
Kini Onya dan Frans telah sampai di rumah sakit. Sebenarnya mereka tidak berniat untuk berkunjung. Namun mengingat Onya sudah memberitahu Nyonya Eisten kalau mereka akan datang, mau tidak mau mereka terpaksa datang berkunjung. Jika tidak, sudah dipastikan kalau Nyonya Eisten akan marah.
Tibalah mereka berdua di depan kamar inap Lusi. Tadi Nyonya Eisten mengirim pesan pada Frans, dan memberitahunya nomor kamar, tempat dirawatnya Lusi. Jadi mereka tidak kesusahan untuk mencari tahu letak kamar yang dimaksud.
Frans pun mengetok pintu kamar tersebut. Tidak menunggu lama, pintu itu langsung terbuka. Dan yang membukanya adalah Nyonya Eisten.
"Ayo masuk" ucap wanita itu pada Frans dan Onya.
Di dalam sana, ada Franky dan Lusi yang sedang sibuk dengan pena dan kertas. Keduanya ditemani oleh dua orang yang tak dikenal. Tidak lupa dengan keberadaan kedua orang tua Lusi, juga Tuan Eisten. Sementara Tuan dan Nyonya Wiranta tidak hadir. Mereka sibuk. Mungkin pekerjaan mereka lebih penting. Mengingat Franky dan Lusi hanya sedang mengurus akta nikah di catatan sipil, jadi bukanlah suatu perayaan yang penting untuk dihadiri oleh banyak orang. Apalagi posisi mereka berada di rumah sakit.
Kembali pada Frans dan Onya. Keduanya merasa canggung untuk masuk kedalam sana. Lebih tempatnya tidak nyaman, jika mereka ikut duduk di antara orang-orang penting itu.
"Ma, kita diluar saja" ucap Frans.
"Masuk saja. Mama mau kenalin kamu sama keluarga Bliss. Kamu perlu kenal dengan kakak ipar-mu" ucap Nyonya Eisten.
Frans memutar bola matanya dengan malas. "Nanti kalau urusan mereka sudah selesai, ma" ucapnya dengan memelas.
Untungnya, detik itu juga urusan pernikahan Franky dan Lusi sudah selesai. Artinya, secara negara, Frans dan Lusi telah resmi menjadi sepasang suami-istri. Sementara kedua orang yang tidak dikenal itu, juga Tuan Eisten, mereka pun berpamitan keluar.
Frans dan Onya terpaksa mengikuti Nyonya Eisten, dan masuk kedalam sana. Keduanya ikut berhenti kala langkah kaki Nyonya Eisten berhenti di antara Franky, Tuan dan Nyonya Bliss. Sementara Lusi, ia sudah kembali di tempat tidurnya. Melihat kehadiran Frans membuatnya sedikit gugup. Entahlah, entah apa alasannya hingga membuatnya gugup.
Saat itu juga, Nyonya Eisten mengajak Frans untuk berkenalan dengan Tuan dan Nyonya Bliss. Tidak lupa dengan Onya, Nyonya Eisten memperkenalkan gadis itu sebagai calon menantunya.
"Oh iya, ini calon menantu saya, tunangannya Frans" ucap Nyonya Eisten.
Onya malah terkekeh. Ia pasrah kala mendengar ucapan wanita itu. Walau sebenarnya ia benar-benar malas mendengarnya. Ayolah, Onya tidak berminat dengan Frans. Mereka hanya sahabat, bukan sepasang kekasih.
"Namanya Onya" ucap Nyonya Eisten. Dan Onya hanya tersenyum sekilas pada kedua orang tua Lusi.
Setelah saling berkenalan dengan orang tua Lusi, Nyonya Eisten berbalik pada seorang wanita yang sedang berbaring di tempat tidur.
"Frans, ayo berkenalan dengan istri kakakmu" ucap Nyonya Eisten.
Onya dan Frans saling bertatapan. Onya mengedikkan bahunya, dan lebih dulu menyusul Nyonya Eisten ke tempat tidur Lusi. Mau tidak mau, Frans pun ikut.
"Onya, kenalin ini namanya Lusi, istrinya kakakmu" ucap Nyonya Eisten. "Dan Lusi, ini Onya, dia tunangannya adik ipar-mu" sambungnya pada Lusi.
