
Hari ini, Tuan dan Nyonya Eisten berkunjung ke rumah sakit. Kemarin, mereka sudah sepakat dengan Tuan Bliss agar bertemu di sana.
Awalnya, Tuan dan Nyonya Eisten mendesak Franky untuk pergi bersama mereka ke rumah sakit. Namun pria itu meminta kedua orangtuanya pergi lebih awal. Katanya, ia akan ikut setelah menyelesaikan suatu masalah.
Kini Tuan dan Nyonya Eisten sudah berada di rumah sakit. Mereka sudah dikabari oleh Tuan Bliss mengenai letak kamar inap anak perempuannya. Ternyata, wanita itu masih terbaring lemah diatas tempat tidur. Kemarin ia ditahan oleh pihak rumah sakit. Ia pingsan pun karena kekurangan darah. Wanita itu banyak begadang untuk menyelesaikan skripsinya. Bukan hanya pencapaiannya karena telah lulus kuliah, tapi juga rugi karena tidak peduli dengan kesehatannya sendiri.
Tok... tok...
Nyonya Bliss yang sedang sibuk dengan ponselnya langsung bergegas dari tempat duduknya. Ia berjalan ke arah pintu masuk, dan membukanya. Di depan pintu, ia melihat Tuan dan Nyonya Eisten telah datang.
"Silahkan masuk" ucap Nyonya Bliss.
"Terimakasih, Nyonya Bliss" ucap Tuan Eisten sambil melenggang masuk kedalam sana.
Sementara Nyonya Eisten hanya mengangguk kepalanya sambil tersenyum pada Nyonya Bliss. Kemudian, ia mengarahkan pandangannya kedalam ruangan itu. Ia melihat seorang wanita yang sedang tertidur pulas.
Setelah mereka dipersilahkan duduk oleh Nyonya Bliss, mereka pun mulai mengobrol. "Bagaimana kondisinya?" tanya Nyonya Eisten sambil menatap cemas calon menantunya. Ya, begitulah anggapannya. Begitu percaya kalau wanita itu sedang mengandung cucunya. Bahkan tidak sabar untuk menikahkan anaknya dengan wanita itu.
"Kata dokter, kandungannya baik-baik saja. Namun kemarin ia sempat pingsan. Dan setelah melakukan tes darah, ternyata HB-nya rendah " jawab Nyonya Bliss, apa adanya.
Nyonya Eisten lantas menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia begitu terkejut mendengar kondisi calon menantunya itu. "Bagaimana bisa janinnya baik-baik saja? Sementara kondisinya sangat tidak baik?" ucap Nyonya Eisten. Ia begitu cemas, sekaligus prihatin terhadap kondisi Lusi.
Nyonya Bliss hanya mengedikkan bahunya. Ia pun tidak tahu menahu soal hal itu. "Bagaimana dengan Franky?" tanya Nyonya Bliss kemudian.
"Katanya dia harus menyelesaikan beberapa masalah. Entah masalah apa yang sedang menimpanya. Tapi ia janji akan segera berkunjung" ucap Nyonya Eisten.
"Bagaimana dengan Tuan Bliss?" tanya Tuan Eisten. Sedari tadi hanya menjadi pendengar, kini ia mulai bicara.
"Kami pun sedang ada masalah keluarga. Jadi suamiku harus pergi mengurusnya. Sebentar lagi dia akan segera datang" jawab Nyonya Bliss sambil tersenyum canggung. Ia begitu sensitif jika membicarakan masalah keluarga yang ia maksud itu.
"Oh begitu" ucap Nyonya Eisten sambil tersenyum tipis. Tidak ada niat untuk menanyakan masalah yang sedang dihadapi keluarga Bliss. Ia cukup sadar kalau mereka belum terikat hubungan lebih. Jadi akan sangat tidak sopan jika mereka membahas hal pribadi.
"Jadi, apa Tuan Bliss sudah mengurus tes DNA yang akan kita lakukan nanti?" tanya Tuan Eisten, karena tujuan mereka datang untuk segera melakukan tes DNA.
Mengingat Franky belum kunjung datang, akan lebih baik jika mereka segera siap-siap.
"Belum, Tuan Eisten" jawab Nyonya Bliss.
"Seharusnya kita sudah konsultasi dengan dokter. Mungkin lebih baik kalau saya segera mengurusnya" ucap Tuan Eisten. Ia sempat menanyakan persetujuan dari istrinya, juga Nyonya Bliss. Setelah mendapatkan persetujuan, barulah ia berpamitan.
Kini Nyonya Eisten dan Nyonya Bliss berduaan di ruang inapnya Lusi. Sementara Lusi masih terbaring di tempat tidur. Ia begitu nyenyak, hingga tak terganggu sedikitpun.
