A POSSESSIVE BESTIE

A POSSESSIVE BESTIE
LIANA MENGINAP



Diam-diam Onya membawa masuk Liana ke apartemen.


"Kamu tidurnya di kamar sebelah" ucap Onya sambil mendorong pelan tubuh Liana ke sebuah kamar.


"Memangnya kak Frans izinin?" tanya Liana.


"Tidak, tapi biarlah. Tidak usah mikirin dia, nanti aku yang urus" jawab Onya dengan asal.


Malam itu, Frans hendak membuat makanan malam. Namun sesampainya ia di dapur, pria itu langsung mendengus kesal melihat dua orang gadis yang sedang membelakanginya. Nyatanya Onya sudah semakin berani membantahnya.


"Apa yang kalian lakukan?" suara Frans mengagetkan Onya dan Liana. Kedua gadis itu sontak membalikan tubuh mereka bersamaan.


"Halo kak Frans" sapa Liana sambil tersenyum canggung. Sungguh diluar dugaan Frans. Dulu gadis itu sangat genit, hingga bertemu dengan Frans biasanya ia akan berhamburan manja padanya. "Kita lagi masak sup, kak" sambung Liana sambil menyenggol lengan Onya agar gadis itu bisa menyelamatkannya.


Dari tatapan Frans, Liana sadar jika pria itu sedang menahan amarah. Sepertinya ia dan Onya sedang dalam masalah.


"Liana akan menginap di sini" sahut Onya dengan datar. Melihat Frans tak bergeming membuat Onya segera melangkah mendekatinya. Onya hanya tak enak hati jika Frans berdebat dengannya di depan Liana.


Frans hanya tersenyum sumringah. Saat Onya hendak menariknya dari sana, pria itu malah balas menariknya. Alhasil Onya langsung jatuh kedalam pelukannya dengan wajahnya yang terbenam dalam dada bidang pria itu.


"Frans!" suara Onya terdengar lirih. Tangan gadis itu mendorong pinggang pria itu agar segera terbebas, namun Frans tidak membiarkannya lepas begitu saja.


Frans memeluk Onya sambil menatap Liana dengan senyuman penuh arti. "Jadi Liana mau menginap di sini ya? Tidak apa-apa, sayang. Asal dia tidak mengganggu malam kita di kamar nanti" ucap pria itu, sesekali ia mencium mesra puncak kepala Onya.


"Frans, aku tidak bisa bernafas" ucap Onya sambil berusaha menginjak kaki pria itu. Namun sayang, kaki kosong Onya tidak berfungsi sama sekali. Sekali lagi ia hendak menginjak kaki Frans, pria itu langsung mengurung kedua kakinya diantara kedua kaki Frans.


Pemandangan yang sangat tidak pantas. Onya dan Frans terlihat sangat intim membuat Liana kepanasan. Gadis itu langsung berbalik dan fokus dengan masakannya.


Kalau mau bermesraan, jangan di sini! Ingin sekali Liana meneriaki kedua orang itu. Namun sepertinya tidak pantas.


Liana merutuki dirinya sendiri. Keputusan untuk menginap benar-benar salah. Seharusnya ia pulang tadi.


Frans tersenyum menang melihat Liana yang salah tingkah. Perlahan ia mengurangi pelukannya dari Onya hingga gadis itu berhasil mendorongnya.


Onya bergegas masuk kedalam kamarnya, meninggalkan Frans dan Liana di dapur. Bukannya membantu Liana, Frans ikut menyusul Onya di kamar mereka.


Frans berlenggang masuk dengan santai kedalam kamarnya. Tidak lupa mengunci pintu kamarnya, pria itu berjalan mendekati Onya di tepi ranjang sambil melepas baju kaosnya.


Onya masih membelakangi Frans. Gadis itu mengambil ponselnya di atas meja dan hendak berbalik. Namun Frans lebih dulu memeluknya dari belakang.


"Aku menginginkan-mu malam ini" bisik Frans membuat bulu kuduk Onya merinding. Tadi saja saat Frans memintanya, Onya bisa bersikap wajar. Tapi kali ini tubuhnya bereaksi lain karena suara Frans yang terdengar sensual. Bahkan tangan pria itu sudah bergerak kurang ngajar memasuki bajunya. Satu tangan pria itu hendak menyentuh bukit kembarnya, dan satunya lagi menyusuri pahanya, namun dengan cepat Onya menahan tangannya itu.


