A POSSESSIVE BESTIE

A POSSESSIVE BESTIE
ONYA SAKIT



Setelah menyelimuti Onya dengan *bedcover*, Frans kemudian duduk di samping wanita itu dengan hanya mengenakan boxer hitamnya.


Sesekali pria itu tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Kejadian setelah selesai mandi tadi memenuhi kepalanya.


Tadi saat Frans diam-diam masuk ke kamar mandi, sengaja ia melihat tubuh polos wanita itu dibawah guyuran shower. Ia lantas membuka seluruh pakaiannya dan menghampiri wanita itu.


Tangannya yang kokoh memeluk pinggang indah itu. Ia dapat merasakan keterkejutan Onya, tubuh wanita itu bergetar walau hanya sedetik saat kulit mereka bersentuhan.


Onya mendengus kecil. Ia membersihkan tubuhnya tanpa peduli dengan keberadaan Frans dibelakangnya. Dirasanya tangan kurang ajar pria itu sudah melebihi batas, dengan cepat Onya membalikan tubuhnya hingga berhadapan dengan pria itu.


"Biarkan aku mandi dengan tenang dulu" ucap Onya dengan memelas.


Onya memegang erat kedua tangan pria itu. Ia kemudian membawa tangan nakal itu ketempat sabun cair yang menempel pada dinding dan memberi perintah padanya.


"Gosok ke punggungku" ucap Onya. Wanita itu menyanggah kedua tangannya Kedinding sambil membelakangi Frans yang siap menggosokkan sabun ke tubuhnya.


Mereka tidak melakukan lebih dari itu di kamar mandi.


Beberapa menit berlalu, Onya lebih dulu selesai mandi dan keluar kamar mandi menuju wastafel. Wanita itu mengenakan handuk berwarna putih dengan hanya menutupi dada hingga sebagian pahanya.


Didepan cermin, Onya mengeringkan rambutnya menggunakan hairdryer. Tidak lama kemudian, nampak Frans yang baru keluar ke kamar mandi dan menyusul Onya didepan cermin besar wastafel. Sama dengan Onya, pria itu mengenakan handuk putih yang hanya membelit pinggangnya.


Frans menghentikan aktivitas Onya. Ia meraih benda pengering rambut itu dan meletakkannya ke tempat semula.


Frans mencium tengkuk Onya dan hendak membalikan tubuh wanita itu. Bersamaan dengan Onya yang berniat membalikan tubuhnya, tanpa sengaja tangannya menyentuh benda keras dibawah sana.


"Oh okay" ucap Onya dengan gagap sambil mengangkat kedua tangannya ke atas kepala.


Frans salah mengartikan respon Onya. Ia lantas mengangkat tubuh wanita itu ala bridal menuju kamar mereka. Diletakkannya tubuh mungil itu keatas tempat tidur.


Sejenak Frans mengamati wajah wanita itu. Sementara Onya hanya memejamkan kedua matanya sembari menunggu permainan pria itu.


Frans tersenyum geli menahan tawanya. Ia mengecup bibir mungil itu beberapa kali dan mulai tertawa kecil.


"Sudah tidak sabar?" Onya sontak tersadar. Kedua matanya langsung terbuka sempurna.


Melihat tatapan tajam wanita itu, bergegas Frans memulai aksinya. Ia mulai mencium wajah wanita itu, dari dahi, kedua matanya, pipi dan bibir.


Ciumannya hendak turun menyusuri leher wanita itu. Namun pria itu dibuat terkejut saat Onya mendorongnya ke samping kemudian menindih tubuh gaga-nya.


"Kau kelamaan" ucap wanita itu sambil berusaha melepas handuk dari tubuh Frans.


Onya terlihat agresi. Ia mulai terlatih mencumbui pria dibawahnya itu. Sayang sekali saat mereka berhubungan, Frans yang harus mengambil alih. Ia banyak bekerja keras, pasalnya Onya masih terlalu lemah.


Tidak berdaya saat Frans menghajarnya. Wanita itu terus merengek karena Frans terus menuntutnya berkali-kali.


"Frans, kau tidak ngantuk?" tanya Onya sambil mendorong tubuh kekar pria yang hendak kembali menindihnya.


"Sekali lagi. Janji yang terakhir" ucapan yang sama sedari tadi.


Onya menatapnya dengan memelas. "Aku suka diginiin tapi aku juga butuh istirahat" gumam Onya. Jujur dia sangat kecanduan dengan keagresifan pria diatasnya ini. Tidak tahu kenapa, dia juga sangat suka dipaksa dan diperdaya pria itu, namun saat ini dirasanya dia perlu istirahat.


Dan sekali lagi mereka melakukannya. Frans tidak tega melihat wajah lelah wanita itu. Apalagi waktu yang mereka habiskan hampir dua jam, jadinya ia terpaksa berhenti dan membiarkan wanita itu beristirahat.


Keesokan paginya Onya terbangun dari tidurnya. Wanita itu menduduki dirinya dan bersandar di kepala ranjang. Matanya bergerak menyusuri sudut kamarnya namun ia tidak mendapati Frans di sana.


Duduk melamun di atas tempat tidur. Tiba-tiba ia dikagetkan dengan kehadiran Frans. Pria itu menghampirinya dengan nampan berisikan beberapa sarapan pagi.


Nampan itu diletakan didepan Onya. "Dimakan dulu" ucap Frans.


Saat pria itu duduk dibibir ranjang, berhadapan dengan Onya barulah ia sadar jika wajah wanita itu sedang pucat.


"Kau sakit?" ucap Frans khawatir. Ia menyentuh dahi wanita itu, dirasanya dingin.


"Tidak" jawab Onya sambil geleng-geleng kepala.


"Ayo dimakan" ucap Frans lagi.


"Ah tidak, sepertinya aku tidak enak badan" timpal Onya kemudian.


"Apa yang sakit?" tanya Frans.


"Tidak tahu. Mungkin karena kamu. Semalaman aku tidak bisa tidur karena kamu" jawabnya dengan ketus. "Aku tidak berselera makan" sambung Onya.


"Kita akan tiba di Hawai. Nanti kita ke rumah sakit" ucap Frans.


"Tidak usah. Aku ingin tidur saja" tolak Onya. Ia tidak nyaman ke rumah sakit, apalagi letaknya di negeri orang.


"Setidaknya sedikit, makan sedikit saja" ucap Frans mulai menyendokkan sesendok makanan ke arah wanita itu.


"Tidak enak. Rasanya mau muntah" ucap Onya.


Onya tertegun mendengar ucapannya sendiri. Tiba-tiba ia menyadari sesuatu. Sontak ia berdiri dari posisi duduknya dan berlari masuk ke kamar mandi.


Onya memang merasa mual. Tapi ia tidak muntah-muntah, itu membuatnya tersiksa.


Didepan cermin, Onya menatap sayu wajah pucat-nya. Ia menyentuh perutnya yang hangat karena telapak tangannya yang lumayan dingin.


"Tidak mungkin" ucap Onya dengan mulut yang terbuka lebar.


Onya belum punya pengalaman. Tapi dia perempuan dan pernah mempelajari soal gejala kehamilan.


Wanita itu berusaha tenang. Ia membuka pintu kamar mandi dan hendak kembali ke tempat tidur. Didepan kamar mandi Frans menunggunya.


"Ada apa?" tanya Frans sambil merangkul wanita itu menuju tempat tidur.


"Kapan kita pulang?" bukannya menjawab, wanita itu justru balik bertanya.


"Seminggu selesai bulan madu" ucap Frans.


"Kita pulang besok. Aku tidak enak badan" ucap Onya.