
Berhari-hari Onya menghabiskan waktunya didalam rumah dengan belajar. Membaca buku dan mengikuti webinar, tak lupa dengan kesehariannya untuk melukis. Gadis itu memiliki bakat yang sama dengan sang ibu. Namun untuk mengakuinya, Onya merasa enggan.
Kalau bisa jujur, Onya sayang pada ibunya. Namun mengingat sikap egois wanita itu membuat rasa sayang menjadi benci. Biarlah orang-orang mengatakan dia adalah anak durhaka. Karena hanya Onya yang merasakan dan menjalaninya.
Duduk merenung. Matanya terus menatap kosong arah depan. Sementara tangannya enggan untuk diangkat. Entah apa yang dipikirkan gadis itu. Sepertinya dia tengah memperhatikan sesuatu didalam semak-semak itu.
Onya berada dihalaman belakang rumahnya. Niatnya dia ingin melukis. Namun tatapannya masih terfokus pada sesuatu yang membuat semak-semak bergerak. Sementara dibelakang semak-semak berduri itu terdapat tembok tinggi yang dijadikan sebagai pagar rumah.
Dengan tiba-tiba muncul sosok manusia hingga membuat Onya terkejut. Jantungnya serasa mau copot ketika orang itu mengagetkannya.
"Onya" panggilnya dengan nada halus hingga tak terdengar dari posisi Onya.
Onya hanya tersenyum sembari menggeleng kepalanya. Dia kembali mengingat masa kecil mereka. Dimana dia yang dikurung oleh ibunya, namun anak itu malah mengajak dia untuk kabur dengan cara melewati tembok tinggi itu.
Dengan santai pria itu melenggang kearah Onya berada. "Kau ingin jalan-jalan? Ayo kita kabur bersama" ucap pria itu.
"Hei, kau bisa meminta ijin pada mama. Dia pasti mengijinkan aku pergi denganmu" ucap Onya. Namun pria itu malah menggelengkan kepalanya. Tanpa menunggu lama, pria itu kembali merapikan alat-alat yang digunakan Onya untuk melukis. Diisinya kedalam satu tas besar yang kemudian dipikulnya.
"Ayo..." ajak pria itu lagi. Onya yang masih mematung dengan menatap jengah pria itu langsung memudar ketika mendengar suara dibelakangnya.
"Frans? Kamu di sini?" siapa lagi kalau bukan Nyonya Wiranta?
"Iya, Tan. Aku ingin mengajak Onya jalan-jalan hari ini" ucap Frans. Seolah-olah gaya lambat, Onya mengedipkan matanya sembari menunggu jawaban ibunya.
"Kemana?" tanya Nyonya Wiranta membuat detak jantung Onya memburu. Gadis itu berharap bisa terbebas untuk sementara waktu. Walau dia tahu jika batas waktu hukumannya tidak akan lama lagi.
"Mau ke pantai, Tan. Biasanya aku menemani Onya untuk melukis di sana" mengikuti ucapan Frans yang terhenti karena menunggu jawaban dari Nyonya Wiranta, Onya masih belum bernafas lega.
"Baiklah" jawaban itu membuat Onya menghembuskan nafasnya dengan lega. Dan tanpa berpamitan, Onya menarik pergelangan tangan Frans untuk mengikutinya.
...*...
Di sepanjang jalan, Onya melihat kiri dan kanan jalan. Hingga dia menangkap sosok yang dikenalnya disebuah supermarket. Onya meminta Frans berhenti di sana dengan alasan membeli sesuatu. Tanpa curiga, Frans menuruti keinginan gadis itu.
Kini Onya berjalan masuk kedalam supermarket tersebut. Gadis itu tengah mencari sosok yang dia lihat tadi. Dan benar saja, pria itu melambaikan tangannya dan menghampiri gadis itu.
"Apa kabar, Alka?" tanya Onya sambil memeluk pria itu. Bukan tanpa sengaja mereka bertemu. Namun Onya sudah menghubungi pria itu untuk bertemu di sana, ketika keluar bersama Frans.
"Baik. Kamu mau kemana?" tanya Alka.
"Aku akan ke pantai. Sayangnya harus ditemani Frans" ucap Onya dengan memelas. Namun Alka mengerti tentang hubungan mereka. Walau belum sepenuhnya Onya menceritakan perihal perjodohan itu. Onya hanya menceritakan hubungan keluarganya dengan keluarga pria itu.
