A POSSESSIVE BESTIE

A POSSESSIVE BESTIE
PERTUNANGAN



Rumah berdaya futuristik itu memiliki tekstur dinding yang unik. Setiap ruangan serba putih membuat keluarga tidak kesusahan untuk menghiasinya. Hanya tempat hidangan makanan dan minuman yang dihiasi. Tapi bukan berarti keluarga Eisten tidak mengeluarkan biaya yang besar untuk pesta pertunangan anak kedua mereka, karena undangan dan cincin pertunangan saja sudah mengeluarkan puluhan juta. Untuk menggabungkannya dengan makanan dan minuman, juga biaya pekerja bisa mencapai ratusan juta.


Bahkan, keluarga membayar dua pekerja layanan sebagai conferencier di acara tersebut. Mereka betugas untuk memandu kegiatan dari awal hingga akhir.


Dan disinilah mereka berada. Seorang conferencier perempuan mempersilahkan Onya dan Frans untuk berdiri di tempat yang telah tersedia untuk pemasangan cincin.


Sebuah musik dimulai menambah kesan romantis. Tidak lupa dengan biaya yang dikeluarkan untuk membayar dua penyanyi papan atas. Penyanyi perempuan dan penyanyi laki-laki saling membalas lagu membuat tamu undangan ikut menyanyi gembira.


Diakhir Frans memasang cincin pada jari manis Onya, seorang conferencier laki-laki memberi kesempatan bagi mereka untuk berciuman.


"Diberikan kesempatan bagi pasangan untuk berciuman" ucapan itu disambut meriah oleh seisi ruangan.


Namun berbeda bagi dua orang perempuan ditempat itu. Antara Onya dengan seorang wanita yang sedang menatap gadis itu dengan tersenyum pahit. Onya yang terkejut langsung beralih untuk menatap sekitarnya. Semakin terkejut ketika Onya melihat Lusi berada di sana. Sampai-sampai, dia tidak tahu jika orang-orang sedang membisikkannya.


Sementara Frans mengambil kesempatan itu untuk mencium Onya. Pria itu meraih pinggang mungil Onya untuk mendekat, dan tanpa aba-aba, dia langsung menyerang bibir Onya dengan lembut. Bukan hanya tempelan biasa yang Frans berikan pada bibir Onya, pria itu malah mengecapnya dengan penuh perasaan. Onya yang diserang hanya pasrah, namun kedua tangannya refleks menahan dada bidang pria itu. Untuk mengakhiri ciuman itu, Frans menggigit bibir bawahnya Onya hingga membuat gadis itu tersentak.


Seisi ruangan kembali bertepuk tangan. Seorang conferencier perempuan memberi arahan agar para tamu undangan menikmati hidangan ditempat itu.


Seperti halnya yang dilakukan Lusi saat ini. Posisinya berada didekat kolam renang. Kedua tangannya berpangku pada sebuah meja yang telah tersedia banyak kue dan minuman.


Wanita itu sangat syok mengetahui saudara yang dimaksud Franky adalah mantan pacarnya sendiri. Jika saja dia tahu kalau Franky adalah kakaknya Frans, Lusi akan menolak ajakan teman kencannya itu untuk datang berkenalan dengan keluarganya.


Tiba-tiba seorang pria datang mendekatinya. Pria itu meletakan sebuah gelas minuman kearahnya sembari bertanya "Ada apa?".


Lusi mendesah, kemudian menatap pria itu. "Kak Franky, apa kau bisa mengantarku pulang?" tanyanya.


"Kenapa? Bukannya kau ingin bertemu dengan kedua orangtuaku?" tanya Franky sembari mengernyit.


"Sepertinya aku merasa tidak enak badan" ucapnya berbohong. Padahal, Lusi belum siap untuk bertemu dengan Frans.


"Baiklah, tapi kita pamit dulu sama mama dan papa" ucap Franky membuat Lusi bingung mencari alasan lain. Dia takut bertemu dengan Frans. Dan takut sakit hati melihat mantan pacarnya telah bertunangan dengan seseorang yang selama ini dia kira adalah sahabat mantan pacarnya.


"Baiklah" ucap Lusi dengan pasrah.


Franky menggenggam pergelangan tangan Lusi dan menggiringnya menuju orangtuanya berada. Dan mereka disambut baik oleh Tuan dan Nyonya Eisten.


"Ma, Pa, kenalin, ini Lusi" ucap Franky pada kedua orangtuanya.


"Pacarmu?" tanya Nyonya Eisten. Melihat anaknya merespon dengan anggukan kepala membuat Nyonya Eisten tersenyum senang. Dia langsung memeluk Lusi dan berkata "Panggil saja mama".