Sementara Nyonya Bliss hanya bisa mengangguk. Memang benar yang dikatakan oleh Nyonya Eisten.
"Apalagi sedang hamil mudah. Itu sangat tidak baik untuk kesehatannya" ucap Nyonya Eisten lagi. "Apa kau tahu, alasan kondisinya parah seperti ini?" tanyanya kemudian.
"Mungkin karena ia suka begadang. Selama mengurus skripsinya, ia jarang tidur malam" terang Nyonya Bliss membuat Nyonya Eisten geleng-geleng kepala.
Beberapa menit menunggu, Tuan Eisten pun kembali. Tidak sendiri, ia datang bersama seorang dokter. Tidak begitu sulit baginya, hanya sekali memencet ponselnya, apapun yang ia butuhkan akan segera terpenuhi. Begitu pun sekarang, dengan mudahnya Tuan Eisten memanggil dokter.
Setelah memasuki ruangan itu, Tuan Eisten langsung mengarahkan tangannya ke arah Lusi. "Dia sedang hamil mudah. Dan kami ingin segera melakukan tes DNA" ucap Tuan Eisten pada dokter.
Posisi mereka yang kini berada di samping tempat tidur Lusi menjadi perhatian Nyonya Eisten dan Nyonya Bliss. Kedua wanita yang sedari tadi berbincang hangat sambil duduk di sofa itu, kini ikut menghampiri Tuan Eisten dan dokter itu berada.
"Anak saya sebentar lagi akan datang. Mungkin anda bisa memeriksa kondisinya dulu" ucap Tuan Eisten lagi.
Setelah membiarkan dokter memeriksa keadaan Lusi, Tuan Eisten segera menghubungi anaknya. Ketika panggilan telponnya tersambung, Tuan Eisten lantas keluar dari ruangan itu.
"Franky, kamu dimana?" tanya Tuan Eisten.
"Dalam perjalanan, pa. Papa langsung kirim letak kamarnya saja. Franky akan segera ke sana" ucap Franky, disebrang sana. Dalam keadaan menyetir, ia menerima panggilan telepon dari ayahnya itu.
"Yeah, cepatlah" ucap Tuan Eisten, kemudian ia mengakhiri panggilan tersebut.
Seperti halnya Tuan Eisten, Franky ingin segera menyelesaikan masalahnya dengan Lusi. Walau sebenarnya Tuan Eisten ragu, tapi Franky benar-benar yakin kalau anak yang dikandung Lusi bukanlah anaknya. Entah apa yang ia pikirkan, ia begitu tidak yakin dengan wanita itu. Lebih tepatnya, semenjak ia menemukan jejak Mona. Kalau saja wanita itu masih tidak diketahui keberadaannya, mungkin Franky akan tetap berhubungan dengan Lusi, sampai di jenjang yang lebih serius. Pria itu benar-benar dibutakan oleh cinta masa lalunya.
Sambil menunggu pemeriksaan berlangsung, Tuan Eisten juga menunggu Franky didepan kamar inap Lusi. Walau didalam sana, mungkin dokter sudah selesai memeriksa Lusi. Namun ia juga belum kunjung keluar.
Beberapa menit menunggu, Tuan Eisten mendengar pintu berderit. Seseorang telah membuka pintu ruang inapnya Lusi. Ketika Tuan Eisten menoleh ke arah belakangnya, ia melihat istrinya. Disusul oleh Franky yang sudah tiba di sana.
"Papa!" panggil Franky sambil berlari kecil. Ia berhenti didepan ayah dan ibunya berada.
"Kita masuk sekarang, pa. Ada hal serius yang akan dijelaskan dokter didalam sana" ucap Nyonya Eisten. Wajahnya terlihat berkerut serius. Membuat Tuan Eisten dan Franky ikut mengernyit penasaran.
"Ayo" ucap Tuan Eisten sambil menarik tangan istrinya kedalam sana. Disusul oleh Franky yang awalnya mengintip kedalam sana. Entah kenapa, jantungnya berdetak tak normal. Ada harapan harus sesuai dengan kenyataan. Franky berharap, tes DNA nanti akan memuaskannya.
Didalam sana, Franky bisa melihat jelas wanita yang pernah ia tiduri itu. Lusi yang sedari tadi tidur nyenyak, kini sudah duduk diatas tempat tidurnya. Wajahnya terlihat pucat dan lusuh.
"Jadi, bagaiamana dokter?" tanya Tuan Eisten.
"Saya baru mendengar beberapa keluhan Nona Lusi. Dia menderita HB rendah. Sementara janinnya baru berusia satu bulan. Akan sangat membahayakan bila kita melakukan tes DNA sekarang. Jadi ada baiknya, jika kita menunggu kondisi Nona Lusi membaik, atau setidaknya setelah ia melahirkan nanti" ucap dokter.