
Onya membanting buku-buku yang ada pada rak mejanya. Gadis itu menghembuskan nafasnya dengan frustasi. Tangannya mulai bergerak untuk membuka handphonenya. Namun pintu kamarnya tiba-tiba terbuka. Nampak seseorang yang sangat dia benci. Onya tidak suka pada pria itu karena perjodohan itu.
"Ada apa kau ke sini?" tanya Onya dengan ketus sembari menatap tajam pria itu.
"Ayolah, Onya. Aku sedang berusaha baik padamu" ucap pria itu dengan enteng sambil berjalan kearah kasur yang ada di kamar itu. Dia menduduki kasur itu, dan mengajak Onya untuk duduk bersamanya. "Duduk dulu. Kita bicarakan baik-baik" Frans berucap sambil menepuk kasur disebelahnya.
"Katakan saja" Onya tetap bergeming ditempatnya. Gadis itu enggan untuk menurut, bahkan untuk duduk didekat pria itu.
Dengan berat Frans menghembuskan nafasnya, kemudian menatap gadis itu. "Apa kau benar-benar tidak memiliki perasaan sedikitpun padaku?" tanya Frans sambil menatap lekat wajah sahabatnya itu.
"Tidak"
Saat ini tatapan Frans sangat sulit dideskripsikan. Pria itu terus mencari kebohongan pada wajah datar Onya. Namun nihil, tidak ada kebohongan sedikitpun ketika gadis itu menjawabnya. "Kau benar-benar tidak menginginkan pernikahan ini?" tanyanya sekali lagi.
"Tidak" lagi-lagi jawaban singkat yang dia dapat. Namun Frans tetap tenang menghadapinya.
"Aku juga tidak" jawaban Frans membuat Onya terperangah.
"Benarkah?" Onya bertanya dengan mata yang berbinar. Seakan memiliki kesempatan untuk terbebas dari perjodohan itu, Onya terdorong untuk mendekati Frans. Sikapnya tidak se-datar tadi. Gadis itu mulai tersenyum tipis dan ikut duduk di samping Frans. "Jadi, bagaimana? Aku tidak ingin kita menikah. Apa ada rencana lain untuk membatalkan perjodohan ini?" tanya Onya penuh harap.
"Tentu. Tapi untuk sementara waktu kita tunangan dulu. Karena aku sedang menggunakan kesempatan ini untuk membuat Lusi cemburu" ucap Frans membuat kening Onya berkerut.
"Memangnya kenapa? Apa hubungan kalian memburuk?" tanya Onya yang penasaran. Lebih tepatnya untuk mencari kebenaran di sana. Dia agak ragu untuk mempercayai sahabatnya itu. Apalagi pria itu sangat pandai berbohong. Sekuat dan se-teliti apapun, dia tetap tidak bisa mencari kebohongan pada garis wajah Frans.
"Dia selingkuh" Onya terpekik, kemudian menatap sahabatnya itu dengan iba.
Flashback On
Sewaktu di bar, Frans yang minum lumayan banyak akhirnya merasa kebelet untuk membuang air kecil. Pria itu bergegas ke toilet pria yang bersebelahan dengan toilet perempuan. Seusai menggunakan toilet, Frans bergegas keluar. Tapi tidak sengaja dia melihat seorang wanita yang terburu-buru keluar dari toilet perempuan.
Lusi?
Dia tidak salah lihat. Wanita itu benar-benar Lusi. Dia terlihat berantakan ketika keluar dari dalam toilet. Namun tatapannya beralih pada beberapa perempuan yang tengah berdiri diambang pintu toilet. Mereka terlihat histeris hingga membuat Frans penasaran.
"Ada apa?" tanya Frans pada mereka.
"Ada yang berkelahi didalam sana. Wanita yang tadi itu hampir diperkosa, dan pacarnya sedang memberi pelajaran pada pria yang hampir memperkosanya itu" salah satu dari mereka menjawab sambil menunjuk Lusi yang berjalan kian menjauh. Frans ingin mengejar kekasihnya itu, namun dia urungkan. Sementara dia ingin masuk kedalam toilet perempuan dan ingin mengetahui orang yang berani memperkosa kekasihnya itu, namun beberapa petugas yang datang membuat Frans memilih kembali ke tempatnya.
