
Rasanya Frans ingin tinggal selamanya di pulau pribadi itu bersama istrinya seorang. Pasti mereka akan tenang tanpa diganggu oleh Liona.
Frans sempat kepikiran tinggal di sana sampai istrinya melahirkan. Barulah mereka akan kembali. Namun tidak bisa, orangtua mereka pasti tidak akan setuju.
Kini Frans sedang berbaring terlentang dengan telanjang dada. Satu tangannya membantali kepalanya, dan satunya lagi mengelus rambut istrinya yang tertidur sambil memeluknya.
"Rasanya ingin tinggal disini selamanya" ucap Frans dengan lirih.
Perlahan Onya membuka kedua matanya kala mendengar ucapan pria itu barusan. Ia sedari tadi sudah bangun, namun tubuh pria itu layaknya maknet yang membuatnya ingin terus menempel.
"Kalau kamu bisa membujuk orangtua kita" ucap Onya.
"Kau sudah bangun?" Tanya Frans dengan konyol. Jelas-jelas ia mendengar wanita itu bicara, ia malah menanyakan sesuatu yang sudah terjawab.
"Aku yakin orangtua kita gak akan izinin aku melahirkan di sini. Pertama karena ada Io, dan kedua karena kejadian waktu aku lahiran pertama" ucap Onya mengingat pertama kali ia melahirkan, justru ia malah terbaring koma dirumah sakit. Bukan hal yang sepele membuat orangtua mereka tidak akan pernah mengizinkannya melahirkan tanpa keberadaan mereka.
Frans menganggukkan kepalanya seakan membenarkan ucapan wanita itu.
Onya pun menarik tubuhnya menjauhi Frans. Wanita itu hendak berdiri untuk mengenakan pakaiannya, karena saat ini tubuhnya polos tertutup selimut tebal.
Namun belum sempat berdiri, wanita itu ditarik dan dipeluk oleh Frans. Pria itu tidak menariknya dengan kasar, tapi sangat pelan mengingat saat ini Onya sedang mengandung.
"Mau kemana, sayang? Jangan kemana-mana dulu, di sini dulu" ucap Frans sambil membawa wanita itu untuk kembali berbaring diatas dada bidangnya.
"Aku pakai baju dulu, Frans" ucap Onya.
"Jangan dulu. Aku suka kamu seperti ini" ucap Frans.
"Tapi jangan minta lagi. Kalau sampai minta lagi, tunggu sampai aku melahirkan baru aku kasih" ucap Onya mengancam.
"Tenang, aku kuat tahan" ucap Frans membuat Onya terkekeh geli. Jelas-jelas kemarin lalu pria itu yang mendesaknya, artinya ucapan pria itu baruan tidak bisa dipercaya.
"Kemarin saja gak bisa tahan" ledek Onya.
Frans tidak peduli dengan ledekan wanita itu. Dia malah menarik tangan wanita itu untuk memeluk pinggangnya.
"Sayang?"
"Hm"
"Nanti setelah kamu melahirkan, kita tinggal di rumah baru" ucap Frans tiba-tiba. Bukan pertama kalinya pria itu berucap demikian, melainkan sudah berulangkali. Dan kali ini ia hanya ingin mengingatkan wanita itu.
"Tapi rumahnya jauh dari kantorku. Jadi nanti aku akan menyewa supir untuk aku dan untuk kamu juga. Nanti aku sewa beberapa pelayan dan koki juga di sana" ucap pria itu kemudian. Ia sempat merencanakan semua itu matang-matang. Dan soal koki, tentu saja dibutuhkan mereka mengingat istrinya tidak bisa memasak.
Onya yang teringat sesuatu lantas memberitahu suaminya itu.
"Oh iya, Frans. Nanti kalau aku melahirkan, aku mau kita sewa nanny ya biar bantu aku urus anak-anak kita? Kan aku juga kadang harus ikut urus usaha mama" ucap Onya.
"Apapun untukmu, sayang" ucap Frans.
Banyak waktu yang mereka habiskan bersama. Mungkin hanya Frans yang tidak bosan bersama istrinya dengan aktivitas yang sama dipulau itu, namun Onya justru cepat bosan.
Mendengar kabar mereka akan segera kembali membuat Onya senang. Sayangnya tidak dengan Frans. Pria itu masih belum puas menghabiskan waktu dipulau pribadi itu. Rasanya dia ingin menculik istrinya dari orang-orang seperti orangtuanya.
Ya, mereka kembali atas perintah Tuan dan Nyonya Eisten. Orangtua mereka itu sangat mengkhawatirkan mereka, apalagi Onya yang sedang mengandung.
Seharusnya waktu itu ia tidak memberitahu orangtuanya soal kehamilan sang istri, begitulah yang Frans pikirkan.
