
NOTE: Sebelum baca, mampir dulu di episode 74 (yang sebelumnya itu bab buat pengumuman tapi udah diganti buat episode 74).
Dua pria bertelanjang dada membawa sebotol bir raksasa ke pinggir kolam.
"Putar musiknya!" seru pria satunya sambil menunjuk ke arah langit malam dengan penuh semangat.
Dan pria satunya lagi mulai membuka botol minuman yang besar seperti kepalanya itu. Saat mulut botol itu terbuka, keluar busa putih begitu banyak. Diiringi lagu party, semua orang berlari sambil berjoget mengerumuni botol minuman itu. Tidak lupa membawa gelas, mengambil bir dalam sana. Bahkan ada yang berani menyirami tubuhnya dengan minuman itu.
Sementara Onya yang ingin ikut berjoget malah ditahan Frans. Wanita itu mengeluarkan nafasnya berulang kali. Saat ini ia berada dipangkuan Frans.
Sungguh sangat memuakkan!
"Frans, kalau gitu kau temani aku ke sana" Onya berusaha menawar.
Frans hanya terkekeh sembari memasukan setengah bir kedalam mulutnya. Pria itu meletakan gelasnya di meja, kemudian mengecup pipi mungil wanitanya itu dengan lembut.
"Untuk apa ke sana?" tanya Frans sambil melingkarkan kedua tangannya pada perut ramping itu.
"Come on, apalagi kalau bukan party!" ucap Onya sambil menahan tengkuk pria itu yang terbenam dilehernya. Onya berusaha mendorongnya, namun Frans malah menahan dan ikut memeluk tangannya.
"Frans!" bentak Onya dengan geram.
"Tidak usah. Acaranya sangat membosankan" ucap Frans dengan lirih. Pria itu kembali meletakan dagunya diatas bahunya Onya. Sesekali ia mengecup leher wanita itu dengan gemas. Sungguh, Onya merinding merasakannya.
"Kau yang membosankan!" gerutu Onya sambil menatap pria itu dengan jengah. "Jadi selama ini kamu ke pesta untuk apa? Daripada buang-buang waktu, lebih baik kau pulang tidur saja" sambung Onya karena pria itu tak kunjung respon.
"Hm... bagaimana kalau kita jalan-jalan?" ucap Frans dengan tiba-tiba.
"Kemana?" Onya memelas.
"Kemanapun yang ingin kau pergi" jawab Frans. Pria itu hendak mencium bibir wanita itu lagi, namun dengan cepat mulutnya ditutup oleh tangan mungil itu.
"Kenapa kau jadi suka mencium-ku? Jangan seenaknya!" Onya protes membuat Frans tersenyum jahat.
"Jadi mau jalan-jalan tidak? Malam ini, kemanapun kamu mau pergi aku pasti akan temani" ucap Frans.
Onya mendesah berat. Wanita itu menoleh ke tempat dimana orang-orang sedang party. Dia masih ingin berlama-lama di sana, namun sangat membosankan kalau Frans terus menahannya di satu titik seperti sekarang.
Melihat Onya melamun, Frans kembali menciumnya sontak menyadarkan wanita itu.
"Ayo!" ucap Frans.
Frans dan Onya kembali menyusuri jalanan sepi, meninggalkan rumah mewah yang sedang merayakan pesta meriah. Sampai pertikungan jalan, Onya yang sedari tadi menikmati pemandangan malam dari luar jendela sontak berbinar melihat rumah temannya Frans itu. Kolam renang yang terbuat dari kaca dihiasi lampu warna-warni, ditambah airnya yang terjun kebawah hutan lepas membuatnya terlihat indah.
"Wow" lirih Onya dengan binar kekagumannya. Wanita itu baru menyadari posisi rumah itu bisa dilihat dari jalan yang sedang mereka lewati. Mungkin karena tadi posisinya tidak searah rumah itu, jadi dia baru menyadarinya sekarang.
"Kau suka rumahnya?" tanya Frans.
"Ya, apa kau akan membelinya? Tadi temanmu menawar, bukan?" tanya Onya tanpa berpaling.
"Tentu kalau kau menginginkannya" jawab Frans.
"Ya kau boleh beli rumahnya untukku" ucap Onya dengan semangat delapan enam.
"Aku kira kau suka rumah ditepi pantai. Ternyata selera-mu sudah berubah" ucap Frans.
"Dari sana kita bisa lihat pantai"
*
Mobil yang dikendarai Frans telah sampai didataran rendah, menyusuri jalan Kota menuju suatu tempat. Dalam perjalanan tadi, Onya berhasil membujuk Frans ke pasar malam. Karena pria itu yang sudah berjanji akan menuruti keinginannya, mau tidak mau ia terpaksa mengendarai mobilnya menuju tempat membosankan itu - menurutnya.
Tiba di pasar malam, Frans memarkirkan mobilnya. Sementara Onya lebih dulu keluar, wanita itu berjalan santai ke arah bianglala. Frans yang baru turun pun harus berlari kecil mengikutinya.