"Kalau aku tidak mau ya jangan paksa, Frans. Sudah dari tadi aku bilang kalau aku tidak mau" ucap Onya dengan nada tegas. Gadis itu berharap ucapannya bisa menyinggung Frans hingga pria itu melepasnya. Nyatanya salah, pria itu malah menggigit lehernya dengan gemas.


"Frans!" teriak Onya sambil mendorong kepala pria itu dengan asal.


"Ada apa dengan-mu?" tanya Onya sambil menatap heran pada pria itu. Tatapan pria itu terlihat aneh, seperti ada yang salah dengannya.


"Tadi aku salah minum di pestanya Wilson. Sepertinya mereka memberiku obat perangsang dan mungkin efeknya semakin bekerja di tubuhku sekarang" ucap Frans dengan gusar. Sungguh kuat ia menahan hasratnya. Jika tidak, sudah dari tadi ia menggempur Onya tanpa ampun.


Kedua mata Onya melotot begitu saja. "Siapa suruh kamu mau minum di sana?" tanya Onya. Tidak merasa bersalah sama sekali, gadis itu kembali melangkahkan kakinya menuju pintu kamar. "Aku punya solusi" seru Onya sambil berbalik ke arah Frans berada.


"Apa?" tanya Frans.


"Kalau tidak salah, kau bisa berendam di bathtub dan bermain solo" ucap Onya dengan asal. Gadis itu kemudian tersenyum dan melambai-lambai tangannya pada Frans dan langsung menutup pintu kamar itu dengan cukup keras.


Frans mendengus frustasi. Ia bergegas membuka seluruh pakaiannya tak tersisa dan melangkah masuk ke kamar mandi, melakukan apa yang dikatakan Onya padanya barusan.


Sementara Onya dan Liana sedang makan malam. Kedua gadis itu berbincang senang tanpa peduli pada satu anak Adam yang sedang tersiksa didalam bathtub. Tangan pria itu terus bermain sambil membayangkan wajah seorang gadis dengan tubuh yang mempesona.


"Anak itu..." geram Frans memikirkan penolakan Onya. "Satu kali lagi. Kalau masih menolak, obat perangsang solusinya" gumamnya tanpa sadar.


Selesai dengan kegiatannya, Frans merasa sedikit enakan. Ingat ya, sedikit berarti dia masih belum pulih seutuhnya. Tanpa mengenakan satu helai benang pun, pria itu langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang. Ia menyibak selimut menutupi area terlarangnya dan langsung tertidur pulas.


Di ruang makan, Onya masih mengunyah makanannya sambil memangku kaki. Sementara Liana sudah selesai makan dan sedang membereskan sisa-sisa makanannya.


"Kak Frans belum makan, Onya?" tanya Liana.


Yang ditanya hanya mengangguk-anggukan kepalanya.


"Tapi sup-nya tinggal sedikit" lirih Liana sambil menunjuk pada sebuah mangkuk sup.


"Dia tahu masak. Biarkan saja" ucap Onya acuh tak acuh.


Liana tertegun sesaat. "Jadi biasanya kalau kalian makan, siapa yang memasak?" tanya Liana dengan penasaran. Gadis itu yakin jika Onya memang tidak pandai memasak atau mungkin pemalas.


"Frans dong. Aku gak bisa masak" ucap Onya membuat Liana terkekeh kecil.


"Kamu beruntung banget, Onya. Aku bahkan tak menyangka kalau kalian bisa menikah. Bukannya dulu kalian sahabatan?" tanya Liana yang awalnya tak berani banyak bertanya, kini semakin menjadi. Sepertinya sifat aslinya mulai kembali terlihat.


"Ya, tapi menikah bukan berarti kita tidak lagi bersahabat bukan?" tanya Onya balik, tentunya pertanyaan itu tak memerlukan jawaban.


"Padahal kak Frans dulunya brengsek juga" ucap Liana sambil terkekeh dan geleng-geleng kepala mengingat ia pernah memergoki Frans dengan seorang wanita dewasa. Tentunya sebelum pria itu berhubungan dengan Lusi. Dan waktu itu Liana langsung melabrak wanita dewasa itu dan hendak memberitahu apa yang ia lihat pada Onya. Namun Frans mampu membuatnya bungkam hanya dengan ancaman.


"Ya, dia memang brengsek makanya aku harus beri pelajaran pada pria seperti dirinya" balas Onya tanpa sadar.


Enak saja dia dapat cewek perawan kaya aku. Tunggu sampai dia benar-benar menderita dulu baru aku kasihani. Batin Onya membenarkan.