A POSSESSIVE BESTIE

A POSSESSIVE BESTIE
RENCANA



Hari dimana Onya kehilangan mahkota berharganya, hari itu juga dia memutuskan kembali ke rumah orangtuanya. Tuan dan Nyonya Wiranta terkejut mendengar berita itu dari pelayan di rumah. Untuk itu Nyonya Wiranta meminta suaminya menghubungi anak tunggal mereka itu. Mengingatkan mereka berada di luar negeri saat ini.


"Halo pa, ada apa?" tanya Onya saat menerima panggilan telpon dari sang ayah.


"Kamu ke rumah? Apa ada masalah?" tanya Tuan Wiranta, kebetulan di sampingnya ada Nyonya Wiranta juga. Mereka itu orangtua dan berpengalaman soal urusan rumah tangga. Makanya mereka tahu, kepulangan Onya ke sana pasti ada yang kurang beres.


"Tidak" jawab Onya dengan lirih. Nyatanya wanita itu sedang fokus dengan laptopnya.


"Pelayan di rumah bilang kalau kamu akan menginap di rumah beberapa hari ke depan. Dan katanya Frans tidak menemani-mu di sana. Apa ada masalah di antara kalian?" tanya Tuan Wiranta lagi.


"Iya" jawab Onya lagi.


Terdengar helaan nafas diseberang sana. Bukan Tuan Wiranta, Onya yakin itu suara ibunya. "Ada masalah apa, sayang? Apa kau yang buat masalah atau Frans?" Nyonya Wiranta bersuara.


Onya termenung sejenak saat mendengar ibunya bertanya. Ia mengeluarkan nafasnya dengan berat dan segera menjawab.


"Tidak, ma" jawabnya sambil memejamkan kedua matanya. Wanita itu berharap sang ibu tidak bertanya lebih. Akan lebih baik dia membicarakan masalahnya pada sang ayah ketimbang sang ibu yang dikiranya tidak akan mengerti.


"Loh, tadi katanya ada masalah" ucap Nyonya Wiranta lagi.


"Aku ingin bicara dengan papa, apa boleh, ma?" tanya Onya dengan datar.


"Bicara saja, papa dengar di sini" ucap Tuan Wiranta.


"Kapan kalian kembali ke rumah?" tanya Onya.


"Tidak tahu. Sepertinya setelah pekerjaan kami selesai, mama dan papa akan liburan berdua dulu" jawab Tuan Wiranta.


"Oh, baiklah. Sebenarnya aku ingin menceritakan sesuatu pada papa, tapi nanti saja setelah kalian pulang" ucap Onya.


Setelah panggilan telpon itu berakhir, Onya kembali bernafas lega. Ia hanya malas meladeni pertanyaan ibunya.


Sekarang ia kembali berkutat dengan laptopnya. Beberapa lama kemudian ia mencetak sebuah dokumen yang di download dari internet. Wanita itu memegang beberapa lembar kertas itu dengan bimbang, tapi ia segera meyakinkan dirinya dengan menganggukkan pasti kepalanya.


...*...


Keesokan paginya, Onya hendak keluar dari rumah. Namun ia terkejut melihat sebuah mobil yang baru memasuki halaman rumahnya. Dua orang berbeda jenis kelamin keluar bersamaan dari mobil itu dan segera menghampiri wanita itu.


"Mama dan papa pulang hari ini? Ada apa?" tanya Onya.


"Bukannya kamu ingin menceritakan sesuatu pada papa? Ayo kita ke dalam" ucap Tuan Wiranta hendak merangkul anaknya untuk ikut masuk dengannya.


"Kamu mau kemana, Onya?" tanya sang mama yang mengikuti langkah kaki keduanya dari belakang.


"Mau ke kampus, ma. Onya mau mendaftar wisuda" ucapnya.


"Oh soal itu? Kamu tenang saja di rumah, karena Frans sudah mendaftar kalian berdua. Tadi mama dan papa baru ketemu Frans yang ingin menjemput kamu di sini, tapi papa-mu itu meminta dia untuk pulang" ucap Nyonya Wiranta sekaligus bermaksud mencibir suaminya juga.


Kini Onya sedang menemani kedua orangtuanya sarapan. Wanita itu sudah selesai sarapan tadi sebelum keluar rumah.


"Jadi kapan mama dan papa akan liburan?" tanya Onya memulai obrolan di ruangan itu.


"Rencananya setelah beberapa urusan kami selesai. Tapi mamamu meminta bantuan sekretaris-nya untuk mengurus semuanya agar bisa pulang cepat menemui kamu. Jadi liburan mungkin batal" ucap Tuan Wiranta sembari sang istri dengan memelas.


Ya biar bagaimana pun, se-egois dan sesibuk apapun Nyonya Wiranta, ia sering meluangkan waktu pada anaknya jika dianggapnya sudah menjadi masalah penting. Dia berpengalaman soal rumah tangga. Walau semalam Onya mengelak pertanyaannya, tapi dia tahu jika anaknya sedang dilanda masalah rumah tangga.


