A POSSESSIVE BESTIE

A POSSESSIVE BESTIE
KEMBALI DIKURUNG



Sesampainya Frans di apartemen, ia masuk kedalam kamarnya sambil memanggil Onya. Dan gadis itu menyahutinya dari kamar mandi. Ketika gadis itu membuka pintu kamar mandi, Frans memberinya pembalut.


"Kenapa yang ini?" tanya Onya.


"Itu yang paling berkualitas" jawab Frans.


"Aku takut bocor, Frans" ucap Onya, mulai memprotes. Karena pembalut yang dibeli Frans tidak memiliki sayap. Tentu saja, Onya takut kebocoran.


"Pakai yang ada dulu" ucap Frans dengan memelas. Tanpa ingin mendengar protes dari Onya lagi, pria itu bergegas keluar kamar. Namun didepan pintu kamarnya, ia kembali ingat dengan idenya.


Frans lantas kembali masuk kedalam kamarnya. Ia membaringkan tubuhnya diatas kasur sambil menumpu kepalanya dengan kedua tangan. Beberapa menit ia menunggu, Onya pun keluar dari kamar mandi. Gadis itu keluar dengan menggunakan kimono.


"Kamu tidak kuliah?" tanya Onya.


Sementara Frans hanya menjawabnya dengan gelengan kepala. Sebenarnya jam kuliah Frans sudah lewat. Artinya, hari ini ia bolos. Tapi sistem perkuliahan di kampus mereka jelas berbeda dari kampus lainnya. Absen tidak menjadi perhitungan penilaian. Namun mereka dituntut untuk bisa menyesuaikan dengan pelajaran kelas, saat mereka tidak hadir.


"Memangnya kenapa?" tanya Onya sambil berjalan menuju kasur, dan ia pun membaringkan tubuhnya di samping Frans.


Frans hanya menggeleng kepalanya. "Tadi aku bertemu Liana" ungkap Frans membuat Onya terperanjat dari tempatnya. Ia lantas mengubah posisi tidur menjadi posisi duduk. Mulut dan matanya masih membulat, karena keterkejutannya.


"Benarkah?" tanya Onya setengah berteriak.


Melihat respon Onya membuat Frans memelas. Sudah ia duga, gadis itu akan senang mendengar kabar tersebut.


"Pasti dia tahu tentang keberadaan kak Mona. Tapi..." ucap Onya, ia menggantung ucapannya karena ragu. "Apa kak Franky masih mengharapkan kak Mona? Sementara ia sudah menjalani hubungan dengan Lusi" sambungnya sambil geleng-geleng kepala.


Ya, wanita yang tadi Frans temui di toko adalah Liana. Wanita itu adalah temannya Mona. Hubungan mereka sangat dekat dengan Onya, karena dulunya Franky dan Mona berpacaran.


Jika Onya sangat senang dengan kehadiran Liana, sebaliknya dengan Frans. Pria itu sangat tidak suka pada wanita itu, karena ia sangat agresif. Dari dulu, wanita itu sangat menyukai Frans. Bahkan ia suka cari perhatian dari pria itu. Namun Frans sangat tidak suka padanya.


Awalnya, Frans tidak ingin Onya tahu bahwa ia dan Franky sudah menemukan titik terang keberadaan Mona. Jika keberadaan Mona diketahui oleh Onya, sudah dipastikan kalau Onya tidak akan khawatir lagi tentang hubungan Franky dan Lusi. Dengan begitu, Frans tidak bisa menjadikan Lusi sebagai alasan untuk melanjutkan hubungannya dengan Onya.


"Tapi lebih baik kalau kita cerita sama kak Franky. Dari dulu dia mencari-cari kak Mona. Mungkin saat dia bertemu kak Mona, dia langsung memutuskan hubungannya dengan Lusi" ucap Onya.


"Tapi ada yang lebih bermasalah" ucap Frans sambil menampilkan ekspresi seriusnya. "Lusi lagi hamil anaknya kak Franky" sambungnya. Sontak membuat Onya terkejut bukan main.


"Apa?" pekik Onya, ia menatap tak percaya pada pria itu.


Sementara Onya masih ternganga tak percaya. "Bagaimana bisa? Atau..." ia kembali menggantung ucapannya, sambil menatap menyelidik ke arah Frans. "Atau kamu yang menghamilinya, Frans" sambungnya membuat Frans terkekeh.


