A POSSESSIVE BESTIE

A POSSESSIVE BESTIE
BONUS 6



Perjalanan menuju puncak membutuhkan setengah jam lamanya.


Jika saja Liona tidak ada didalam mobil itu, mungkin mereka semua akan mati dalam keheningan.


"Namamu siapa?" Tanya Onya tiba-tiba membuka obrolan. Sedari tadi Onya menanti wanita itu bicara, tapi sepertinya ia wanita yang pendiam.


"Lisa, Nyonya" ucap wanita itu.


Onya mengernyit keningnya karena tidak suka.


"Tidak usah panggil Nyonya. Atau... Liana belum memberitahumu tentang aku?" Tanya Onya sambil menatap intens wajah cantik wanita disebelahnya itu.


"Belum, Nyonya"


Onya mengeluarkan nafasnya dengan pelan. "Panggil saja Onya. Aku bukan hanya membutuhkan kamu sebagai nanny, tapi juga sebagai teman" ucapnya.


Onya melihat wanita itu tersenyum manis padanya.


"Iya kak Onya" jawab wanita itu.


"Umurmu berapa?" Tanya Onya lagi.


"29 tahun, kak" jawaban wanita itu hampir membuat mulut Onya terbuka lebar.


Untungnya dengan cepat Onya mengendalikan dirinya. Wanita itu hanya manggut-manggut sambil membentuk mulutnya seakan sedang berucap "oh...".


"Artinya kamu lebih tua dari aku, jadi panggil aku Onya saja, karena aku yang pantas memanggil kamu 'kakak'" ucap Onya.


"Ternyata kamu awet juga" sambungnya dengan santai.


"Sebelumnya kamu sudah punya anak?" Tanya Onya. Seketika wanita itu terlihat gusar. Onya seakan paham dengan respon wanita itu.


"Tidak apa kalau tidak mau menjawab" ucap Onya kemudian.


"Tapi sebelumnya kamu sudah punya pengalaman menjaga anak, kan?" Tanya Onya lagi. Entah kenapa dia jadi banyak bicara sekarang.


"Sudah" jawab wanita itu.


"Semoga kamu bisa merawat kedua anakku nanti" ucap Onya dengan lirih.


"Tentu saja" ucap wanita bernama Lisa itu dengan menaikan sudut bibirnya.


"Onya" Onya yang disebut namanya seketika menoleh ke arah Lisa dan tersenyum tipis.


...*...


Tengah malam Frans menyusul istrinya ke rumah baru mereka. Pria itu begitu lelah karena kerja seharian di kantor.


"Selamat datang, tuan" seorang pelayan menyambut kedatangannya.


"Istriku sudah tidur?" Tanya Frans sambil menarik dasinya dengan asal.


"Sudah, tuan. Nyonya tidur di kamar utama" ucap pelayan itu.


Karena pelayan perempuan itu cukup umur membuat Frans sedikit hormat padanya. Pria itu menanggapi ucapannya dengan anggukan kepala lalu berlalu begitu saja.


Beberapa menit lalu di kamar utama, Onya yang sudah hampir terbawa alam mimpi malah diganggu oleh suara ketukan pintu. Wanita itu kembali bangun dan membukakan pintu kamarnya.


"Maaf Nyonya, adik terbangun dan menangis" ternyata Lisa, wanita yang bekerja sebagai nanny itu yang mengganggu tidurnya.


Onya menghela nafasnya sejenak.


"Lalu Io?" Tanya Onya.


"Sudah, Nyonya" ucap wanita itu.


"Aku malah pusing karena kamu terus memanggilku seperti itu. Sudah kubilang, panggil saja Onya" ucap Onya dengan jengah.


"Iya, Onya. Sepertinya adik membutuhkan ASI" ucap Lisa.


Lisa lantas membantu Onya untuk memompa ASI nya kedalam botol susu. Karena mulai saat ini ia tidak mau membiasakan anak laki-lakinya minum susu langsung dari sumbernya.


Setelah selesai, Lisa hendak keluar kamar utama itu.


"Kalau mau keluar, jangan lupa matikan lampunya ya, Lisa" ucap Onya.


"Iya, Onya"


Untungnya Lisa tidak langsung melangkah, jadi dia tidak langsung menubruk tubuh besar itu. Sayangnya botol susu yang ia pegang menabrak perut pria itu membuat cairan putih itu sedikit tumpah dan mengenai kemeja pria itu.


"Siapa kamu?" Tanya Frans dengan nada tidak suka. Ya pria itu adalah Frans.


