
Keesokan harinya, setelah Frans mengantar Onya ke kampus, pria itu hendak kembali ke apartemennya. Namun dalam perjalanan pulang, Nyonya Eisten menghubunginya lewat panggilan telepon. Entah apa yang ingin wanita itu bicarakan padanya, sehingga ia meminta anak laki-lakinya itu untuk berkunjung ke rumah besar mereka.
Kata Nyonya Eisten sih "Frans, datanglah ke rumah besar. Ada yang ingin mama bicarakan denganmu".
Frans pun menurut. Kebetulan ia memiliki waktu luang hari ini. Akan sangat membosankan berada di apartemen seorang diri.
Sesampainya ia di rumah besar, Frans begitu terkejut dan bertanya-tanya. Pasalnya, rumah besarnya begitu ramai. Ada Lusi dan kedua orangtuanya. Tidak lupa dengan kedua orangtua Onya, Tuan dan Nyonya Wiranta ikut hadir di sana.
Siang-siang bolong begini mereka berkumpul. Mereka yang terkenal sibuk, seperti Tuan dan Nyonya Wiranta tidak mungkin datang jika alasan pertemuan itu menyangkut upacara dan perayaan pernikahan Lusi dan Franky saja. Mereka tidak mungkin membuang-buang waktu dengan pertemuan yang tidak ada sangkut pautnya dengan mereka.
Kini Frans sudah memasuki rumah besar itu. Ia di sambut dengan senyuman oleh para orangtua di sana. Sayangnya yang ia lihat dari Lusi, wanita itu malah terlihat tidak bahagia. Ia hanya duduk melamun sambil sesekali memaksakan senyuman kala berbicara dengan kedua orangtua Onya.
Frans pun mengarahkan pandangannya ke lantai atas. Ia melihat kakak laki-lakinya mulai turun dari atas sana dengan pakaian yang begitu rapih dari yang lainnya.
"Frans, ayo ke sini. Ada yang ingin mama bicarakan" ucap Nyonya Eisten menyadarkan pria itu dari keterdiamannya.
Begitu Frans sampai di dekat ibunya yang sedari tadi terfokus olehnya, mereka lantas menduduki sofa di ruang tamu itu. Namun ketika Nyonya Eisten melihat Franky yang hendak keluar rumah, wanita itu langsung mengabaikan Frans, dan berdiri untuk mengikuti anak laki-lakinya yang satu itu lagi.
"Franky, mau kemana kamu?" tanya Nyonya Eisten membuat langkah kaki Franky terhenti.
"Ada urusan" jawabnya dengan datar, tanpa berniat membalikkan tubuhnya agar bisa berhadapan dengan lawan bicara.
"Urusan apa? Sebentar lagi kita akan membicarakan pernikahan kamu dengan Lusi. Jadi jangan kemana-mana lagi" ucap Nyonya Eisten sambil berjalan ke depan, dan berhenti tepat dan berhadapan dengan anak laki-lakinya itu.
"Kalian saja yang urus, aku ikut saja. Hari ini aku ada urusan yang lebih penting" ucapan Franky yang terdengar kurang ajar membuat Nyonya Eisten hampir terselimut emosi lagi.
"Bicara dengan orangtua baik-baik. Jangan kurang ajar kamu, ya! Aku ini mama kamu" ucap Nyonya Eisten dengan nada tegas, terkesan seperti membentak. "Ayo masuk, jangan kemana-mana lagi. Sudah dari kemarin mama bilang kalau hari ini kamu harus ada di rumah, dan tidak boleh sibuk di luar. Dan urusan perusahaan, mama sudah minta sekretaris kamu untuk mengurusnya. Jadi jangan ada alasan" sambungnya, kemudian melangkah masuk untuk kembali.
Sementara Franky yang ditinggal langsung menarik nafasnya dengan berat, kemudian menghembuskannya dengan kasar. Kakinya seolah-olah sedang menopang benda berat. Rasanya malas untuk masuk kedalam sana. Namun melihat ponselnya lagi membuat ia lupa dengan ancaman sang ibu. Franky lantas bergegas dari tempatnya, dan meninggalkan rumah besar itu.
Sementara didalam rumah, semua orang sudah berkumpul. Hanya Franky dan Onya yang tidak ada didalam sana. Onya tidak menjadi masalah, karena mereka semua sudah tahu kalau gadis itu sedang kuliah. Sementara Franky yang tadinya diperintahkan masuk oleh Nyonya Eisten masih belum muncul. Sepertinya mereka semua hanya sedang menunggu pria itu.
