A POSSESSIVE BESTIE

A POSSESSIVE BESTIE
MENJELANG KELAHIRAN



Semenjak kembali ke Kota asal mereka, Frans sudah mulai disibukan dengan pekerjaan kantoran. Ia dibimbing oleh ayah mertuanya dan segera dilantik sebagai pemimpin perusahaan, menggantikan Tuan Wiranta.


Sementara di kediaman Eisten, Onya ditemani kedua ibunya. Nyonya Wiranta sudah sangat sering mengunjungi anaknya itu.


Sesekali Nyonya Wiranta mengajak Onya ke beberapa museumnya. Dan menemani anaknya melukis.


Dan kini, baik Nyonya Eisten maupun Nyonya Wiranta sedang berbincang dihalaman belakang sambil memperhatikan bumil yang sedang berkutat dengan beberapa lembaran kertas.


Nyonya Eisten tidak pernah menuntut Onya untuk bekerja. Ia sudah tahu kelemahan Onya didapur. Walau tidak membiarkan fisik Onya bekerja, namun setidaknya Nyonya Eisten menuntut otak anak menantunya itu untuk bekerja. Agar cucunya nanti tidak jadi seorang yang pemalas.


Suara tangis bayi yang tiba-tiba pecah didalam rumah mengundang perhatian ketiga wanita itu.


Nyonya Eisten hendak berdiri dan mencari asal suara itu. Namun anak laki-lakinya sudah berdiri didepannya.


"Cup cup, cucu Oma kenapa?" Ucap Nyonya Eisten sambil menirukan suara bayi. Wanita itu segera mengambil bayi itu dari gendongan Franky, anaknya yang dimaksud tadi.


Inilah yang membuat suasana rumah tidak sepi. Bayi mungil milik Franky dan Lusi itu selalu menemani hari-hari mereka.


"Adeknya dari tadi nangis, ma. Gak tahu kenapa gak bisa diam" ucap Franky sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


"Sudah dikasih susu?" Tanya Nyonya Eisten seraya duduk kembali ke tempat duduknya. Di sampingnya, Nyonya Wiranta mencoba meletakan tangannya di popok bayi itu, namun dirasanya tidak ada yang basah.


"Ya mungkin karena belum dikasih susu. Ininya juga tidak basah" ucap Nyonya Wiranta membenarkan ucapan wanita di sebelahnya itu.


"Frans sudah kasih susu, tapi adeknya gak mau minum" ucap Franky lagi.


"Bi, bibi?" Panggil Franky.


Muncullah seorang wanita yang keliatan lumayan tuanya dari Nyonya Eisten maupun Nyonya Wiranta.


"Mana susunya?" Tanya Franky.


Pria itu meraih botol susu yang diberikan wanita yang bertugas sebagai nanny itu. Franky terpaksa menyewa seorang nanny, karena dirinya dan Lusi sedang ada masalah rumah tangga yang serius. Jadinya Lusi sementara menghilang darinya.


Franky memberi botol susu itu pada ibunya. Seperti yang ia katakan, saat ibunya memasukan botol susu itu kedalam mulut bayi mungil itu, hanya sedetik ia mengecap lalu melepasnya kembali dan menangis.


"Dia tidak jatuh kan, bi?" Tanya Nyonya Eisten.


"Tidak, Nya. Biasanya adeknya minum susu cair yang ada di kulkas. Tadi saya sudah menyarankan Tuan untuk memberi susu itu, tapi Tuan tidak mau" ucap nanny itu apa adanya.


"Susunya dingin, tidak baik untuk adeknya, ma" ucap Franky membela diri.


"Kan bisa dipanaskan, Franky. Buat susu cair yang tadi dimaksud bibi, ya bi!" Titah Nyonya Eisten.


"Iya, tadi sudah saya panaskan, Nya. Tinggal saya ambil dulu" ucap nanny itu seraya melangkah masuk kedalam rumah dan kembali dengan botol susu yang berbeda.


Dan benar saja. Saat bayi itu meminum susu cair itu, dia langsung terdiam. Tidak rewel, dan langsung tertidur setelah susunya habis diminum.


Onya yang sedari tadi duduk di samping ibunya terus mengamati bayi mungil itu.


"Seharusnya, bayi sekecil ini harus minum ASI. Tidak baik minum susu buatan, tidak menjamin imun" ucap Nyonya Eisten. Seakan mengingatkan hal tersebut pada Onya.


"Kenapa kak Lusi tidak kasih ASI ke adeknya, ma?" Tanya Onya. Karena sedari ia kembali, ingin sekali ia menanyakan kabar Lusi. Apalagi ia tidak pernah sekalipun bertemu dengan wanita itu saat kembali. Namun ia terus menahan rasa penasarannya itu karena melihat kondisi-kondisi yang tidak tepat.


