A POSSESSIVE BESTIE

A POSSESSIVE BESTIE
LIONA



Dua hari Onya membutuhkan penanganan serius di rumah sakit. Akhirnya ia bisa diizinkan pulang ke rumah.


Frans masih menunggu jadwal penggantian posisinya sebagai pemimpin perusahaan ayah mertuanya. Jadi hari ini dia bisa sebebas mungkin menemani sang istri pulang dari rumah sakit.


Dalam perjalanan pulang Frans menggendong bayinya. Di sampingnya Onya tertidur pulas. Wanita itu sering cepat lelah, jadi dia butuh banyak istirahat.


Sesampainya di rumah, Frans membiarkan ibunya menggendong buah hatinya. Lalu ia kembali kedalam mobil dimana sang istri masih tidur. Tidak ingin menggangu, Frans lantas menggendongnya ke kamar mereka.


Baru saja Frans meletakannya diatas tempat tidur, Onya tiba-tiba terbangun. Sayu-sayu ia menatap Frans sambil menanyakan keberadaan anaknya.


"Baby mana?" Tanya Onya.


"Ada diluar sama mama" ucap Frans.


"Sudah jam berapa?" Tanyanya lagi.


"Jam 12 siang" jawab Frans sambil menatap jam tangannya.


"Baby belum minum susu" ucap Onya.


Seakan paham maksud Onya, pria itu bergegas keluar mencari keberadaan ibunya.


Pria itu mengambil sang buah hati dan membawanya menuju kamarnya dengan Onya.


Sesampainya di sana, Frans geleng-geleng kepala melihat sang istri sudah kembali tidur.


Frans meletakan anaknya di samping Onya berbaring. Pria itu menyipak baju Onya keatas agar anaknya bisa menjangkau susu dari sang istri.


Onya menggeliat saat pria itu coba mengetes air susunya. Ia terbangun dan ingin protes tapi terlalu capek untuk berdebat.


"Katanya mau kasih minum baby" ucap Frans.


Onya mengangguk dan berusaha duduk. Frans membantunya dan membiarkan wanita itu duduk sambil bersandar pada kepala ranjang.


Kini Onya sudah menggendong anaknya. Ia membiarkan sang anak mencari sendiri sumber makanannya itu. Namun Frans justru gemas melihat tingkahnya dan berusaha membantu sang anak.


Dengan rakus bayi mungil itu meminum susu. Membuat Frans menganga iri. Namun ia sadar kalau benda itu sekarang bukan hanya miliknya sekarang, tapi milik anak perempuannya juga.


"Untung perempuan" ucap Frans dengan lirih.


Sibuk dengan pikiran masing-masing. Frans teringat sesuatu yang belum mereka berikan pada sang anak langsung mengajak istrinya mengobrol.


"Sayang, anak kita belum dikasih nama" ucap Frans.


Onya menatapnya dengan memelas. Matanya masih berat, jadi responnya memang terlihat menyedihkan. Untung Frans bisa mengerti.


"Bukannya sudah dikasih nama?" Ucap Onya dengan asal.


"Belum, sayang"


"Kalau gitu namanya Liona Wiranta. Panggilan Io" ucap Onya dengan asal.


Frans mengerutkan keningnya. Jelas dia tahu sebutan aneh itu. Tapi dia berusaha menepis rasa cemburunya, karena semuanya bukan lagi ancaman bagi hubungannya dengan Onya.


"Aku tidak setuju. Anak kita perempuan, tidak cocok dikasih nama Io. Kedengaran aneh"


*


"Io...!" Onya berteriak memanggil nama anak perempuan nakalnya itu.


Frans yang sedang mandi langsung keluar menggunakan handuk. Tubuhnya pun masih berbusa, tak terkecuali wajahnya.


Jangan heran, dulu kebiasaannya memanggil nama Onya berubah sayang, kini menjadi panggilan 'mama'.


"Lihat ulah anak nakal-mu itu. Foto pernikahan kita pecah karena dia" ucap Onya sambil berkacak pinggang.


"Dimana anak itu?" Tanya Onya sambil memegang rotan kecil.


Frans mengeluarkan nafasnya dengan susah paya. Setiap hari, selalu saja dia harus jadi penengah bagi kedua perempuan itu. Istri dan anak perempuannya kadang susah akur.


