A POSSESSIVE BESTIE

A POSSESSIVE BESTIE
ONYA MEMBANGUNKAN FRANS





Kini Onya dan Frans sudah berada didalam mobil. Dalam perjalanan menuju rumah gadis itu, Onya tertidur. Ketika sampai di sana, barulah Frans sadar.


"Kau tidur?" tanya Frans sambil melambaikan tangannya didepan wajah Onya. Namun gadis itu tak terganggu sedikitpun. Ia benar-benar tertidur pulas.


Frans menghembuskan nafasnya dengan berat. Sejenak, ia menatap wajah itu. "Cantik" gumam Frans, tanpa sadar ia tersenyum mengagumi ciptaan Tuhan itu.


Dan tanpa permisi, Frans mengecup bibir Onya. Gadis itu menggeliat, namun tidak membuat Frans berhenti. Pria itu mengelus lembut pipi Onya, dan mengecup pipi gadis itu. Bibirnya bertahan lama di sana, dan tanpa sadar, kecupannya berubah menjadi sebuah gigitan. Frans menggigit pipi Onya dengan gemas, hingga membuat mata gadis itu terbuka.


"Frans..." ucap Onya dengan geram. Ia mendorong pria itu, dan mengusap pipinya. Entah bagaimana, Onya bisa kembali tidur.


Awalnya Frans gugup, namun tertawa melihat Onya kembali tertidur. Mungkin belakangan ini, Onya sibuk dengan belajar. Ia banyak ketinggalan karena hukuman ibunya, jadi ia banyak begadang untuk belajar. Terbukti, ia sangat lelah saat ini. Tidak sadar, jika posisinya berada di dalam mobil, ia kembali tidur.


Frans memutuskan untuk kembali ke apartemennya. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan normal. Hingga tibalah ia di gedung apartemen, pria itu menggendong Onya kedalam sana.


Di dalam kamarnya, Frans membaringkan tubuh mungil itu diatas kasur. Lalu ia bergegas menuju kamar mandi, untuk bersih-bersih diri. Dengan handuk yang hanya membelit pinggangnya, Frans keluar dari sana.


Frans menggunakan boxer hitam, lalu ia mengistirahatkan tubuhnya di samping Onya. Keduanya begitu lelah, hingga terlelap begitu saja.


Keesokan paginya, Onya mengerjap. Perlahan, kedua matanya terbuka. Pertama kali ia lihat adalah Frans. Wajah pria itu begitu dekat, dan tangan kekarnya begitu posesif memeluk pinggang Onya.


Udara pagi begitu dingin. Onya yang merasa dingin lantas memperbaiki selimutnya. Bukannya menghindar dari tangan kekar itu, ia malah membalas pelukan Frans. Saat tangannya jatuh mengenai kulit pinggang Frans, pria itu langsung terbangun.


Keduanya merasa nyenyak pada posisi itu. Karena Onya ikut membalas pelukannya, Frans pun mempererat pelukannya. Ia semakin memajukan wajahnya didepan wajah Onya. Bahkan gadis itu bisa merasakan hembusan nafasnya. Onya tentu merasa terganggu. Ia membuka kedua matanya, dan saat kesadarannya benar-benar pulih, Onya langsung mendorong Frans untuk menjauhinya.


Onya mengubah posisinya untuk membelakangi Frans. Beberapa kali ia menarik selimut tebal itu, hingga tak tersisa untuk Frans. Kesempatan itu digunakan oleh Frans untuk semakin dekat dengan Onya. Pria itu menggeser ke arah Onya, kemudian memeluk gadis itu dari belakangnya.


"Frans..." dengan keadaan mata yang masih tertutup, gadis itu mengigau tak jelas. Tangannya menghempaskan tangan Frans dari perutnya.


Beberapa detik kemudian, Onya berbalik dan kembali berhadapan dengan Frans. Ia membuka matanya, dan melihat Frans yang ikut menatapnya.


"Mau makan... Buat makanan pagi, ya?" rajuk Onya sambil mengerucutkan bibirnya.


Sementara Frans yang mendengarnya hanya menatapnya dengan memelas. "Aku lapar" ucap Onya lagi, sambil mengusap-usap perutnya yang keroncongan.


"Frans!" panggil Onya lagi, karena yang dipanggil tak kunjung menjawab. Frans hanya menatapnya dengan datar, kemudian mengangguk malas.


Saat Frans bangun dan keluar dari kamar, Onya kembali tidur. Beberapa menit kemudian, Onya kembali terbangun. Ia kembali merasa lapar. Sambil mengusap-usap perutnya yang kosong, Onya berjalan keluar kamar.


