
Hari menjelang sore.
Frans menghampiri istrinya yang sedari tadi duduk diatas pasir sambil berjemur.
Wanita itu terlihat menggigil.
Kejema Frans yang hanya setengah basa pun ia lepas dan menempelkannya pada tubuh wanita itu.
"Tetap saja dingin" ucap Onya sambil melepas kemeja itu dari tubuhnya.
Frans baru saja duduk disampingnya. Wanita itu berdiri dan membuka satu persatu bajunya.
"Kenapa dibuka, sayang? Pakai saja kemejanya nanti kamu kedinginan" ucap Frans sambil menatap wanita itu tanpa berkedip.
Pria itu mendesah sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya. Wanita itu membuka semua bajunya menyisakan pakaian dalam lalu menutup tubuh atasnya dengan kemeja pria itu.
Setelah itu Onya kembali duduk di samping Frans. Dan keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing sambil mengawasi Liona yang sedang bermain air dan pasir.
"Kita gak bawa pakaian ganti buat Io. Harusnya jangan izinin dia mandi. Kalau nantinya dia masuk angin atau sakit, nanti kamu yang tanggungjawab" ucap Onya yang masih kesal.
"Iya, sayang. Jangan marah-marah dong" ucap Frans.
Onya berdecih mendengar ucapan pria itu.
"Kenapa dulu kamu sangat menjaga aku, tapi giliran anak perempuan sendiri kamu malah manjain" cibirnya.
Frans yang sedang memperhatikan Liona langsung menoleh kearah Onya berada. Dia tersenyum mendengar ucapan wanita itu barusan.
Pria itu menyipak rambutnya yang basa kebelakang telinganya. Ia tersenyum sambil menatap kulit Onya yang basa.
"Frans? Aku lagi tanya" ucap Onya lagi. Ia menepis tangan pria itu, karena pria itu tak kunjung menjawab pertanyaannya.
"Tidak tahu" jawab Frans sambil mengedikkan bahunya dengan santai.
"Jawaban apa itu?" Ucap Onya dengan jengkel.
"Mungkin karena kamu dulunya nakal" ucap Frans.
"Cih, anakmu juga nakal" ucap Onya berdecak kesal.
Senyuman pria itu tak kunjung memudar. Justru ia terlihat semakin tersenyum, seakan ia sedang menahan tawa.
"Karena dari lahir dia sudah jadi milikku, milik kita berdua. Aku gak takut kehilangan dia karena aku dan dia punya hubungan darah yang sah, termasuk dimata hukum. Tidak ada yang bisa memisahkan kami. Dan tidak ada kata mantan anak dan mantan bapak didunia ini" ucap Frans sambil menatap lekat kedua mata Onya yang juga sedang menatapnya.
"Sementara kamu... Kamu hanya sahabat, gak ada status atau hubungan yang benar-benar mengikatmu denganku waktu itu. Jadi pasti ada ketakutan kalau kamu nantinya dimiliki pria lain. Kalau saja kamu menikah dengan pria lain, mungkin sekarang kita bisa disebut mantan sahabat" sambung Frans dengan tenang.
Onya menarik sudut mulutnya seakan ia tidak suka dengan jawaban pria itu. Lebih tepatnya tidak terima.
Namun yang dikatakan Frans tidak bisa disangkali. Semua orang hanya bisa berandai. Tapi tidak ada yang tahu akhir kisah persahabatan mereka jika mereka tidak bersatu dalam hubungan pernikahan seperti saat ini.
Untung pria yang awalnya berstatus sahabatnya itu sudah menjadi suaminya sekarang. Dan suaminya itu akan selamanya menjadi sahabatnya.
"Tapi sekarang aku tidak seperti dulu lagi" ucap Frans dengan percaya diri.
"Sama saja sampai sekarang" ucap Onya.
Frans hendak memeluk wanita itu dan menciumnya. Pria itu terlalu memuja wanita itu, hingga tak ada bosan-bosannya ia ingin mencium wanita itu.
Namun Liona yang sudah bosan pun menoleh ke arah ayah dan ibunya berada. Gadis kecil itu melihat ayahnya sudah memeluk sang ibu tanpa memperhatikan keberadaannya.
Onya yang masih mengawasi anaknya lantas terkekeh melihat ekspresi Liona padanya.
"Papa!" Panggil Liona sambil berlari ke arah orangtunya yang sedang bermesraan.
Frans yang baru saja mengecup wajah candunya itu langsung mendesah dengan berat.
"Dia sangat mengganggu" ucap Frans lalu melepas pelukannya dari sang istri.
"Sepertinya dia butuh adik supaya tidak jadi pengganggu kita lagi, sayang. Jadi malam ini kita harus kerja keras lagi" ucap Frans dengan gumaman kecil.
Pria itu memaksa senyumannya dan menyambut kedatangan bocah pengganggu itu.
Liona yang datang menghampiri kedua orangtuanya langsung duduk diatas pangkuan ayahnya.
"Liona mau punya adik gak?" Tanya Frans tiba-tiba.
Gadis kecil itu mengangguk penuh semangat. "Iya, Io mau punya adik" jawabnya.
"Kalau gitu nanti malam Liona harus tidur dengan nenek. Papa dan mama harus kerja keras buat bikinin adek untuk Liona" ucap Frans.
Sementara Onya hanya terkekeh mendengarnya.
"Oke, pa" ucap Liona.
Kini keluarga kecil itu telah kembali ke kediaman Eisten. Mereka sudah tinggal ditempat itu semenjak Liona lahir.
