
Frans mencium bahu polos Onya kemudian menyelimutinya dengan selimut tebal. Frans hendak turun dari tempat tidur, namun ia dibuat gemas karena Onya kembali membuka selimut itu hingga terpampang sebagian tubuhnya yang polos.
Frans mengeluarkan nafasnya dengan pelan. Ia kembali menyelimuti wanita itu hingga menutupi lehernya.
Lagi-lagi Frans harus dibuat sabar. Onya kembali memindahkan selimut itu dari tubuhnya. Dan saat Frans hendak kembali menyelimutinya, suara Onya menghentikan niatnya itu.
"Panas" ucap Onya seperti sedang ngingau.
Frans geleng-geleng kepala melihatnya. Ia hanya tidak ingin wanita itu kedinginan. Namun mengetahui wanita itu malah kepanasan, ia membiarkan wanita itu tidur dengan sebagian tubuh polosnya tidak tertutup pelindung.
Frans turun dari atas tempat tidur. Ia hendak melihat jam pada ponselnya, namun dilihatnya sebuah notifikasi pesan. Ia segera membukanya.
Sebuah senyuman tipis terukir pada wajah tampan itu kala melihat sebuah foto bayi mungil yang dikirim oleh sang ayah.
Sejenak Frans melamun. Namun dia kembali tersadar saat ponselnya berdering. Dilihat pada layar ponsel, sang ayah menelponnya.
Frans mengangkat panggilan telpon itu sembari melangkahkan kakinya menuju balkon. Di sana ia berbincang dengan sang ayah tanpa mengganggu wanitanya yang sedang tidur nyenyak.
"Kapan kalian pulang?" Tanya Tuan Eisten.
"Nanti sebulan atau dua bulan lagi, pa" ucap Frans.
Terdengar helaan nafas diseberang sana.
"Apa mama masih marah?" Tanya Frans dengan hati-hati.
"Dia tidak akan marah lagi kalau kalian sudah berbaikan dan pulang untuk minta maaf langsung padanya. Mamamu hanya ingin memastikan kalau kalian berdua sudah tidak memikirkan persoalan nikah kontrak itu dan perceraian lagi" tutur Tuan Eisten.
Frans tidak segera menanggapi ucapan ayahnya itu.
"Frans?"
"Iya, pa?"
"Kalian baik-baik di sana, kan?" Tanya Tuan Eisten.
"Iya, pa"
"Jangan sampai terjadi sesuatu pada calon cucu papa. Sampaikan pada istrimu untuk menjaga diri, karena mamamu akan sangat marah kalau terjadi apa-apa dengannya dan calon cucu kita" ucap Tuan Eisten. Ya, setelah Frans tiba di vila itu bersama Onya, ia langsung memberitahu kedua orangtuanya soal kehamilan wanita itu dimalam harinya.
"Baik, pa. Em... Bagaimana dengan Tuan dan Nyonya Wiranta, pa?" Tanya Frans dengan ragu-ragu.
"Papa tidak tahu. Mamamu yang memberitahu kehamilan dan masalah kalian pada mereka" jelas Tuan Eisten.
"Tapi jangan fokus ke yang lain. Jaga istri dan calon anakmu itu, lalu bawa dia pulang dengan keadaan sehat dan damai. Cukup kakakmu Franky yang bermasalah, jangan sampai kalian berdua membuat mama kalian semakin tertekan dengan masalah rumah tangga kalian" ucap Tuan Eisten membuat Frans mengernyitkan keningnya.
"Apa ada masalah? Ada apa dengan kak Franky, pa?" Tanya Frans.
"Nanti kau pulang dan menyaksikannya sendiri. Istri kakakmu juga ingin berpisah dan tidak mau peduli dengan anaknya yang baru lahir" ucap Tuan Eisten dengan suara beratnya.
Frans yang bingung harus menjawab apa hanya bisa diam membisu.
"Begitu dulu, Frans. Ada yang harus papa urus di sini" ucap Tuan Eisten. Setelah mendapat persetujuan dari Frans, pria itu langsung memutuskan panggilan telpon mereka.
Frans bersandar pada dinding sambil memandang kearah langit yang cerah. Tidak secerah pikiran dan hatinya. Mungkin tadinya ia sudah merasa senang karena Onya mulai luluh padanya, namun pria itu kembali ragu.
Frans merasa tertekan saat mendengar masalah rumah tangga sang kakak. Frans seakan takut kalau-kalau keluluhan Onya hanya bawaan bayi dan bersifat sementara.
Ia takut kalau wanita itu kembali berulah pasca melahirkan nantinya.
Frans menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembusnya dengan pelan. Pria itu memijit dahinya yang pusing memikirkan masalah rumah tangganya dengan Onya.
"Seharusnya aku tidak lagi takut memikirkannya" ucapnya dengan lirih pada diri sendiri.
Pria itu menertawakan dirinya saat mengingat ucapannya yang dengan tegas mengatakan pada Onya kalau ia sudah siap jika nanti mereka akan berpisah. Nyatanya semua itu hanya omong kosong.
