
Pagi-pagi sekali dua sijoli sudah siap keluar rumah. Frans membawa masuk beberapa barang kedalam mobil, sementara Onya malah berbelok arah, gadis itu berniat menghampiri kakak iparnya terlebih dahulu.
Didepan kamar kakak ipar, Onya mendengar suara banting pintu yang cukup keras didalam sana. Ia cukup terkejut, namun tidak mengurung niat awalnya ke tempat itu.
Tok... tok...
Beberapa kali ia mengetok pintu, akhirnya dibukakan juga. Bukan Franky, melainkan Lusi yang membukanya. Onya sempat tersentak melihat penampilan wanita itu. Rambutnya yang sedikit berantakan dan tubuhnya yang terpampang jelas dimatanya. Wanita itu hanya mengenakan kemeja pria, ia tidak mengenakan dalaman sama sekali.
Entah apa yang Lusi dan Franky perbuat semalam.
"Dimana kak Franky?" tanya Onya sambil mengernyit tajam.
"Di kamar mandi. Ada apa?" balas Lusi.
"Bisakah kau menggunakan pakaian yang pantas kalau mau membuka pintu? Bagaimana jika Frans atau papa mertua melihatmu seperti ini?" ketus Onya membuat Lusi terkekeh sebal.
"Katakan saja padaku, apa yang ingin kau sampaikan pada Franky?" tanya Lusi sambil menggertak gigi-giginya, ia cukup mampu menahan kekesalannya pada gadis mungil itu.
Onya hendak membalas ucapan wanita itu, namun ia dan Lusi sontak menoleh saat pintu kamar mandi kembali dibuka cukup kasar oleh Franky.
"Dimana handukku?" teriak Franky membuat Onya terkejut bukan main. Dan Lusi yang ikut mendengarnya langsung tersentak, ia hendak menutup pintu kamar itu...
"Onya, ada apa pagi-pagi ke sini?" tanya Franky yang awalnya bernada tegas dan keras, kini berubah cukup lemah. Suara pria itu membuat Lusi kembali melebarkan pintu kamarnya.
"Eh, itu kak. Nanti saja kita bicara. Aku akan menunggumu di ruang kerja" ucap Onya dengan gugup. Gadis itu cukup tahu diri. Ia mengenal kakak iparnya itu sudah lama. Memang Franky orangnya memiliki watak yang lemah lembut dan penyabar. Tapi orang sabar tidak selamanya bisa sabar. Saat mereka marah, amarah mereka melebihi orang yang mudah dikuasai emosi.
Onya ingat jelas saat hubungan kakak iparnya itu dengan Mona ditentang Nyonya Eisten. Franky yang dikuasasi emosi kala itu dengan berani membentak ibunya sendiri, dan tanpa berpikir panjang ia berani merusak pintu restoran. Sungguh kenangan yang sangat mengerikan.
Onya mulai ragu untuk bicara dengan kakak iparnya. Ia berniat menyusul Frans, namun ternyata Franky begitu cepat menghampirinya di ruang kerja.
"Ada apa, Onya?" tanya Franky. Pria itu ternyata sudah rapih dengan kemeja, dasi, dan jas hitamnya yang menyala.
"Kakak mau ke kantor?" tanya Onya basa-basi.
"hm, iya. Ada apa?" tanya Franky lagi.
"Eh Onya mau minta sesuatu. Tapi kak Franky jangan marah dulu saat Onya bicara nanti. Karena Onya tidak memaksa kak Franky..."
"hm, katakan saja" potong Franky.
"Onya mau minta nomor ponselnya kak Mona, boleh ya?" Onya meminta dengan hati-hati, raut wajahnya bahkan dibuat seimut mungkin layaknya anak kucing yang kelaparan tulang ikan.
Franky mengernyitkan keningnya membuat Onya semakin was-was. "Onya sudah bilang tadi, kalau kak Franky tidak mau, Onya tidak paksa kok" ucap Onya.
"Kakak tidak punya nomornya. Mungkin hanya nomornya Liana. Kamu bisa lihat di ponselnya kakak" ucap Franky sambil menunjuk ke arah meja kerjanya, ponselnya ternyata ada di sana.