"Iya, ma" jawab Lusi sembari tersenyum tipis.


"Ma, Pa, aku antar Lusi kerumahnya dulu" ucapan Franky membuat Nyonya Eisten mengernyit tidak suka.


"Kenapa?" tanyanya.


"Lusi lagi tidak enak badan, ma" dengan begitu, barulah Nyonya Eisten mengijinkan Lusi untuk pulang. Kalau tidak, Nyonya Eisten akan menahannya.


Biasanya orang yang bertunangan akan diajak berkenalan dengan para tamu undangan. Namun Onya malah mengajak Frans untuk kembali ke kamar. Dia ingin protes pada pria itu karena berani menciumnya.


"Gila loh, Frans. Tadi ada Lusi di sana" ucap Onya sambil menunjuk-nunjuk pria itu dengan jari telunjuknya.


"Biarin" jawabnya dengan acuh.


"Terserah deh maunya kamu, tapi ingat rencana kita, kamu harus gagallin perjodohan ini" ucap Onya tanpa tahu kalau sahabatnya sedang tersenyum menyeringai.


Ketika Onya berbalik menatap Frans, buru-buru pria itu berekspresi datar. "Iya" jawabnya dengan memelas.


"Kemarin aku gak sengaja dengar perbincangan papa sama mama, katanya kita bakal nikah sewaktu lulus kuliah" tambah Onya, namun yang dia lihat, Frans terlihat biasa-biasa saja. "Kamu sudah tahu, Frans?" tanya Onya.


"hm" Frans menjawabnya dengan berdehem kecil.


"Bagaimana ini?" tanya Onya terlihat frustasi membuat Frans menatapnya dengan jengah.


"Santai saja kali, kalau nikah ya tinggal nikah" ingin sekali Frans berkata seperti itu pada sahabatnya, namun apa daya kalau dia hanya mampu berucap dalam hatinya? Frans tidak ingin Onya berulah, jadi dia memilih untuk tidak membahasnya.


Hari semakin larut. Mungkin beberapa tamu undangan sudah ada yang pulang.


Kini Onya kembali masuk ke kamar Frans. Yang dia lihat, Frans sedang terbaring diatas tempat tidur sambil memainkan ponsel milik Onya. Tadi Frans meminta Onya untuk mengambil segelas air putih untuknya. Dan ternyata pria itu mengambil kesempatan untuk mengecek ponselnya.


Onya merampas ponselnya dari tangan Frans dengan cara yang kasar. "Ngapain kamu pegang-pegang?" protesnya sambil mengarahkan segelas air putih pada pria itu.


"Memangnya kenapa?" bukannya menjawab, pria itu malah bertanya sambil memperlihatkan tampang polosnya.


"Ada barang penting yang gak boleh dilihat sembarangan orang" jawab Onya dengan ketus.


"Ohiya, mama sama papa nyuruh kita untuk turun. Katanya ada hal penting untuk dibahas" ucap Onya lagi.


"Untuk?" tanya Frans yang masih baring diatas ranjang. Sembari menunggu jawaban dari Onya, pria itu menekan wajahnya pada bantal.


"Ngga tahu, ayo!" ucap Onya, tanpa peduli pria itu ingin mengikutinya atau tidak, gadis itu malah melanggeng keluar kamar itu menuju ruang tamu.


Seisi ruangan itu telah kosong. Hanya menyisakan keluarga kecil Wiranta dan Eisten saja.


"Frans-nya dimana, sayang?" tanya Nyonya Eisten pada Onya.


"Di kamar, ma" baru saja duduk, dari tingkat pertama sudah terlihat Frans sedang menuruni tangga dengan tampang lelahnya.


Diruangan itu, sudah ada Tuan Wiranta dan istrinya, juga Tuan Eisten dan istrinya. Tidak lupa dengan Franky yang sudah kembali setelah mengantar Lusi. Sementara Frans dan Onya duduk berdekatan.


"Mama dan papa punya tawaran lagi buat Frans dan Franky" ucap Nyonya Eisten. "Mama ingin, Franky menikah lebih dulu, barulah Frans dan Onya mama ijinkan menikah" sambungnya tidak membuat Tuan dan Nyonya Wiranta kaget. Pasalnya, mereka sudah membahas hal itu sebelum memberitahu anak-anak mereka.


Sementara Franky saat itu juga terpaku ditempatnya. Dia merasa kalau permintaan orangtuanya sangatlah konyol. Memang dia juga ingin secepatnya menikah, apalagi, sejauh ini dia sudah berkenalan dengan Lusi. Hanya ada penilaian positif yang dia dapat dari kencan buta-nya bersama wanita itu. Namun rasanya belum siap jika menyangkut perasaan.