
Tuntutan dari orangtuanya membuat Franky sulit mengambil keputusan. Dia sangat menghormati kedua orangtuanya, dan sangat menyayangi adik laki-lakinya. Tanpa bertanya pada Frans, dia sudah tahu kalau adiknya itu sangat ingin menikahi Onya.
Namun, Franky masih bimbang untuk melanjutkan hubungannya dengan Lusi. Apalagi soal kesiapan untuk berumah tangga, dia tidak bisa gegabah dalam mengambil keputusan, karena Franky masih mengharapkan seorang wanita di masa lalunya.
Malam itu Franky berniat bicara dengan ibunya. Dia menemui sang ibu dihalaman belakang. Ibu dan ayahnya sering berbincang di luar sembari menatap langit malam.
"Ma, Pa, Franky ingin bicara dengan mama" ucap pria itu.
"Dengan mama saja?" tanya Tuan Eisten dan dijawab oleh anaknya dengan anggukan kepala. Pasalnya, Franky tidak nyaman berbincang dengan ayahnya soal hubungan percintaan. Walaupun ibunya terkadang egois, namun Franky tetap merasa nyaman untuk curhat dengan wanita itu.
Sepeninggalan ayahnya, sang ibu beralih menatapnya "Mau bicara apa, sayang?" tanyanya.
"Ini, ma. Franky ingin mama pertimbangkan lagi soal tawaran mama dan papa. Franky gak yakin bisa menikah lebih dulu dari Frans" ucapnya sambil menunduk. Dia tahu akan sangat susah untuk berkompromi dengan ibunya itu. Jika kalian bertanya, kenapa Franky tidak coba kepada ayahnya saja? Jawabannya sederhana, Tuan Eisten itu budak cinta istrinya, jadi keputusan selalu ada ditangan sang istri.
Maafkan mama yang egois, sayang, tapi hanya dengan begini kamu bisa melupakan masa lalu kamu, dalam hati Nyonya Wiranta berkata seperti itu.
"Kamu tahukan, mama tidak bisa diajak berkompromi?" ucapan wanita itu membuat Franky memelas.
"Mama hanya ingin kamu lepas lajang dari usiamu saat ini. Mama gak mau kamu terus terbayang masa lalu dan tidak menikah sampai usia kamu berkepala tiga" tutur mama lagi-lagi membuat Franky pasrah.
"Franky hanya gak mau menyakiti istri Franky nanti" ucap Franky yang berusaha mengubah keputusan sang ibu.
"Mama yakin, kamu bisa terbebas dari bayang masa lalu kamu sewaktu menikah nanti" sama-sama tidak mau mengalah, Nyonya Eisten lebih terkenal egois dari anak-anaknya.
"Kenapa mama gak bisa mengerti sih?" gumam Franky, namun masih terdengar jelas diperdengarkan ibunya.
"Kalau itu kemauan kamu, terserah, mama gak peduli lagi" ucap Nyonya Eisten diakhir perbincangan mereka. Wanita itu memilih masuk kedalam rumah untuk menemui suaminya, daripada berdebat dengan anaknya itu.
Sejenak Franky merenung masa depannya. Dia juga memiliki keinginan untuk menikah, karena dia ingin segera memiliki anak. Pria itu sangat suka dengan anak-anak. Namun di satu sisi, dia takut tidak bisa mengontrol diri dan menyakiti istrinya saat mantan kekasihnya kembali. Karena sampai saat ini, wajah wanita itu dia gunakan sebagai fantasinya dalam menuntaskan hasrat kelaki-lakiannya.
...*...
Hari dimana Lusi disibukan dengan tugas akhir jenjang magisternya. Bersama dua sahabat kupu-kupunya, mereka saling membantu satu sama lain. Namun bukan untuk berkerja sama dengan hasil yang sama, hanya saja, mereka bekerja sama untuk melihat kelemahan dan kelebihan dari pekerjaan masing-masing.
Diakhir perkejaan, mereka sering merumpih. Baik bercerita orang lain, maupun saling curhat tentang masalah mereka.
"Jadi, bagaimana Lusi?" tanya Olin membuat orang yang dimaksud mengernyit. "Katanya Franky sama Frans adik-kakak" tuturnya.
Lusi yang lagi menyeruput segelas minuman hanya mengangguk kepalanya.