Apalagi cara Onya yang selalu menggertak anaknya pakai rotan membuat Frans selalu was-was. Ia selalu melindungi anak perempuannya. Ia tidak mau anaknya bernasib sama seperti Onya yang sering dipukul pakai rotan.


Untungnya Onya hanya mengertak saja. Namun tetap saja, bagi Frans cara mendidik Onya seperti itu tidaklah baik. Berulang kali ia menasihati sang istri namun wanita itu tak kunjung mengerti.


Beginilah Frans. Mau menyesal pun percuma karena sudah menikahi wanita keras kepala itu. Tapi dia lebih bersabar, dan menerima segala kekurangan istrinya.


"Tenang, ma. Hari ini kan hari ulang tahun Liona. Jadi coba mama lebih sabar, tahan emosi supaya Liona gak terus nakal" ucap Frans.


Jangan tanyakan lagi soal nama anak perempuan mereka itu. Walaupun Frans menolak mentah-mentah nama anaknya yang disarankan sang istri, namun ia terpaksa mengalah karena sikap keras kepala sang istri lebih mendominasi.


Walaupun begitu, Frans enggan memanggil anaknya dengan sebutan 'Io'. Nama itu terdengar aneh baginya. Lebih baik memanggilnya dengan sebutan 'Liona' ketimbang 'Io', pikirnya.


Onya mendengus kesal. Namun saat melihat wajah pria itu, Onya sontak tertawa renye.


"Cuci mukamu, Frans" ucap Onya sambil tertawa. Namun hanya sesaat karena melihat wajah kurang ajar yang ditunjukkan pria itu membuat Onya menghentikan tawanya.


Belum sempat Onya melangkah pergi, Frans lebih dulu memeluk pinggangnya dengan posesif.


"Hari ini usia Liona lima tahun, gimana kalau kita kasih hadiah adik untuknya?" Bisik Frans.


Onya sempat ingin menolak. Karena ia masih kesal dan ingin memberi hukuman pada anaknya. Namun saat pria itu meremas pinggangnya membuat wanita itu menyerah.


Pasca-melahirkan Onya tidak banyak berubah. Namun satu hal yang membuat Frans sangat bersyukur, istrinya itu tidak memikirkan soal perpisahan lagi.


Frans pikir setelah mereka bercinta, Onya akan melupakan ulah anaknya. Ternyata tidak. Setelah mereka bersih-bersih, Onya turun mencari anaknya itu.


Frans yang hendak turun ke lantai bawah tiba-tiba mendengar tangisan anaknya. Ia langsung buru-buru turun. Menyaksikan anak perempuannya yang sedang menangis memeluk tubuh sang nenek.


"Onya, kenapa lagi?" Ucap Frans. Ia mendekati sang anak dan menggendongnya.


"Ada apa, sayang? Mama ngapain kamu, nanti papa marahin mama ya"


"Mama pukul..." Ucap anak itu sambil sesegukan mengusap matanya yang basah.


"Hei, anak kecil sudah pintar bohong. Aku gak pukul dia, Frans. Anak ini, masih kecil sudah pintar bohong, ya" ucap Onya.


"Ini juga foto pernikahan kita pecah karena dia" ucap Onya lagi.


Frans menoleh kearah tangan Onya menunjuk. Dan benar saja, foto pernikahan mereka dengan ukuran bingkai sedang sudah pecah.


"Mama bilang Io gak boleh ada dihari pernikahan mama dan papa" ucap Liona. Anak umur lima tahun itu hanya berani bicara saat ayahnya ada bersamanya.


"Hei, mama bilang kamu belum ada, bukan tidak boleh" ucap Onya lagi.


Frans mengisyaratkan istrinya untuk diam. Pria itu duduk di sofa dan memangku anak perempuannya itu.


"Liona, yang mama bilang itu benar. Liona belum ada waktu pernikahan mama dan papa. Kalau Liona mau nanti kita buat foto bersama sebentar malam di hari ulang tahun Liona. Mau gak?" Ucap Frans.


Liona mengangguk sambil mengusap matanya.


"Liona juga jangan nakal sama mama. Nah, ini fotonya juga pecah karena Liona, jadi wajar kalau mama marah. Ayo minta maaf sama mama" ucap Frans selembut mungkin.