Karena lampu kamarnya sudah padam, Frans tidak bisa melihat wajah wanita itu dengan jelas. Namun ia bisa mengetahui wanita itu bukan istrinya dari bau parfumnya.


"Maaf, Tuan. Saya Lisa, nanny di sini" ucap wanita itu.


"Kenapa masih berdiri disitu? Saya mau masuk" ucap Frans sontak membuat Lisa terkejut dan bergeser ke kiri.


Setelah Frans masuk kedalam kamar, wanita itu langsung bergegas keluar. Jantungnya serasa mau copot. Begitu terpanah dan deg-degan melihat tubuh sekeren itu digelap gulita.


Setelah memastikan nanny itu pergi, Frans kemudian mengunci pintu kamarnya. Dia berjalan mendekati tempat tidur sambil membuka semua pakaiannya hingga menyisakan boxer saja. Lalu pria itu masuk kedalam selimut dan tidur memeluk istrinya.


Keesokan paginya, Onya terbangun. Wanita itu merasa tidak nyaman karena tubuhnya terasa berat.


"Frans?" Ucap Onya sambil mengangkat tangan pria itu dari pinggangnya.


"Frans, jam berapa sekarang?" Tanya Onya dengan malas.


Frans membuka kedua matanya seraya tersenyum. "Tidak tahu, sayang" jawab pria itu.


Tidak sampai dua detik, Frans bangkit dengan semangat. Bukannya bangkit dari tempat tidur, pria itu justru mendekatkan dirinya pada sang istri dan mencium wajah wanita itu bertubi-tubi.


"Frans! Frans, gila kamu!" Ucap Onya sambil mendorong-dorong Frans.


"Aku baru melahirkan, bisa mati sesak nafas aku" ucap Onya membuat Frans berhenti.


Posisi keduanya begitu intim. Apalagi melihat pakaian tidur Onya yang tipis dan seksi, dan Frans yang hanya memakai boxer membuat keduanya sama-sama terpancing saat menyadari posisi mereka sekarang.


Frans meremas pinggang Onya dengan lembut membuat wanita itu mendesah tertahan. Lalu pria itu mengambil satu tangan Onya untuk menyentuh kepemilikannya.


Baru saja Frans mencium bibir wanita itu, Onya malah menghentikan aksinya.


"Aku baru melahirkan" ucap Onya.


"Tapi kata dokter, tidak masalah kalau kita mau melakukan sekarang" ucap Frans seakan menyela ucapan Onya barusan.


"Tapi perutku masih keriput" ucap Onya kemudian.


Frans sontak tertawa terbahak-bahak. "Kamu malu, Onya?" Tanya pria itu.


Onya cemberut menatapnya. "Tidak usah buka penutup perutnya" ucap Frans seraya menyibak gaun tidur wanita itu keatas perutnya.


Frans membuka dalaman wanita itu sambil memeluknya. Lalu boxer nya membebaskan kepemilikannya yang tiba-tiba menyentuh area paha Onya.


"Peluk pinggangku, sayang" titah Frans sambil membawa satu tangan Onya ke pinggang polosnya.


Ketika berhasil masuk, tiba-tiba seseorang mengetok pintu dari luar.


"Eh, adik belum minum susu, Frans" ucap Onya langsung mendorong pria itu dari atas tubuhnya.


Frans kalah telak. Belum sempat ia menerkam wanita itu lagi, Onya dengan cepat sudah berdiri dari atas tempat tidur.


Frans pun ikut berdiri dan membanting selimutnya dengan kesal. Bukan kesal dengan istrinya, tapi orang yang mengganggu mereka itu.


"Aku pun belum minum dan makan" ucap Frans sambil memperbaiki boxer nya.


Saat Onya membuka pintu kamarnya, Frans pun ikut menoleh. Pria itu mengernyit melihat wanita muda yang cantik dan segar didepan pintu kamar mereka.


"Adik sudah bangun, Lis?" tanya Onya.


"Sudah, Nyonya. Eh... Onya" ucap Lisa dengan gugup karena dari sudut matanya ia bisa melihat seorang pria yang sepertinya sedang menatapnya juga.


"Lalu?" tanya Onya membuat Lisa tersadar memikirkan sesuatu.


"Sepertinya adik butuh ASI" ucap Lisa.


"Yang semalam sudah habis?" tanya Onya.


"Iya"


"Dia siapa?" tanya Frans tiba-tiba mendekati keduanya. Sekarang pria itu sudah menggunakan celana panjang, walau tubuh atasnya masih telanjang.


"Nanny yang aku bilang kemarin" ucap Onya.