"Cerita dong, gimana pertemuan kalian. Reaksinya gimana? Kaget? Cemburu?" tanya Olin lagi.
"Gak ada apa-apa, soalnya dia belum tahu hubunganku dengan Frans" jawab Lusi.
"Loh, kamu gak dikenalin sama keluarganya?" giliran Mena yang bertanya.
"Sempet mau dikenalin, tapi waktu itu aku merasa gak enak gitu. Jadi, ya, aku memilih untuk pulang dengan alasan sakit" dengan tenang Lusi menjawabnya.
Belum sempat Mena ingin bertanya kembali, tiba-tiba ponselnya Lusi berdering. Usai mengobrol dengan orang yang meneleponnya, wanita itu langsung berpamitan pada kedua sahabatnya untuk bergegas pergi.
Tadi itu, Franky yang menelepon Lusi. Dia membuat janji dengan Lusi untuk bertemu disebuah caffe yang sering mereka kunjungi.
"Hai!" sapa Lusi.
Sembari menggeleng kepalanya, Lusi bertanya "Memangnya kenapa?".
"Malam ini aku ingin mengajak kamu untuk pergi ke suatu tempat" jawab Franky. "Bagaimana?" tanyanya meminta persetujuan dari teman kencannya itu.
"Baiklah" jawab wanita itu.
"Aku akan menjemputmu malam ini" ujar Franky dan dibalas Lusi dengan anggukan kepala seraya tersenyum tipis.
...*...
Hari dimana Onya terbebas dari hukumannya. Dia bisa beraktivitas seperti biasa, bahkan bisa kembali berkuliah. Onya berencana untuk bertemu dengan Alka, namun pria itu malah memblokir nomornya.
Yang Onya tahu, jadwal kuliah kekasihnya itu selesai jam enam sore. Dengan penuh harapan bisa bertemu Alka, dia setia menunggu pria itu didepan kelasnya.
Berjam-jam Onya menunggu, bahkan kakinya sudah terasa pegal. Hingga terdengar suara berisik didalam sana, tanda bahwa kelas telah usai membuat Onya kembali bersemangat.
Satu persatu mahasiswa telah keluar dari ruangan itu. Dengan perasaan gugup Onya bertahan agar bisa bertemu dengan Alka. Namun yang datang menghampirinya malah seorang wanita.
"Onya?" tanya wanita itu, dia terlihat tidak bersahabat.
"Iya, apa ada Alka?" tanya Onya berharap teman sekelas kekasihnya memberitahunya.
"Lagi didalam, tapi sebaiknya kamu tidak menemui dia" ucap wanita itu sembari menghadang pintu masuk kelas.
"Kenapa?" tanya Onya sembari mengernyit keningnya.
"Katakan saja, apa yang ingin kamu sampaikan?" ucapnya.
"Itu urusanku dengannya, jadi biarkan aku masuk" ucap Onya dengan berusaha menyingkirkan tangan wanita itu agar bisa masuk kedalam sana. Makin lama Onya bertindak kasar, hingga akhirnya wanita itu mendorong Onya kemudian meninju wajahnya.
Onya berteriak kesakitan membuat orang yang berada di kelas tersebut keluar dari sana. Gadis itu mengeluarkan darah pada hidungnya. Bukannya membalas, dia malah takut karena pukulan wanita itu membuat hidungnya terasa sangat sakit.
"Itu belum seberapa dengan apa yang dirasakan oleh Alka. Sakit dan malunya itu..." ucapan wanita itu tertahan ketika Alka membentaknya.
"Apa yang kau lakukan?" hardiknya, langsung melepas tangan wanita itu dari jalannya pintu masuk.
Alka datang menghampiri Onya dan membantunya untuk berdiri. "Pak dosen, saya permisi sebentar" pamitnya pada dosennya.
Pria itu menggiring Onya untuk duduk didekat taman. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya sembari mengusap hidung gadis itu.
"Apa kau pikir aku baik-baik saja?" tanyanya dengan ketus membuat Alka mendesah pelan.
"Kamu ngapain di sana?" tanya Alka lagi.
"Mencari-mu" jawabnya sembari mengerucutkan bibirnya.
"Buat?" tanya Alka lagi.
"Ayo kita kencan malam ini" tanpa aba-aba, Onya malah melepas kain yang digenggam Alka dekat hidungnya. Dan dengan tidak tahu malunya, dia malah mengajak pria itu untuk berkencan.