
Inilah yang dilakukan Onya saat mendapatkan nomor ponsel Liana. Kedua gadis itu layaknya magnet yang tidak bisa dipisahkan. Selain tertarik pada Frans, Onya memang suka berteman dengan gadis itu karena selera keduanya mirip, yaitu sama-sama suka melukis.
Sambil mengerjakan tugas, sesekali Onya memperhatikan cara melukis Liana.
"Sepertinya kamu sudah lama tidak melukis, Liana" tutur Onya, sejenak berhenti mengetik pada papan keyboard laptop nya.
Ya, Liana sedang melukis sambil menikmati pemandangan Kota dari atas gedung apartemennya Frans. Tadi siang, Frans berpamitan pada Onya. Katanya dia ada urusan dengan teman-temannya, entah apa dan kemana. Kesempatan Onya mengajak Liana ke apartemen itu.
"Ya begitulah. Kak Mona mengajakku ke Amerika dan kau tahu apa kebiasaan yang aku lakukan di sana?" Onya menggeleng-geleng kepalanya. "Pekerjaan-ku sehari-hari di tempat kasir perbelanjaan. Tidak ada waktu untuk melukis, makanya saat kamu mengajakku tadi aku langsung bersemangat dan meninggalkan kak Mona yang sedang bersih-bersih rumah" sambungnya.
"Wah, kasihan dong kak Mona-nya. Masa kamu ninggalin dia bersih-bersih rumah sendiri?" tutur Onya.
"Tenang, ada yang temani kok" ucap Liana sembari mengedipkan sebelah matanya.
Onya manggut-manggut mendengarnya. "Sudah malam. Bagusnya kamu menginap, atau mau pulang saja?" tanya Onya kemudian. Karena sedari siang mereka banyak berbincang, dan malamnya mereka disibukan dengan urusan masing-masing.
"Aku maunya menginap, tapi kalau kamu berani ngomong sama kak Frans" ucap Liana dengan cemberut.
"Tenang, nanti aku bilangin. Kalau dia tidak mau, mau tidak mau dia harus antar kamu pulang" ucap Onya.
Tidak lama kemudian, saat keduanya kembali sibuk dengan kegiatan masing-masing tiba-tiba Onya dikagetkan dengan panggilan telpon. Liana memperhatikan raut wajah Onya, kening gadis itu berkerut saat menatap layar ponselnya.
"Ada apa?" tanya Onya saat menerima panggilan telepon itu.
"Kau dimana?" tanya seseorang di sebrang sana.
"Aku di atap gedung" jawab Onya.
"Ayo kembali. Aku sudah di apartemen. Sudah malam, jangan sampai masuk angin di sana" balasnya.
Setelah panggilan telpon itu berakhir. Onya langsung tersadar akan sesuatu. Buru-buru Onya membereskan barang-barang kedalam tas.
"Ayo bereskan barang-barang mu Liana. Frans sudah kembali. Kita harus cepat, aku lupa membereskan sesuatu di kamar mandi. Aduh..." desah panjang Onya.
Tanpa menghiraukan Liana yang masih sibuk memasukan peralatan melukisnya, Onya lebih dulu berlari meninggalkannya di sana.
"Hei Onya, bagaimana dengan ini?" tanya Liana sambil menunjuk lukisan besar itu. Siapa suruh dia susah-susah membawa keluar kampas besar itu dari apartemen?
"Buang saja" teriak Onya membuat Liana tersentak. Gadis itu sontak menepuk jidatnya.
"Lukisan sebagus ini dibuang? Dari pada begini lebih baik aku menjualnya sekarang" gumam Liana. Tanpa menunggu lama, gadis itu mengeluarkan ponselnya dan memotret hasil lukisannya itu. "Persetan dengan penilaian mereka nanti. Mau rapih atau tidak, setidaknya ada usaha untuk menjualnya" gumam Liana sambil membuat caption pada postingannya.
Sementara Onya yang terburu-buru menuju apartemen hampir saja terjatuh. Tubuhnya tersandung sesuatu, namun laptopnya yang malah jatuh ke lantai.
Onya mengumpat kesal. Ia mengangkat laptopnya dan kembali berlari masuk kedalam lift. Sampai di lantai dimana apartemen Frans berada, gadis itu langsung masuk kedalam sana.