"Dia tidak mau. Makanya, mama sangat marah sama dia. Apapun masalah kita dengan pasangan, jangan pernah kita lampiaskan pada anak kita. Jadi, kalau nanti kamu melahirkan, mama harap kamu tidak membuat masalah seperti Lusi" ucap Nyonya Eisten.


*


Sore harinya Frans pulang dari kantor menuju kediaman Eisten bersama ayah mertuanya.


Sempat-sempatnya Frans dan Tuan Wiranta mengobrol dalam perjalanan pulang.


"Frans, semenjak pulang kalian belum ke dokter untuk check up?" Tanya Tuan Wiranta.


"Belum, pa" jawab Frans sambil menyetir mobil.


Mobilnya Tuan Wiranta, namun ia meminta anak mantunya itu untuk mengendarai. Ia cukup lelah bekerja seharian, membantu dan membimbing Frans. Apalagi mengingat umurnya yang sudah tidak muda lagi, pastinya ia cepat lelah.


"Kenapa begitu?" Tanya Tuan Wiranta lagi.


"Frans sudah membujuk Onya berulang kali untuk check up. Tapi dia tidak mau. Alasannya karena malas ke rumah sakit. Mama dan papa pun tidak bisa membujuknya, pa" jelas Frans.


Pernah Nyonya Eisten membujuk Onya untuk check up. Apalagi ia sangat penasaran jenis kelamin cucu keduanya. Namun Onya sangat keras kepala. Dia sering beralasan mager, perlu istirahat, dan sebagainya.


Marah pun percuma.


"Dia masih keras kepala ternyata" ucap Tuan Wiranta sambil geleng-geleng kepala.


"Kalau gitu suruh saja dokter ke rumah. Tidak baik kalau tidak sering diperiksa. Kita harus tahu perkembangannya, apalagi menjelang kelahiran" ucap Tuan Wiranta. Walau masih minim pengalaman, tapi rasa khawatir seorang ayah membuatnya terlihat seperti tahu segalanya.


Sesampainya mereka di kediaman Eisten, Tuan Wiranta bersama Frans menghampiri sekumpulan keluarga yang sedang duduk dihalaman belakang.


"Onya dimana, ma?" Tanya Frans pada ibunya saat melihat sang istri tidak ada diantara mereka.


"Tadi baru saja masuk ke kamar" jawab Nyonya Eisten.


Frans meninggalkan halaman belakang menuju kamarnya. Pria itu melonggarkan dasinya karena merasa sedikit gerah. Padahal di rumah besar itu tidak kekurangan AC sedikitpun.


Pria itu membuka pintu kamarnya dengan sangat pelan. Di pandangnya seorang wanita yang sedang membelakanginya.


Melihat wanita itu hanya mengenakan dress diatas lutut membuat Frans susah bernafas. Bagaimana tidak, pasalnya lekuk tubuh wanita itu terlihat menggodanya.


Semenjak kehamilannya menginjak masa tua, tubuh wanita itu semakin terlihat berisi. Itu sangat seksi dimata Frans.


Frans menghampiri wanita itu dan memeluknya dari belakang. Menggosok sesuatu pada bokong wanita itu.


"Frans!" Ucap Onya memprotes apa yang dilakukan pria itu padanya.


Frans membalikan tubuh wanita itu agar bisa berhadapan dengannya. Sekilas ia mencium bibir wanita itu.


"Sudah lama aku puasa" ucap Frans sambil mencium bibir wanita itu kembali.


Frans mendudukkan wanita itu diatas tempat tidur. Namun ia kemudian mengernyit melihat posisi tangan wanita itu memegang area sensitifnya.


Pikirnya ia sedang mendapatkan lampu hijau. Pelan-pelan Frans membantu wanita itu untuk berbaring, kemudian ia ikut berbaring seraya hendak menyibak gaun wanita itu keatas.


"Frans, untuk apa?" Tanya Onya hendak berdiri, namun merasakan sakit tiba-tiba membuat ia mengurungkan niatnya.


"Aku mau sekarang, boleh?" Tanya Frans sambil membuka satu persatu kancing kemejanya.


"Jangan, aku sakit" ucap Onya. Wanita itu kembali memperbaiki gaunnya dan memegangnya erat agar tidak dibuka kembali oleh Frans.


"Sakit apa?" Tanya Frans sedikit cemas. Walau sebenarnya ia juga menaruh rasa curiga kalau wanita itu hanya berasalan.


"Pokoknya sakit. Dipegang saja sakit, apalagi melakukannya. Engga, engga!" Ucap Onya seraya menggeleng kepalanya.


Frans mengeluarkan nafasnya dengan susah paya. "Seharusnya kita check up kemarin lalu tanya, apa masih usia berhubungan sekarang atau tidak? Dan mungkin kita bisa tahu kamu sakit apa sekarang" ucap Frans. Kini pria itu duduk bersandar pada kepala ranjang dengan pasrah. Ia tidak mau memaksa istrinya itu, takut terjadi sesuatu yang tidak baik.