Selang beberapa lama, Frans melihat orang yang ditangkap oleh petugas adalah sahabat dan kakaknya sendiri. Frans marah besar ketika tahu temannya sendiri hampir memperkosa kekasihnya. Namun dia bersikap tenang karena ada pihak berwajib yang akan menangani kasus tersebut. Dan ada yang lebih parah lagi. Frans harus menerima kenyataan jika kekasihnya berselingkuh dengan kakaknya sendiri. Dia tidak menyalakan keduanya, karena Lusi tidak tahu hubungan Frans dan Franky, dan sebaliknya dengan Franky yang tidak tahu bahwa Lusi adalah kekasihnya. Namun yang salah adalah Lusi. Wanita itu sudah dipacarinya. Namun dia malah berkencan dengan pria lain.
Frans enggan memberitahu hubungannya dengan Lusi pada Franky. Karena Frans merasa tidak peduli. Pria itu juga takut kalau kakaknya tidak ingin memulai hubungan lain lagi.
"Memangnya kak Lusi selingkuh dengan siapa? Kamu tahu darimana?" tanya Onya.
"Ada pokoknya" kali ini Frans enggan untuk menjawab pertanyaan gadis itu. "Jadi, kamu bantuin aku dengan menerima pertunangan ini. Setelahnya, aku akan membantumu untuk membatalkan pernikahan kita. Bagaimana?" tanya Frans kemudian.
Tanpa menunggu lama, Onya pun setuju.
...*...
Keesokan paginya, semua kembali beraktivitas seperti biasa. Sayangnya Onya tetap harus menyelesaikan hukumannya. Gadis itu sudah tidak terdaftar di kampusnya lagi. Dan dia harus dikurung beberapa hari lamanya.
Onya menghembuskan nafasnya dengan kasar. Dia merasa jenuh di rumahnya itu. Gadis itu mulai ingat dengan kekasihnya. Sudah beberapa hari ini mereka tidak berkomunikasi. Segera dia meraih handphonenya, dan menghidupkannya lagi.
Terkejut? Sudah pasti. Pasalnya, ada ratusan pesan dan panggilan tak terjawab dari Alka.
Onya, kau baik-baik saja? Kira-kira begitulah isi pesan terkahir dari kekasihnya.
Maafkan aku, Alka. Beberapa hari ini aku tidak bisa menghubungi kamu karena ada masalah keluarga yang harus aku selesaikan. Tulis Onya, kemudian mengirim pesan tersebut pada Alka.
Baru saja Onya melewatkan handphonenya kembali. Tiba-tiba handphonenya bergetar, pertanda ada yang meneleponnya.
"Alka?" ternyata pria itu langsung membaca pesannya, dan membuat panggilan video padanya.
"Onya? Aku merindukanmu" suara Alka terdengar manja. Pria itu menatap rindu kekasihnya lewat panggilan video tersebut.
"Aku lebih merindukan-mu" ayolah, sejak kapan mereka terlihat lebai seperti ini? Mungkin saja karena efek rindu.
"Kau bilang kalau kamu sedang ada masalah keluarga. Apa kau bisa menceritakan padaku? Aku siap menjadi teman curhatmu" ucap Alka.
"Maaf, Alka. Akan lebih baik kalau aku memberitahu-mu secara langsung" Onya menjawab sembari menundukkan kepalanya. Itu membuat Alka merasa cemas. Apa masalahnya berhubungan dengan hubungan kami? batin Alka menduga-duga. Pasalnya Onya bukanlah tipe yang suka berbagi. Namun gadis itu malah berjanji akan memberitahukan masalahnya pada Alka.
"Baiklah. Kapan kamu akan kembali kuliah?" tanya Alka.
"Aku sudah tidak kuliah lagi. Tapi aku janji, kita akan bertemu beberapa hari ke depan" jawaban Onya membuat Alka menatapnya dengan heran.
"Tidak kuliah lagi?" Alka mengulangi ucapan Onya dalam bentuk pertanyaan. "Apa karena kakakmu yang kemarin? Apa dia tidak menyukaimu terus melaporkanmu dan memindahkan kamu ke kampus lain?" pria itu malah banyak bertanya.
"Karena aku berbohong pada orangtua ku. Aku tidak pulang semalaman karena tidur dirumah mu. Karena itu, mereka menghapus nama-ku di sana. Aku akan berkuliah secara privat" ucap Onya membuat Alka bersedih. Dia ikut merasa bersalah. Karena dirinya yang terus mengajak Onya untuk tinggal bersama, bahkan menghabiskan waktu hingga lupa jalan pulang.