A POSSESSIVE BESTIE

A POSSESSIVE BESTIE
BONUS 2



"Papa dan mama punya hadiah untuk Liona, loh" ucap Frans sambil memangku anak perempuannya diatas tempat tidur.


"Hadiah?" Ulang Liona dengan mata berbinar.


"Mana kadonya, pa?" Tanya Liona dengan polos.


"Kalau yang ini beda dengan hadiah-hadiah yang Liona dapat waktu ulang tahun" ucap Frans.


"Hadiah apa?" Tanya Liona lagi. Karena sedari tadi Frans belum memberitahu tentang kehamilan Onya pada gadis kecil mereka itu.


"Kita tunggu mama dulu" ucap Frans.


Saat ini Onya sedang berada di kamar mandi. Tadi setelah Liona selesai berenang, wanita itu membantu anaknya bersih-bersih diri. Dan sekarang giliran dia yang mandi.


Ceklek


Frans dan Liona sama-sama menoleh kearah pintu kamar mandi. Mereka memperhatikan Onya yang baru saja keluar dari sana.


"Mama kelamaan, pa" ucap Liona saat melihat Onya melewati mereka dan masuk ke kloset.


"Papa bilang sekarang saja ke Io" ucap gadis itu merajuk karena penasaran.


"Liona sekarang udah mau punya adik" ucap Frans.


"Bener, pa?" Tanya Liona dengan lantang.


Ceklek


Anak dan bapak itu kembali menoleh ke arah pintu itu. Mereka melihat Onya yang sudah berpakaian lengkap dengan mata berbinar.


"Ada apa?" Tanya Onya sambil menghampiri mereka diatas tempat tidur.


"Kata papa, Io udah punya adik, ma. Tapi adik Io mana?" Tanya Liona sambil menatap ibu dan ayahnya secara bergantian.


"Belum. Adiknya masih disini" ucap Onya sambil mengusap perut datarnya.


"Tapi tadi papa bilang kalau Onya udah punya adik" ucap Liona dengan suara yang terdengar lirih. Tubuhnya yang tadi duduk tegap karena semangat langsung lemas. Baru saja senang dan ingin mengajak adiknya bermain, ternyata ayah dan ibunya hanya bergurau, pikir Liona.


"Tadi papa bilang Liona udah mau punya adik, tapi tidak sekarang. Liona bisa tunggu sembilan bulan lagi, sayang" ucap Frans.


"Sembilan bulan? Jangan lama-lama, pa" ucap Liona dengan wajah cemberutnya.


"Tujuh bulan deh" ucap Frans lagi. Mengingat dua bulan sudah berlalu, artinya sisa tujuh bulan lagi Onya akan melahirkan.


"Satu bulan" ucap Liona, seolah-olah adiknya bisa cepat datang kalau dia berhasil tawar menawar dengan kedua orangtuanya itu.


Frans dan Onya hanya terkekeh mendengar ucapan anak gadis mereka itu.


"Oke, kalau Liona mau punya adik cepat, tapi ada syaratnya" ucap Frans.


"Apa, pa?"


Frans pun berbisik pada anak gadisnya itu. Entah apa yang ia katakan, Onya yang tidak dengar hanya bisa mengernyit keningnya. Entah penasaran, bingung atau apa yang ia ekspresikan.


"Oke?"


"Oke, pa"


Entah apa yang mereka sepakati. Wajah Liona kembali memancarkan aura semangatnya saat Frans membisikan itu padanya.


Dan tidak menunggu lama, Liona langsung turun dari pangkuan Frans dan berlari keluar kamar itu.


"Io, jangan lari-lari" ucap Onya.


"Biarkan saja, dia lagi mau temani nenek dan kakeknya" ucap Frans mendekati wanita itu.


...*...


Frans berhasil membawa Onya liburan bersama. Tentunya tanpa pengganggu kecil mereka.


Tidak mau kejadian dulu terulang lagi, Frans membawa Onya bepergian tanpa menggunakan kapal pesiar, melainkan pesawat terbang.


"Akhirnya kita bisa liburan tanpa pengganggu kecil itu" ucap Frans sambil berbaring diatas tempat tidur sembari memejamkan matanya.