"Tentu saja tidak" ucap Frans dengan sinis-nya. Mendengar Onya mulai berbicara tak teratur membuat Frans ragu untuk melanjutkan pembicaraan mereka. Ia lantas berdiri dari posisi tidurnya, dan berniat keluar dari sana.


"Hei, kau selalu tidur dengannya. Mungkin saja dia sedang mengandung anakmu, Frans" ucap Onya dengan setengah berteriak.


Sementara Frans, pria itu kembali menoleh ke belakang. Ia melihat Onya yang tersenyum mengejek padanya, dan dengan berani gadis itu menjulurkan lidahnya.


Frans hanya tersenyum miring. Sambil membuka pintunya, ia berkata "Nikmati hukuman-mu, Onya". Ya, inilah ide jahil Frans. Jika tadi Onya berani mengerjainya dengan menyuruh ia membeli pembalut, maka Frans membalasnya dengan memberi ia hukuman yang sama. Onya akan kembali di kurung dalam kamar.


Sebelum Onya turun dari atas tempat tidur untuk keluar, Frans lebih dulu menguncinya dari luar.


"Frans!" teriak Onya sambil mengendor pintu. "Frans, buka pintunya. Hei, sebentar lagi aku harus kembali ke rumah" ucapnya berteriak. Dia hanya mencari alasan agar pria itu tidak mengurungnya didalam sana. Namun percuma, Frans sudah melenggang pergi. Pria itu keluar dari apartemennya menuju parkiran. Ia ingin bersenang-senang sendiri diluar sana.


...*...


Sementara dirumah sakit, muncul lagi masalah baru. Mendengar pernyataan dokter bahwa tes DNA sangat membahayakan bagi janin dan kondisi Lusi saat ini, jadi kedua orangtuanya tidak mengizinkan tes tersebut. Sementara Franky, pria itu malah menjadi stres karena terus diceramahi oleh ibunya.


Dalam perjalanan pulang, Nyonya Eisten terus mendesaknya untuk bertanggungjawab. Padahal janin yang dikandung oleh Lusi belum jelas, apakah itu anaknya Franky atau bukan. Mungkin karena tadi Lusi menceritakan semuanya pada Nyonya Eisten, entah bagaimana hingga wanita itu mempercayai Lusi ketimbang anaknya sendiri.


"Mama tidak mau tahu, kamu harus bertanggungjawab. Berani berbuat, berani bertanggungjawab" ucap Nyonya Eisten. Ia sangat keras kepala, ingin anaknya segera menikah. Mungkin bisa diperjelas kalau ia tidak peduli, apakah anak yang dikandung Lusi adalah keturunan Eisten atau bukan. Sudah cukup Nyonya Eisten memberi kesempatan pada Franky untuk segera menikah. Sekarang, ia harus membuat anaknya itu untuk menikah. Apalagi keluarga Lusi sesuai dengan kriterianya selama ini. Jadi Nyonya Eisten sangat kekeh dengan keinginannya.


"Mama, kita belum tahu apakah itu anak Franky atau bukan! Jadi jangan paksa Franky lagi, ma" ucap Franky dengan memelas.


Sementara Tuan Eisten hanya mendesah pelan. Ia tidak tahu harus bicara apa pada keduanya. Sebenarnya ia berpihak pada Franky, namun ia tahu, sebanyak apapun ia bicara, pastilah istrinya tidak mau mengalah.


"Lalu untuk apa kamu berhubungan badan dengan dia? Kamu hanya mencari kesenangan, begitu? Enak saja!" timpal Nyonya Eisten. "Mau itu anak kamu, atau anak orang sekalipun, kamu harus bertanggungjawab. Dan ini juga harus dijadikan pelajaran. Jangan sembarangan memasuki perempuan, kalau tidak mau menimbulkan masalah seperti ini" sambungnya membuat Franky menggeram frustasi.


Akhirnya Franky memilih diam. Percuma ia berdebat dengan wanita itu, ia tetap akan kalah. Yang pasti, Franky tidak mau menuruti ibunya untuk kali ini.


Sesampainya mereka di mansion, Tuan dan Nyonya Eisten bergegas turun dari dalam mobil. Sebelum itu, Nyonya Eisten memberi peringatan pada anaknya. "Jangan lari dari masalahmu. Kalau perlu, besok kamu harus menikah dengan Lusi" ucapnya.


Franky tidak ambil pusing dengan ucapan ibunya. Setelah ibunya melangkah masuk kedalam rumah, barulah pria itu melanjutkan perjalanannya. Entah kemana ia akan pergi, yang penting ia harus menenangkan pikirannya.