
Kini Frans dan Onya telah tiba di rumah besar gadis itu. Keduanya turun bersama-sama dari dalam mobil, dan masuk kedalam rumah tersebut. Sebenarnya Frans berniat kembali agar gadis itu melupakan tantangannya barusan, dimana ia ingin Frans membatalkan perjodohan itu langsung didepan ibunya gadis itu. Namun sepertinya Onya sudah lupa.
Sekarang, Frans memutuskan untuk mampir agar bisa menyaksikan langsung, apakah Nyonya Wiranta berhasil membujuk Onya? Walau Frans yakin, Nyonya Wiranta dapat diandalkan, tapi dia lebih yakin kalau desakan Nyonya Wiranta pada Onya dapat memperburuk hubungan Frans dan Onya. Jadi lebih baik dia ada di sana, mungkin dia bisa meluruskan setiap ucapan Nyonya Wiranta nantinya, sehingga Onya tidak salah paham padanya nanti.
Kini keduanya sudah memasuki rumah tersebut. Onya yang berniat masuk kedalam kamarnya, diikuti oleh Frans. Namun ketika mereka sampai di lantai atas, keduanya berpapasan dengan Nyonya Wiranta yang telah berganti pakaian santai. Padahal tadi Frans lebih dulu keluar dari rumah besar keluarga Eisten, tapi Tuan dan Nyonya Wiranta lebih dulu tiba di rumah besar keluarga Wiranta ini.
"Halo Tante" sapa Frans.
"Hei, Frans" balas Nyonya Wiranta sambil tersenyum, kemudian beralih pada anak perempuannya. "Onya, ganti pakaian-mu. Setelah itu, kamu dan Frans turun ke bawa, ke ruang makan. Mama dan papa ingin bicara dengan kalian berdua" titah Nyonya Wiranta.
Frans mengangguk, sementara Onya hanya bisa menatap wanita itu dengan memelas. Setelah Nyonya Wiranta meninggalkan keduanya di sana, Onya lantas bergegas masuk kedalam kamarnya. Begitu juga dengan Frans, tanpa permisi pria itu ikut masuk kedalam kamar Onya, dan membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur gadis itu.
"Keluar Frans. Aku mau ganti pakaian" ucap Onya sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Ganti saja, aku tidak melihatmu" ucap Frans sambil memposisikan gaya tidurnya menjadi tengkurap, dengan wajahnya ia sembunyikan pada bantal kepala.
"Frans!" panggil Onya. Gadis itu mengambil satu bantal kepalanya lagi, dan memukul kepala pria itu. "Bangun!" ucap Onya lagi.
Melihat pria itu tak bergeming, Onya mendesah berat. Ia kemudian menarik tangan pria itu dengan kasar, hingga pria itu terpaksa berdiri karena tangannya sedikit terkilir.
"Cepat keluar, mama dan papa sudah menunggu kita" ucap Onya dengan memelas. Dia benar-benar malas untuk berdebat. Apalagi sebentar lagi dia akan berhadapan dengan ibunya nanti. Sudah dipastikan akan ada perdebatan, jadi gadis itu harus menyimpan banyak energi.
"Ganti bajumu dulu" ucap Frans, dengan memelas ia kembali menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur itu.
Onya kembali mendesah kasar. "Awas saja kamu mengintip" ucap Onya.
Sementara Frans yang mendengarnya malah tertawa kecil. "Memangnya apa yang ingin aku lihat? Tubuh jelekmu itu?" ucap Frans. Wajahnya yang terhalang bantal membuat suaranya terdengar samar. Jadi Onya mendengarnya tidak begitu jelas.
Dengan gerakan cepat, Onya mengganti pakaiannya. Sesekali ia melirik ke arah Frans. Ternyata pria itu tidak berniat mengintipnya. Memangnya apa yang ingin ia intip, Onya? Ada-ada saja. Bahkan dari kecil sampai dewasa ia sudah bosan melihatmu menggunakan bikini.
"Sudah, ayo!" ucap Onya setelah mengenakan pakaian santainya. Tanpa menunggu pria itu, ia langsung bergegas keluar dari kamarnya.
Frans lantas turun dari atas tempat tidur, dan menyusul Onya ke ruang makan. Sesampainya mereka di sana, ternyata Tuan dan Nyonya Wiranta sudah menunggu.
"Frans, ayo makan buah" ucap Nyonya Wiranta pada Frans. Sedang ia sibuk mengupas beberapa buah untuk suaminya.
"Iya, Tante" ucap Frans sambil menduduki sebuah kursi yang berhadapan dengan pasangan itu. Dengan di sampingnya diduduki oleh Onya.
Onya mengambil satu buah apel. Tanpa mengupas buah itu, ia langsung menggigitnya. "Mama mau bicara mengenai perjodohan itu lagi?" tanpa basa-basi, Onya langsung bertanya pada intinya.
"Oh, kamu sudah tahu?" tanya Nyonya Wiranta.
"Iya, tadi aku sudah bicara sama Frans. Katanya dia tidak ingin perjodohan ini berlanjut" ucap Onya dengan tenang, kemudian melirik ke sampingnya, dimana Frans berada. "Benarkan Frans?" tanya Onya sambil menyenggol lengan pria itu.