Rasa cintanya kembali mengisi kekosongan hatinya. Entah kenapa ia bisa mencintai Onya sebesar itu.
"Resiko menikah dengan bocah labil" ucap Frans, lagi-lagi ia berucap seorang diri.
"Siapa?" Suara Onya mengagetkan pria itu.
"Siapa Frans?" Tanya Onya lagi sambil menguap.
"Temanku. Dia bilang kalau dia menyesal menikah dengan sahabat wanitanya, dan wanita itu ternyata masih labil dan bodoh" ucap Frans sambil menatap lekat wajah Onya yang mulai menatapnya tajam.
"Kau membicarakan aku?" Ucap Onya sambil menunjuk dadanya.
Frans hanya tersenyum tipis. Ia mendekati wanita itu dan mengurungnya dipagar balkon itu.
Keduanya saling bertatapan. Onya menatap Frans dengan wajah memelas bercampur kesal, lain halnya dengan Frans yang menatapnya penuh kelembutan.
"Jangan marah-marah. Tidak baik untuk anak kita, nanti dia jadi anak yang galak" ucap Frans sambil mengelus lembut rambut wanita itu.
Entah bagaimana bisa Onya menjadi tenang. Tatapannya berubah kosong, menatap dada kekar pria yang bertelanjang dada didepannya itu.
Hening sejenak. Kedua insan membisu sambil menikmati hembusan angin. Onya malah terbawa suasana dengan perlakuan pria didepannya itu. Ia terus mengelus rambutnya sesekali mencubit kecil pipi mungil itu.
Tanpa Onya sadari, perlahan Frans mendekatkan bibirnya pada bibir wanita itu. Ia terkejut merasakan hembusan nafas pria itu. Namun tidak terkejut saat bibir keduanya saling bersentuhan.
Pria itu mengecap bibirnya dengan sangat lembut. Seolah-olah ia sedang menyalurkan rasa cintanya pada wanita itu.
Frans tersenyum merasakan wanita itu mulai membalas ciumannya. Ia kemudian mengakhiri ciuman mereka dengan mengecup pipi mungil itu.
Dahi keduanya saling menempel. Frans tetap memandang lekat wajah cantik itu. Namun yang dipandang hanya memejamkan matanya.
"Jangan pernah tinggalkan aku, okay?" ucap Frans.
Onya tak merespon ucapan Frans barusan. Ia malah menunduk dan menyembunyikan wajahnya pada dada kekar pria itu.
Frans mengecup puncak kepalanya dan memeluknya. "Kau mau jalan-jalan? Kita keliling Kota dan ke pantai. Aku mau kamu melukis di sana" bisik Frans.
Kali ini Onya meresponnya. Wanita itu menganggukkan kepalanya.
...*...
Frans membawa Onya keliling Kota. Menuruni puncak yang tidak begitu jauh dari perkotaan.
"Akhirnya aku bisa melihat manusia kembali" ucap Onya. Ia menopang dagunya sambil memandang keluar jendela.
"Memangnya aku bukan manusia?" ujar Frans sambil terkekeh.
"Bukan. Kau manusia lain" jawab Onya dengan asal.
Mobil yang dikendarai Frans tiba disebuah pantai. Banyak pengunjung di sana. Tempat parkir pun penuh dengan kendaran mobil maupun motor.
Frans dan Onya keluar bersamaan. Sebelah tangan Frans memegang sebuah tas kecil. Dan satu tangannya lagi menggenggam tangan Onya.
Kini Onya dan Frans duduk berhadapan diatas pasir. Pria itu mematung dengan gaya yang tak berubah. Sementara wanitanya terlihat sedang mencoret-coret sebuah kertas gambar.
"Kenapa sulit ya? Ini aku yang kesulitan menggambar wajah kamu atau wajah kamu yang bermasalah?" tanya Onya sontak membuat Frans terkekeh renyah.
"Sudah belum?" tanya Frans yang mulai bosan dengan gayanya saat ini.
"Sudah deh. Nih!" ujar Onya sekilas ia mencoret panjang isi kertas itu dan menyerahkannya pada pria didepannya itu.
Mimik wajah pria itu berubah kesal melihat hasil gambar Onya. Justru gambar itu tidak terlihat seperti dirinya.
"Aku malas gambar sekarang" ucap Onya dengan jutek.
Frans mengubah posisi duduknya yang tadinya berhadapan dengan wanita itu kini duduk di sampingnya.
Hening. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
Onya sibuk memandang ke arah langit sambil menunggu sunset. Sementara Frans sedang memperhatikan seorang anak kecil yang bermain air bersama orangtuanya.
"Kira-kira anak kita perempuan atau laki-laki?" tanya Frans tiba-tiba.
"Ohya, aku lupa. Kita belum check up. Apa perlu besok kita cek jenis kelamin anak kita?" tanya Frans.
"Tidak usah"