heboh karena gadis itu berusaha membuka pengait bra-nya. "Putar lagunya!" teriak Onya lagi. Ia kemudian turun, hendak meminta bantuan orang-orang untuk melepas pengait bra-nya. Namun saat ia menuruni meja Bilyard itu, ia merasa tubuhnya seakan melayang di udara.


"Aku terbang?" lirih Onya. Matanya masih terbuka, samar-samar ia melihat beberapa orang yang memandanginya.


Menyadari ia sedang berada dalam gendongan seseorang membuat Onya sedikit berontak. "Hei, lepaskan aku. Apa yang kau lakukan, hah?" ucap Onya sambil menendang-nendang udara. Saat ini ia digendong layaknya karung beras, diatas pundak seorang pria yang tidak dikenalnya.


puk! puk! puk!


Tiga kali orang itu memukul bokongnya dengan keras. Betapa kurang ajarnya dia...!!!


"Kurang ajar kamu ya...!" lirih Onya dengan lemah. "Sakit..." keluhnya dengan ******* panjang. Kepalanya yang semakin berat membuat ia pingsan begitu saja.


Seseorang yang mengikuti mereka tidak sadar jika pria yang menggendong Onya menyadari kehadirannya. Pria itu berhenti sejenak, ia meraih ponselnya di saku celana dan terlihat seperti sedang mengirim pesan pada seseorang.


"Nanti ada yang menjemput-mu" ucap pria itu. "Aku tahu kau mengikuti-ku. Keluar sekarang!" sambungnya tanpa membalikkan tubuhnya ke belakang, tepat dimana ia yakin orang yang mengikutinya dari tadi berada.


Akhirnya orang itu keluar dari tempat persembunyiannya. "Aku pulang ya sama kalian berdua?" tanya orang itu, tak lain ialah Liana.


"Ada yang akan menjemput-mu. Tunggu saja di situ, dia akan segera datang" ucap pria itu. Acuh tak acuh ia kembali melangkah menuju tempat dimana mobilnya sedang terparkir. Pria itu membuka pintu mobilnya dan memasukan tubuh Onya secara perlahan kedalam kursi penumpang. Setelah itu ia masuk ke kursi kemudi dan mulai menyalakan mesin mobilnya.


Liana hanya bisa memandang sendu saat mobil tersebut keluar dari area parkiran. Ia terlihat begitu cemas karena tak tahu caranya pulang. Apa ia harus menunggu seperti yang dikatakan pria tadi? Tapi dia takut jika pria itu mengirim seseorang yang tidak dapat dipercaya.


"Liana?" suara dari belakangnya membuat gadis itu terkejut gemetaran.


Mau tak mau Liana akhirnya menoleh ke arah suara itu. "Iya, anda siapa?" tanyanya tanpa sadar.


"Aku yang akan mengantar-mu pulang, ayo!" ucap pria itu hendak menarik Liana untuk ikut dengannya. Namun gadis itu segera menepisnya jauh-jauh ia melangkah.


"A-aku pulang sendiri sa-s-aja" ucap Liana dengan gagap. Liana kenal dengan pria itu, karena sedari ia mengikuti pesta, pandangannya sering mendapati pria itu sedang berciuman dengan wanita yang berbeda-beda.


Eh, tunggu-tunggu! Tapi bukannya dulu Liana tetap bersikap genit walau tahu Frans bukan pria baik-baik? Tapi sekarang beda, karena ia jatuh cinta pada Frans, makanya ia tidak takut pada pria itu. Beda dengan pria yang ada didepannya sekarang. Dia tidak terlalu mengenalnya dan tidak menyukainya, jadi dia agak takut pada pria itu.


Melihat gadis itu berjalan menjauh membuat pria itu segera sadar dan berusaha mengejarnya. "Hei, tunggu aku!" seru pria itu.


"Tapi aku di suruh teman-ku untuk mengantar-mu pulang" ucap pria itu lagi sambil berlari kecil menghampiri gadis itu. Karena kesal gadis itu terus berjalan tanpa peduli dengan ucapannya membuat pria itu segera menahan tangannya.


