
Sepeninggalan Onya dan Liana, Frans lantas bergabung minum dengan kedua temannya. Ketiga pria itu berdiri tidak jauh dari meja Onya dan Liana. Minum sambil melirik sesekali ke arah Onya berada. Rasanya ia ingin segera menarik gadis itu ke kamar, meninggalkan pesta yang sangat membosankan ini.
"Selangkah lagi aku akan segera mendaftar skripsi" ucap Nick tiba-tiba mengubah topik pembicaraan, entah apa yang mereka bicarakan sedari tadi.
"Sepertinya Frans mendahului kita" ucap Wiliam. Namun yang disebut hanya tersenyum miring sambil terkekeh meremehkan.
Frans hendak melirik ke arah Onya lagi, namun tidak sengaja tatapannya bertabrakan dengan tatapan Liana. Gadis itu diam-diam mencuri pandangannya. Sungguh, Frans benar-benar muak melihat raut wajah malu-malunya itu. Tidak mau gadis itu salah paham, Frans langsung memberinya tatapan tajam. Liana syok melihat tatapan itu, ia lantas mengakhiri kontak mata mereka.
Menyadari perubahan Liana, Onya pun mengikuti arah pandangnya. Tatapan Onya jatuh pada Frans yang baru saja menoleh ke arahnya.
"Ada apa?" tanya Onya dengan gerakan mulutnya saja, tidak mengeluarkan suara sedikitpun.
"Ke kamar" seperti halnya Onya, Frans ikut menggerakkan mulutnya saja.
"Apa?" tanya Onya, mengernyit tak paham dengan gerakan mulut pria itu.
Frans mendesah pelan. Menyadari komunikasi yang tidak efektif, ia segera berpamitan pada kedua temannya itu dan melangkah mendekat ke tempat Onya dan Liana berada.
"Ada apa?" tanya Onya saat Frans sudah berada didepan mereka.
"Ayo ke kamar" ucap Frans dengan datar, enggan melirik ke samping Onya. Ia benar-benar risih didekat Liana. Dari sudut matanya saja, Frans bisa melihat Liana yang terus menatapnya tanpa berkedip sedikitpun.
"Untuk apa?" tanya Onya.
"Acaranya membosankan. Aku malas di sini" ucap Frans, hendak menarik Onya mengikutinya. Namun gadis itu mendorong tangannya hingga terlepas.
"Kamu duluan saja. Aku masih mau ngobrol sama Liana" ucap Onya.
Melihat Onya hendak membelakanginya dan kembali mengobrol bersama Liana, Frans langsung memeluknya dari belakang. Wajahnya ia letakan pada bahu polos Onya, dan satu kecupan langsung mendarat pada leher gadis itu.
"Frans" geram Onya, hendak memajukan tubuhnya untuk menghindari Frans. Namun pelukan pria itu begitu kuat membuat Onya tak bisa lepas.
"Kita belum selesai menyusun perjanjian itu. Apa kontrak pernikahan kita batal saja?" bisik Frans, tidak didengar oleh Liana. Karena gadis itu sedikit menjauh dari mereka. Ia benar-benar tidak nyaman melihat pemandangan didepannya itu.
"Eh, kenapa tidak besok saja?" tanya Onya, lirih.
"Boleh, tapi kau yang akan menyewa pengacara untuk kita berdua. Karena hari ini kamu sudah menyia-nyiakan kedatangan pengacara yang aku sewa" ucap Frans.
"Eh, tidak-tidak. Baiklah, ayo kita ke sana" ucap Onya. Sangat tidak baik jika Onya yang menyewa pengacara bagi mereka berdua. Darimana ia akan mendapatkan uang? Ia bisa menggunakan uang kedua orangtuanya, namun mereka akan curiga padanya. Dan hasilnya, kontrak pernikahan ia dan Frans akan digagalkan oleh kedua orangtuanya.
"Liana, aku dan Frans ada urusan sebentar..." belum selesai berpamitan, Frans sudah menarik Onya mengikutinya.
Menaiki anak tangga, hak kaki Onya tiba-tiba patah. Gadis itu terduduk di lantai sambil meringis kesakitan.
"Pelan-pelan dong, Frans" ucap Onya, sedikit membentak.