Onya berhenti dibawah bianglala. Wanita itu menelunjuk ke atas sambil bertanya pada Frans "Kau ingin naik?".
"Kau yang membosankan" balas Onya dengan sinis menatap pria di sampingnya itu.
Frans tidak segera menjawabnya. Dengan santai ia mengeluarkan dompetnya dan meraih selembar kertas uang. Setelah menyimpan dompetnya kembali ke saku celana, pria itu menarik Onya mengikutinya.
Malam itu, kedua insan menaiki bianglala. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Onya yang begitu menikmati pemandangan dari atas ketinggian, sementara Frans terus menatap ke arah pantai.
"Setelah ini kita ke pantai" ucap Frans.
Frans dan Onya sama-sama menoleh, alhasil keduanya saling mengunci tatapan.
"Kau bawa perlengkapan melukis?" tanya Onya, karena itu kebiasaan yang mereka lakukan di pantai.
Mendengar pertanyaan itu, Frans hanya merespon dengan gelengan kepalanya.
"Lalu? Kau berencana begadang di sana?" tanya Onya lagi, dan kali ini dijawab pria itu dengan anggukan kepalanya.
"Okay, tapi setelah kita menyelesaikan misi terakhir" ucap Onya sembari menyeringai.
Dari bianglala menuju rumah hantu. Sebenarnya Frans sangat malas masuk ke sana, bukan karena takut, tapi karena dia sudah tidak tahan akan sesuatu. Namun karena Onya yang ngotot, terpaksa dia ikut menemani wanita itu ke dalam sana. Frans dan Onya menyusuri lorong sepi dan engker. Tidak seperti pasangan lainnya yang terus berteriak ketakutan, Frans malah berjalan santai dengan Onya yang tak henti tertawa menyaksikan orang-orang yang ketakutan.
Sampai di pintu keluar, Onya yang tak henti tertawa terus menahan perutnya yang kesakitan.
"Ayo!" Frans menarik Onya menuju mobilnya.
Kini Frans kembali melajukan mobilnya menuju pantai. Sesampainya di sana, pria itu memarkirkan mobilnya diperbatasan rumput dan pasir.
Frans mematikan AC dan membuka jendela mobilnya.
"Kenapa ke sini?" tanya Onya tanpa curiga sama sekali.
Frans hanya meresponnya dengan senyuman penuh misteri. Pria itu mendekati Onya dan membuka sebuah laci. Onya melihat pria itu mengambil selembar kertas dan memberikan padanya.
"Apa ini?" tanya Onya.
Frans hanya mengedikkan bahunya. Sambik menunggu respon wanita itu, Frans memangku kepalanya disandarkan kursi sambil memejamkan matanya.
"Berapa lama kita akan bulan madu?" tanya Onya dengan datar.
"Mungkin satu bulan" jawab Frans dengan tenang. Seketika Frans membuka kedua matanya kala mengingat sesuatu. "Kau tidak menolak bukan?" Tanyanya.
"Mungkin iya" jawab Onya.
"Kenapa? Apa kau sudah bosan jalan-jalan?" tanya Frans sambil membetulkan posisi duduknya agar sejajar dengan wanita itu.
"Aku suka jalan-jalan, tapi tidak suka jalan-jalan denganmu. Pasti akan membosankan karena kamu nanti bakal batasi kebebasan-ku" ucap Onya.
"Aku kan sudah janji akan menjamin kamu bebas. Soal tadi, aku hanya ingin melindungi kamu. Teman-teman ku itu banyak yang tertarik sama kamu, jadi aku sengaja menjaga-mu ketat di sana" ucap Frans.
Sejenak Onya berpikir. Sejauh ini ia menolak ikut bulan madu karena dia tahu, akan percuma jalan-jalan bersama Frans. Dia pasti tidak akan bebas. Tapi kalau jujur, ia juga bimbang, ia ingin pergi jalan-jalan.
Melihat Onya tak kunjung merespon, Frans kembali merayunya. Pria itu meraih pergelangan tangan Onya sambil menatapnya lekat. "Aku janji, Onya" selalu janji yang sia-sia.
"Baiklah" jawab Onya sambil tersenyum.
Senyuman wanita itu mengunci tatapan Frans padanya. Pria itu ikut tersenyum dan dengan cepat ia mendekatkan wajahnya pada wajah wanita itu.
Frans mencium bibir mungil itu tanpa permisi. Ia berpindah pada kursi Onya dan mulai menghimpit tubuh mungil itu.
Onya mendorong Frans agar menjauh darinya hingga ciuman mereka terlepas. Nafasnya tidak beraturan, karena Frans menghajarnya begitu menuntut. Melihat Onya tak merespon apapun membuat Frans kembali berani menciumnya.
Frans membuka satu persatu kancing kemejanya tanpa melepas ciumannya dari Onya. Sementara wanita itu hanya bisa memejamkan kedua matanya sambil menikmati permainan pria itu.