"Perutmu semakin gemuk, Frans. Dimana perut kotak-kotak mu?" tanyanya sambil menyentuh roti sobek itu dengan jari telunjuknya. Walau tidak seindah dulu, tapi perutnya masih membentuk beberapa kotak-kotak.


Onya tidak tahu, jika sentuhannya mampu membangun junior Frans. Onya sudah terbiasa menyentuhnya seperti itu, tapi entah kenapa, sentuhannya kali ini benar-benar membangkitkan birahi Frans.


"Jangan terlalu minum air es. Itu akan membuat perutmu mengembung" ucap Onya. Dengan sekali gerakan, Onya memukul perut Frans begitu kuat. Sontak, pria itu tersedak minuman.


"Sorry" ucap Onya sambil menutup mulutnya. Tanpa berbalik untuk melihat keadaan Frans yang sedang terbatuk-batuk, Onya langsung lari untuk menyelamatkan dirinya.


Namun sepertinya gerakan Frans lebih cepat. Baru beberapa langkah, tubuh Onya sudah terangkat ke atas. Tangan kekar Frans lebih dulu mencegahnya, dan memeluk dari belakang. Satu tangannya membelit di perut Onya, dan satunya lagi ia gunakan untuk mengangkat bawah paha Onya. Pria itu langsung mendudukkan Onya diatas meja makan.


Saat Onya terduduk, Frans menumpu kedua tangannya di samping Onya. Ia tersenyum pada Onya. Namun gadis itu malah mengejeknya dengan cara menjulurkan lidahnya.


"Sudah, Frans. Aku lapar" ucap Onya. Dengan acuh, ia mendorong tubuh Frans. Namun tubuh pria itu tidak bergerak sama sekali. "Aku lapar" ucap Onya sekali lagi dengan memelas.


Tanpa aba-aba, Frans mengecup bibir itu. Bukan hanya satu kali, ia memberi kecupan bertubi-tubi di wajah Onya.


"Frans" bentak Onya. Hal itu membuat Frans berhenti. "Minggir, aku mau makan" ucapnya lagi.


Frans yang masih bergeming langsung didorong oleh Onya. Gadis itu turun dari atas meja makan, dan duduk di kursi. Ia menatap kagum beberapa jenis makanan yang dimasak oleh Frans. Dengan melihatnya saja membuat emosi Onya terkontrol kembali. Ia langsung melupakan kesalahan Frans yang sudah berani mencium bibirnya.


Kini mereka sudah duduk di meja makan. Posisi mereka saling berhadapan. "Ini benar kamu yang buat, atau kamu pesan?" tanya Onya sambil mengunyah makanannya.


"Masak" jawab Frans dengan datar.


"Kenapa tidak makan?" tanya Onya sambil mengernyit keheranan. Cuaca pagi yang begitu dingin, namun dahi pria itu sudah dibasahi oleh keringat. Apalagi, pria itu tidak menggunakan pakaian. Ia hanya menggunakan boxer saja.


"Kamu sakit, Frans?" tanya Onya lagi. Ya, ia bertanya. Tapi sebenarnya ia tidak peduli. Terbukti sewaktu ia melihat keringan yang sudah bercucuran di wajah Frans, namun ia masih asik menyantap makanannya, tanpa menghampiri pria itu untuk mengecek suhu tubuhnya.


"Yeah, sepertinya aku akan demam" ucap Frans sambil tersenyum kecut. Ia langsung berdiri, hendak kembali ke kamar. Namun saat akan melewati Onya, gadis itu ikut berdiri untuk menghalanginya.


Tanpa sadar, satu tangan Onya menyentuh perut Frans. Yang satunya lagi ia gunakan untuk mengecek suhu pria itu di dahinya. "Kamu keringan dingin, Frans. Sebaiknya kamu ke rumah sakit" ucapnya.


Frans bernafas tidak teratur. Darahnya terasa panas ketika gadis itu menyentuh perutnya. Namun Frans begitu setia menahan nafsunya. Ia menjauhkan tangan Onya, lalu kembali ke kamarnya.


Onya pun heran dengan tingkah Frans tersebut. "Ada apa dengannya? Mungkin lagi galau karena Lusi" gumam Onya sambil mengedikkan bahunya pada diri sendiri.


Sementara Frans, pria itu masuk kedalam kamar mandi. Ia membilas tubuhnya dengan air dingin. Guyuran shower yang menyentuh kepalanya mungkin bisa mengurangi tingkat birahinya.


"Belum saatnya" gumam Frans sambil tersenyum.