"Batal bagaimana, pa? Mama kan sudah bilang, setelah Onya dan Frans selesai liburan baru kita susul" ucap Nyonya Wiranta membuat Onya mengernyit keheranan.


"Aku dan Frans? Aku dan Frans tidak berencana kemana-mana kok" seru Onya.


Onya sontak melebarkan kedua matanya. "Bulan madu? Yang benar saja, ma. Setelah wisuda, sepertinya aku akan sibuk" terang Onya dengan spontan.


"Sibuk apa? Jangan banyak alasan ya, sayang. Setelah kalian wisuda, kalian harus bulan madu. Tidak ada bantahan, karena mama mantu kamu sudah memesan satu kapal pesiar untuk kalian berdua" ucap Nyonya Wiranta tak mau kalah.


"Tapi..."


"Sudah, sudah! Selesai makan baru bicara" Tuan Wiranta segera menengahi keduanya.


"Pa!" protes Onya.


"Kamu tunggu papa di ruang kerja" ucap Tuan Wiranta dengan tegas.


Malas berhadapan dengan ibunya, Onya lantas menurut pada sang ayah. Ia meninggalkan ruang makan dengan kesal dan masuk ke ruang kerja ayahnya.


"Dari dulu sampai sekarang masih saja seperti anak kecil" lirih Tuan Wiranta.


"Benar, pa, makanya kita harus keras sama anak itu" Nyonya Wiranta membenarkan.


"Bukan Onya yang aku bilang, tapi kamu!" ucap Tuan Wiranta.


"Jangan bilang kalau papa mendukung Onya dan membatalkan rencana bulan madu mereka" tuduh Nyonya Wiranta dengan geram.


"Bukan gitu, ma. Papa setuju-setuju saja soal rencana bulan madu mereka" Tuan Wiranta membujuk sang istri yang sudah melancarkan tatapan tajam padanya. "Tapi kalau kamu mau keras sama Onya sekarang, percuma, ma! Salah kamu yang mau jadi wanita karir. Dari dulu papa sudah mengusulkan agar mama bisa jadi ibu rumah tangga saja dan mengurus Onya. Tapi mama terlalu keras kepala dan membiarkan pertumbuhannya bebas dari pengawasan. Jadi nikmati saja hasilnya, ma" sambung Tuan Wiranta dengan santainya.


"Papa salahkan mama karena sikap keras kepala anak-mu itu?"


"Bukan, ais..." tapi iya, dalam hati Tuan Wiranta.


...*...


Di ruang kerja ayahnya, Onya menunggu. Beberapa menit lamanya, orang yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga.


"Jadi bagaimana? Apa yang ingin kamu cerita sama papa?" tanpa basa-basi, Tuan Wiranta bertanya sembari berjalan menuju kursi kebesarannya dan di sanalah ia duduk dan mendengarkan cerita sang anak.


"Pa bantu Onya, ya? Onya ingin lanjut kuliah ke luar negeri" jawab Onya dengan tampang memelasnya.


Tuan Wiranta tak segera menjawab. Ia butuh waktu untuk menimbang pertanyaan anaknya yang mendadak membuatnya terkejut itu.


"Pa?"


"Papa tidak bisa pastikan. Kamu tahu kan mama kamu bagaimana?" ucap Tuan Wiranta. "Tapi katanya kamu dan Frans ada masalah?" sambungnya.


Onya mengangguk malas. "Dia kasar sama Onya, pa" ucap Onya, sontak membuat Tuan Wiranta syok.


Apa? Beraninya Frans bertindak kasar pada anaknya?


"Apa yang dia perbuat padamu?" tanya Tuan Wiranta. Melihat tatapan garam ayahnya membuat Onya tertegun. Namun sesaat kemudian ia tersenyum licik memikirkan ide berliannya.


"Waktu itu Onya mau ikut Frans yang pergi ke pesta. Dia tidak izinin Onya untuk ikut. Onya pikir dia selingkuh, makanya saat Frans pergi, Onya diam-diam ikut. Dan saat ketahuan, dia jadi bertindak kasar. Dia sering dorong dan narik Onya gitu, pa" ucap Onya, sengaja ia tidak memberitahu kejadian yang sebenarnya. Tidak berbohong, tapi jawaban yang singkat dan tak jelas itu pasti akan membuat sang ayah berpikir yang tidak-tidak.


"Apa ada yang luka?" tanya Tuan Wiranta.


Onya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Pinggang Onya masih sakit karena Frans. Ada bekas memar juga, pa" ucap Onya. Mengingat remasan Frans masih membekas, hingga membiru sepertinya dapat menjadi bukti palsu.


Maafkanlah Onya bos-bos ku 😭... Dia terpaksa berbohong karena author 😭😭😭... Tenang, ya! Tenang bos-bos ku. Marah dan kesal boleh tapi jangan tinggalkan novel gila ini πŸ˜­πŸ™ karena ceritanya belum selesai 😁.