Onya terkekeh mendengar ucapan pria itu. Ia pun berucap hal yang sama sambil ikut berbaring di kasur empuk itu.


"Sama. Hanya saja aku pengen liburan sendiri tanpa kalian berdua" ucap Onya, sontak Frans melebarkan kedua matanya dan menoleh ke sampingnya dimana wanita itu berbaring.


"Jangan seperti itu, sayang" ucap Frans sambil memeluk wanita itu dan mencium bibinya bertubi-tubi.


"Fran...hmp..." Ucap Onya terputus karena pria itu tak henti-hentinya mencium bibirnya.


"Udah, Frans" ucap Onya sambil mendorong pria itu hingga ciumannya lepas.


"Aku ngantuk, mau istirahat" ucap Onya kemudian.


Karena perjalanan yang akan mereka tempu menggunakan pesawat itu sekitar lima jam lebih.


Sesampainya mereka dibandara, mereka harus naik helikopter menuju sebuah pulau yang terletak di samudera Pasifik. Pulau pribadi yang baru dibeli Frans untuk keluarga kecilnya. Namun baru dikunjungi oleh dia dan Onya.


Hanya ada satu villa dipulau itu. Di sana ada banyak pengawal dan pelayan yang berjaga.


Frans dan Onya yang baru tiba langsung disambut bak raja dan ratu. Dan barang-barang bawaan mereka dibawa masuk ke kamar oleh para pelayan.


Saat ini Frans ingin mengajak Onya berkeliling. Pria itu menarik wanita itu menuju belakang rumah. Namun baru saja melewati pintu keluar, Onya melepas genggaman pria itu dari tangannya dan langsung berlari kecil ke tepi pantai.


Frans pun ikut menyusul dengan berlari kecil. Ia ikut berhenti ketika Onya berhenti. Dan keduanya berdiri sejajar sambil memperhatikan pemandangan di sana.


"Katanya kita bisa melihat sunset yang sangat indah di sini" ucap Frans.


Sayangnya hari masihlah siang terik. Matahari yang berada diatas mereka begitu tajam menusuk kulit siapa saja.


"Aku ingin berjemur" ucap Onya sambil membuka bajunya.


Frans tidak melarangnya. Karena semua pengawal laki-laki di sana hanya berjaga didepan villa. Tidak ada yang berani mengganggu kenyamanan tuan dan nyonya mereka yang pastinya akan sering bersantai di belakang villa.


Inilah yang akan menjadi kebiasaan mereka di sana. Bermain di pantai, berjemur dibawah teriknya matahari dan bermain selancar sampai bosan.


Dan setiap malamnya Frans akan mengajak Onya makan romantis. Ada pun kebiasaan yang mereka lakukan, hal yang dilarang keras oleh dokter kandungan.


Frans yang kadang terpancing harus memaksa Onya untuk berhubungan suami istri.


"Kan dokter melarang kita" ucap Onya saat Frans terus mendesaknya. Bisa saja pria itu tahan atau mencari cara lain untuk menuntaskan kemauannya itu. Hanya karena membaca artikel kalau mereka bisa berhubungan suami-istri di kondisi hamil muda membuat Frans sedikit egois.


"Tidak apa-apa. Aku baru baca satu artikel, katanya kita bisa melakukannya saat kamu hamil muda, yang penting pakai pengaman" ucap Frans sambil menahan kedua tangan wanita itu dan mengecupnya.


"Mana?" tanya Onya. "Aku baca dulu baru percaya" tambah wanita itu.


"Tunggu" ucap Frans seraya melepas tangan wanita itu. Ia pun mengambil ponselnya dan menunjukkan artikel yang baru ia baca itu.


Selesai Onya membaca, ia terlihat berpikir.


"Bagaimana?" tanya Frans.


Onya mengangguk dengan memelas membuat Frans tersenyum penuh kemenangan. Pria itu langsung menggendongnya dan menjatuhkan tubuh mereka diatas tempat tidur.


Bukan hanya sekali dua kali. Mereka sering melakukannya ditempat yang berbeda-beda. Mau diatas pasir pun mereka berani. Karena tidak ada satu pun pengawal dan pelayan yang akan menggangu mereka di sana.