"Ya kalau gitu aku tidak setuju. Aku mau perjodohan ini dibatalkan" ucap Onya.
Percakapan keduanya tidak luput dari pendengaran kedua orangtua gadis itu. Tanpa Onya sadari, Nyonya Wiranta sudah memberi kode pada suaminya. Dengan maksud, agar pria itu bisa membujuk Onya.
"Onya, jangan seperti itu. Kita sekeluarga sudah sepakat untuk menikahkan kalian berdua, bersamaan dengan pernikahan Franky dan istrinya" ucap Tuan Wiranta.
"Tapi, pa..." ucapan Onya terpotong oleh Nyonya Wiranta.
"Sayang, kita sekeluarga sudah sepakat. Jadi tidak baik kalau kita batalkan sekarang, tidak enak pada keluarga Eisten" ucap Nyonya Wiranta, berusaha untuk tetap bersabar.
"Toh aku dan Frans tidak ingin perjodohan ini berlanjut" ucapan Onya membuat Frans mendesah pelan. Pria itu hanya menggelengkan kepalanya di depan kedua orangtua gadis itu. Untungnya Onya tidak melihat.
"Tadi kan Frans sudah bilang, kalau dia memang sempat menolak, tapi sudah tidak bisa karena kita sekeluarga sudah sepakat. Iyakan Frans?" tanya Nyonya Wiranta, dan diiyakan oleh Frans. Sontak saja Onya menatap tajam ke arah pria itu. "Jadi kalian siap-siap, bulan depan kalian sudah akan menikah" ucap Nyonya Wiranta.
"Tidak masuk akal. Kan masih bisa dibatalkan, toh bulan depan juga masih lama. Jadi pokoknya Onya tidak setuju. Yang jalanin Onya, bukan mama. Jadi mama dan papa tidak bisa memaksa Onya" ucap Onya, dengan kesal dia mendorong kursinya dan berlari menuju lantai atas.
"Onya!" geram Nyonya Wiranta. Untungnya wanita itu di tahan oleh suaminya.
"Biar Frans saja, Tante" ucap pria itu, dan ikut menyusul Onya ke kamar gadis itu.
Sementara Nyonya Wiranta yang kesal pada anak perempuannya, ikut melampiaskan amarahnya pada sang suami. "Kamu juga sih, pa. Masa tidak bisa membujuk anakmu itu?" ucap Nyonya Wiranta, merasa kalau suaminya tidak bisa diandalkan. Padahal, selama ini Onya lebih dekat dengan suaminya.
"Kok papa yang salah? Kan papa sudah bilang, nanti papa bicara dengan Onya. Tapi tidak sekarang. Situasinya tidak tepat" ucap Tuan Wiranta.
Sementara di kamar Onya, gadis itu menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur sambil memeluk guling. Tidak lama kemudian, suara pintu kamarnya terbuka. Nampak Frans di ambang pintu. Pria itu masuk dan ikut membaringkan tubuhnya di samping Onya.
"Ngapain kamu di sini? Keluar sana!" usir Onya sambil memalingkan wajahnya dari pandangan pria itu.
"Kamu ingatkan perjanjian keluarga kita? Kenapa kita tidak buat kesepakatan saja untuk pernikahan ini? Aku yakin, kita berdua sama-sama akan diuntungkan" ucap Frans membuat Onya mengernyit.
"Apa maksudmu? Bicara yang benar" ucap Onya.
"Kau kan tidak tahu alasan aku pasrah dengan perjodohan ini. Pertama, karena aku sakit hati dengan Lusi. Dia selingkuh dengan kakakku, bahkan masih saja menggodaku saat sudah menjadi istri kak Franky" ucapan Frans tersebut membuat Onya terkejut tak percaya. Ia menatap Frans dengan serius, seolah-olah ia sedang mempertanyakan kejujuran pria itu. "Aku tidak berbohong. Saat pertemuan keluarga tadi siang, ia sempat menggodaku. Kalau kau tidak percaya, kita bisa mengecek cctv di rumahku. Dan itu salah satu alasan aku menerima perjodohan ini. Ya untuk membuat dia sakit hati karena sudah mengkhianati aku, dan untuk menjaga jarak dengannya" sambung Frans.
"Alasan basi, Frans. Kita bisa pura-pura pacaran, tidak untuk menikah. Itu sulit" ucap Onya. Sepertinya gadis itu mulai tenang.
"Nah, kamu tidak pikirin perjanjian keluarga kita. Aku jamin, mamamu tidak bisa dibantah. Apalagi mamaku, ia bisa saja marah padamu atau pada orangtuamu" ucap Frans, kembali mencari alasan. "Kita bisa menikah kontrak, jadi bisa dipastikan kita akan sama-sama mendapat keuntungan dengan pernikahan ini. Dengan pernikahan ini, aku akan melepas-mu ketika sudah melahirkan keturunan untuk keluarga kamu. Dan kamu bisa hidup bebas, tanpa pernikahan. Tentunya seperti yang kamu inginkan selama ini" sambungnya membuat Onya tertegun.
Yang dikatakan oleh Frans bisa diandalkan.