Sebenarnya mereka sudah punya rumah sendiri. Namun jarak rumah mereka terlalu jauh dari kantornya Frans. Jadinya mereka memutuskan untuk tetap menetap di sana sampai... Entah sampai kapan.
Lalu bagaimana dengan Franky? Pria itu bersama istrinya kadang menginap di sana juga. Tapi mereka lebih sering tinggal di rumah baru mereka.
Kini malam hari telah tiba.
Frans dan Onya baru saja selesai siap-siap. Mereka sudah selesai mandi dan sudah berpakaian lengkap.
Pintu kamar yang belum sempat dikunci langsung dibuka oleh seseorang dari luar sana.
Frans dan Onya menoleh ke arah pintu secara bersamaan.
"Papa, ma, Om Franky udah datang" ucap Liona sambil menarik seorang gadis yang sedikit tinggi darinya kedalam kamar itu.
"Io, main diluar, sayang" titah Onya sambil menghampiri mereka dan menuntun kedua anak itu keluar kamar.
Di ruang makan semua keluarga sudah berkumpul untuk makan malam. Ada Tuan dan Nyonya Eisten, Franky, Mona dan Liana.
Setelah Onya ikut bergabung, tidak lama kemudian Frans datang.
"Kita tunggu siapa lagi?" tanya Onya.
"Kita tunggu..." Belum sempat Nyonya Eisten menjawab, suara seorang wanita terdengar dibelakang Onya.
"Ini untukmu dan Frans" ucap wanita itu sambil meletakan selembar kertas yang sudah dihias sedemikian rupa didekat piring dan gelas Onya.
"Eh, kak Lusi. Aku pikir kak Lusi sudah gabung tadi" ucap Onya kala menoleh ke arah wanita itu.
"Apa ini?" Tanyanya.
"Dibuka aja dulu" ucap Lusi.
Onya terkejut membuka isinya. Ternyata undangan pernikahan untuknya dengan Frans. Ia pun tersenyum ke arah Mona dan Lusi secara bergantian.
"Wah kita ada acara lagi ternyata" ucap Onya.
Selesai makan malam, Frans dan Onya lebih dulu meninggalkan ruangan itu dan kembali ke kamar. Tidak lupa mereka menitipkan Liona pada Nyonya Eisten.
Seperti yang kalian tahu, Frans dan Onya sedang bekerja keras agar bisa menghadirkan calon musuh baru untuk Liona. Dengan harapan anak perempuan mereka itu tidak mengganggu mereka lagi nantinya.
Frans membuat Onya terkuras lemas dibawahnya. Pria itu akhirnya berhenti dan memilih untuk menatap wajah sayu itu.
Onya membuka sedikit matanya. "Sudah selesai? Aku mengantuk" ucapnya dengan lemas.
Frans menganggukkan kepalanya. Ia membelai wajah cantik itu lalu mencium puncak kepalanya.
Tidak tega melihat wajah lelah istrinya, Frans pun mengakhiri kegiatan mereka dan membiarkan wanita itu tidur.
Frans duduk disamping Onya berbaring. Ia bersandar sambil membuka laptopnya. Pria itu mulai sibuk dengan pekerjaannya, namun getaran ponsel istrinya membuat pria itu terganggu.
Ia meraih ponsel itu dan mengernyit melihat sebuah pesan masuk di email sang istri.
Frans terkekeh membaca pesan itu. Ada seringai jahat yang terpampang jelas pada wajahnya.
"Sudah lima tahun dan baru sekarang dia berani kembali menghubungi istriku?" gumam Frans tak percaya.
Pria itu meraih ponsel satunya, yaitu ponselnya. Ia langsung menghubungi seseorang diseberang sana.
"Alka" ucap Frans pada orang diseberang sana.
Entah apa yang pria itu rencanakan. Ia tidak akan membiarkan orang-orang masa lalu mereka mengganggu kenyamanan rumah tangganya dengan Onya. Apapun caranya ia akan menghancurkan Alka.
Ia tidak pernah main-main dengan ucapannya. Ternyata lima tahun lebih membuat Alka lupa dengan ancamannya. Mungkin Frans harus mengingatkannya kembali.
End
Ending yang membingungkan! π€£π
Terimakasih semua atas dukungannya. Ini cerita pertama aku, dan jujur aku merasa gak gampang untuk selesaikan cerita ini. Gak kebayang aja karena ini pengalaman pertama aku tulis novel.
Tapi semuanya berkat kalian. Komentar-komentarnya gak terlalu banyak, malah sedikit, tapi hanya dengan satu komentar aja udah buat aku semangat. Jadi sekali lagi terimakasih buat kalian bos-bos qu. π
Dan maap kalau cerita ini banyak kekurangannya. Aku pikir, akhir cerita ini agak gimana gitu. Tapi itulah keputusan terberat aku untuk mengangkat alur akhirnya kaya gini. Sebenarnya alur dibagian akhir cerita sangat berbeda dari rencana awal aku. Tapi karena beberapa pertimbangan, jadi beginilah awal sampai akhir cerita dari novel "A POSSESSIVE BESTIE".
Dan karena aku mengabaikan sebagian besar cerita Franky dan Lusi, jadi aku memutuskan untuk lanjutin cerita mereka di novel berikutnya. Nanti aku kabarin lagi kapan novelnya dimulai.
Masukan dan kritikan pedas aku persilahkan. Rasa senang dan kecewa dengan jalan ceritanya bisa kalian ungkapkan. Aku kuat tahan banting soalnya. ππ€£
Luvv u bos-bos qu... π