A POSSESSIVE BESTIE

A POSSESSIVE BESTIE
KE PANTAI



Setelah mengantar Liona pada Nyonya Eisten, Frans lantas kembali ke kamarnya.


Ia tersenyum simpul melihat istrinya masih tidur dibawah selimut. Pria itu pun ikut masuk kedalam selimut tebal itu dan memeluk istrinya.


Onya menggeliat. Ia membuka matanya karena merasa terganggu.


"Sudah bangun?" tanya Frans.


"Jam berapa?" bukannya menjawab, wanita itu justru balik bertanya.


"Sudah jam delapan" ucap Frans.


"Kamu gak ke kantor?" tanya Onya lagi.


Frans menggeleng kepalanya. "Tadi malam aku sudah bilang ke sekretaris kalau aku tidak masuk hari ini. Aku mau liburan dulu dengan istri dan anakku" ucap Frans sambil mengecup wajah bantal itu.


Onya mengangguk paham. Dirasanya masih mengantuk, wanita itu kembali memejamkan matanya sambil mengeratkan pelukannya pada pria itu.


Beberapa jam telah berlalu.


Frans dan Onya sudah selesai mandi. Keduanya sibuk menggunakan pakaian.


Onya yang sudah berpakaian lengkap kini sibuk mencari pengait rambutnya. Ia berjalan ke sana kemari sambil beberapa kali melewati Frans yang sedang sibuk memasang dasinya.


"Sayang" panggil Frans sambil membuka dasinya kembali. Dia sedikit kesulitan menggunakan dasi itu.


"hm"


"Tolong bantu pasang dasinya" ucap Frans sambil melingkarkan benda itu ke lehernya.


"Pasang sendiri dulu, Frans" ucap Onya. Wanita itu sibuk memindahkan satu persatu bantal di tempat tidur sambil mencari pengait rambutnya di sana.


"Kamu lihat ikat rambutku semalam gak?" tanya Onya.


"Memangnya kamu taruh dimana?" Frans balik bertanya.


"Pakai yang lain saja" ucap Frans lagi sambil menghampiri wanita cantik itu. Walaupun saat ini wajah Onya polos dan bersih tanpa make up, namun wajahnya tetap terlihat segar dan lebih cantik.


Frans mendekati wajah wanita itu dan mencium bibirnya.


"Jangan sekarang, Frans. Kita akan terlambat" ucap Onya sambil menjauhkan wajahnya.


"Tidak apa-apa" ucap Frans dengan santai.


Pria itu menyodorkan dasinya pada wanita itu dan kembali minta tolong padanya.


"Pasang dulu, sayang" ucapnya.


Melihat dasi yang akan digunakan pria itu membuat Onya paham. Padahal biasanya Frans bisa memasang dasi sendiri, kecuali dasi coklat bermotif kotak itu. Dasi itu terlalu pendek membuat Frans kesulitan.


"Kenapa pakai dasi yang ini?" tanya Onya sambil melingkarkan benda itu dileher Frans.


"Supaya senada dengan warna baju kalian" ucap Frans sambil melingkarkan kedua tangannya di pinggang wanita itu.


Frans hendak mencium bibir wanita itu lagi, namun tidak jadi ketika suara rubah kecil terdengar.


"Papa!" panggil Liona diluar sana.


"Sebentar ya, sayang. Mama dan papa lagi pakai baju" ucap Frans berbohong.


"Dia selalu mengganggu" ucap Frans sambil tersenyum menahan tawa.


"Anak kesayanganmu" ucap Onya bermaksud mengejek pria itu.


"Hei, anak kesayangan kita" ucap Frans memperjelas.


Onya hanya mengangguk cuek. "Kamu yakin mau pergi dengan anak itu?" tanya Onya sambil memasang dasi pria itu.


"Hm'm, memangnya kenapa, sayang?"


"Gak" ucap Onya sambil mengedikkan bahunya.


"Selesai!" ucap Onya sambil menepuk pelan dada bidang itu.


Bukannya melepas pelukannya, Frans justru memeluk wanita itu dengan erat.


"Kenapa aku semakin gemas denganmu sih, sayang" ucap Frans sambil menggertak giginya karena gemas.


Onya menahan dada pria itu dan mendorongnya. Namun tetap saja, pelukan pria itu terlalu erat.


"Papa!" panggil rubah kecil itu lagi.


"Lepas, Frans. Io juga belum aku bantu siap-siap" ucap Onya.


Sebelum melepas wanita itu, Frans mengecup wajahnya bertubi-tubi. Terakhir ia menggigit kecil leher wanita itu.


