
Satu bulan telah berlalu, namun pencarian Franky masih belum mendapatkan titik terangnya. Rasanya ia ingin menyebarkan foto kekasih masa lalunya keseluruhan penjuru dunia. Namun akal sehatnya masih bekerja, dimana ia takut jika kekasih masa lalunya itu akan semakin menjauh.
Sementara hubungannya dengan Lusi semakin tidak jelas. Jika Franky sudah melupakan wanita itu, maka berbeda dengan Lusi yang terus berupaya untuk menghubungi pria itu.
Kini Lusi sedang berada di kampus. Entah apa yang akan ia lakukan, yang pasti ia sedang menunggu seseorang didepan ruang kelas.
Tiba dimana seisi kelas bubar karena proses pembelajaran telah selesai, Lusi langsung bergegas masuk kedalam sana.
"Frans" panggil wanita itu membuat pemilik nama langsung menoleh ke arahnya.
Ketika tahu jika yang memanggilnya adalah mantan kekasihnya, Frans langsung menatapnya dengan ekspresi kening yang dibuat berkerut.
Lusi datang menghampiri pria itu dan berkata "Aku ingin membicarakan sesuatu yang penting denganmu".
"Katakan saja" ucap Frans yang terdengar dan terlihat datar.
"Sebaiknya kita bicarakan ini di tempat lain, Frans" ajak Lusi.
Seperti ajakan Lusi, Frans pun menyetujuinya. Keduanya bergegas keluar dari kelas menuju sebuah Caffe didekat kampus tersebut.
Tanpa sepengetahuan Frans dan Lusi yang terlihat berjalan berdampingan, ternyata keduanya tidak luput dari penglihatan Onya. Sebenarnya Frans menerima ajakan Lusi karena ia tahu kalau hari ini, Onya memiliki waktu yang lama di kelas. Daripada menunggu tanpa ada kerjaan lain, jadi ia memilih untuk berbincang sedikit dengan mantan kekasihnya itu.
Sementara Onya yang sempat berpindah kelas, tidak sengaja melihat sepasang mantan kekasih itu jalan bersama. Tidak ada niat untuk menyapa keduanya karena Onya merasa tidak peduli dengan itu. Jadi Onya berlalu begitu saja menuju kelasnya dengan mengacuhkan Frans dan Lusi yang sudah memasuki sebuah Caffe.
Kini Frans dan Lusi sudah duduk berhadapan dengan secangkir coffie untuk menemani keduanya.
"Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Frans.
Lusi menarik nafasnya untuk meyakinkan dirinya berbicara. "Ini tentang hubunganku dengan Franky, kakakmu" ucap Lusi tanpa menatap wajah Frans. Dimana ia tidak sadar kalau pria itu sedang menatapnya dengan menyunggingkan senyuman miringnya.
"Sebenarnya aku dan Franky sudah berkencan buta semenjak..." Lusi menjeda ucapannya ketika sadar kalau ia mulai salah arah dalam berbicara. "Maksudku kami sudah berkencan" bahkan ia hanya mampu memperbaiki kalimatnya tanpa meluruskan kata terakhir yang sempat tertunda tadi.
"Dan aku sedang hamil anaknya, Frans" Frans sontak terkejut mendengar ucapan wanita itu. Bahkan ia hampir tersedak minuman yang sedang ia seruput.
"Apa? Bagaimana..." ucapan Frans terpotong oleh Lusi.
"Dengarkan aku dulu, mohon jangan dipotong" ucap Lusi dengan tegas. "Aku tidak mungkin menjelaskan secara detil padamu. Yang pasti, aku membicarakan hal ini dengan maksud meminta bantuan darimu. Franky, sebulan ini ia sangat susah dihubungi. Dan aku ingin ia tahu kalau aku sedang mengandung anaknya, dan aku ingin ia segera bertanggungjawab" ucap Lusi panjang lebar. Ia bahkan tidak mampu menatap wajah Frans yang sebenarnya masih belum terhapus dalam hatinya.
Frans yang mendengarnya hanya bisa mendesah pelan. Ia bahkan tidak tahu cara merespon ucapan wanita itu.
"Aku tidak tahu, bahkan tidak yakin dengan itu" ucap Frans dengan asal.