"Frans" panggil Onya setengah berteriak. Ia membuang laptopnya ke atas sofa dengan asal. Kemudian gadis itu melangkah masuk kedalam kamar.
Ceklek!
"Ah, tidak" jawab Onya. Ia hendak masuk kedalam kamar mandi, namun mendengar penuturan Frans membuat gadis itu malu setengah mati.
"Aku sudah membuangnya ke tong sampah. Lain kali jangan lakukan itu, Onya" ucap Frans membuat wajah Onya berubah pias.
"Kau membersihkannya?" tanya Onya dengan hati-hati.
"Tentu saja" ucap Frans sambil tersenyum sumringah. "Oh ya, aku bisa menghitungnya sebagai hutang. Mungkin kau bisa membantuku malam ini" sambung Frans. Ia meletakan ponselnya ke atas meja yang berada di samping tempat tidur. Pria itu kemudian mendaratkan kakinya pada lantai, tapi masih duduk di sisi ranjang.
"Ayo ke sini" titah Frans sambil menepuk kasur di sebelahnya.
Tanpa curiga sama sekali, Onya ikut duduk di samping pria itu. "Ada apa?" tanya Onya.
"Aku kan sudah bilang tadi. Aku ingin kau membantuku malam ini" ucap Frans lagi.
"Iya, bantu apa?" tanya Onya. Gadis itu terlalu fokus pada Liana. Dia ingin membujuk Frans nantinya agar bisa mengizinkan Liana menginap. Makanya ia tidak sempat berpikir tentang bantuan apa yang diinginkan oleh Frans.
"Ayo kita lakukan malam pertama sekarang" ucap Frans sontak membuat Onya melotot kaget.
"Kau gila, ya? Kan aku sudah bilang, tunggu sampai kita lulus. Aku tidak mau hamil di saat kita masih kuliah" balas Onya semakin ketus.
"Tidak, kau tidak akan hamil kalau kita pakai pengaman" ucap Frans.
"No, big no. Aku belum siap. Kamu kan tahu sendiri kalau aku lagi dapat" ucap Onya.
"Sudah habis, kan? Sudah lima hari lebih. Lagian tadi isinya cuma sedikit" ucap Frans membuat Onya langsung melayangkan tamparannya pada kepala pria itu. "Hei!" protes Frans sambil mengelus kepalanya.
"Ups, sorry. Refleks tadi" ucap Onya sambil menutup mulutnya. Gadis itu langsung mengelus kepala Frans dengan lembut. "Maaf" ucap Onya lagi.
Hei, dia seperti itu karena ada maunya. Onya benar-benar...!
Di rasanya Frans mulai tenang, Onya pun mulai bicara. "Aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Ada Liana di atap gedung dan dia ingin menginap malam ini di sini" ucap Onya.
Frans membulatkan kedua matanya. "Apa? Tidak, tidak. Aku tidak mengizinkan gadis genit itu menginap di sini" ucap Frans.
"Hei, mengertilah sedikit. Aku sedang butuh bantuannya" ucap Onya tak mau mengalah.
"Jangan keras kepala, Onya. Aku bilang tidak ya tidak" ucap Frans kekeh dengan pendiriannya.
"Terserah. Kalau gitu kamu tidur sendiri, aku mau menginap dengannya di hotel" ucap Onya membuat Frans kembali berpikir.
"Kenapa harus begitu? Kau istriku dan dia hanya orang luar yang bisa mengganggu kita kapan saja. Jadi kau harus tetap tinggal di sini, biarkan dia tinggal di hotel sendiri" ucap Frans semakin kesal dengan tingkah gadis yang notabennya adalah istrinya sendiri.
"Terserah"
Tanpa mendengar ucapan Frans lagi, Onya bergegas keluar dari kamar itu. Gadis itu berniat kembali ke atap gedung, namun saat ia keluar pintu apartemen, ia berpapasan dengan Liana. Dilihatnya seluruh tubuh Liana. Tangan gadis itu penuh dengan peralatan melukis dan satu kanvas yang besar membuat tubuhnya muat tak tersisa.
"Bantu aku, Onya" ucap Liana dengan memelas. Ia tidak bisa melepas satu persatu, takut-takut semuanya terlepas dari tubuhnya.