"Nanti bekasnya dilihat orang" ucap Onya dengan kesal.


"Papa! Mama!" panggil rubah kecil itu lagi.


Onya langsung melewati pria itu dan membuka pintu kamarnya. Tampak wajah cemberut anak perempuannya itu.


"Mama selalu lama buka pintunya. Papa juga punyanya Io, tahu!" ucap anak kecil itu membuat Onya terkekeh.


"Bukan mama, itu ulah papamu" ucap Onya menahan kekesalannya.


Namun Liona tidak peduli dengan ucapannya. Gadis kecil itu pikir ibunya berbohong. Padahal memang benar kalau ayahnya yang salah di sini.


Kini Liona berada dipangkuan ayahnya. Keduanya duduk diatas tempat tidur sambil memperhatikan Onya sedang merias wajahnya.


"Mama lama sekali" cibir gadis kecil itu.


"Daripada protes, pakai sepatumu Io" ucap Onya. Dari kaca ia bisa melihat kaki anaknya yang masih belum menggunakan apa-apa.


"Katanya kita mau ke pantai. Kenapa Io harus pakai sepatu?" tanyanya dengan polos.


"Kita makan siang dulu di restoran, sayang" Frans yang menjawab.


Selesai Onya merias wajahnya. Wanita itu berdiri dari tempat duduknya dan membalikan tubuhnya.


Wanita itu mendesah sambil geleng-geleng kepala melihat anaknya belum menggunakan sepatu.


Terpaksa ia harus memasang sepatu anaknya.


"Sudah besar masih mau dipasang sepatu sama orangtua" ucap Onya mencibir.


...*...


Rencananya keluarga kecil itu ingin menghabiskan waktu di pantai. Tapi sebelum itu mereka akan makan siang lebih dulu di sebuah restoran.


Liona termasuk anak yang beruntung. Masuk kedalam restoran saja ia digandeng ayah dan ibunya.


Mereka masuk kedalam restoran. Beberapa jam kemudian mereka pun keluar dari sana.


"Abis ini kita kemana, pa?" tanya Liona.


"Kita ke pantai, sayang" ucap Frans.


"Yey, Io mau berenang" ucapnya dengan girang.


Sayang sampai di pantai Liona tidak dibolehkan mandi oleh Onya.


Saat ini Onya duduk didepan kanvas. Semenjak Liona lahir ini kali pertama Frans dan Onya membawa anak itu ikut ke pantai yang biasanya mereka kunjungi itu.


Biasanya Onya akan melukis dengan tenang. Namun saat ini ia harus kesulitan karena ulah anak perempuan nakalnya itu.


Liona terus merengek untuk mandi. Frans pun tak bisa membantu anaknya itu. Karena mereka tidak membawa pakaian ganti untuk anaknya.


"Io mau mandi" ucap Liona merengek sambil duduk diatas pasir.


Onya berhenti melukis dan menatap anaknya dengan kesal.


"Kamu tidak punya pakaian ganti, Io. Nanti sakit kalau mandi tidak ganti baju" ucap Onya.


"Gimana kalau Liona main pasir sama papa?" tawar Frans. Dari tadi pria itu mengajak anaknya untuk bermain, namun Liona tidak mau. Dia hanya ingin berenang di sana.


"Tidak mau. Io mau berenang" ucap Liona sambil paksa menangis.


"Ini pertama dan terakhir kali kita bawa dia. Seharusnya dia tinggal di rumah saja" ucap Onya mencibir. Ia benar-benar sakit kepala kalau anaknya sudah merengek seperti itu.


Frans pun kehabisan ide. Ia melonggarkan dasinya dan membuka semua kancing kemejanya.


"Kalau gitu kita berenang dan pulang basa sama-sama" ucap Frans sambil menggendong anaknya menuju tepi pantai.


"Frans!" Onya hendak memprotes. Namun apalah daya, suami dan anaknya sudah basah kuyup di sana.


Susah paya Onya meredam emosinya. Setidaknya kedua orang itu tidak mengganggunya melukis, pikirnya.


Onya pun lanjut melukis. Sedang fokusnya melukis, tiba-tiba Onya merasa tubuhnya melayang di udara.


Onya yang terkejut langsung berteriak.


"Frans!"


Pria itu mengangkat tubuhnya dan membawanya ke tepi pantai.


"Frans jangan macam-macam. Awas saja kalau aku basa" ucap Onya.


"Buat mama basa, pa" teriak Liona kegirangan sambil menepuk air ke arah ibunya.