Saat Franky hendak duduk di kursi kebesarannya dan bergulat dengan laptopnya, dengan gerakan cepat Onya meraih ponsel pria itu dan mencari apa yang dia inginkan.
"Eh... em... Onya minta nomornya kak Mona biar bisa ketemu dengan Liana" jawab Onya dan kembali fokus pada ponsel pria itu lagi.
Franky hanya manggut-manggut mendengarnya. "Bukannya hari ini kamu dan Frans akan pindah ke apartemen?" tanya Franky lagi.
"Iya, kita sudah siap-siap. Diam dulu ya, kak. Aku mau cari nomornya Liana" ucap Onya, sesaat kemudian ia mendongak kepalanya, menatap Franky sambil tersenyum pias. "Nama kontaknya?" tanya Onya.
"Adik Mona" jawab Franky.
Lebih tepatnya teman, karena Mona tidak punya saudara. Begitulah yang dipikirkan Franky. Hanya saja, karena umur Liana cukup mudah dari Franky dan Mona, jadi anggaplah gadis itu sebagai adiknya Mona.
Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, gadis itu langsung menyusul Frans diluar rumah. Namun hendak mencari Frans didalam mobil, pria itu tidak ada di sana.
"Frans dimana, pak?" tanya Onya pada supir.
"Katanya lagi pamit sama Tuan dan Nyonya besar" jawab supir itu.
Segera Onya kembali kedalam rumah. Ia mencari Frans ke kamar Tuan dan Nyonya Eisten. Namun saat melewati kamar kakak iparnya, ia kaget melihat Frans sedang berbincang dengan Lusi.
"Frans!" seru Onya.
Frans yang hendak berbalik tiba-tiba namanya dipanggil. Baru saja dia menanyakan sang kakak pada Lusi, ternyata Franky sudah tidak ada di kamar.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Onya pada Frans sambil menatap sengit pada Lusi.
"Aku kira kak Franky ada di kamar, jadi aku mampir di sini. Ayo, kita temui kak Franky, setelah itu kita pamit pada mama dan papa" ajak Frans. Pria itu menarik Onya mengikutinya, tak sadar jika gadis itu masih menatap ke belakang sambil memperingati Lusi.
"Aku sudah pamit sama kak Franky tadi" ucap Onya sambil mengikuti langkah kaki Frans.
Karena perdebatan antara Frans dengan kakaknya semalam membuat ia tidak enak hati. Ada baiknya ia berpamitan pada sang kakak, dirasanya cara itu menandakan rasa hormatnya.
Tidak sesuai harapan Frans. Ia dan Onya hendak masuk ke ruang kerja Franky, namun mereka berpapasan langsung dengan pria itu yang hendak keluar. Frans sempat berpamitan padanya, namun Franky hanya menanggapinya dengan deheman kecil. Sepertinya pria itu belum bisa berdamai dengan sang adik.
Onya yang menyaksikan ketidakakuratan kakak beradik itu hanya bisa menonton. Ia tidak bisa melakukan apa-apa, hanya bisa menyadari kalau ialah penyebabnya.
Setelah berpamitan pada Franky, giliran dua sijoli itu berpamitan pada Tuan dan Nyonya Eisten. Barulah keduanya kembali ke mobil, dengan Frans yang mengambil alih kemudi dan Onya yang setia duduk di sampingnya.
Hening dalam perjalanan kembali ke apartemen. Sesekali Onya mengekor dari samping, menatap pria itu dengan cemberut.
"Kau lihat kak Franky tadi, bukan?" ucap Frans menyinggung Onya karena mulutnya yang lancang memberitahu hubungan Frans dan Lusi pada Franky. "Semoga besok kak Franky bisa kembali bersahabat denganku" sambung Frans dengan tenang, tidak setenang hatinya sekarang.
Sesampainya mereka di apartemen, Frans kembali mengangkat masuk barang-barang mereka. Barang-barang mereka hanya sedikit tapi mungkin berat. Dua koper dibawa masuk Frans, sementara Onya, dengan enteng gadis itu hanya mengangkat satu ransel kecilnya.
Teman-teman bisa nih follow π€©π