"Kau keras kepala sekali" ucap pria itu dengan kesal.


"Ini sudah malam, tidak baik kamu pulang sendiri dengan mengendarai motor. Area sekitar sini sangat rawan bagi gadis cantik seperti-mu. Jadi ayo, ikut denganku. Biarkan motor-mu di sini saja, besok aku akan membawanya ke rumah-mu" ucap pria itu.


Liana pasrah. Ia terpaksa ikut dengan pria itu. Naik mobil dan pulang ke rumahnya.


...*...


Samar-samar Onya membuka kelopak matanya. Ia meringis memegang kepalanya karena sinar matahari yang menembus kaca jendela mengenai wajah cantiknya.


Onya terkejut mendapati tubuhnya telanjang bulat. Untungnya kain selimut yang menutupi tubuhnya, mungkin orang yang tiba-tiba masuk bisa menatap tubuhnya secara cuma-cuma.


Onya memijit dahinya yang terasa berat. Ia mencoba mengingat kejadian tadi malam. "Ya ampun! Siapa yang membawa-ku pulang tadi malam? Oh my God, tidak mungkin Liana yang menggendongku. Apa jangan-jangan...?" Onya meremas rambutnya dengan frustasi.


"Kalau itu Frans... Matilah aku!" Onya mulai histeris.


Sibuk dengan pikirannya, gadis itu tidak sadar jika seorang pria sudah berdiri di samping tidur tidurnya.


"Sudah ingat kesalahan-mu semalam?" tanya suara bariton itu membuat Onya terkejut. Dilihatnya Frans yang baru selesai mandi dengan hanya mengenakan handuk di pinggangnya.


"Jadi semalam kau yang menggendongku?" tanya Onya berusaha mengabaikan pertanyaan pria itu.


Frans menganggukkan kepalanya. Tatapannya begitu tajam, tak bersahabat dengan Onya. Gadis itu yakin jika pria itu sedang marah padanya.


"Apa yang kau lakukan di sana?" nada datarnya dan garis wajahnya yang tegas membuat Onya hampir merinding.


"Pergi pesta, memangnya kenapa?" tantang Onya.


Hening...


Frans masih di posisinya. Ia berdiri sambil menatap gadis itu dengan tatapan intimidasi.


"Kenapa berdiri di situ? Sana pakai pakaian-mu. Aku juga harus ke kamar mandi" ucap Onya dengan juteknya. "Oh ya, kenapa aku bisa seperti ini? Kau memperkosa-ku semalam?" tanya Onya yang tiba-tiba marah. Ia menarik selimutnya sampai ke leher, berusaha melindungi tubuhnya dari tatapan jahat pria itu.


"Kau sendiri yang membuka bajumu. Lalu bagaimana dengan-mu? Jika aku tidak ada di sana, kau mau menunjukan tubuh jelek-mu pada mereka?" Frans ikut naik pitam, sontak membuat Onya bungkam. Kali ini tatapan Frans tidak bisa dianggap remeh. Sudah beberapa tahun Onya tidak melihat tatapan seperti itu lagi, dan sekarang ia sedang dalam bahaya.


"Memangnya apa yang aku lakukan?" lirih Onya sambil menundukkan kepalanya.


Nafas Frans memburu hebat. Ia yang diselimuti amarah langsung menarik selimut yang menutupi tubuh polos Onya dan membuangnya ke lantai.


"Frans!" bentak Onya dengan geram, ia segera mengambil bantal untuk menutupi bagian berharganya.


"Teman-teman ku bahkan sudah melihatnya. Kenapa kau malu menunjukkannya padaku?" cibir Frans.


"Aku tidak menunjukkan pada mereka. Seingat-ku, aku masih menggunakan bra dan ****** ***** saat kau..." Onya bungkam dengan tiba-tiba saat Frans menyerang bibirnya dengan ganas.


🤣 sorry, buru-buru tulisnya...