Kembali ke kediaman Eisten membuat Frans ingat janjinya pada Liona. Waktu itu ia berjanji ingin memberikan adik pada Liona selepas pulang liburan bersama Onya.
Frans berharap Liona tidak ingat akan janjinya. Namun sayang, ingatan anak perempuannya itu sangatlah tajam.
Baru saja Frans dan Onya melewati pintu masuk rumah besar itu. Liona langsung berlari kegirangan menyambut kedua orangtuanya.
"Yey, mama dan papa pulang" seru Liona langsung berhamburan memeluk ayahnya.
"Gendong" ucap Liona sambil merengek manja untuk digendong ayahnya.
"Sudah besar masih mau digendong" cibir Onya.
"Onya" ucap Frans sambil geleng-geleng kepala.
"Mana adiknya Io, pa?" Tanya Liona membuat Frans mendesah tertahan. Ia pun bingung menjawab apa.
Untungnya Nyonya Eisten datang menghampiri mereka. Jadinya Frans tidak perlu menjawab, pikir Frans.
Namun sayang, ucapan Nyonya Eisten malah semakin menyulitkan Frans.
"Untung kalian jadi pulang hari ini" ucap Nyonya Eisten.
"Ia, ma" ucap Frans dan Onya bersamaan.
"Setiap malam papa dan mama gak bisa tidur karena Io. Sebenarnya dia yang minta kalian pulang cepat, katanya mau bertemu adiknya" sambungnya.
Selain karena khawatir pada Onya yang sedang mengandung, alasan lain kenapa Tuan dan Nyonya Eisten meminta mereka pulang cepat karena Liona yang sulit diatur. Setiap malam gadis kecil itu merengek dan minta kedua orangtuanya lekas pulang.
"Ia, nek. Kata papa, mama dan papa nanti bawa pulang adik buat Io" ucap gadis kecil itu dengan polos.
"Betul kan, pa?" Tanya Liona sambil menatap ayahnya.
Frans hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Tapi mana adiknya?" Tanya Liona lagi.
"Kita ke kamar dulu ya, sayang" ucap Frans.
Sesampainya mereka di kamar, Liona tak berhenti menanyakan adiknya. Gadis kecil itu terus merengek ingin bertemu adik yang dijanjikan ayahnya padanya.
Onya yang tidak tahu apa-apa antara ayah dan anak itu juga ikut pusing.
"Sayang, adiknya gak bisa datang sekarang" ucap Frans berusaha membujuk anaknya itu.
"Gak mau, Io mau ketemu adik sekarang" ucap Liona.
"Io, bisa diam tidak?" Ucap Onya dengan suara meninggi.
"Aku pusing dengar kalian. Urus anakmu itu, Frans" sambung wanita itu lalu meninggalkan mereka di kamar itu.
Sepeninggalan Onya, Liona masih saja merengek.
"Io tahu kenapa adiknya gak bisa pulang sama mama dan papa?" Ucap Frans.
Melihat anaknya geleng-geleng kepala dengan acuh tak acuh membuat Frans kembali bersuara.
"Karena Io yang merajuk minta mama dan papa pulang. Padahal adiknya belum jadi" ucap Frans lagi.
"Sebenarnya adiknya Io itu masih diperut mama. Kalau Io mau ketemu, Io bisa main dengan perut mama" ucap Frans lagi. Namun sesaat kemudian ia baru sadar kalau ucapannya akan menjadi bumerang padanya.
"Oh kaya adik Luki? Adik Luki dulu ada dalam perut juga kan, pa?" Ucap Liona.
Luki, sepupunya Liona, anaknya Franky.
"Kalau gitu malam ini Io mau tidur bareng mama dan papa. Io mau peluk perut mama terus supaya adiknya cepat datang" ucap Liona membuat Frans mendesah berat.
Dan benar saja, setiap malamnya Liona tidak pernah mau tidur di kamarnya. Dia tidak mau ditemani neneknya maupun Frans saja. Anak kecil itu justru tidak mau jauh-jauh dari Onya.
Setiap malam Liona tidur bersama Onya dan Frans. Biasanya ia akan ditidurkan oleh Frans dan memeluk ayahnya itu. Tapi sekarang, ia justru ingin menempel dengan ibunya.
Bulan demi bulan terlewati. Perut Onya semakin besar membuat Liona semakin posesif pada ibunya itu.
Frans dan Onya bahkan tidak bisa menghabiskan banyak waktu untuk bersama. Liona terus mengganggu mereka.
Onya justru risih. Baik suami maupun anak sama posesifnya pada dia. Untung suaminya itu sudah tidak begitu membatasi kebebasannya.