"Maksud kamu bagaimana? Kamu tidak yakin kalau anak yang aku kandung ini adalah anak dari kakakmu itu? Kalau kamu tidak percaya, silahkan tanyakan langsung padanya. Bila perlu suruh dia tanggungjawab" ucap Lusi dengan geram. Jika saja dia tidak bisa mengendalikan diri, mungkin dia akan berteriak disekitar pengunjung di sana.
"Kenapa kamu membahasnya denganku? Aku bahkan tidak tahu harus berbuat apa" ucap Frans.
"Aku hanya ingin kamu memberitahukan hal ini pada Franky. That's it, itu saja" ucap Lusi.
...*...
Beberapa jam kemudian, Onya sudah selesai kelas. Gadis itu kemudian mencari keberadaan Frans di Caffe yang tadi ia melihat pria itu masuk kedalam sana. Namun sepertinya Frans sudah tidak berada didalam sana.
Onya kemudian menelepon pria itu, dan akhirnya diangkat. "Onya, aku lupa menunggumu. Tunggu aku akan menjemputmu" ucap Frans disebrang sana.
Belum sempat Onya membalas ucapannya, pria itu sudah mengakhiri panggilannya.
Beberapa menit lamanya menunggu barulah Frans tiba di kampus. Mengingat isi pesan yang dikirim Onya kalau gadis itu sedang berada di Caffe, tempat dimana Frans dan Lusi bertemu tadi, jadi Frans langsung bergegas ke sana menemuinya.
Frans melihat Onya sedang sibuk dengan buku, dimana ia ditemani segelas minuman. Dia pun mendekat dan menyahuti Onya dari dekat. "Hei! Sorry tadi aku lagi ada urusan mendadak" ucap Frans sembari duduk didepan Onya.
"Sudah belasan menit aku tunggu. Memangnya ada urusan apa sampai selama itu kamu buat aku menunggu?" selidik Onya dengan sinis. Mungkin kalian akan menilainya kalau dia sedang cemburu, namun ternyata tidak. Dia hanya kesal untuk menunggu Frans terlalu lama. Walau memang dia tahu kalau urusan yang Frans maksud menyangkut Lusi, namun sepertinya Onya ingin mengetes apakah Frans akan jujur atau tidak padanya.
"Sebaiknya kita balik, soalnya aku ada urusan lainnya" bukannya menjawab, Frans malah mengabaikan pertanyaan Onya tersebut. Bukan karena tidak ingin jujur, melainkan sulit untuk dijelaskan. Jika Frans menjelaskannya sekarang, mungkin Onya akan berpikir yang tidak-tidak. Begitulah yang terpikirkan oleh Frans hingga ia memilih untuk tidak menjawab pertanyaan gadis itu.
Akan tetapi, niat Frans yang tidak ingin Onya berprasangka buruk padanya ternyata tidak terwujud. Onya malah berpikiran negatif tentang pertemuan Frans dan Lusi tadi. Apalagi mengetahui Frans meninggalkan kampus, dimana Onya berpikir bahwa kedua orang itu pasti sedang bermain dibelakang Franky.
"Tadi aku lihat kamu sama kak Lusi itu masuk ke Caffe ini tadi" dengan santainya Onya memberitahu hal itu pada Frans. Sementara Frans yang niatnya meraih gelas minuman Onya langsung kembali menatap gadis itu dengan ekspresi terkejut. "Kalian bermain dibelakang kak Franky, Frans?" tanya Onya kemudian.
"Tentu saja tidak" elak Frans dengan spontan. Ekspresi terkejutnya tadi pun kembali biasa-biasa saja. Frans meraih gelas minuman Onya dan meminumnya.
"Hei, itu punyaku. Pesan saja sendiri" ucap Onya dengan kesal sambil mengambil gelas minumannya dari tangan Frans.
Frans tidak mempermasalahkan protes Onya tersebut, karena dia sudah meminumnya sedikit untuk menghilangkan dahaganya. "Tadi Lusi mencari-ku di kelas, dan mengajakku bicara. Dan kau tahu, hal apa yang dia sampaikan padaku?" ucap Frans sembari menanyakan hal yang ingin ia jawab sendiri.
"Tidak tahu, dan tidak ingin tahu" jawab Onya dengan acuh tak acuh.
"Walaupun kamu tidak mau tahu, tapi ini menyangkut perasaanku dengan perjodohan kita"