"Iya, ma. Lusi sudah kenal" ucap wanita itu mengundang perasaan was-was bagi Frans. Pria itu hanya takut kalau Lusi menyebut ia sebagai mantan kekasihnya.
"Iya, kita satu kampus, ma" ucap Lusi.
"Oh iya, ini Frans. Adiknya Franky. Kamu kenal tidak?" Tanya Nyonya Eisten. Pertanyaan yang sangat ditakut-takuti oleh Frans akhirnya terdengar.
"Iya, ma" jawab Lusi, seadanya. Ia hanya tersenyum tipis ke arah Frans. Dan kembali berpaling saat mendengar suara Franky.
"Ma, Franky mau balik ke kantor. Lusi, aku pamit" ucap Franky dengan datar. Sungguh, tatapannya benar-benar tidak bersahabat. Dan hal itu disadari oleh Frans dan Onya. Keduanya kembali bertatapan, dengan isyarat yang hanya dimengerti oleh keduanya.
"Iya, terserah" ucap Nyonya Eisten dengan tak acuh. Biar bagaimanapun, ia juga sadar dengan kondisi anaknya saat ini. Franky terlihat berbeda dari yang sebelum-sebelumnya. Ia bahkan tidak begitu bersahabat dengan Nyonya Eisten. Namun Nyonya Eisten tidak begitu peduli. Yang penting ia sudah berhasil membuat anak laki-lakinya itu menikah. Kalau Franky ingin terlihat tak acuh dengan ibunya, maka ibunya juga tidak mau kalah dengan sikap yang sama.
Franky menganggukkan kepalanya. Ia langsung bergegas keluar dari ruangan itu. Entah kemana ia pergi. Ke perusahaan atau kemanapun itu, hanya dia yang tahu.
Setelah Franky keluar dari ruangan itu, Frans kembali memberi kode bagi Onya. Untungnya gadis itu mengerti, jadi dia langsung berpamitan pada Nyonya Eisten.
"Ma, Onya dan Frans mau balik ke apartemen dulu" ucap Onya. Jika saja Frans yang berkata seperti itu, mungkin saja Nyonya Eisten tetap menahan mereka di sana.
"Kalian baru saja datang. Tapi baiklah kalau begitu" ucap Nyonya Eisten.
Sejenak Frans melirik ke arah Lusi berada. Keduanya sama-sama bertatapan. Frans hanya tersenyum sekilas pada wanita itu, namun Lusi hanya berekspresi datar. Dan Frans akhirnya memutuskan kontak mata keduanya kala Onya menyenggol tangannya untuk segera keluar dari sana.
Tidak lupa dengan keberadaan orang tua Lusi, Frans dan Onya juga berpamitan pada keduanya. Setelah itu, keduanya langsung keluar begitu saja.
Frans dan Onya berjalan beriringan menuju lift. Sesampainya mereka di sana, Onya mulai bersuara.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Onya sambil menyenggol lengan Frans. Karena sedari tadi pria itu hanya diam.
"hm" pria itu hanya berdehem, tanpa melirik ke arah Onya yang sedang berada di sampingnya.
Bahkan dalam perjalanan menuju apartemen Frans, pria itu hanya diam dan ekspresi terlihat begitu datar. Sesekali Onya meliriknya. Melihat tidak ada perubahan dari ekspresi Frans membuat Onya mendesah pelan. Ia hanya bisa menggeleng-geleng kepalanya.
Sesampainya mereka di apartemen, Onya langsung membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur Frans. Dan pria itu langsung bergegas ke kamar mandi. Entah apa yang ia lakukan didalam sana. Namun sepertinya Onya mulai menduga-duga.
Apa Frans memang sesedih itu? Pikir Onya. Namun ia menggeleng dengan keras. Itu bukanlah masalahnya, jadi tidak perlu dipikirkan.
Beberapa saat kemudian, Frans keluar dari kamar mandi. Ia melihat Onya sedang sibuk dengan ponselnya. Frans berjalan menghampirinya, dan menjatuhkan tubuhnya di samping Onya.
Frans melirik ke arah layar ponsel Onya, hingga membuat gadis itu risih. "Kenapa?" tanya Onya dengan sinis. Entah apa yang sedang mengganggu Frans. Tadinya terlihat tak acuh, sekarang malah bertingkah aneh.