
Hari pertama menjadi hari terakhir Liana menginap di apartemen Frans. Hanya sesekali ia datang bermain dengan Onya. Namun saat Onya maupun Frans disibukan dengan ujian skripsi, gadis itu tidak sempat bertemu lagi dengan mereka.
Sementara rencana Frans meniduri Onya harus tertunda. Pria itu kembali fokus pada ujian skripsi. Dia berencana untuk mengajak gadis itu tidur saat mereka lulus kuliah nanti.
Hari yang sama, Onya dan Frans menghadapi ujian skripsi di ruangan yang berbeda. Onya terlihat gugup setengah mati, namun tidak dengan Frans, pria itu malah terlihat angkuh dengan tatapan datarnya.
Beberapa pertanyaan dilewati Frans dengan mudah. Akhirnya ia bisa keluar ruangan itu dengan cepat. Tidak dengan Onya yang harus ia tunggu.
Frans menuju fakultas Bahasa dan Seni. Dia hanya bisa menunggu diluar ruangan, tempat yang diyakininya Onya melangsungkan ujian skripsi. Pria itu bersandar pada tembok sambil memainkan ponselnya. Hingga beberapa menit ia menunggu, akhirnya gadis yang ditunggu-tunggu keluar juga.
Onya mengeluarkan nafasnya dengan susah paya. Kini ia bisa bernafas lega juga. "Frans, kau sudah selesai?" tanya Onya menghampiri pria itu.
Frans mengangguk tanpa melihat gadis itu. Ia masih berfokus pada ponselnya. "Ayo kita kembali" ucap Frans. Ia pun berjalan tanpa berpaling pada layar ponselnya itu.
Dalam perjalanan menuju parkiran, Frans menghentikan langkah kakinya sejenak. "Malam ini aku harus menghadiri acara teman-ku lagi" ucap Frans sambil memasukan ponselnya kedalam saku celananya.
"Teman-mu?" tanya Onya sambil menatap curiga pada pria itu.
"Ya, Nick merayakan pesta di rumahnya" jawab Frans segera melangkahkan kakinya kembali.
"Kalau aku mau ikut, bagaimana?" tanya Onya membuat Frans menghentikan langkah kakinya dan kembali menoleh pada gadis itu.
"Tidak" jawab Frans membuat Onya kesal setengah mati. Gadis itu segera menyusul Frans sambil menghentak-hendak kakinya.
Didalam mobil Onya mendiami Frans, namun dalam hati ia mengutuk pria itu dengan nama-nama binatang buas yang memang tidak begitu buruk jika didengar. Namun tiba-tiba ide cemerlang melintas di pikirannya.
"Frans!" panggil Onya dengan nada jutek.
"hm" Onya memutar malas kedua matanya. Seandainya ia tidak ada maunya, malas juga bicara dengan pria itu.
"Boleh aku minta nomornya Nick?" tanya Onya.
Frans menarik sebelah alisnya ke atas, ia merasa curiga dengan permintaan gadis itu. Frans lantas menatapnya sekilas seolah-olah ia bertanya alasan gadis itu meminta nomor teman prianya.
"Kau tahu, Liana pernah cerita padaku kalau dia menyukai Nick saat bertemu di hari pernikahan kita. Siapa tahu kita bisa menjodohkan mereka" ucap Onya dengan lantang.
Frans terkekeh mendengarnya. Pria itu menggeleng-geleng kepalanya, tanda pria itu tahu kebohongan gadis itu.
"Mungkin saat mereka berdua pacaran, Liana tidak akan mengganggumu lagi" sambung Onya.
"Dia sudah tidak berani menggangguku lagi" ucap Frans.
"Eh, kalau begitu anggap saja kita..."
"Jangan banyak alasan, Onya. Mau kamu cari alasan A sampai Z, aku tidak peduli dengan urusan orang lain" ucap Frans sontak membungkam mulut Onya.
"Frans...!" seru Onya dengan geram karena tidak berhasil merayu pria itu untuk mendapatkan nomor ponsel temannya.
"Bilang saja kau ingin ikut" ucap Frans terkekeh sambil geleng-geleng kepala. "Kalau aku bilang tidak, jangan berani membantah, Onya. Selama ini aku sudah cukup sabar dan tidak memberimu hukuman lagi, kali ini tidak lagi" sambungnya sambil tersenyum miring.
Sesampainya mereka di apartemen, Onya masuk kedalam kamar sambil membanting pintu cukup keras. Frans yang dibelakangnya tersentak. Jika saja melebihi satu langkah, mungkin kepala pria itu akan terkena hantaman pintu.