Onya tidak menjawab pertanyaan pria itu. Ia malah memutar malas kedua matanya. Saat Frans hendak menyentuh kakinya, Onya langsung mendorongnya. Dengan gerakan cepat, Onya membuka kedua hak sepatunya dan kembali berdiri.
Onya berjalan didepan, Frans mengikutinya dari belakang. Saat mereka berdua masuk ke kamar Frans, Onya langsung melempar hak sepatunya ke sembarang tempat lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur.
Frans segera mengunci pintu kamarnya. Ia membuka satu persatu kancing kemejanya sambil berjalan mendekati tempat tidur dimana Onya berbaring.
"Pengacaranya sudah datang belum?" tanya Onya masih dengan posisi tengkurap.
"Ganti pakaian-mu dulu" ucap Frans sambil membuka seluruh pakaiannya. Setelah itu ia masuk ke kamar mandi untuk bersih-bersih diri.
Beberapa menit kemudian, Frans selesai mandi. Ia keluar kamar mandi dengan handuk yang hanya membelit pinggangnya. Dilihatnya Onya dengan posisi yang sama. Sedari tadi gadis itu tidur tengkurap dengan gaun yang sama.
"Onya, ganti pakaian-mu" ucap Frans sambil menepuk bokong gadis itu.
"Iya" Onya duduk dibawah kaki ranjang sambil mengusap kedua matanya. Sepertinya tadi ia ketiduran. Saat kesadaran benar-benar bangkit, Onya langsung masuk kamar mandi.
Selesai mandi, Onya keluar dengan kimono putih. Dilihatnya Frans masih menggunakan handuk. Pria itu duduk bersandar di kepala ranjang sambil memainkan ponselnya.
Onya mengernyit curiga. Ia lupa jika malam ini seharusnya menjadi malam pertama mereka. Namun yang terlintas dibenaknya saat ini hanyalah kontrak pernikahan.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Onya. Jangan salah, dia tidak bermaksud menanyakan malam pertama mereka. Dia hanya bingung, apa yang harus mereka lakukan untuk kontrak pernikahan mereka sekarang.
Frans mendongak menatapnya. Ia meletakan ponselnya ke tempat biasa dan menarik Onya untuk duduk di pangkuannya. Onya kaget, hendak berdiri namun pria itu sudah memeluk perutnya dengan erat.
"Lepas, Frans" ucap Onya yang mulai was-was.
Frans membelai rambutnya dengan mesra. "Pengacaranya tidak jadi datang. Bagaimana kalau kita melakukan malam pertama sekarang?" tanya Frans sambil menggeser kimono yang menutupi dada putih mulus gadis itu.
"Frans" bentak Onya sambil menepis tangan kurang ajar itu. Ia kemudian berusaha lepas dari pelukan pria itu, namun percuma saja karena tenaga pria itu sangat kuat. "Tidak sekarang. Selesai kuliah baru kita pikirkan itu" sambung Onya.
Frans mendesah berat. Jujur, hasratnya sudah diujung tanduk. Ia memperbaiki posisi duduk Onya, mengangkat kecil tubuh mungil itu.
Kedua mata Onya terbuka lebar saat merasakan bokongnya ditusuk suatu benda keras. "Frans, jangan gila kamu" ucap Onya kembali berusaha berdiri. Kedua tangannya bertumpu pada paha Frans, tanpa sadar gerakannya membuat handuk Frans lepas.
"Frans!" teriak gadis itu saat Frans mengangkat tubuhnya dan menjatuhkannya ke atas tempat tidur. Dengan cepat pria itu menindihnya. Belum sempat Onya berteriak kembali, pria itu langsung membungkam bibir gadis itu dengan bibirnya.
Onya menggeleng-geleng kepalanya berusaha melepas ciuman bibir mereka. Onya benar-benar marah, namun amarahnya malah memperlemah kekuatannya. Gadis itu terus memukul dada pria itu, mencakar lengannya, dan kakinya terus menendang udara untuk segera lepas dari jeratan pria itu. Namun percuma, tenaga Frans begitu kuat memeluknya.
Untungnya Onya menggunakan pakaian dalam, jika tidak, mungkin saja Frans dengan mudah memasukinya.
"Frans..." teriak Onya disertai tawa saat pria itu menghujani kecupan yang terasa menggelikan dileher sampai telinganya.