"Franky dimana, ma?" tanya Tuan Eisten pada istrinya.
"Tadi mama sudah suruh dia masuk" jawabnya sambil berbisik pada suaminya. "Tunggu aku panggil Franky dulu" sambungnya pada mereka semua yang ada di sana.
"Ma, sepertinya Franky sudah pergi. Tadi di kamar, ia minta Lusi untuk mengurus semuanya" ucap Lusi sambil tersenyum tipis.
Semua orang mendengar ucapan wanita itu, tak terkecuali dengan Frans. Sambil menatap datar ke arah depannya, pria itu hanya manggut-manggut mendengarnya. Saat suara Lusi sudah tak terdengar, entah dorongan darimana membuat Frans langsung mengalihkan pandangannya yang bersamaan dengan Lusi, wanita itu ikut menoleh ke arahnya. Dan terjadilah aksi kontak mata. Frans mengernyit menatap wanita itu, hingga membuat Lusi menjadi salah tingkah. Wanita itu lantas memutuskan kontak mata mereka, di susul oleh Frans yang kembali menatap ke arah depannya.
"Kenapa dia salah tingkah begitu?" gumam Frans sambil tersenyum dan geleng-geleng kepala. Lusi yang kembali menoleh ke arahnya pun menyaksikan itu. Dan membuat ia semakin salah tingkah.
"Ada apa Lusi?" ibunya Lusi yang berada di sampingnya langsung bertanya, karena sedari tadi ia memperhatikan gerak-gerik anak perempuannya itu. Sayangnya ia tidak tahu kalau anak perempuannya menjadi salah tingkah karena keberadaan Frans.
"Ti-tidak, ma" jawab Lusi dengan gugup, suaranya terdengar gagap.
"Oke, kalau begitu kita mulai saja" ucap Nyonya Eisten memecah keheningan yang baru saja melanda beberapa keluarga itu. "Hari ini, mama suruh kamu, Frans, untuk bergabung di pertemuan ini karena pertemuan ini bukan hanya membicarakan pernikahan Franky dan Lusi, tapi kamu dan Onya juga" sambungnya dengan tenang.
Mendengar itu tidak membuat Frans kaget. Seperti itulah yang ia duga sedari tadi.
"Jadi, rencananya ucapara pernikahan dan resepsi kalian akan dilakukan bersamaan" tutur Nyonya Eisten lagi.
"Bukankah terlalu cepat, ma?" tanya Frans. Ia tidak mau ambil resiko jika pernikahan mereka diadakan secepat ini. Pasalnya, ia dan Onya masih kuliah.
"Tidak juga. Mama dan mamanya Onya sudah bicarakan hal ini. Kebetulan belum pernah ada dua pasangan yang menggelar upacara pernikahan dan resepsi berbarengan di keluarga kita, jadi mungkin akan sangat meriah jika dirayakan seperti ini" ucap Nyonya Eisten dengan yakin.
Sejenak Frans menghembuskan nafasnya dengan perlahan. "Tapi sebaiknya kita bicarakan dengan Onya dulu. Takutnya dia tidak setuju untuk menikah secepat ini" ucap Frans.
Walau selama ini Frans telah meyakinkan Onya kalau ia benar-benar cemburu dengan hubungan Lusi dan Franky, dan alasan itu bisa ia jadikan untuk merayu Onya agar segera menikah dengannya, namun Frans belum yakin alasan itu dapat meluluhkan Onya. Dan ia tidak mau ambil resiko, hingga dapat merusak hubungan mereka.
"Nanti Tante yang bicara dengan dia" ucap Nyonya Wiranta, yang sedari tadi diam akhirnya buka suara.
Frans terkekeh kecil. "Frans hanya takut dia marah sama Frans, tante. Sebaiknya Tante bicara baik-baik dengan Onya" ucap Frans dengan tenang. Ia tidak mau wanita itu tersinggung. Tapi yang ia katakan benar adanya. Ia juga kurang yakin jika Nyonya Wiranta bisa membuat hubungannya dengan Onya berjalan damai nantinya.
"Tenang, ada papanya yang bisa bicara mungkin. Yang penting kamu dulu, apa kamu setuju?" tanya Nyonya Eisten. Sepertinya wanita itu paham dengan arah pembicaraan Frans.
Frans ragu menjawab dengan kata-kata. Ia hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan pelan.
Note: Halo teman-teman, maaf ya baru bisa tulis. Ternyata mata author lagi sakit. Mungkin kebanyakan main handphone.