Frans membuka pintu kamar dan menutupnya kembali. Ia melihat Onya yang tengkurap, pertanda gadis itu sedang marah padanya. Acuh tak acuh, Frans segera bersih-bersih diri. Setelah itu ia mengenakan pakaian santainya karena pesta yang di adakan Nick hanyalah pesta santai bagi anak-anak mudah.
"Bukannya kau bilang kalau aku boleh bermain dengan wanita lain di luar sana?" balas Frans.
"Kalau begitu, jangan harap aku mau tidur denganmu lagi. Bila perlu hari ini aku akan tidur di rumah orangtua-ku" ucap Onya dengan emosi. Ia marah bukan karena tuduhannya yang dibenarkan oleh pria itu sendiri. Ia marah karena tidak diizinkan ikut berpesta.
"Kau cemburu?" tanya Frans hendak memegang lengannya namun dengan cepat ditepis oleh gadis itu.
"Tentu saja tidak. Aku hanya ingin ikut berpesta denganmu. Kau saja bisa bebas berkeliaran, kenapa aku tidak?" teriak gadis itu tepat didepan wajah Frans. Hembusan nafas bahkan serpihan air liurnya mengenai wajah Frans, namun dengan santainya pria itu menikmatinya.
"Tenang, ucapan-ku tadi hanya bercanda. Aku tidak akan pernah bermain dengan wanita lain dibelakang-mu" ucap Frans yang masih salah mengartikan emosi gadis itu.
Sejenak Frans dan Onya saling bertatapan. Frans tersenyum melihat wajah galak gadis itu. Dengan cepat Frans mengecup bibir mungil itu dan berkata "Sebaiknya kamu tidak ikut".
"Frans...!" teriak Onya.
Setelah Frans pergi meninggalkan Onya di apartemen, tentu saja gadis itu tidak tinggal diam. Ia langsung menghubungi Liana untuk menemaninya ke rumah besar Eisten.
Sangat beruntung Liana punya motor. Mengetahui itu, Onya pun meminta gadis itu membawa motornya. Saat tiba di parkiran gedung apartemen Frans, Onya langsung menghampiri gadis itu.
"Kau tidak apa-apa naik motor di malam hari?" tanya Liana.
"Kenapa tidak? Aku sudah bosan naik motor dengan mantanku dulu jadi kau tenang saja" jawab Onya sambil mengenakan helm, kemudian naik keatas motor.
"Liana, malam ini kau temani aku ke pesta ya?" ucap Onya ditengah perjalanan mereka.
"Dimana? Pesta apa?" tanya Liana setengah berteriak.
"Di rumah temannya Frans. Cuma pesta biasa buat anak-anak mudah" jawab Onya.
Sesampainya mereka di rumah besar Eisten, Onya menuruni motor dan hendak masuk kedalam sana. Sebelumnya ia berpamitan pada Liana demikian "Kau tunggu di sini. Aku tidak lama kok".
Kini Onya telah masuk ke rumah besar itu. Ia di sambut beberapa pelayan, dan tentu saja mengejutkan Tuan dan Nyonya Eisten, juga Lusi yang sedang makan malam.
"Onya datang dengan siapa, sayang? Frans mana?" tanya Nyonya Eisten menghampiri gadis itu.
"Onya sama teman, ma. Frans lagi ada urusan" jawab Onya.
"Ayo kita makan dulu" ucap Nyonya Eisten hendak menarik Onya ke tempat makan.
"Maaf, ma. Sepertinya Onya buru-buru" tolak Onya. Mungkin terdengar tidak sopan, tapi Nyonya Eisten menganggap wajar jika yang bertingkah didepannya itu adalah Onya. Karena sedari dulu wanita itu ikut memanjakan gadis itu.
"Perjalanannya pasti jauh, sayang" ucap Nyonya Eisten. "Lalu ada apa? Kenapa malam-malam begini datang ke sini?" tanya wanita itu dengan lembut.
"Onya sedang perlu dengan kak Lusi" ucap Onya membuat pemilik nama menoleh.
"Aku? Kenapa?" tanya Lusi.
"Ada yang ingin Onya bicarakan. Cepat-cepat saja kok, kak" ucap Onya.
Dan kalian tahu, apa tujuan Onya datang menemui Lusi? Tentu saja meminta nomor ponsel Nick. Sayangnya Lusi tidak punya. Namun untungnya, wanita itu tahu lokasi rumahnya Nick.
EPISODE berikutnya menyusul...