"Sebenarnya gini..." Onya sedikit bimbang untuk memberitahunya. Dia tidak tahu harus mulai dari mana untuk memberi penjelasan pada pria itu. "Aku tidak tahu harus mulai darimana".
"Katakan saja. Aku akan mendengar dengan baik" ucap Alka meyakinkan gadis itu untuk segera bicara.
"Masalah keluarga yang aku maksud itu..." dia agak ragu untuk mengatakannya. "Sebenarnya aku dijodohkan sama Frans" akhirnya dia berani untuk mengatakan hal itu. Gadis itu menundukkan kepalanya, enggan menatap pria itu.
Sementara Alka hanya mematung ditempatnya. Dia cukup syok mengetahui masalah keluarga yang kekasihnya hadapi. Apa ini akhir dari hubungan kami?
"Hanya itu yang kamu mau sampaikan, Onya? Apa kau tidak ingin menjawab, kau siap atau tidak untuk mengakhiri hubungan kita?" ucap Alka tertahan karena sesuatu yang menjanggal dalam tenggorokannya.
Kini Onya memberanikan diri untuk menatap pria itu. Dia bahkan tidak mengerti dengan ekspresi datar pria itu. "Aku lebih memilihmu. Dan Frans sudah berjanji untuk membatalkan perjodohan ini. Hanya saja, kami harus melangsungkan pertunangan. Jadi, kamu mau kan, mengijinkan aku bertunangan dengannya? Hanya bertunangan saja. Aku janji, setelah itu kami akan mengakhirinya" ucap Onya.
"Akan aku pikirkan" bukan, bukan itu yang ingin didengar oleh Onya. Pria itu tidak tahu harus meresponnya bagaimana. Dia hanya mampu mengeluarkan tiga kata itu untuk mengakhiri obrolan mereka. "Aku rasa ada yang mencari-mu" ucapan Alka membuat Onya terhentak. Gadis itu mengikuti arah tatapan pria itu.
Ternyata Frans datang menghampirinya. "Kau sudah selesai? Ayo kita pergi" ucap Frans dengan datar. Tanpa menatap dan berpamitan pada pria yang sedang bersama Onya, dia malah menarik gadis itu untuk kembali ke mobilnya.
"Nanti malam aku akan menghubungimu" ucap Onya.
Selepas Frans dan Onya pergi dari tempat itu, seorang wanita datang menghampiri Alka.
"Bagaimana?" tanya wanita itu.
"Sulit" Alka menjawabnya sembari menghembuskan nafasnya frustasi.
"Maksudnya bagaimana?" tanya wanita itu dengan bingung. Dia tidak mengerti dengan jawaban pria itu. "Ayo kita pulang" ucapnya lagi karena pria itu tak kunjung menjawab pertanyaannya. Wanita itu kemudian menggandeng Alka untuk keluar bersama dari sana.
...*...
Kini Onya dan Frans sudah berada didalam mobil. Frans merasa kesal dengan gadis itu. Dia pikir, Onya benar-benar akan membeli sesuatu di sana. Tapi ternyata dia malah bertemu dengan kekasihnya itu.
"Tadi aku hanya sedang meluruskan masalah kami. Aku bilang kalau kamu dan aku akan bertunangan. Semoga saja dia tidak salah paham, dan tetap mempertahankan hubungan kami" ucap Onya. Namun Frans tetap bergeming, enggan membalas ucapan gadis itu.
"Kau tahu, dia itu pria pertama yang memberiku kebebasan. Dan dia itu pria pertama yang membuatku jatuh cinta" ucapan Onya membuat Frans mendengus kesal.
Diam-lah! Ingin sekali Frans mengatakan seperti itu padanya. Namun kata-kata itu hanya keluar dalam gumaman hatinya.
Omong kosong. Mengingat ucapan gadis itu membuat Frans tidak tenang. Pria itu merasa bodoh jika ucapan gadis itu benar adanya. Karena Frans mengakui jika dia adalah pria kedua yang memberi semua itu pada Onya. Dan pria pertama yang memberi hal itu pada Onya adalah Tuan Wiranta. Bukan pria tadi yang baru dikenal oleh Onya!